Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Jangan Sampai Dia Tahu
Bab 6 — Jangan Sampai Dia Tahu
Rania baru menyadari ada masalah setelah kereta hitam itu benar-benar menghilang dari pandangan.
Aryasatya mencurigainya.
Bukan sedikit. Pria itu bahkan sampai menyuruh pengawalnya mengawasi dirinya, seolah seorang penjual cendol pinggir pasar layak dapat perlakuan setingkat buronan kerajaan.
"Hebat," gumam Rania sambil merapikan wadah cendol dengan gerakan agak kasar. "Baru lima menit kenal, sudah masuk daftar pengawasan."
[Ting!]
[Host tidak seharusnya merasa bangga.]
"Aku tidak bangga."
[Detak jantung Host meningkat.]
"Karena kesal."
[Analisis tidak dapat membedakan kesal dan panik.]
Rania menutup wadah santan dengan sedikit lebih keras dari yang diperlukan.
"Kalau begitu, sistemmu perlu diperbaiki."
Ia melirik ke arah Mukti yang masih berdiri tidak jauh dari gerobak, belum juga beranjak sejak Aryasatya pergi. Rania menghela napas panjang.
Satu pangeran mencurigainya. Satu lagi berpotensi mengajaknya membicarakan pernikahan. Hari ini seharusnya ia hanya berjualan cendol. Kenapa rasanya berubah jadi rapat kerajaan dadakan?
"Wening."
Rania menoleh. Mukti mendekat dengan langkah tenang, seperti sudah menunggu momen yang tepat.
"Aku ingin mengantarmu pulang."
"Tidak perlu."
"Jalanan mulai ramai."
"Saya punya kaki."
Mukti mengerutkan dahi. "Aku tahu."
"Kalau begitu, masalahnya selesai." Rania mengangkat keranjang kosong, bersiap melangkah pergi.
Mukti melihatnya. "Kau membawa terlalu banyak barang."
"Tidak apa-apa."
"Biar pengawalku yang membawa."
"Tidak perlu."
"Wening."
Rania menoleh dengan senyum sopan yang sudah dilatih sejak pagi tadi. "Pangeran, kalau mau membantu, belilah cendol."
Mukti terdiam.
Rania menunjuk wadah minuman dengan penuh percaya diri. "Harga dua keping uang."
"Bukankah aku bisa memberikan lebih?"
"Bisa. Tapi jangan meminta diskon."
Salah satu pengawal Mukti menunduk, jelas menahan tawa yang nyaris pecah.
Mukti menatap Rania cukup lama, seperti masih mencoba mencerna bahwa sepupunya sendiri baru saja menawarinya harga pas tanpa negosiasi.
"Baik. Buatkan satu."
Rania langsung mengambil gelas dengan semangat pedagang sejati. "Manis?"
"Sedang."
"Es?"
"Sedikit."
"Santan?"
"Secukupnya."
Rania berhenti menuang, menatap Mukti dengan penuh penghargaan seperti baru saja bertemu pelanggan idaman.
"Pesanan kedua yang normal hari ini."
Mukti meliriknya. "Siapa yang pertama?"
Rania terdiam sesaat. Bayangan Aryasatya melintas cepat di kepalanya.
Ia segera menggeleng. "Bukan siapa-siapa."
Mukti tidak bertanya lagi. Namun matanya sempat mengarah sekilas ke jalan yang tadi dilalui kereta hitam, seperti sedang menyusun sesuatu di kepalanya sendiri.
***
Di dalam kereta Arkapura yang bergerak pelan meninggalkan pasar, Aryasatya duduk dengan tenang, gelas cendol yang tersisa setengah masih ada di tangannya.
Seorang pengawal duduk di hadapannya, kepala sedikit tertunduk.
"Paduka."
"Apa?"
"Putri Wening berjualan cendol sejak tiga hari lalu."
Aryasatya mengangkat pandangan dari gelasnya. "Tiga hari?"
"Benar. Sebelumnya, ia tidak pernah turun ke pasar tanpa pendamping resmi."
"Siapa yang memberinya izin?"
"Belum diketahui, Paduka."
Aryasatya mengetukkan jarinya pelan pada sandaran kursi, iramanya teratur seperti sedang berpikir keras.
"Dan perubahan sikapnya?"
"Para pelayan di Wanunggalih menyebut Putri Wening lebih banyak berbicara sejak sadar dari pingsannya."
"Pingsan?" Alis Aryasatya sedikit terangkat.
"Dua hari lalu. Ia ditemukan tidak sadarkan diri di kamarnya."
Aryasatya terdiam sejenak, menyusun informasi itu di kepalanya.
"Siapa yang pertama kali menemukannya?"
"Tabib kerajaan."
"Dan setelah sadar?"
"Putri meminta minuman bernama latte."
