Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Di Rumah Keluarga Jia
Keheningan yang mencekik masih menyelimuti ruang tamu mewah itu. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru napas memburu dari Jia Ren.
Wajah pria paruh baya itu memerah padam, tangannya mengepal erat di atas lutut menahan gelombang amarah dan kekesalan yang siap meledak kapan saja.
Di sisinya, Wang Len dan Jia Meng hanya bisa saling pandang, lalu mengendikkan bahu ke atas—berpura-pura mengerjakan hal lain, meski detak jantung mereka sendiri berpacu tidak karuan.
Sampai akhirnya, keheningan itu pecah berantakan ketika pintu utama ganda rumah tersebut terbuka dengan kasar.
Bunyi dentuman kayu yang berbenturan dengan dinding membuat mereka semua yang ada di sana tersentak kaget. Secara serempak, kepala mereka menoleh ke arah sumber suara.
Detik kemudian, mata mereka membelalak sempurna. Rahang Jia Ren mengeras. Wanita yang seharian ini ia cari dengan penuh kepanikan, ternyata justru datang sendiri ke rumah ini?
Di ambang pintu yang terbuka lebar, Jia Li berdiri dengan tubuh tegak. Tidak ada guratan ketakutan atau kelelahan di sana.
Wajahnya begitu tenang, datar, dan dingin, seolah-olah dia kembali bukan sebagai tahanan, melainkan sebagai pemilik sebenarnya dari rumah mewah tersebut.
Tanpa memedulikan tatapan syok yang tertuju padanya, Jia Li melangkah maju. Suara roda koper berukuran sedang yang diseretnya menggema di atas lantai, memutus sisa-sisa keheningan di ruangan itu.
Jia Li berhenti tepat di hadapan semua orang yang sedang duduk membeku di atas sofa. Dari posisinya yang berdiri, ia menurunkan pandangan, menatap satu per satu wajah yang ada di sana dengan tatapan menilai yang tajam.
Inikah keluarga tidak tahu diri yang pernah ibu ceritakan itu? batinnya bersuara, dipenuhi nada sinis yang mendalam.
"Ada apa dengan tatapan kalian?" tanya Jia Li, suaranya yang jernih namun dingin seketika memecah kebekuan.
Ia mengedarkan pandangan sekali lagi sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ejekan. "Kalian terkejut seolah-olah aku adalah hantu yang seharusnya tidak ada di sini."
Lalu, tanpa menunggu aba-aba atau izin dari siapa pun, Jia Li melangkah santai menuju sofa yang kosong.
Ia menghempaskan tubuhnya di sana, menyandarkan punggung dengan gestur yang sangat rileks.
Seolah belum cukup membuat mereka naik darah, tangan kanannya terulur ke meja kaca di depannya, menyomot sebuah kue kering dari dalam toples kristal dengan gerakan yang sangat santai.
Jia Ren, Wang Len, dan Jia Meng kembali saling pandang. Kali ini, keterkejutan mereka berubah menjadi kilatan amarah.
Jia Ren condong ke depan, menatap Jia Li dengan mata yang menyipit tajam, mengerahkan seluruh aura intimidasi yang ia miliki sebagai kepala keluarga.
"Kenapa kau bisa ada di sini, Jia Li?" tanya Jia Ren, suaranya berat dan penuh penekanan, mencoba menekan mental putri palsunya. "Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk ke dalam rumah ini tanpa izin dariku?"
Jia Li tidak berkedip. Ia hanya menatap pria itu dengan pandangan datar yang kosong sembari mengunyah kue kering di mulutnya.
Dengan gerakan lambat yang sengaja memancing emosi, ia mengangkat satu kakinya, memangku kaki yang lainnya dengan angkuh.
"Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang keluar," kata Jia Li tenang.
Jawaban Jia Li membuat mata semua orang di ruangan itu melotot tidak percaya. Seorang Jia Li yang biasanya penurut, berani menyebut mereka bodoh?
"Ini rumahku. Tentu saja aku ada di sini." balasnya, suaranya begitu tenang namun menusuk hingga ke tulang.
Brak!
Jia Ren berdiri dengan kasar dari sofanya hingga benda tebal itu bergeser sedikit. "Jia Li! Jaga ucapanmu!" bentak Jia Ren.
Pria itu menarik napas dalam, mencoba meredam suaranya agar tidak meninggi, namun justru membuat tiap kata yang keluar terdengar jauh lebih tajam dan berbahaya. "Ayah mendengar kabar. Kau mengundurkan diri dari rumah sakit secara sepihak? Apa kau sudah gila, hah?!"
Wang Len ikut memajukan tubuhnya, mengangguk cepat menyetujui ucapan suaminya. "Benar! Pikiranmu ditaruh di mana? Selama ini kau selalu membanggakan posisimu sebagai dokter spesialis di rumah sakit bergengsi itu. Dan sekarang, kau malah mengundurkan diri dan menghancurkan reputasi keluarga?"
