Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alkohol
Dapur berukuran luas dengan interior modern itu terasa begitu sunyi dan dingin. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah denting sendok yang beradu pelan dengan piring keramik, serta helaan napas berat yang berkali-kali diembuskan oleh Vivian.
Wanita itu mengusap dadanya pelan, mencoba menekan gejolak mual yang mendadak menyerang tenggorokannya dengan sangat hebat.
Morning sickness*m di usia kehamilan yang memasuki bulan ketiga ini terasa begitu menyiksa tubuh ringkihnya. Rasa pusing yang berputar di kepalanya membuat pandangannya beberapa kali berkunang-kunang.
Namun, Vivian menahannya. Dia memaksa kakinya yang mulai gemetar untuk tetap berdiri berjam-jam di depan kompor panas, hanya demi menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Matahari sudah lama tenggelam, dan jarum jam dinding mewah di ruang tengah telah menunjukkan pukul sebelas malam. Meja makan kayu jati berukuran delapan kursi itu masih tertutup rapi oleh tudung saji. Semua masakan kesukaan Radhit sudah tertata sempurna di sana.
Vivian memegang pinggang bawahnya yang berdenyut nyeri, lalu perlahan jemari kurusnya mengelus perutnya yang masih datar. Ada sedikit rasa hangat yang menjalar di hatinya setiap kali dia menyentuh calon buah hatinya itu.
"Sabar ya, Nak... Kita tunggu ayah pulang," bisik Vivian pelan pada dirinya sendiri dengan senyum tipis yang amat getir.
Klek.
Suara engsel pintu depan yang terbuka berat membuat tubuh Vivian seketika tegang. Dia buru-buru merapikan apron kain yang melilit pinggangnya, menyapu keringat dingin di dahinya, lalu melangkah cepat menuju foyer depan.
Di sana, Radhit Gezha Revandhana berdiri meluruskan posisinya. Kemeja putih mewahnya sedikit berantakan dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan dadanya yang bidang. Aura dominan dan berkuasa memancar kuat darinya. Pria itu tampak tenang di luar, namun sorot matanya yang tajam dan merah akibat pengaruh alkohol menyimpan lautan emosi yang sangat berbahaya.
Aroma alkohol bercampur wewangian parfum wanita yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Vivian yang sensitif.
Vivian mencoba tersenyum, melangkah mendekat dengan gestur tubuh yang sangat penurut. "Mas Radhit... baru pulang?" sapa Vivian lembut, mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil tas kerja kulit milik Radhit seperti biasa.
Namun, Radhit menepis tangan istrinya dengan satu sentakan dingin dan tegas.
TAK!
"Jangan sentuh!" potong Radhit tajam. Suaranya serak, rendah, dan dingin, namun terasa begitu menusuk. Pria itu menatap Vivian dari atas ke bawah dengan pandangan penuh superioritas dan ketidaksukaan. "Nggak usah pakai acara dramatis setiap kali saya pulang malam."
Vivian memegang pergelangan tangannya yang memerah, menunduk dalam-dalam. "Aku... aku cuma mau ngurus Mas. Mas belum makan, kan? Aku udah panaskan sup"
"Vivian," panggil Radhit pelan. Intonasinya teratur, namun di baliknya ada amarah besar yang mulai menggelegak pelan.
"Saya membiayai rumah ini untuk cari ketenangan setelah kerja seharian, bukan untuk dengar celotehan nggak penting kayak gini!"
Pria itu melangkah tegap menuju ruang makan. Vivian menarik napas panjang yang terasa sangat menyiksa, mencoba membuang rasa sesak di dadanya, lalu berbalik mengikutinya dari belakang.
"Mas, makanannya cuma perlu dihidangkan,kita makan dulu ya,"Ucap Vivian lirih
Langkah Radhit terhenti mendadak di depan meja makan. Ketika hidungnya menangkap aroma bumbu masakan yang menyengat di dalam ruangan itu, kontrol dirinya yang dingin seketika remuk. Emosinya yang terendam alkohol meluap hebat.
BRAKK!
Radhit menghentakkan telapak tangannya ke atas meja kayu jati itu dengan sangat keras hingga getarannya terasa ke lantai. Vivian tersentak hebat, refleks melangkah mundur dengan wajah pucat pasi.
"Siapa yang menyuruh masak makanan berbau busuk ini?!" suara Radhit meledak hebat, memenuhi seluruh sudut ruangan dengan gaung amarah yang mengerikan. Pria berkelas yang tadinya tampak tenang itu kini berubah menjadi sosok tak tersentuh yang dikuasai murka.
"Mas... itu cuma bau bumbu sup iga kesukaan Mas"
"BUANG!" bentak Radhit dengan mata memerah menatap tajam.
"Ta-tapi mas.."Ucap Vivian dengan terbata bata
PRANG! PYAR!
Suara benturan keramik dan kaca yang hancur berkeping-keping membentur lantai marmer bergema sangat keras. Kuah sup hangat dan pecahan keramik berceceran ke mana-mana, beberapa di antaranya melayang dan menggores kaki Vivian hingga mengeluarkan darah segar.
Vivian memegang perutnya rapat-rapat, memekik ketakutan. "Mas Radhit! Tolong tenang, Mas"
"GIMANA SAYA BISA TENANG KALAU LIAT MUKA MU TERUS TERUSAN?!" murka Radhit meluap-luap. Pria itu melangkah mendekati Vivian dengan raut wajah penuh intimidasi yang menakutkan. Dia mencengkeram bahu Vivian dengan sangat keras, menekan wanita itu ke dinding dingin di belakangnya.
"DENGAR YA!" bentak Radhit tepat di depan wajah istrinya, napasnya yang berbau alkohol terasa memburu.
"SAYA MEAFKAHI KAMU, MEMBERI KAMU TEMOAT TINGGAL MEWAH, DAN MENUTUP MATA ATAS LATAR BELAKANG KAMU YANG BUKAN SIAPA SIAPA! TAPI KAMU MALAH MENYUGUHKAN WAJAH MENYEDIHKAN DAN EUMAH BERBAU SAMPAH SETIAP SAYA PULANG!"Bentak Radhit Di depan Muka Vivian dengan Rahang mengetat Mencengkram Bahu Vivian dengan Sangat Kuat
"Mas... sakit... bahu aku sakit..." cicit Vivian menahan tangis dan rasa mulas yang mendadak mencengkeram perut bawahnya.
"Rasa sakit kamu itu nggak ada apa-apanya dibanding rasa mual saya setiap kali lihat muka kamu di rumah ini!" Radhit menghempaskan bahu Vivian secara kasar hingga wanita itu tersungkur di atas lantai marmer, tepat di dekat pecahan kaca dan ceceran darahnya sendiri.
Radhit berdiri tegap di atas istrinya, menatap Vivian dari ketinggian dengan napas memburu dan aura kejam yang tak tersentuh.
"Bersihkan semua sampah ini sampai nggak tersisa sedikit pun!" perintah Radhit dengan nada memutus yang meluap akan amarah.
"Kalau besok pagi saya masih mencium bau makanan ini atau melihat muka kamu berakting menyedihkan seperti ini lagi, jangan salahkan saya kalau kamu saya lempar keluar dari rumah ini!"
Tanpa memberikan pandangan iba sedikit pun, Radhit membalikkan badan dengan langkah lebar yang mengintimidasi, menuju tangga atas dan membanting pintu kamar utama hingga menggetarkan seluruh rumah.
BAM!
Di atas lantai yang dingin dan berdarah, Vivian meringkuk memeluk perutnya yang terasa amat nyeri, menangisi takdirnya dalam tangisan sunyi yang memilukan.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian