NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN MASA LALU

​Gemerlap Sektor Pusat perlahan mengecil dan tertelan oleh kegelapan malam saat kapal udara siluman Nighthawk melesat membelah awan dengan kecepatan melampaui suara. Kendaraan udara kelas militer hitam pekat milik Keluarga Valerius itu dirancang khusus untuk menghindari segala bentuk radar, baik teknologi maupun sihir. Di dalam kabin yang kedap suara, dengungan mesin anti-gravitasi terdengar seperti detak jantung yang tenang.

​Bastian bersandar di kursi kemudi, membiarkan sistem autopilot mengambil alih navigasi. Ia menatap koordinat merah di layar proyeksi yang mengarahkan mereka jauh ke luar perbatasan kota, menuju Zona Netral di ujung Benua Utara.

​"Kuil Cahaya Runtuh," gumam Bastian, membaca nama lokasi tersebut dari pangkalan data Asosiasi yang berhasil diretas oleh sistem kapalnya. Sang Tanker menoleh ke belakang, menatap Andre yang sedang duduk dengan mata terpejam. "Sebuah Dungeon tingkat Impossible. Zona ini sudah disegel oleh pemerintah dunia selama enam tahun terakhir karena tingkat radiasi mana sucinya yang terlalu beracun bagi manusia. Kau yakin kita harus memulai pencarianmu dari tempat ini, Andre?"

​Andre membuka matanya. Tidak ada lagi iris cokelat manusia biasa; matanya kini kelam, memancarkan percikan petir hitam yang berdesir pelan setiap kali ia berkedip.

​"Ras iblis menggunakan api dan belerang untuk menghancurkan, tapi ras malaikat menggunakan cahaya untuk mencuci otak dan memusnahkan apa pun yang tidak tunduk pada mereka," jawab Andre dengan nada sedingin gletser. "Kuil itu bukan sekadar Dungeon. Itu adalah pos pantau invasi milik Seraphim. Jika kita ingin mencari tahu siapa pengkhianat di antara para pahlawan umat manusia, kita harus bertanya pada entitas yang ikut serta dalam pembunuhan itu."

​Marvin, yang duduk di seberang Andre sambil membaca buku sihir Epic miliknya, mendongak dengan kening berkerut. "Maksud Kakak, pembunuhan sang Kaisar Kilat belasan tahun lalu? Buku sejarah mengatakan beliau gugur saat menahan invasi gabungan sendirian."

​"Sejarah ditulis oleh mereka yang selamat, Marvin, bukan oleh mereka yang mati," potong Andre tajam. "Kaisar Kilat tidak mati karena kelelahan. Dia disergap. Para Pilar Iblis merantai ruangnya, para Calamity monster menghancurkan pelindungnya, dan para malaikat... mereka yang menyegel pemulihannya. Tiga ras yang saling membenci itu tidak mungkin bisa berkoordinasi dengan presisi absolut jika tidak ada orang dalam yang memberikan jadwal patroli sang Kaisar."

​Bastian terdiam, menelan ludah. Teori konspirasi itu sangat masuk akal, namun implikasinya terlalu mengerikan. Jika ada manusia yang membocorkan kelemahan Kaisar Kilat kepada musuh, pelakunya pasti memiliki otoritas militer tertinggi. Pelakunya pasti salah satu dari sembilan National Protection yang tersisa.

​"Lalu, mengapa Benua Utara?" tanya Bastian, mencoba mengalihkan kengeriannya pada rencana taktis. "Siapa National Protection yang menjaga wilayah ini?"

​"Valeria. Sang Tombak Perak," jawab Andre, matanya memancarkan sedikit kilatan nostalgia yang segera ditelan oleh kegelapan. Di kehidupan lalunya, Valeria adalah salah satu rekan seperjuangannya yang paling gigih, seorang pahlawan wanita yang sangat membenci ras malaikat. "Wilayahnya memiliki aktivitas anomali malaikat paling tinggi di seluruh dunia. Jika ada jejak komunikasi antara pengkhianat dan faksi langit, kita akan menemukannya di sana."

