NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: tamat
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam itu, rumah keluarga Mahendra tenggelam dalam keheningan. Lampu-lampu rumah masih menyala terang, tetapi suasananya terasa dingin dan asing bagi Saga. Sudah sejak satu jam lalu pria itu mengurung diri di dalam kamar.

Kamar yang dulu menjadi tempat paling nyaman baginya, kini justru terasa sesak. Laci meja terbuka berantakan. Dokumen dan beberapa hard disk lama berserakan di lantai. Laptop di atas meja kerja masih menyala, memperlihatkan potongan-potongan rekaman CCTV rumah yang sejak tadi diputar berulang kali, tatapan Saga memerah.

Tangannya bergerak cepat membuka satu file ke file lain. Namun hasilnya tetap sama, beberapa rekaman malam ulang tahunnya lima tahun lalu benar-benar hilang. Dan semakin lama memeriksa semuanya, dada Saga terasa semakin nyeri.

Brak!

Tinju pria itu menghantam meja keras hingga gelas di samping laptop jatuh pecah ke lantai.

“Sial…” Napasnya memburu kasar. Tangannya mencengkeram tepi meja begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia kembali memutar rekaman yang tersisa.

Namun, layar hanya menunjukkan lorong rumah yang kosong sebelum file mendadak terpotong. Tidak ada rekaman saat Sahira membawanya ke kamar. Rekaman di lantai dua di koridor dekat kamar juga hilang.

Seolah seseorang sengaja menghapus semuanya. Dan Saga tahu hanya ada satu orang yang bisa melakukan itu tanpa dicurigai siapa pun, ibunya.

Tubuh Saga mendadak terasa lemas. Perlahan pria itu mundur beberapa langkah sebelum akhirnya terduduk di lantai kamarnya sendiri. Tatapannya kosong, pikirannya kacau.

“Apa Mama bener-bener … ngelakuin semua ini?” Suaranya lirih dan nyaris tak terdengar. Selama ini ia selalu percaya pada keluarganya. Percaya bahwa semua keputusan mereka dibuat demi kebaikannya. Namun, sekarang semua keyakinan itu terasa runtuh dalam semalam.

Sahira tidak pernah mengkhianatinya. Wanita itu justru melindunginya, melindungi masa depan dan cita-citanya. Sementara dirinya, malah menghancurkan Sahira dengan tangannya sendiri.

Saga menunduk dalam. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Tangis pria itu pecah di tengah kamar yang sunyi.

“Aku bodoh…” Suara seraknya dipenuhi penyesalan.

“Aku ninggalin dia sendirian…”

Bayangan Sahira terus memenuhi kepalanya. Tatapan mata wanita itu saat meminta putus. Air mata Sahira malam di kontrakan. Suara wanita itu yang berkata membencinya, padahal sekarang Saga tahu, semua itu bohong. Dan yang paling menghancurkan Sahira menjalani semuanya sendirian.

Sementara dirinya hidup tenang di London, mengejar mimpi yang ternyata dibayar mahal oleh wanita yang ia cintai. Saga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas. Lalu bayangan kecil lain muncul di kepalanya, bayangannya anaknya, Sahir.

Bocah kecil yang terus memanggilnya dokter tampan. Bocah yang tertawa polos sambil makan es krim strawberry dan matcha. Dan ia baru mengetahuinya setelah empat tahun berlalu. Saga tertawa kecil di sela tangisnya. Terdengar pahit dan menyakitkan.

“Ayah macam apa aku ini…” Tatapannya perlahan jatuh pada amplop coklat pemberian Dokter Mario yang tergeletak di lantai. Dengan tangan gemetar, Saga mengambil amplop itu lalu meremasnya erat di dadanya.

Matanya perlahan berubah, masih dipenuhi luka. Masih dipenuhi penyesalan. Namun, kini ada sesuatu yang lain di sana. Saga perlahan bangkit berdiri. Ia menyeka air matanya kasar sebelum mengambil ponselnya dari atas meja. Tangannya bergerak cepat membuka aplikasi penerbangan. Tujuan pertama yang ia cari, Bali.

Masih ada penerbangan satu jam lagi. Tanpa ragu sedikit pun, Saga langsung memesannya. Setelah semuanya selesai, pria itu berdiri diam menatap pantulan dirinya di cermin kamar.

Wajahnya tampak hancur, matanya merah sembab. Namun, sejak lima tahun terakhir, tatapan Saga kembali memiliki tujuan.

“Kali ini…” gumamnya lirih dengan suara serak, “aku bakal bawa kalian pulang.”

Langkah kaki Saga terdengar cepat menuruni tangga rumah keluarga Mahendra. Wajah pria itu masih terlihat kacau. Matanya merah, sementara rahangnya mengeras menahan emosi yang sejak tadi terus membakar dadanya.

Di tangannya, ponsel dan amplop coklat dari Dokter Mario masih tergenggam erat. Beberapa pelayan rumah yang melihatnya hanya bisa menunduk takut. Belum pernah mereka melihat Tuan muda Mahendra semarah itu.

Baru saja Saga mencapai ruang tengah, suara pintu utama terbuka dari luar. Nyonya Tatih masuk dengan napas sedikit terburu-buru. Wanita itu baru pulang setelah mendapat kabar dari pelayan rumah bahwa Saga mengamuk di kamarnya sejak tadi.

Namun, begitu melihat putranya berdiri di sana Tatih langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Tatapan Saga membuat dadanya mendadak tidak tenang.

“Sag—”

“Apa yang Mama lakuin sama Sahira?” Suara Saga terdengar dingin dan tajam hingga membuat seluruh ruangan seketika hening.

Tatih terdiam.

“Kamu ngomong apa?” tanyanya pelan berusaha tenang.

Saga malah tertawa kecil penuh amarah.

“Aku tanya…” suaranya meninggi, “apa yang Mama lakuin sama Sahira lima tahun lalu?!”

Tatih langsung membeku. Sedangkan, Saga melangkah mendekat dengan napas memburu.

“Kenapa CCTV malam ulang tahun aku dihapus?”

Tatapan pria itu memerah penuh luka.

“Kenapa Mama nyuruh Sahira ninggalin aku?”

Tatih langsung menggeleng cepat.

“Mama cuma mau yang terbaik buat kamu—”

“Yang terbaik?!” Bentakan Saga menggema di ruang keluarga. Para pelayan bahkan sampai menundukkan kepala ketakutan.

“Mama tahu nggak hidup aku hancur karena semua ini?!”

Tatih terlihat mulai panik.

“Aku nggak pernah tahu kalau Sahira hamil!”

Suara wanita itu mulai bergetar.

“Mama pikir semuanya udah selesai malam itu! Sahira juga nggak pernah datang cari kamu lagi!”

“Karena Mama yang minta dia pergi dari hidup aku!”

Tatih langsung terdiam. Sementara, Saga menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca penuh kekecewaan.

“Dia pergi bukan karena dia nggak cinta sama aku…” suara Saga mulai serak. “Tapi karena Mama ngancem dia.”

Tatih memejamkan mata sejenak.

“Mama cuma takut masa depan kamu hancur gara-gara perempuan miskin—”

“Cukup!” Saga langsung memotong keras.

Pria itu menggeleng tidak percaya. Ia merasa sangat kecewa pada ibunya sendiri.

“Sahira nggak pernah ngancurin hidup aku…”

Air mata Saga jatuh lagi tanpa bisa ditahan.

“Yang ngancurin hidup aku itu justru Mama...”

Tatih langsung menatap putranya tidak percaya.

“Sag…”

“Aku kehilangan perempuan yang aku cintai.” Suara Saga pecah. “Aku kehilangan momen empat tahun hidup anak aku.” Tangannya mengepal kuat menahan gemetar.

“Dan selama ini…” pria itu tertawa pahit, “aku malah benci Sahira karena aku percaya sama Mama.”

Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi. Tatih terlihat mulai menangis. Namun, Saga sudah terlalu hancur untuk merasa iba. Tatapannya kini hanya dipenuhi rasa sakit dan penyesalan.

“Aku benar-benar percaya sama Mama…” Suara pria itu melemah.

“Tapi ternyata…” ia menggeleng pelan sambil tertawa pahit, “orang yang paling nyakitin aku justru keluarga aku sendiri.”

“Saga!” Suara Nyonya Tatih menggema memenuhi ruang keluarga. Pria itu tidak berhenti. Saga langsung berbalik meninggalkan rumah dengan langkah cepat tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

“Saga, tunggu Mama!” Tatih mengejarnya sampai ke teras depan rumah.

Malam terasa dingin, tetapi tidak sedingin tatapan putranya barusan. Saga membuka pintu mobilnya kasar lalu masuk tanpa peduli pada panggilan sang ibu.

Tatih semakin panik dan air matanya terus jatuh.

“Saga, jangan pergi…”

Terlambat, mesin mobil sudah menyala. Saga hanya diam beberapa detik di balik kemudi. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mencengkeram setir begitu kuat.

Dadanya masih terasa sesak dan pikirannya dipenuhi Sahira dan Sahir. Semua kebohongan yang selama ini menghancurkan hidup mereka.

Tatih mengetuk kaca mobil dengan panik.

“Tolong dengerin Mama dulu…”

Saga tetap tidak membuka pintu, perlahan pria itu menoleh. Tatapan matanya membuat hati Tatih langsung runtuh. Tatapan penuh kecewa, tatapan yang belum pernah diberikan putranya selama ini.

“Aku capek, Ma…” Suara Saga terdengar lirih dari balik kaca mobil.

“Capek kehilangan orang yang paling aku cintai.”

Tatih langsung menangis semakin keras. Mobil Saga melaju meninggalkan halaman rumah keluarga Mahendra.

“Nggak … Saga!” Tatih berlari beberapa langkah mengejar mobil itu, tetapi semuanya sia-sia. Mobil hitam tersebut semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari gerbang rumah.

Tatih langsung terduduk lemas di halaman. Tangisnya pecah malam itu. Takut kehilangan anak satu-satunya. Selama ini ia selalu yakin semua yang dilakukannya demi masa depan Saga. Dan ia baru sadar bahwa tindakannya justru membuat putranya menderita selama bertahun-tahun.

Dengan tangan gemetar, Tatih segera meraih ponselnya. Ia mencari satu nama lalu langsung menekan tombol panggil.

Panggilan tersambung beberapa detik kemudian.

[Halo, Tante?]

“Aldi…” suara Tatih bergetar panik. “Tolong susul Saga.”

Aldi langsung mengernyit.

[Ada apa, Tante?]

“Dia pergi…” tangis Tatih kembali pecah. “Dia tahu kalau Tante yang meminta Sahira meninggalkan Saga.”

Wajah Aldi langsung berubah tegang.

[Dia ke mana?]

Tatih menggeleng meski pria itu tak bisa melihatnya.

“Tante nggak tahu…” suaranya melemah. “Tapi Tante takut dia pergi nyari Sahira.”

Hening beberapa saat,alu Aldi mengusap wajahnya kasar. Ia langsung berdiri dari duduknya.

[Oke, Tante. Aku cari dia sekarang.]

Panggilan terputus.

Sementara di sisi lain kota, mobil Saga melaju cepat membelah jalan malam menuju bandara.

1
Mamah Dini11
sukurlah kmu udh. nyampe semoga kedatanganmu bisa mengubah khidupan sahira dn sahir menjadi lbh baik dn mengakhiri penderitaan mereka ,makasih saga udh datang
Mamah Dini11
semoga si aldi gk menemukan saga. jelas kalau si aldi pasti saga di perdaya lgi lindungi saga thor pliisss 🙏
Mamah Dini11
aldi di percaya dia jahat nyonya sm kayak nyonya
Mamah Dini11
ohhhh jadi dalang. di blk itu semua ternyta si aldi dn si clarA manusia busuk itu , kalau saga tau dia gk akan mau sm si clara. gk tau diri itu , klau. kmu suka sm saga kenapa. bkn kmu aja yg melayani si saga bkn nya orng lain di korbanin dasar jalang , awas aja tunggu pembalasan saga, baru tau rasa kmu. clara
Mamah Dini11
semoga aldi. gk jahat
Mamah Dini11
itu keputusan bagus sahira bkb menghindari. saga tpi lbh baiknya menjauh dari ke 2 manusia pengacau itu , kalau saga gk bisa di hindari ke manapun kmu pergi pasti dia mencarimu karna setelah tau semuanya saga tak kan diam terlbh ada anaknya bersamamu,dn semoga ke depan nya kmu bisa bersama menjadi. kluarga bahagia , dn sahir butuh sosok seorang ayah ,moga kluarga saga bisa menerima pelan2, semangat sahira kmu. harus kuat jgn lemah apalagi. lembek. 💪💪💪💪💪
Amiera Syaqilla
hello author😁
Mamah Dini11
dua kali salahpaham si saga, pasti tunangan sm so ririn di percepat , kmu vano main peluk2 man ada kekasihmu do Sana gk takut dia cemburu
Mamah Dini11
jadi doktr nya agak lemot kmu mh ,gk gesit dn gk cepat peka begitu Ada yg ganjil Dari anak itu lgsung yg lain mh ngambil tindakan ,INI banyak berbelit2 Dan banyak mikir si saga mh
park jum
jadi curiga, jangan² sahira ma revano kembar
Mamah Dini11
kmu ITU lupa apa pikun saga apa ngeles atau per nah ngelus NASA sahira Hamil beg it u Saja, pantesan gk penasaran tes dna
park jum
in saga i betulan dokter?? tapi otak nya sangat lemot
Mamah Dini11
revano km jujur Aja ke saga Kalau ketemu , biar gak Ada salahpaham lgi, biar kmu bisa tenang ,apalagi kmu udh punya kekasih, biar jelas semuanya ITU lbh baik kayak nya,
Mamah Dini11
jujur aja sahira daripada di sangka yg bkn2
Wayan Sucani
Sepertinya Sahir anaknya Saga dech
Mamah Dini11
boleh jujur gk sahira anal siapa ITU. Kalau sahir anak saga bicaralah baik2 pd saga siapa tau Dia menerima nya dgn baik pula dan mungkin hidup kmu juga lbh baij kedepan ny demi anakmu
Mamah Dini11
APA gk penasaran kmu saga sm anak ITU mirip kamu gk. cobra tes DNA siapa tau cocok dgnmu
Mamah Dini11
asalamualaikum Ku mampir ni ikut nimbrung moga céritany bagus. dn menarik
Endang Sulistia
keren
Endang Sulistia
anak Sahir 🤔🤔🤔
Aisyah Alfatih: Anakku Sahir tepatnya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!