“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
“Mau ke mana, Mas? Baru jam enam sore. Kamu mau membuat investor dan karyawanmu yang lain kecewa karena kamu pergi begitu saja dari pesta kemenangan kita?” tanya Arumi, menahan lengan Hendra dengan erat.
Hendra menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu keluar aula hotel. Ia tampak gelisah, berulang kali melirik jam tangan emasnya.
“Arumi, aku harus menjemput Luna. Kasihan dia sendirian di sekolah,” ucap Hendra terdengar bimbang. “Aku sudah janji tadi pagi bakal jemput dia. Semalam saat pesta ulang tahunnya saja aku sudah ingkar sampai dia menangis. Luna pasti sangat kecewa kalau sekarang aku tidak menjemputnya lagi.”
Arumi mendesah kesal dalam hati. Wajahnya yang cantik mendadak merengut.
“Lagi-lagi bocah itu! Apa Hendra lupa dengan janjinya sendiri yang katanya akan selalu menomorsatukan aku?” batin Amira jengkel.
“Mas, aku juga butuh kamu di sini,” rengek Arumi, memajukan tubuhnya hingga aroma parfumnya yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Hendra. “Aku tidak mungkin menemani para kolega dan investor itu sendirian di dalam. Kamu itu pemimpin perusahaannya, Mas. Kapan lagi kita bisa merayakan kemenangan tender sebesar ini?”
“Tapi, Arumi—”
“Mas, dengar aku,” potong Arumi cepat. Ia memegang kedua pipi Hendra, menatapnya dengan tatapan manja yang memabukkan. “Luna itu masih kecil. Anak kecil bisa kita rayu besok dengan membelikannya mainan baru yang mahal. Aku janji, besok aku bakalan bantu kamu bicara dan membujuk dia. Ya? Please, Mas... jangan tinggalkan aku di sini sendirian.”
Hendra terdiam, menimbang-nimbang ucapan Arumi. Ego dan kesombongannya sebagai direktur yang baru memenangkan proyek miliaran kembali bergejolak.
“Benar juga kata Arumi. Urusan Luna bisa diselesaikan besok dengan uang. Acara makan-makan dan jaringan bisnis dengan kolega hari ini jauh lebih penting untuk masa depanku,” pikir Hendra, mulai terhasut.
“Ya sudah. Iya, aku tidak akan kemana-mana malam ini,” ucap Hendra akhirnya, menyerah pada ego dan rayuan sekertarisnya itu.
Arumi seketika tersenyum lebar penuh kemenangan. “Nah, begitu dong! Ini baru bosku yang hebat!”
Hendra membalas senyuman itu, lalu menggandeng tangan Arumi kembali masuk menuju ruang VIP hotel yang sudah dipesan khusus.
Di dalam benaknya, bayangan wajah sedih Luna seketika menguap, digantikan oleh bayang-bayang alkohol dan pujian dari para koleganya.
“Akhirnya, kamu lebih memilih aku lagi, Mas. Istrimu yang di rumah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan aku,” batin Amira bersorak menang.
Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, kegelapan malam mulai turun dengan cepat.
“Mama... Papa... tolong Luna. Luna takut... hiks...”
Suara tangis lirih seorang anak kecil bergema di sebuah lorong jalan yang sepi dan remang.
Tubuh kecil Luna gemetar hebat. Ia duduk meringkuk di sudut dinding semen yang kotor, memeluk kedua lututnya erat-erat. Tas sekolahnya yang bergambar kartun lucu kini sudah kotor terkena debu jalanan.
Sore tadi, saat jam pulang sekolah, Luna menunggu papanya dengan penuh harap di gerbang depan. Satu jam berlalu, gerbang sekolah mulai sepi. Tiba-tiba, pandangan mata bocah itu teralih pada seekor anak kucing kecil yang menggemaskan di dekat selokan luar gerbang.
Karena bosan, Luna mulai melangkah mengikuti kucing itu. Ia berjalan dan terus berjalan mengejar si kucing, tanpa sadar kakinya telah melangkah terlalu jauh dari area sekolah.
Dan sekarang, Luna benar-benar tersesat di tempat sepi yang asing bagi dirinya, dikelilingi oleh bangunan tua yang gelap. Luna tidak tahu arah jalan pulang ke rumahnya.