​Tiga jam kemudian, Nighthawk mulai menurunkan ketinggian.

​Pemandangan di luar jendela berubah drastis. Padang gurun es yang seharusnya gelap gulita di tengah malam justru terang benderang seperti siang hari. Sumber cahaya itu berasal dari sebuah kawah raksasa di tengah lembah, di mana sebuah gerbang portal berwarna emas putih berputar lambat. Alih-alih memancarkan aura kematian seperti portal iblis, portal ini memancarkan nyanyian paduan suara tanpa wujud yang menusuk langsung ke gendang telinga, menciptakan ilusi kedamaian yang memaksa manusia untuk berlutut.

​"Sialan, kepalaku pusing," umpat Bastian, memegangi pelipisnya. "Aura suci ini... rasanya seperti dipaksa menelan puluhan ton gula sintetik."

​"Ini sihir Mind Control pasif," Marvin menyela dengan tenang. Remaja itu menjentikkan jarinya, melepaskan kabut ungu tipis dari kelas Venomancer-nya yang menyelimuti sistem ventilasi kapal. Racun itu secara paradoks menetralisir radiasi suci di udara, mengembalikan kewarasan mereka. "Cahaya malaikat pada dasarnya adalah sihir radiasi. Jika diurai, strukturnya sama dengan racun. Aku bisa menahannya."

​Andre mengangguk puas melihat perkembangan insting tempur adiknya. "Ayo turun. Kita punya malaikat yang harus diinterogasi."

​Begitu ketiganya melangkah keluar dari kapal udara dan menembus membran portal emas tersebut, mereka langsung disambut oleh pemandangan yang surealis.

​Di dalam Dungeon Impossible 'Kuil Cahaya Runtuh', gravitasi tidak bekerja sebagaimana mestinya. Reruntuhan pilar pualam raksasa dan bongkahan kuil berlapis emas melayang di udara tanpa penopang, mengelilingi sebuah altar bercahaya di pusat dimensi. Langit di dalam sana berwarna biru jernih tanpa awan, namun udaranya sangat tipis dan mencekik.

​Tiba-tiba, suara kepakan sayap yang terbuat dari energi murni memecah keheningan.

​Dari balik pilar-pilar melayang itu, belasan sosok manusia bersayap emas muncul dengan wajah arogan tanpa ekspresi. Mereka mengenakan zirah perak yang menyilaukan dan membawa pedang yang terbuat dari api putih.

​[Sistem Peringatan: Pasukan Malaikat Terdeteksi!]

[Entitas: Dominion Guard (Lv. 82) x15]

[Peringatan: Serangan elemen 'Suci' mengabaikan pertahanan fisik standar!]

​"Spesies fana yang kotor," ucap salah satu Dominion dengan suara yang menggema dari segala arah, tanpa menggerakkan bibirnya. "Kalian berani mengotori kesucian kuil kami dengan lumpur kefanaan kalian. Hukuman kalian adalah pemurnian mutlak."

​Ke-15 malaikat tingkat tinggi itu mengangkat pedang mereka ke udara. Lingkaran sihir raksasa berwarna emas terbentuk di langit-langit dimensi, bersiap menembakkan pilar cahaya pemusnah.

​"Pemurnian? Coba saja bersihkan ini," seringai Bastian. Sang Tanker melangkah maju, menghantamkan bagian bawah perisai emasnya yang kini berstatus Legendary ke lantai pualam. "Absolute Guard: Aegis of Defiance!"

​Pilar cahaya suci berdiameter sepuluh meter menembak turun seperti murka dewa, menghantam Bastian secara langsung. Ledakan cahaya putih menelan sang Tanker, membutakan pandangan. Para Dominion itu menurunkan pedang mereka, mengira hama manusia itu telah menjadi abu.

​Namun, saat debu cahaya mereda, Bastian masih berdiri kokoh. Perisainya menyerap seluruh radiasi suci itu tanpa tergores sedikit pun, mengalirkan kelebihan energinya ke lantai hingga membuat pualam di bawah kakinya meleleh. Bastian menguap lebar. "Hanya segitu? Lampu sorot di Sektor Pusat terasa lebih panas dari ini."

​"Mustahil! Zirah makhluk fana tidak mungkin bisa menahan hukuman surgawi!" batin sang malaikat, wajah arogannya sedikit retak.

​"Jangan hanya melihat pelindungnya, perhatikan pijakan kalian," sebuah suara bernada remaja terdengar dari balik punggung Bastian.

​Para malaikat itu menunduk. Terlambat. Tanpa mereka sadari, kabut ungu yang sangat pekat telah merambat melalui pantulan cahaya di lantai pualam. Marvin telah menyempurnakan Plague Domain-nya ke tingkat yang mengerikan. Ia tidak lagi menyebarkan racun melalui udara, melainkan melalui spektrum cahaya itu sendiri.

​"Venomous Decay: Blight of the False Sun."

​Zirah perak para Dominion itu mulai berkarat dalam hitungan detik. Sayap energi emas mereka berdesis keras, berubah warna menjadi hitam membusuk, lalu rontok seperti daun layu. Para malaikat tingkat tinggi itu menjerit histeris ketika racun Marvin menembus pertahanan suci mereka, menggerogoti keabadian semu yang mereka banggakan. Kekuatan mereka lumpuh total, membuat belasan Dominion itu jatuh berdebum ke lantai kuil.

​"Racun macam apa ini?! Dosa! Ini adalah dosa mutlak!" raung komandan Dominion itu, mencoba merangkak menjauh dengan sayap yang telah membusuk.

​Namun, sebelum komandan malaikat itu bisa merapalkan mantra penyembuhan, sepasang sepatu bot hitam mendarat pelan tepat di depan wajahnya.

​Andre menunduk menatap malaikat yang merintih itu. Matanya yang segelap jurang tak berdasar memancarkan percikan petir hitam.

​"Kau berbicara tentang dosa seolah kau memahaminya," bisik Andre.

​Tidak ada gerakan mencabut pedang. Andre hanya menjentikkan jarinya.

​ZRRAAAK!

​Dua belas kilatan petir hitam meledak dari udara kosong, mengabaikan hukum ruang dan waktu. Petir gelap itu tidak mengeluarkan suara guntur, melainkan hanya desisan kehampaan. Dalam seperseribu detik, keempat belas Dominion yang sedang meronta di lantai hancur lebur menjadi debu kosmik, terhapus dari eksistensi tanpa sempat berteriak.

​[Pasukan Malaikat (Lv. 82) Terbunuh x14.]

[Level Anda mencapai 92.]

​Hanya tersisa sang komandan malaikat yang kini dibiarkan hidup, gemetar hebat di bawah kaki Andre. Arogansi surgawinya hancur lebur melihat pembantaian tanpa ampun yang melampaui logika sistem dunia.

​Andre mencengkeram rambut perak komandan malaikat itu, mengangkat wajahnya secara paksa.

​"Aku punya pertanyaan, dan kau hanya punya satu nyawa yang tersisa untuk menjawabnya," ucap Andre, suaranya mengandung tekanan Absolute Pressure yang membuat tulang leher malaikat itu retak. "Siapa manusia yang menghubungi faksi kalian sebelum jatuhnya Kaisar Kilat?"

​Malaikat itu terbatuk, darah emas menetes dari bibirnya. Matanya membelalak dipenuhi teror absolut saat melihat stigmata mahkota hitam yang berdenyut di balik kemeja Andre yang sedikit terbuka.

​"K-kau... aura itu... Petir Kegelapan... tidak mungkin, kau seharusnya sudah mati dipecah menjadi abu oleh para Seraphim..." gagap malaikat itu, kewarasannya runtuh menyadari siapa entitas di depannya.

​"Jawab pertanyaanku, atau aku akan merobek jiwamu dan memberikannya pada adikku untuk dijadikan eksperimen racun," ancam Andre.

​"Aku... aku hanya prajurit kelas menengah... aku tidak tahu namanya!" jerit malaikat itu panik. "Tapi... tapi komunikasi itu... komunikasi dengan manusia pengkhianat itu selalu dilakukan menggunakan media relik suci yang berada di wilayah ini! Tombak Perak! Panglima kami sering bertemu dengan utusan Tombak Perak di pusat kuil ini!"

