NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Malam pertumpahan darah di ruang dewan meninggalkan bekas yang tak dapat dihapus. Meski genangan darah di meja mahoni telah dibersihkan hingga tak menyisakan bau, atmosfer di dalam puri berubah drastis. Para pelayan melangkah dengan kepala tertunduk dan napas menahan. Pengawalan di setiap sudut koridor dilipatgandakan—pria-pria berjas hitam dengan senapan otomatis kini berdiri seperti patung batu di sepanjang tangga, atrium, hingga area taman.

Aku duduk di bangku panjang berbahan kulit di dalam perpustakaan, memandangi jemariku yang bergetar pelan. Buku fiksi yang terbuka di pangkuanku tak kunjung kubaca; setiap kata di atas kertas putih itu menjelma menjadi bayangan wajah Baron Vance yang memucat dan rintihan histeris Lady Isabella.

"Kau tidak menyentuh sarapanmu lagi, Nona," suara Elena memecah hening. Wanita paruh baya itu meletakkan nampan berisi teh herbal hangat dan kepingan biskuit di meja kecil di sampingku.

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. "Apakah ada kabar tentang... keluarga Vance?"

Elena menghela napas pendek, matanya melirik ke arah pintu perpustakaan yang dijaga dua pengawal sebelum mendekat dan berbisik, "Baron Vance telah diasingkan dari jajaran dewan. Seluruh aset dan jaringan bisnisnya di sektor barat sudah diambil alih penuh oleh Tuan Gabriel. Sedangkan Lady Isabella... dikabarkan dikirim kembali ke kediaman lama keluarganya di luar kota di bawah pengawasan ketat."

Elena menatapku dengan bauran rasa kasihan dan cemas. "Tuan Gabriel membuat seluruh keluarga mafia gemetar semalam, Nona. Tidak ada satu pun yang berani membantah keputusannya lagi."

Bukan rasa aman yang kuhirup dari kabar itu, melainkan rasa tercekik yang makin memburu. Gabriel baru saja memotong salah satu cabang paling berpengaruh di kerajaannya hanya untuk mempertegaskan posisiku. Namun, tindakan itu justru menjadikan diriku sasaran kebencian terselubung dari seluruh faksi yang kini terpaksa tunduk di bawah ketakutan.

"Dia tidak menyelamatkanku, Elena," gumamku pelan, memandangi cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. "Dia hanya makin memperjelas bahwa aku adalah ikatan terlemah yang bisa dihancurkan musuh-musuhnya untuk membalas dendam."

"Tuan Gabriel sangat menjaga Anda, Nona Aurora," balas Elena prihatin. "Saya telah bekerja di rumah ini selama puluhan tahun. Saya menyaksikan bagaimana Tuan tumbuh menjadi pria yang dingin dan tanpa belas kasih setelah kematian ayahnya. Saya belum pernah melihat beliau mempertaruhkan aliansi dan posisinya hanya demi seorang wanita... sampai Anda hadir di sini."

Ucapan Elena justru terasa bagai beban tonase berat yang menimpa dadaku. Dicintai oleh seorang iblis tidak pernah membawa kedamaian; itu hanya berarti kau dijadikan alasan atas setiap kebakaran yang disulutnya.

Pukul tiga sore, pintu perpustakaan terbuka lebar. Langkah kaki yang teratur dan tegas itu kembali bergema. Gabriel melangkah masuk, tidak lagi mengenakan tuxedo formalnya, melainkan kemeja hitam yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan berotot dan bekas luka yang membintangi kulitnya.

Pria itu menghampiriku tanpa suara. Ia berdiri di hadapanku, menunduk menatapku yang masih terdiam di atas sofa.

"Elena bilang kau tidak menyentuh makananmu sejak pagi," ucapnya datar, meski ada gelombang kecemasan yang tersembunyi di balik nada suaranya.

"Aku tidak lapar," jawabku singkat tanpa berani menatap langsung ke matanya.

Gabriel berlutut di hadapanku. Dua tangannya yang besar dan hangat menangkup kedua lututku yang terlipat. Sentuhannya spontan membuat tubuhku tegang—efek traumatis dari dominasi tanpa ampun yang ia tunjukkan semalam masih terasa membakar memori dan persendianku.