Aryasatya mengangkat alis tipis, benar-benar tidak mengerti. "Latte?"
"Tidak ada yang mengetahui maksudnya, Paduka."
Aryasatya menatap keluar jendela, memperhatikan pemandangan pasar yang perlahan berganti dengan jalanan sepi menuju perbatasan.
Wening yang ia kenal tidak pernah meminta sesuatu dengan nama asing. Wening yang ia kenal juga tidak pernah membuat keributan di pasar, apalagi membalas perkataan orang dengan senyum setenang itu—seolah tidak ada beban gelar kebangsawanan yang harus dijaga setiap detik.
"Apakah tabib mengatakan ada sesuatu yang aneh pada ingatannya?"
"Tidak, Paduka."
"Selidiki lagi."
"Apakah Paduka mencurigai Putri Wening?"
Aryasatya tidak langsung menjawab. Ia mengingat kembali tatapan perempuan itu tadi—tenang, berani, tanpa keraguan yang biasanya menyertai seorang putri yang dibesarkan dalam tata krama ketat istana.
Dulu, Wening selalu menghindari kontak mata dengannya. Ia akan berbicara dengan suara lembut, menunggu orang lain selesai bicara sebelum menyampaikan pendapatnya sendiri.
Perempuan di pasar tadi jelas berbeda. Ia menatapnya tanpa rasa takut. Bahkan berani mengatakan wajahnya tidak manis, tanpa terlihat gentar sedikit pun.
Aryasatya menurunkan pandangan ke gelas cendol yang masih berada di tangannya.
"Yang kucurigai bukan Putri Wening."
Pengawal itu menunggu, tidak berani memotong.
Aryasatya berkata pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Aku mencurigai apa yang kembali bersamanya."
***
Rania berjalan pulang dengan keranjang kosong di tangan, langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya—berharap bisa segera sampai dan merebahkan diri.
Mukti masih mengikutinya. Bukan di samping. Bukan pula terlalu jauh. Tepat beberapa langkah di belakang, seperti bayangan yang tidak mau lepas.
Rania menoleh. "Pangeran."
"Ya?"
"Kenapa mengikuti saya?"
"Aku mengantarmu pulang."
"Rumah saya tidak hilang."
"Aku tahu."
"Jalannya juga tidak berbahaya."
Mukti terdiam sebentar, seperti menimbang apakah harus menjelaskan lebih jauh atau tidak.
"Setelah kau pingsan, tabib kerajaan meminta agar kau tidak bepergian sendirian untuk sementara waktu."
Rania mengerutkan dahi. "Tabib meminta atau keluarga kerajaan yang memerintah?"
Mukti tidak langsung menjawab.
Rania langsung menunjuknya, seperti detektif yang baru menemukan bukti. "Nah. Berarti keluarga kerajaan."
"Yang Mulia Raja dan Permaisuri mengkhawatirkanmu."
Rania terdiam sejenak. Ada rasa bersalah kecil yang muncul, meskipun ia sendiri tidak benar-benar mengenal kedua orang itu. Namun rasa bersalah itu segera bercampur dengan kecurigaan yang lebih besar.
"Kalau hanya mengkhawatirkan, kenapa harus Pangeran yang mengikuti saya?"
Mukti menatapnya lurus. "Karena aku keluargamu."
Rania hampir tersandung batu jalan.
Ya ampun. Jangan pakai kata itu, batinnya panik.
Mukti melanjutkan, suaranya lebih pelan. "Dan karena ada urusan yang belum selesai di antara kita."
Rania berhenti berjalan. "Urusan apa?"
Mukti ikut berhenti, menatapnya lurus-lurus.
"Pertunangan."
Angin sore bergerak melewati jalan berbatu, membawa debu tipis yang membuat Rania mengerjap.
Rania memandangnya dengan wajah sedatar mungkin. "Pangeran, saya sedang berjualan cendol."
"Aku tahu."
"Saya sedang berusaha mengumpulkan uang."
"Aku tahu."
"Saya juga sedang berusaha menjalani hidup dengan tenang."
Mukti menghela napas panjang. "Wening, pertunangan kita sudah dibicarakan oleh kedua keluarga sejak lama. Kedatanganmu ke Arkapura beberapa waktu lalu juga berkaitan dengan rencana itu."
Rania terdiam. Jadi ini bukan sekadar misi dari sistem yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Keluarga kerajaan memang sudah punya rencana jauh sebelum dirinya—Rania yang asli, bukan Wening—hadir di tubuh ini.
Dan Mukti tidak sedang mengikutinya tanpa tujuan. Ia sedang memastikan rencana itu tidak berantakan.
Rania menyilangkan tangan. "Kalau begitu, Pangeran mengikuti saya karena ingin memastikan saya tidak kabur?"
Mukti memalingkan wajah sesaat, seperti terpergok. "Kurang lebih."
