Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sinar matahari Senin pagi yang menerobos masuk dari celah tirai kamar tamu terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Naya membuka mata perlahan, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya. Begitu kesadarannya terkumpul, hal pertama yang terlintas di benaknya adalah memori tentang balkon, udara malam yang sejuk, dan aroma mint dari bibir Kafka.
Naya refleks menarik selimut untuk menutupi separuh wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Ia tersenyum sendiri di balik selimut berbahan katun itu, menendang-nendang udara dengan kakinya layaknya remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Tiga tahun ia terjebak dalam hubungan yang monoton dan penuh kebohongan bersama Reno, dan hanya butuh beberapa hari bagi Kafka untuk menghancurkan semua itu, menggantinya dengan debar jantung yang tak berkesudahan.
Namun, senyum Naya seketika luntur saat ia melirik jam beker di atas nakas. Pukul enam tiga puluh pagi. Waktunya sarapan.
Naya menelan ludah. Bagaimana ia harus bersikap di depan Nessa hari ini? Apakah ia harus berpura-pura semuanya normal? Atau langsung mengaku? Membayangkan rentetan interogasi dan teriakan melengking sahabatnya itu membuat nyali Naya menciut.
Setelah mandi dan mengenakan blus kerja berwarna peach pastel serta rok span selutut, Naya menuruni tangga dengan langkah sepelan mungkin. Ia mengintip ke arah dapur bersih.
Nessa sedang duduk di kursi bar, mengenakan piyama bermotif polkadot, sibuk mengunyah sereal cokelat sambil menatap layar ponselnya. Di seberangnya, Kafka berdiri membelakangi tangga, sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi. Pria itu sudah rapi dengan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga siku.
"Pagi..." sapa Naya ragu-ragu, menarik kursi di sebelah Nessa dan duduk dengan canggung.
"Pagi, Nay! Tumben lo udah rapi jam segini," sahut Nessa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Bikin roti gih sana, gue lagi males masak nasi goreng."
Kafka menoleh. Matanya langsung menemukan sosok Naya. Seulas senyum lembut dan memabukkan seketika terbit di wajah pria itu. Ia meletakkan teko air panas, mengambil cangkir kopi yang baru saja ia seduh, lalu berjalan memutari island table menghampiri Naya.
Alih-alih sekadar meletakkan cangkir itu di depan Naya, Kafka meletakkan sebelah tangannya di sandaran kursi Naya. Ia mencondongkan tubuhnya, mengecup pelipis Naya dengan sangat natural—seolah itu adalah rutinitas yang sudah mereka lakukan selama bertahun-tahun.
"Pagi, Sayang," bisik Kafka, suaranya mengalun rendah dan berat tepat di telinga Naya. "Kopinya tidak aku beri gula, persis seperti kesukaanmu."
Trak!
Sendok sereal di tangan Nessa terlepas, jatuh menghantam mangkuk kaca dengan bunyi yang sangat keras. Susu cokelatnya bahkan sedikit memercik ke meja.
Nessa perlahan menolehkan kepalanya. Mulutnya sedikit terbuka, matanya membelalak lebar menatap adiknya yang masih berdiri dengan sangat santai di dekat Naya, dan menatap Naya yang kini wajahnya sudah semerah tomat matang.
Keheningan yang luar biasa canggung turun menyelimuti dapur itu selama lima detik penuh.
"Mata gue yang rabun, telinga gue yang rusak, atau lo baru aja manggil sahabat gue dengan sebutan... 'Sayang'?" tanya Nessa, suaranya bergetar antara syok dan tidak percaya.
Kafka menegakkan tubuhnya. Pria itu menatap kakaknya dengan raut wajah setenang permukaan danau. "Mata dan telingamu berfungsi dengan sangat baik, Kak Nessa. Dan ya, aku baru saja menyapanya."
"GILA!" Nessa melompat dari kursinya, menunjuk Kafka dan Naya bergantian dengan jari telunjuk yang gemetar. "Kalian berdua... tunggu. Tunggu dulu. Sejak kapan?! Ya Tuhan, pantesan aura di rumah ini agak beda dari kemarin! Kalian main gila di belakang gue?!"
"Nes, dengerin gue dulu—" Naya mencoba menengahi, meremas kedua tangannya di atas paha karena panik.
"Jangan potong ucapan gue, Naya!" Nessa menatap sahabatnya dengan dramatis. "Gue bawa lo ke sini buat sembunyi dari buaya darat, malah lo diterkam sama singa peliharaan gue sendiri?!"
"Aku tidak menerkamnya," potong Kafka tenang, menyilangkan tangannya di dada. "Aku memintanya dengan sangat baik-baik. Dan aku sudah mendapatkan restu dari Pak Haris secara langsung kemarin sore di Solo. Beliau sudah menyerahkan Naya kepadaku."
Nessa kembali menganga. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan yang kehabisan oksigen. "Bapaknya Naya? Yang galak kayak komandan tentara itu? Ngasih restu ke lo? Lo apain bapaknya, Kaf?! Lo pelet?!"
"Aku hanya menunjukkan bahwa aku adalah pria yang jauh lebih baik daripada mantan kekasihnya yang pecundang itu," jawab Kafka mengedikkan bahu.