“Mama... Papa... Luna janji nggak nakal lagi...” isak Luna, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang kotor.
Dua bayangan pria bertubuh besar dengan pakaian kumal melangkah keluar dari kegelapan.
“Wah, ada mangsa empuk nih, Bos!” ucap salah satu pria berambut gondrong dengan pakaian preman. Matanya menyipit licik melihat sosok anak kecil yang sendirian di sana.
Pria yang dipanggil bos langsung menarik telinga anak buahnya dengan kesal.
“Itu anak kecil, bodoh! Mangsa bagaimana?!”
“Aduh, aduh! Sakit, Bos! Yaelah, coba tengok dulu itu pakaian dan sepatunya,” ringis preman gondrong itu sambil menunjuk ke arah Luna. “Meskipun anak kecil, lihat penampilannya. Bersih, tasnya bagus, sepatunya bermerek. Kayaknya ini anak orang kaya raya yang tersesat!”
Preman bertato itu menyipitkan matanya, memperhatikan detail penampilan Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebuah senyuman sadis perlahan terukir di wajah bopengnya.
“Hmm... kamu benar juga,” desis sang bos preman, sambil mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya dan memainkannya di udara. “Anak orang kaya yang tersesat di wilayah kita. Ini namanya rezeki nomplok!”
Mendengar suara asing yang menyeramkan itu, Luna mendongak. Tubuhnya semakin bergetar hebat saat melihat dua pria berwajah sangar kini sedang berjalan mendekatinya dengan tatapan mata yang lapar.
“Om siapa? Luna mau pulang... hiks...” tangis Luna pecah.
Bocah itu mencoba mundur namun punggung kecilnya sudah menempel erat pada dinding buntu.
“Ayo ikut kami, Bocah! Jangan banyak tingkah kalau mau selamat!” bentak preman bertato itu, langsung mencengkeram kasar lengan mungil Luna hingga bocah itu menjerit kesakitan.
“Nggak mau! Lepas! Tolong... Luna mau pulang! Mama... Papa... Tolong Luna!” jerit Luna histeris. Ia meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari tarikan kasar pria menyeramkan itu.
“Heh, diam! Berisik banget!”
Preman gondrong bersiap membekap mulut Luna, namun gerakannya mendadak terhenti oleh suara bentakan keras dari ujung lorong.
“Lepaskan tangan kotor kalian dari anak itu!”
Sebelum kedua preman itu sempat menoleh, Pak Roni sudah menerjang maju. Dengan satu tendangan berputar yang sangat bertenaga, ia menghantam dada preman bertato hingga pria itu tersungkur ke tanah, melepaskan cengkeramannya pada Luna.
“Kurang ajar! Siapa kamu?!” teriak sang bos preman sambil memegangi dadanya yang sesak.
“Orang yang akan mengirim kalian ke neraka kalau berani menyentuh Nona Muda!” balas Pak Roni dengan posisi kuda-kuda siap tempur.
Dua anak buahnya yang lain langsung maju mengunci pergerakan preman gondrong.
Tepat di saat itu, sebuah mobil hitam berhenti dengan rem mendadak di mulut lorong. Pintu mobil terbuka kasar, dan Ningsih berlari keluar dengan wajah yang dipenuhi air mata.
“Luna!” pekik Ningsih.
“Mama!” Luna langsung berlari kencang dan menghambur ke pelukan ibunya, menangis sejadi-jadinya karena ketakutan. “Mama, Luna takut. Om itu jahat...”
Ningsih mendekap erat tubuh bergetar putrinya, menciumi puncak kepala Luna dengan napas memburu. Ia menoleh tajam ke arah kedua preman yang kini sudah babak belur dikepung anak buah Pak Roni.
“Pak Roni, bawa dua bajingan ini ke kantor polisi!” perintah Ningsih. “Dan pastikan mereka tidak akan pernah melihat matahari lagi!”
“Baik, Ibu Ningsih!” sahut Pak Roni tegas.
Ningsih kembali menatap Luna, menghapus air mata di pipi anaknya.
“Demi memuaskan wanita murahanmu, kamu hampir membuat anak kita mati, Mas?!” batin Ningsih sembari menggendong Luna ke mobil.
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut