NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulai Hidup Bersama

**

​"Jangan lari-lari. Pakai baju dulu!"

​"Gak mau gerah, Ma! Enakan gini!"

​"Nanti kamu masuk angin, Sayang. Ayo, Pakai baju dulu!"

​"Gak mau!"

​Rafa baru saja masuk, tapi hal pertama yang ia dapat adalah pemandangan Elvan yang telanjang bulat berlari dikejar oleh Felisa, wanita yang seminggu ini hidup seatap dengan dirinya. Rafa masih mengingat momen perkenalan pertama mereka saat itu.

​Rafa baru saja keluar kamar dengan pakaian kantor rapi, sedang Felisa sedang menata makanan di atas meja. Bau makanan itu sudah tercium, bahkan saat Rafa masih di dalam kamar.

​Lelaki itu berdiri di depan pintu, bingung harus bagaimana. Mau ke sana tapi kenapa terasa aneh, yah? Ini memang pagi pertama mereka, tadi Rafa dibangunkan oleh Felisa pas alarm ponselnya berbunyi yang kesekian tapi dia tidak bangun, mungkin karena baru menjelang subuh Rafa baru bisa tidur.

​"Suka makanan berat saat pagi?" tanya Felisa sama canggungnya.

​Rafa mengangguk kecil. "Roti gak cocok buat perut saya. Saya pagi memang suka makan makanan berat, kok."

​"Kebetulan saya sudah masak nasi sama sop. Elvan suka banget sama sop. Silahkan dimakan."

​"Oh, ok." Rafa masih dalam kecanggungan berjalan ke meja makan.

​Aneh memang, padahal waktu ditelepon hobi mereka ribut. Tapi entah kenapa, sekarang malah menjadi saling diam-diaman jika berdua seperti ini.

​Rafa sudah mulai menyuapkan nasi. Masakan wanita itu dari semalam, memang sangat cocok sekali dengan mulutnya. Rafa mendengar pergerakan di depan, terlihat wanita itu berdiri akan pergi.

​"Mau kemana?" tanya Rafa spontan, langsung merutuki mulutnya yang lancang. Seharusnya tadi diam saja, tidak usah bertanya.

​"Mau bangunkan Elvan." Jawaban Felisa, membuat Rafa mengangguk mengerti.

​"Saya harus panggil kamu apa?" Pertanyaan Rafa menghentikan langkah Felisa, yang sudah membuka pintu.

​"Apa? Gimana maksudnya?"

​Rafa mendengus. "Nama kamu siapa? Gak lucu kan, kamu numpang tinggal di sini tapi kita gak saling tahu nama."

​"Tapi saya tahu nama kamu, kok," jawab Felisa, membuat Rafa tiba-tiba kesal.

​"Tapi saya belum tahu nama kamu!"

​"Felisa. Itu nama saya."

​Setelah mengatakan itu, Felisa sudah masuk ke dalam kamar meninggalkan Rafa yang masih makan sambil terus menggumam.

​"Felisa ... hemm."

​"Papa ... tolong!"

​Suara rengekan dan pelukan di kaki, kembali menyadarkan Rafa. Lelaki itu melirik ke arah bawah, cengkraman Elvan di kakinya sangat erat. Saat melihat ke arah Felisa, wanita itu sedang menatap frustrasi ke arah bocah itu. Satu kesimpulan yang bisa Rafa tarik, jika ternyata bukan hanya dia yang frustrasi menghadapi bocah nakal ini, tapi mama-nya juga.

​"Tolong yah, Bapak-nya Elvan jangan melindungi anaknya!" seru Felisa menatap Rafa tajam.

​Jika kalian pikir, hidup dalam seminggu, membuat hubungan mereka menjadi story love, itu salah! Faktanya, seminggu ini aura keributan di telepon ternyata mengalir begitu saja setiap mereka berinteraksi.

​Walau interaksi mereka jarang, karena lebih memilih diam dan saling tidak peduli. Kecuali untuk urusan tanggung jawab masing-masing, mereka tetap lakukan. Bahkan, sekarang Rafa memilih banyak lembur, supaya tidak harus banyak interaksi.

​"Maaf ... Ibu-nya Elvan, ini saya belum melakukan apa-apa. Anaknya sendiri yang lari ke saya," jawab Rafa kesal karena baru pulang sudah diajak ribut.

​"Kamu bisa bergerak kan, Bapak-nya Elvan? Cepat berikan anaknya ke saya!"

​Rafa mendengus, melirik Elvan yang semakin mengeratkan dekapannya.

"Ayo, pakai baju dulu!"

​"Enggak mau!" Elvan tetap saja menolak keras.

​"Sayang, nanti masuk angin, loh!" Felisa kembali berusaha membujuk, yang langsung mendapatkan gelengan keras dari Elvan.

​"Aku masih mau renang! Gak mau pakai baju!"

​Felisa memijit kening. "Tapi udah sejam kamu renang. Udahan yah, nanti sakit."

​Renang di sini adalah berendam di bak mandi, Rafa sudah paham kebiasaan bocah nakal ini.

​"Lagian, kenapa dia mandi malam-malam, sih?" tanya Rafa yang baru sadar jika ini udah lewat jam 8 malam, tapi Elvan malah mandi.

​"Elvan sedang mengakrabkan diri dengan tong sampah di dapur, saat aku tinggal cuci piring."