"Kau masih marah padaku, Cara mia?" tanya Gabriel rendah. Ibu jarinya mengusap kain gaunku di bagian lutut.

"Aku tidak marah, Gabriel," mataku akhirnya bergerak menatap manik hitamnya yang pekat. "Aku takut. Dan aku lelah."

Gabriel memicingkan mata. "Takut padaku? Atau takut pada dunia di luar puri ini?"

"Keduanya!" seruku, rasa sesak yang kupendam sejak semalam akhirnya jebol kembali. "Kau membanting meja, menembak seorang petinggi dewan, dan membatalkan aliansi besar hanya karena emosi sesaat! Kau pikir kau sedang melindungiku? Kau sedang menjadikan diriku musuh nomor satu bagi seluruh pengikutmu sendiri!"

Gabriel tidak menyela. Ia mendengarkan amarahku dengan wajah datar tanpa riak, seolah teriakanku hanyalah bisikan angin lalu. Ketika aku berhenti bersuara dengan napas yang memburu, pria itu justru menyunggingkan senyum tipis—senyum yang penuh dengan keangkuhan dan kepemilikan mutlak.

"Biarkan mereka membencimu," jawab Gabriel tenang, suaranya sangat dingin namun mantap. "Biarkan mereka memandangmu sebagai alasan kehancuran aliansi itu. Semakin mereka takut padamu, semakin mereka sadar bahwa menyentuhmu sama saja dengan memancing murka terbesar dalam hidupku."

"Kau gila..." bisikku geleng-geleng kepala. "Kau benar-benar sudah gila, Gabriel."

"Aku gila sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di depan moncong pistolku, merentangkan tangan demi menyelamatkan ayahmu yang tak berguna itu," balasku dipotong oleh ucapan Gabriel yang cepat dan tajam. Ia berdiri, menarik tanganku hingga aku terpaksa ikut berdiri bersamanya.

Dada kami berbenturan rapat. Gabriel mengapit rahangku dengan satu tangan, mencengkeramnya cukup kuat untuk menahan posisiku namun tidak sampai menyakitkan.

"Wanita lain akan merangkak di kakiku untuk mendapatkan sejengkal perlindungan yang kuberikan padamu malam ini," bisik Gabriel tepat di depan bibirku. "Tapi kau... kau justru menatapku seolah aku adalah monster yang paling ingin kau hindari."

"Karena kau memang monster, Gabriel!" balasku, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. "Kau mengurungku, kau memaksaku tunduk pada kehendakmu, kau meremukkan tubuh dan mentalku setiap malam, lalu kau mengharapkanku untuk berterima kasih atas 'perlindungan' yang kau ciptakan dari pertumpahan darah ini?!"

Mata Gabriel menggelap seketika. Cengkeramannya di rahangku menguat selapis. Atmosfer di dalam perpustakaan mendadak menjadi tegang dan sesak, sampai-sampai suara ketukan jarum jam dinding terdengar seperti dentuman keras.

"Aku membeli hidupmu, Aurora," bisiknya dengan nada yang begitu dingin hingga sanggup membiarkan darah di pembuluhku membeku. "Setiap helai napas yang kau hirup saat ini adalah milikku. Kau bisa membenciku seribu kali sehari, tapi kau akan tetap berada di sisiku. Di atas ranjangku, di bawah lindungan senjataku, dan di dalam sangkar emas ini."

Ia menunduk dan mengecup bibirku secara kasar—sebuah ciuman yang singkat, penuh dengan ancaman penegasan bahwa tidak ada ruang debat di antara kami. Setelah melepaskannya, Gabriel menatapku dengan mata hitamnya yang berkilat berbahaya.

"Malam ini, kita akan keluar dari puri," ucapnya mendadak.

Aku tersentak, berusaha menguasai napasku yang tidak teratur. "Keluar? Ke mana?"

"Ke pelelangan barang mewah di pelabuhan selatan," jawab Gabriel seraya merapikan lipatan kemejanya. "Seluruh anggota elit dunia bawah tanah akan hadir di sana. Dan aku ingin kau berdiri di sampingku, mengenakan perhiasan terbaik yang kumiliki."

"Mengapa kau harus melibatkanku lagi?!" protesku panik. "Bukankah baru semalam kau membantai petinggi dewan?! Pergi ke tempat umum seperti itu sama saja dengan menantang bahaya!"

