Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Mohon bijak dalam membaca area 21+
*****
Ban mobil *sport* hitam itu berdecit keras saat memasuki halaman vila pinggiran kota yang gelap dan terisolasi. Sebelum mesinnya benar-benar mati, Grayson sudah mendorong pintu mobilnya dengan kasar. Langkah kakinya yang lebar dan penuh amarah langsung membabat jarak ke sisi penumpang.
Begitu pintu terbuka, tanpa memberi kesempatan bagi Aurelia untuk bernapas atau merangkai kata, tangan kokoh Grayson mencengkeram pergelangan tangannya. Tarikan itu begitu kuat, menyeret tubuh Aurelia keluar dari kabin mobil dengan kasar dan membawanya menerobos pintu utama vila yang langsung dibanting tertutup hingga dinding rumah berguncang hebat.
"G-Grayson... sakit..." cicit Aurelia tertahan, air matanya langsung tumpah membasahi pipi saat ia diseret menaiki tangga marmer menuju kamar utama pria itu.
"Diam!" bentak Grayson dengan suara bariton yang berat, rendah, dan bergetar karena amarah yang sudah mencapai puncak ubun-ubun. Cemburu buta membakar setiap kewarasannya; bayangan bagaimana Galang berdiri dekat dan tersenyum pada istrinya terus berputar di kepalanya, memicu letupan posesif yang tidak bisa lagi dibendung oleh akal sehat.
Pintu kamar dibuka dengan dorongan keras, lalu tubuh Aurelia didorong hingga jatuh terduduk di atas ranjang *king-size*.
Suasana di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi arena perburuan yang mencekam. Grayson mencopot kemejanya dalam beberapa gerakan kasar, membuangnya ke lantai begitu saja, memperlihatkan dada bidangnya yang naik-turun menahan emosi meluap-luap. Manik mata *amber*-nya menyala terang, memantulkan nafsu gelap dan dominasi mutlak yang siap memangsa.
Aurelia merayap mundur dengan gemetar hebat, merapatkan punggungnya ke kepala ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Wajahnya pucat pasi, matanya menyiratkan teror yang teramat sangat.
"K-kamu... kamu berjanji tidak akan memaksa..." suara Aurelia tercekat di tenggorokan, gemetar hebat diiringi isak tangis yang memilukan.
Grayson tidak menggubris. Pria itu merangsek naik ke atas ranjang, mengurung tubuh mungil Aurelia di bawah kukungan kedua tangannya. Dengan sekali sentakan liar yang penuh tenaga, ia merobek seragam sekolah putih abu-abu yang dikenakan Aurelia. Suara kain robek terdengar mengerikan di tengah keheningan kamar, membelah seragam itu hingga kain bagian depan terbuka lebar, memperlihatkan kulit putih mulus di balik pakaian dalamnya.
"Tolong jangan apa-apa kan aku, Grayson. Kamu sudah berjanji," isak Aurelia histeris, kedua tangannya berusaha menutupi dadanya yang terekspos.
Namun Grayson menutup telinga rapat-rapat terhadap permohonan itu. Pria itu dikuasai oleh kabut hitam kecemburuan. Kalau saja ia bisa berbicara jujur pada dunia, ia ingin meneriakkan bahwa gadis di bawah kurungannya ini adalah satu-satunya harga mati miliknya—tidak ada yang boleh mendekat, tidak ada yang boleh melirik.
"Anggap saja ini hukuman untukmu karena berdekatan dengan pria lain," desis Grayson tepat di depan bibir Aurelia, suaranya terdengar seperti bisikan iblis yang mematikan. "Jika kamu melakukannya lagi, aku tidak akan segan-segan mengambilmu seutuhnya malam ini juga."
Tanpa ampun, tangan besar Grayson merenggut pakaian dalam terakhir gadis itu dan melemparkannya ke sembarang arah, meninggalkan tubuh Aurelia sepenuhnya tanpa pelindung di bawah terpaan lampu kamar yang temaram.
Udara dingin kamar malam itu berpadu dengan panasnya gairah yang mendominasi. Grayson langsung menunduk, menerkam dada indah yang naik-turun karena tangisan. Tangankasarnya meremas bongkahan empuk itu dengan cengkeraman kuat yang meninggalkan jejak kemerahan, sementara bibirnya melahap puting tegang Aurelia dengan rakus dan kasar.
"Ah... s-sakit... kumohon..." jerit Aurelia tertahan, tubuhnya melengkung ke atas menahan sensasi terbakar dan ngilu yang menyiksa. Isak tangisnya berpadu dengan desahan-desahan putus asa yang lolos dari bibir merahnya.
Grayson tidak memedulikan rintihan itu. Satu tangannya yang bebas kini meraba turun, membelah belai paha mulus Aurelia dan membukanya lebar-lebar secara paksa. Di tengah isak tangis yang semakin histeris, jari telunjuk pria itu merangsek turun, menelusup memasuki lubang intim Aurelia yang masih suci, belum pernah tersentuh atau dijajah oleh siapa pun.
*Slat.*
Gerakan satu jari itu masuk dengan tarikan turun-naik yang cepat dan menekan, menciptakan rasa perih bercampur gelombang kenikmatan asing yang membuat tubuh Aurelia menegang kaku.
"Kamu sangat sempit, Sayang," bisik Grayson serak, napasnya memburu di dekat leher Aurelia, mencetak gigitan-gigitan kepemilikan yang meninggalkan noda kemerahan di kulit putih itu. "Kalau saja aku bisa memasukimu sekarang, mungkin dari tadi aku sudah menjadikanmu istriku seutuhnya... membuatmu terikat padaku sampai mati."
Aurelia hanya bisa menangis tergugu. Di bawah tekanan fisik yang luar biasa dan sentuhan beringas itu, pertahanan mentalnya runtuh. Tubuhnya bergetar hebat merespons rangsangan liar, menghasilkan desahan-desahan halus yang lolos di sela-sela isakannya—sebuah kombinasi mengerikan antara siksaan emosional dan kenikmatan paksa yang dipaksakan oleh sang suami.
Puncak gairah yang dibangun dengan brutal itu akhirnya meledak. Grayson mempercepat gerakannya hingga Aurelia mendesah panjang dengan mata terpejam erat, tubuhnya melemah lemas di atas kasur dengan napas tersengal-sengal.
Begitu pelepasan itu tercapai, Grayson tidak berlama-lama mendekapnya. Dengan napas yang masih memburu dan rahang yang masih mengeras, pria itu bangkit dari posisinya di atas ranjang. Tanpa menoleh lagi ke arah Aurelia yang berantakan, ia melangkah lebar-lebar menuju kamar mandi dalam.
*Brak!*
Pintu kamar mandi tertutup rapat. Detik berikutnya, suara deru air shower yang diguyurkan kencang berpadu dengan teriakan tertahan dari dalam sana—luapan emosi, frustrasi, dan amarah Grayson yang melampiaskan kekesalannya pada dinding kamar mandi.
Di atas ranjang yang kacau, Aurelia meringkuk sendirian. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang polos, gemetar ketakutan di tengah sisa-sisa aroma maskulin dan keringat yang pekat. Isakannya masih terdengar pelan di dalam kamar yang sunyi itu. Ia tahu ia ketakutan Setengah mati. Tapi di balik rasa takut yang mencengkeram jantungnya, kesadaran pahit itu menghantam telak: ia sudah terkunci dalam sangkar besi ini. Tidak ada jalan keluar, tidak ada tempat lari. Ia sepenuhnya milik pria iblis itu.