​Rafa menepuk kening. "Ya ampun, anak gue!"

​Tanpa aba-aba, Rafa sudah menggendong Elvan menuju kamarnya, karena memang barang-barang bocah itu masih ada di kamarnya. Untuk tidur, bocah itu akan bergantian tidur dengan dirinya dan Felisa. Suka-suka dia mau tidur di mana!

​"Pakaikan bajunya, cepat!"

​Felisa seolah mengerti itu perintah untuknya, langsung mendekat ke arah Elvan di kasur yang sudah bersiap lari lagi, tapi untungnya Rafa telah kembali menahannya.

​"Mau pakai baju atau gak pakai baju terus gak beli eskrim?"

​"Pakai baju!" teriak Elvan cepat, setelah mendapatkan ancaman dari Rafa.

​"Makasih."

​Rafa tersenyum tipis, yang bahkan tidak Felisa sadari. "Hem."

​Rafa sedang duduk menikmati secangkir kopi dengan sebatang rokok, di balkon. Rafa memang merokok, tapi dia bukan pecandu yang tidak bisa hidup tanpa rokok. Rafa hanya merokok jika sedang setres, banyak kerjaan, gabut dan mau saja.

​Tatapannya seketika jatuh ke ruang jemuran, di sana ada beberapa barang pusaka-nya yang sedang berkibar seperti bendera yang tertiup angin malam, seolah sedang mengejeknya 'Hi Bos, aku sudah di sini bukan di kamar mandi.'

​"Kenapa ada di jemuran? Tadi pagi masih di kamar mandi. Jangan bilang. Enggak! Sialan, malu!"

​Rafa sudah berjalan mondar-mandir heboh, antara malu dan panik. Lelaki itu masih ingat, jika tadi pagi dalamannya eh, iya itu-- tadi masih di kamar mandi. Walaupun sudah seminggu ini bajunya sudah dicuci wanita itu, tapi tetap ingin beberapa barang pribadi yang privasi dia cuci sendiri.

​Dari dulu juga begitu, Rafa tidak pernah membiarkan barang itu-- disentuh orang lain karena itu terasa memalukan.

​"Ngapain?"

​Rafa menoleh, mendapati Felisa sudah berdiri dengan sebuah cangkir. Tanpa menunggu Rafa menjawab, wanita itu sudah ikut berdiri di depan pagar balkon menikmati angin malam.

​Pandangan Rafa kembali ke arah dalaman--nya. Dia harus segera mengambil itu, jangan sampai wanita itu melihatnya berkibar tertiup angin. Tingkah Rafa ini seolah melupakan, jika wanita itu yang sudah menjemurnya di sini.

​"Sedang apa?"

​Rafa hanya melirik sinis Felisa, dengan cepat menyembunyikan barang pusaka-nya di dalam baju. Semoga wanita itu tidak melihat, apa yang barusan dia lakukan.

​"Ngangkatin semp*k, yah?" tanya Felisa santai, tidak tahu yang ditanya sudah terkena syok mati muda. "Emang udah kering? Baru tadi sore loh, saya cuci."

​Tiba-tiba Rafa sangat kesal dengan tingkah Felisa, yang menganggap barang pusaka alias semp*k kata wanita itu, seolah barang tidak penting dan mudah disentuh siapapun.

​Bagi Rafa semp*k, eh-- barang pusaka itu sama pentingnya dengan isinya. Terhormat, elegan, jual mahal, sopan santun, dan ramah tanah. Maksudnya, barang mahal yang tidak bisa disentuh siapapun. Dengan barang pusaka-nya disentuh sembarangan oleh Felisa, Rafa jadi merasa isi dari barang pusaka dia telat dilecehkan. Ini pertama kalinya dia disentuh, tapi tunggu dalam proses pembuatan Elvan tidak tersentuh, kan?

​"Siapa yang suruh kamu lancang cuci sem-- emmm ... dalaman saya?"

​"Saya cuman gak tahan aja, lihat mereka numpuk di wadah kecil sudut kamar mandi," jawab Felisa masih tanpa dosa.

​"Yak! Tapi mereka tidak ganggu kamu bukan? Kenapa kamu usik mereka dengan sentuh sembarangan?"

Tingkah Rafa lebih mirip seperti anak kecil yang mobil-mobilannya direbut.

​"Kok kamu marah, seperti saya sudah ...." Tatapan Felisa mengerling kecil ke selangk*ng*n Rafa. "Isinya aja."

​"Jaga mata kamu!" Rafa mendelik, buru-buru membelakangi Felisa.

​Tidak berapa lama, terdengar suara tawa Felisa. "Lucu banget sih, kamu. Usia udah 28 lebih, tapi digoda dikit aja kaya anak 15 tahun baru kenal on*ni."

​Felisa semakin terbahak, membuat Rafa semakin kesal. "Bukan urusan kamu! Pokoknya lain kali, jangan pernah lagi sentuh semp*k saya!"

​Rafa berbalik, buru-buru berjalan tergesa melewati Felisa yang masih terbahak. Tapi Langkahnya terhenti, saat ucapan Felisa kembali terdengar.

​"Bukan hanya merusak pemandangan mata, tapi baunya itu loh yang makin buat gak tahan. Sangat merusak aroma kamar mandi."

​Dengan wajah merah menahan kesal dan malu, Rafa masuk terus membanting pintu balkon.

​"Sial*n!"

​

##

1
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!