​Andre menyipitkan matanya. Utusan Valeria. Apakah mantan rekannya itu benar-benar mengkhianatinya, atau bawahannya yang bergerak di luar kendali?

​Andre melepaskan cengkeramannya dan membiarkan malaikat itu merosot ke lantai.

​"Terima kasih atas informasinya," ucap Andre datar. Sedetik kemudian, sebuah kilatan petir hitam menyambar dari jari telunjuknya, melubangi dahi komandan malaikat itu hingga menembus lantai pualam. Debu emas membumbung ke udara.

​[Dominion Commander (Lv. 85) Terbunuh.]

​Bastian dan Marvin berjalan mendekat, menyeka sisa-sisa debu sihir dari pakaian mereka. Kombinasi ketiganya kini terlalu mematikan; dungeon tingkat Impossible sekalipun terasa seperti taman bermain bagi barisan pertahanan mutlak, wabah yang mengabaikan imunitas, dan eksekutor berkecepatan dewa.

​"Jadi, kita langsung menuju altar utama untuk mencari sisa pasukan malaikat dan bukti relik itu?" tanya Bastian, memutar bahunya yang sedikit pegal.

​Andre tidak menjawab. Ia perlahan memutar tubuhnya, tangannya bergerak instingtif menuju gagang Nocturne. Tatapan matanya yang tadi dingin, kini menajam dipenuhi kewaspadaan yang sangat ekstrem.

​Udara di dalam kuil melayang itu mendadak membeku. Bukan karena aura sihir, melainkan karena tekanan gravitasi dari niat membunuh yang sangat masif, setara dengan tekanan yang Andre lepaskan saat di markas Asosiasi. Hanya saja, tekanan ini tidak berasal dari monster atau malaikat. Ini adalah tekanan milik seorang pahlawan.

​"Turunkan perisaimu, Bastian. Mundur, Marvin," perintah Andre dengan suara pelan namun menuntut kepatuhan absolut. "Kita kedatangan tamu."

​Dari balik bayangan pilar pualam terbesar di ujung kuil, terdengar suara tepuk tangan yang lambat dan bergema.

​Sesosok wanita melangkah keluar. Ia mengenakan zirah perak ramping yang memancarkan cahaya kebiruan layaknya bulan purnama. Rambut peraknya yang panjang berkibar tertiup angin dimensi yang tak kasat mata. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tombak perak sepanjang dua meter yang memancarkan pusaran badai salju abadi. Setiap kali tombak itu menyentuh lantai, pualam di bawahnya membeku seketika.

​[Peringatan: Entitas Skala Nasional Terdeteksi!]

[Identitas: Valeria - The Silver Spear (National Protection ke-3)]

[Level: Tidak Diketahui (Level 100+)]

​Valeria menatap tumpukan debu emas sisa para malaikat, lalu memindahkan tatapan mata peraknya yang sangat tajam ke arah Andre. Wajah wanita itu keras, menyimpan ribuan bekas pertempuran, namun ada sebersit kebingungan di matanya.

​"Menarik," ucap Valeria, suaranya merdu namun memiliki otoritas seorang ratu perang. Ia memutar tombaknya, menciptakan gelombang badai es yang menyapu bersih sisa racun Marvin di udara. "Tiga pemuda tanpa identitas Asosiasi menembus wilayah terlarangku dan membantai satu resimen Dominion seperti menyapu debu kotor."

​Valeria menatap lurus ke dalam mata Andre, menembus bayangan gelap yang menyelimuti pemuda itu. Cengkeramannya pada tombak peraknya mengerat.

​"Siapa kau sebenarnya, Nak?" tanya sang National Protection, mengarahkan ujung tombaknya tepat ke dada Andre. "Dan mengapa caramu membunuh... dan aura yang kau sembunyikan itu... terasa seperti hantu yang sudah kuburkan dengan tanganku sendiri sepuluh tahun yang lalu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!