Gabriel mendekatkan wajahnya kembali, tersenyum sinis. "Justru karena itu, Cara mia. Aku ingin mereka melihat bahwa aku tidak menyembunyikan kelemahanku. Aku ingin mereka tahu... bahwa wanita yang menjadi selir favoritku berjalan tanpa rasa takut di bawah naungan namaku."

Malam harinya, pelabuhan selatan diselimuti kabut tebal dan aroma laut yang asin berkombinasi dengan bau bahan bakar kapal. Gedung tua bergaya kolonial yang dijadikan tempat pelelangan rahasia itu dijaga ketat oleh ratusan pria bersenjata dari berbagai sindikat.

Aku melangkah turun dari mobil limousine hitam milik Gabriel. Malam ini, aku mengenakan gaun malam berpotongan tajam berwarna emas gelap (bronze) dengan belahan tinggi di paha, dipadukan dengan mantel bulu hitam yang disampirkan Gabriel di bahuku. Leher dan pergelangan tanganku dihiasi rantai berlian hitam murni yang berkilau dalam kegelapan.

Genggaman tangan Gabriel di pinggangku terasa amat protektif. Setiap langkah kami memasuki aula pelelangan yang megah selalu diiringi oleh keheningan mendadak dari para tamu undangan.

Pandangan mata penuh bisik-bisik, dendam, dan rasa penasaran mengarah lurus pada kami. Pria-pria berkuasa dan wanita-wanita bergaun mewah berbisik di balik kipas dan gelas sampanye mereka. Mereka semua sudah mendengar tragedi pertumpahan darah di ruang dewan Moretti semalam—dan mereka tahu, wanita yang berjalan di samping sang Don adalah alasan di balik jatuhnya keluarga Vance.

Gabriel berjalan dengan kepala tegak, tidak memedulikan tatapan mengancam dari para pesaing bisnisnya. Ia menuntunku menuju area balkon VIP yang berada di lantai dua, memberi pandangan luas ke arah panggung lelang di bawah sana.

"Duduklah," perintah Gabriel lembut, menarikkan kursi berbusa untukku.

Aku duduk dengan kaku, mencoba menyembunyikan getaran di tanganku di balik lipatan mantel bulu. Dari posisi balkon ini, aku bisa merasakan betapa banyaknya moncong senjata rahasia yang mungkin sedang terarah ke kepala kami dari sudut-sudut gelap ruangan.

Pelelangan dimulai. Berbagai barang antik, lukisan langka, hingga perhiasan bernilai jutaan dolar ditawarkan di atas panggung. Namun Gabriel sama sekali tidak berminat pada barang-barang itu. Ia hanya duduk bersandar, memutar gelas wiskinya, sembari ibu jarinya terus mengusap pergelangan tanganku yang berada di atas pangkuannya.

Sampai pada item lelang kedelapan.

"Selanjutnya, sebuah mahkota kuno peninggalan dinasti Eropa Timur dari abad ke-18," seru juru lelang di panggung, menyingkap kain penutup merah yang memperlihatkan mahkota emas bertahtakan batu zamrud dan berlian yang sangat indah. "Harga pembuka, lima juta dolar!"

Beberapa penawar di lantai bawah mulai menaikkan papan angka mereka secara bertahap. Enam juta, tujuh juta, hingga delapan juta dolar.

Tiba-tiba, sebuah suara dari balkon VIP di seberang kami menyela dengan nada dingin.

"Sepuluh juta dolar."

Aku menoleh ke arah sumber suara. Di balkon seberang, duduk seorang pria muda berambut pirang dengan luka parut di pipi kirinya. Pria itu mengenakan setelan jas putih murni dan menatap lurus ke arah balkon kami—lebih tepatnya, matanya terkunci padaku dengan tatapan yang provokatif.

"Itu Julian Romanov," bisik Gabriel pelan di telingaku, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es. "Pemimpin sindikat serigala dari utara... musuh bebuyutan keluargaku selama sepuluh tahun terakhir."

Julian mengangkat gelas anggurnya ke arahku dari kejauhan, mengukir senyum tipis yang penuh dengan niat terselubung.

"Dua puluh juta dolar," panggil Gabriel tenang tanpa perlu mengangkat papan penawar. Suaranya yang menggelegar dari balkon VIP langsung membuat seluruh aula pelelangan mendadak senyap.