Di sebelah Wang Len, Jia Meng mendengus keras. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Jia Li dengan tatapan sinis yang dipaksakan untuk menutupi rasa irinya yang mendalam.
"Jangan bertingkah dramatis," sindir Jia Meng dengan nada meremehkan. "Apa kau sengaja pergi karena akhirnya merasa bersalah dan malu padaku? Tapi memang seharusnya kau merasa bersalah! Demi menyelamatkan nyawa orang asing yang tidak penting itu, kau tega mengabaikan dan membiarkanku terluka di ranjang pasien!"
Mendengar rentetan makian itu, Jia Li tidak bergeming. Ia justru menatap mereka satu per satu dengan pandangan kosong yang mengerikan.
"Aku tidak merasa bersalah," katanya tenang, sebuah pengakuan yang membuat suasana di ruang tamu kian menegang.
Ia menjeda sejenak, menikmati raut wajah keluarganya yang mulai diselimuti garis-garis kepanikan. "Aku hanya sedang berpikir... untuk apa aku bersusah payah bekerja di rumah sakit dan mengorbankan segalanya, jika aku memiliki keluarga yang sangat kaya?"
Jia Li kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpu kedua tangannya di atas meja kaca, memperkecil jarak di antara mereka. "Karena itu, aku memutuskan berhenti..." lanjutnya dengan bisikan yang terdengar seperti sebuah ancaman. "Tapi, bukan berarti aku jadi pengangguran tidak berguna."
Semua orang saling pandang. Mereka merasakan firasat yang sangat tidak enak, seolah ada jerat tak kasat mata yang sedang ditarik di sekeliling leher mereka.
"Apa maksudmu?! Jangan berbelit-belit!" bentak Jia Ren, tidak mampu lagi menahan gejolak dadanya yang bergemuruh.
"Itu kenyataan yang harus kau terima, Ayah," ucap Jia Li dengan nada yang mendadak berubah setajam silet.
Tanpa melepas pandangan, ia merogoh tas selempang hitamnya dengan gerakan yang lambat dan penuh teka-teki.
Detik berikutnya, ia mengeluarkan sesuatu yang membuat pasokan oksigen di ruangan itu seolah lenyap seketika. Sebuah kertas kuning diletakkan di atas meja—tepat di hadapan semua orang.
Di atas kertas itu, guratan tulisan mantra kuno tertulis kasar menggunakan tinta merah pekat yang berbau anyir darah.
"Aku hanya ingin mengabulkan keinginan Ayah," ucapnya santai, melirik kertas jimat itu lalu beralih ke wajah pucat Jia Ren. "Ayah tidak ingin aku pergi dari hidupmu, bukan?"
Jia Li tersenyum. Sebuah senyuman yang begitu lebar, dingin, dan menyeramkan di mata semua orang yang menyaksikannya. "Karena itu... Ayah diam-diam menempelkan jimat pengikat ini di apartemenku. Aku sudah mencari tahu ke tempat yang tepat, apa arti dari kertas ini. Artinya, Ayah sangat merindukanku dan tidak ingin aku pergi menjauh, bukan? Karena itu, aku memutuskan..."
Jia Li sengaja menjeda kalimatnya. Senyumnya kian mengembang saat melihat keringat dingin mulai menetes dari dahi mereka.
"...untuk tinggal di sini. Bersama... dengan... kalian."
Deg!
Jantung semua orang terasa mau copot seketika. Keheningan yang mengerikan mengunci lidah mereka; tidak ada yang berani bergerak, bahkan untuk sekadar bernapas normal.
Dengan gerakan elegan yang kontras dengan atmosfer mencekam di sana, Jia Li bangkit berdiri tegak. Ia merapikan pakaiannya seolah baru saja menyelesaikan obrolan yang menyenangkan.
"Aku akan memilih kamarku sendiri," ucapnya dingin sebelum berbalik.
Langkah kakinya terdengar berirama, berpadu dengan gesekan roda koper yang ia tarik menuju lantai atas, meninggalkan ruang tamu yang kini kian mencekam, diselimuti oleh aroma mistis dan teror yang baru saja dimulai.
Namun, di tengah kepanikan yang tak terucap itu, ada sepasang mata yang sejak tadi diam. Sejak awal Jia Li berbicara, wanita itu tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya menatap punggung Jia Li yang perlahan menghilang di balik tangga dengan penuh arti.
Dia adalah Xiao Xi—istri dari Jia Meng. Semua orang mungkin melihat Xiao Xi sebagai menantu yang penurut dan pendiam, namun di balik matanya yang jernih, ia menyimpan sebuah rahasia besar yang tak pernah diketahui siapa pun.
Ada kilat pengenalan sekaligus kewaspadaan yang tertangkap di matanya saat melihat aura Jia Lin saat ini.
Tatapannya... berubah, gumam hati Xiao Xi, meremas ujung bajunya sendiri saat menyadari bahwa Jia Li yang berdiri di depannya hari ini, bukanlah Jia Li yang ia kenal dulu.