Rania mengangguk perlahan. "Jujur juga."
"Aku tidak ingin memaksamu."
"Benarkah?"
Mukti menghadapnya kembali. "Aku hanya ingin berbicara. Setelah kau sadar dari pingsan, kau menolak bertemu keluarga dan pergi ke pasar tanpa memberi penjelasan apa pun."
"Karena saya sedang mencari penghasilan."
"Wening, kau seorang putri."
"Putri juga bisa miskin."
Mukti terdiam, tidak tahu harus membalas apa.
Rania melanjutkan dengan nada serius, meski ada sedikit nada bercanda yang menyelip. "Setidaknya, saya tidak mencuri."
"Tidak ada yang menuduhmu mencuri."
"Bagus. Kita sepakat."
Mukti mengusap pelipisnya, sedikit lelah. "Aku akan terus mengikutimu sampai kau bersedia kembali ke kediaman kerajaan."
Rania menatapnya tidak percaya. "Jadi ini ancaman?"
"Ini tanggung jawab."
"Bentuknya mirip."
Mukti hampir tersenyum, tapi buru-buru kembali memasang wajah serius, seperti tidak ingin terlihat kalah dalam perdebatan kecil itu.
"Selain itu," lanjutnya, "ada beberapa orang yang mulai memperhatikanmu."
Rania langsung terdiam. "Orang-orang dari Arkapura?"
Mukti menatapnya hati-hati. "Kau tahu?"
"Menebak."
"Jangan terlalu dekat dengan Raden Ji Aryasatya."
Rania mengangkat alis. "Kenapa?"
"Karena hubungan antara Arkapura dan Wanunggalih tidak sesederhana perdagangan garam dan kain."
Rania memperhatikan wajah Mukti. Untuk pertama kalinya sejak bertemu tadi pagi, pria itu tidak terlihat seperti pangeran yang cuma mau membahas pertunangan. Ada kekhawatiran yang tulus di matanya, atau mungkin sesuatu yang lebih rumit dari itu.
"Apa yang terjadi antara kerajaan kalian?" tanya Rania, kali ini benar-benar penasaran.
Mukti menurunkan suara, seolah takut ada yang mendengar meski jalanan cukup sepi. "Beberapa tahun lalu, ada kapal dagang Wanunggalih yang hilang di perairan dekat Arkapura. Banyak orang menyalahkan kerajaan mereka. Sejak saat itu, hubungan kedua kerajaan tidak pernah benar-benar tenang."
Rania mengerutkan dahi. "Dan Aryasatya?"
"Dia putra mahkota Arkapura."
"Ya, saya tahu."
"Dia tidak datang ke Wanunggalih hanya untuk minum cendol."
Rania meliriknya, sedikit tersinggung demi produk dagangannya sendiri. "Cendol saya enak, tahu."
"Aku tidak mengatakan sebaliknya."
"Pangeran belum meminumnya."
Mukti menghela napas panjang, menyerah untuk berdebat soal cendol. "Wening."
"Baik, baik," Rania kembali berjalan, tidak ingin memperpanjang topik yang mulai terasa berat.
Mukti tetap mengikutinya. Kali ini, Rania tidak menyuruhnya pergi. Bukan karena ia senang ditemani melainkan karena penjelasan Mukti barusan justru membuat keadaan terasa jauh lebih rumit dari yang ia kira.
Aryasatya mengenal Wening. Mukti mengkhawatirkan hubungan antar kerajaan yang rapuh. Dan sistem terus mendorongnya mengikuti alur cerita yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Rania mengusap wajah, lelah. "Kenapa hidup di dunia lain lebih ribet daripada mengurus tagihan."
Mukti menoleh, bingung dengan istilah asing itu. "Apa itu tagihan?"
"Masalah yang datang setiap bulan, nagih terus."
Mukti tampak berpikir keras. "Pajak kerajaan?"
Rania menatapnya, sedikit terhibur dengan analogi itu. "Kurang lebih begitu."
Di kejauhan, seseorang berdiri di bawah pohon kelapa. Pakaiannya sederhana seperti pedagang biasa. Namun cara berdirinya terlalu tegak, dan tatapannya terlalu fokus untuk sekadar orang yang sedang berteduh.
Mukti menyadari keberadaannya lebih dulu. Tangannya bergerak sedikit, memberi isyarat halus kepada pengawal di belakang mereka.
Rania melihat gerakan itu. "Jadi, Pangeran juga suka mengawasi orang diam-diam?"
Mukti tetap menatap ke depan, tidak menoleh. "Aku sedang memastikan kau aman."
"Bedanya dengan mengawasi apa?"
Mukti tidak menjawab.
Rania mendengus pelan, geli sekaligus lelah. "Semua orang di kerajaan ini punya cara aneh untuk menunjukkan perhatian."
***