Juru lelang di panggung sampai tergagap. "D-Dua puluh juta dolar dari Don Gabriel Moretti! Apakah ada yang..."

"Tiga puluh juta dolar," potong Julian dari seberang tanpa berkedip, matanya masih menatapku dengan binar penuh tantangan. "Dan aku ingin mahkota itu dikirimkan langsung ke kamar wanita anggun yang duduk di sampingmu, Gabriel."

Suasana aula makin memanas. Kalimat Julian jelas-jelas sebuah penghinaan dan provokasi terbuka terhadap hak kepemilikan Gabriel atas diriku di depan seluruh elit dunia bawah tanah.

Aku memegang lengan Gabriel, merasakan otot-otot lengannya mengeras seperti baja. Napas pria itu menjadi sangat berat, kegelapan berbahaya menyelimuti paras tampannya seketika.

"Lima puluh juta dolar," panggil Gabriel dengan nada suara datar namun penuh tekanan yang sanggup meruntuhkan mental siapa pun di ruangan itu. "Atau... aku bisa membeli seluruh wilayah utaramu malam ini juga, Julian."

Julian tertawa rendah dari seberang, lalu menyandarkan punggungnya tanpa berniat menaikkan tawaran lagi. Pria berambut pirang itu tahu ia telah berhasil memancing amarah sang iblis Moretti.

"Lima puluh juta dolar! Jatuh kepada Don Gabriel Moretti!" seru juru lelang dengan tangan gemetar, menggetok palunya tiga kali.

Gabriel berdiri dari kursinya. Ia tidak menatap mahkota mahal yang baru saja dibelinya dengan harga fantastis itu. Sebaliknya, ia mencengkeram tanganku, menarikku berdiri dan membawaku keluar dari balkon VIP menuju area lorong belakang yang lebih sepi.

"Gabriel, pelan-pelan! Sakit!" seruku mencoba mengimbangi langkah kakinya yang lebar dan cepat.

Gabriel membalikkan badan secara mendadak di lorong yang remang-remang. Ia mendorong tubuhku ke dinding batu, mengunci kedua sisiku dengan lengan kekarnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku, matanya menyala oleh kecemburuan dan amarah murni.

"Kau melihat cara pria itu menatapmu?!" bentak Gabriel rendah, napasnya yang beraroma wiski membakar kulit wajahku.

"Aku bahkan tidak kenal siapa dia, Gabriel!" balasku panik, jantungku berdegup kencang karena intensitas emosinya yang meledak-ledak.

"Dia menandaimu!" bentak Gabriel lagi, menggepalkan tangannya di dinding tepat di samping kepalaku. "Di depan semua orang, dia mencoba memprovokasiku dengan menggunakan dirimu! Mereka semua berpikir kau adalah celah yang bisa mereka manfaatkan untuk menjatuhkanku!"

"Lalu kenapa kau membawaku ke sini jika kau sudah tahu hal ini akan terjadi?!" teriakku, air mata frustrasi kembali menetes. "Kau yang menyeretku ke tengah panggung pertumpahan darah ini, Gabriel! Kau yang memamerkanku pada musuh-musuhmu!"

Gabriel menatap air mataku yang mengalir. Amarah di wajahnya perlahan mencair, berganti dengan ekspresi obsesif yang jauh lebih menakutkan. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telingaku, meremas pinggangku dengan kekuatan yang membuatku terengah-engah.

"Ya... aku yang menyeretmu ke sini," bisiknya dengan nada rendah yang amat dalam dan protektif. "Karena aku ingin seluruh dunia tahu... siapa pun yang berani menatapmu seperti yang dilakukan Julian malam ini, akan kuhancurkan sampai tak tersisa. Mahkota itu milikmu, Aurora. Tapi kau... selamanya milikku."

Ia membungkam bibirku kembali dalam sebuah ciuman yang panas, posesif, dan penuh tuntutan di lorong gelap pelelangan itu. Di tengah kepungan ancaman dari musuh-musuhnya dan intrik dunia kejahatan yang kian membelit, aku menyadari satu hal yang mengerikan: perang besar di dunia mafia ini baru saja dimulai, dan aku terjebak tepat di pusat badainya sebagai takhta sekaligus kutukan bagi Gabriel Moretti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!