Nessa menatap adiknya lamat-lamat, lalu beralih menatap Naya yang sedang menggigit bibir bawahnya karena gugup. Alih-alih marah atau merasa dikhianati, raut wajah Nessa perlahan berubah. Senyum lebar yang sangat mencurigakan terbit di wajahnya, disusul oleh tawa lepas yang membahana ke seluruh penjuru dapur.
"Astaga, sumpah, gue nggak nyangka!" Nessa berjalan memutari meja dan langsung memeluk Naya erat-erat. "Kaget sih, tapi gue bahagia banget, Nay! Gila, sahabat gue bakal jadi adik ipar gue sendiri!"
Naya menghembuskan napas lega yang luar biasa panjang, membalas pelukan Nessa dengan tak kalah erat. "Lo nggak marah, Nes?"
"Ngapain gue marah? Gue lebih milih lo sama adik gue yang jelas-jelas mapan, ganteng, dan bucin tingkat dewa ini daripada sama si Reno benalu itu," Nessa melepaskan pelukannya, lalu menunjuk wajah Kafka dengan telunjuknya. "Tapi awas ya, Kaf! Sekali lo bikin sahabat gue nangis, gue sendiri yang bakal potong aset masa depan lo pakai gunting rumput!"
Kafka tersenyum miring, meraih tangan Naya dan menggenggamnya di atas meja. "Kakak tidak perlu khawatir. Air matanya sudah habis. Mulai sekarang, tugasku hanya memastikan dia selalu tersenyum."
Pagi itu dilalui dengan hati yang jauh lebih ringan. Kecanggungan Naya perlahan menguap. Saat Kafka mengantarkannya ke kantor, perjalanan mereka tidak lagi diisi oleh kebisuan yang tegang, melainkan oleh obrolan ringan dan jemari yang terus bertaut di atas konsol tengah mobil.
"Jam berapa kau selesai hari ini?" tanya Kafka saat SUV hitamnya menepi di depan lobi gedung perkantoran.
"Seperti biasa, jam lima sore. Tapi mungkin aku ada meeting kecil sama tim, jadi baru bisa turun jam setengah enam," jawab Naya, melepaskan sabuk pengamannya.
"Kabari aku. Aku akan menjemputmu di depan lobi," ucap Kafka. Pria itu mencondongkan tubuhnya, memberikan kecupan hangat di bibir Naya sebelum wanita itu sempat menghindar. "Semangat kerjanya, Sayang."
Naya keluar dari mobil dengan wajah yang kembali merona dan senyum yang tidak bisa ditahan. Sepanjang hari di kantor, ia bekerja dengan suasana hati yang sangat baik. Bahkan saat beberapa rekan kerjanya membicarakan soal Reno yang kabarnya sudah tidak berani menampakkan diri di kantor lamanya, Naya sama sekali tidak terpengaruh. Masa lalunya benar-benar sudah kehilangan kuasa atas dirinya.
Pukul setengah enam sore, Naya melangkah keluar dari lift menuju lobi utama. Langkahnya terhenti saat melihat seorang pria berdiri di dekat meja resepsionis. Bukan Kafka. Itu adalah Pak Bima, Manajer Pemasaran dari divisi sebelah yang memang terkenal sering merayu karyawan wanita. Pria berstatus duda tanpa anak itu tersenyum lebar begitu melihat Naya.
"Naya! Kebetulan sekali kita ketemu di sini," sapa Pak Bima, berjalan menghampiri Naya. "Saya dengar kamu baru putus ya dari tunanganmu? Sayang sekali, padahal kamu wanita yang sangat luar biasa."
Naya memaksakan senyum sopan. "Terima kasih, Pak Bima. Semuanya sudah berlalu."
"Nah, kebetulan saya mau ke arah Kemang. Kalau kamu belum dijemput, mari saya antar pulang. Sekalian kita bisa makan malam bersama? Hitung-hitung menghibur hati yang sedang sedih," tawar Pak Bima dengan tatapan yang menurut Naya sangat tidak nyaman. Pria itu bahkan berani sedikit mencondongkan tubuhnya, mencoba menyentuh bahu Naya.
Namun, sebelum tangan Pak Bima berhasil mendarat di blus Naya, sebuah langkah kaki yang mantap dan tegas terdengar menggema dari arah pintu kaca utama.
"Terima kasih atas tawarannya, Bapak. Tapi wanita luar biasa ini tidak butuh hiburan dari pria lain."
Suara bariton yang dingin dan mematikan itu membuat Pak Bima tersentak mundur. Naya menoleh, dan hatinya seketika berdesir hebat.
Kafka melangkah masuk ke dalam lobi. Jas abu-abunya membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Auranya memancarkan dominasi mutlak yang membuat beberapa orang di lobi langsung menoleh ke arahnya. Pria itu berjalan lurus menghampiri Naya, menempatkan dirinya tepat di antara Naya dan Pak Bima.
Tanpa ragu sedikit pun, Kafka melingkarkan lengan kirinya di pinggang Naya, menarik wanita itu hingga merapat ke sisi tubuhnya. Sebuah klaim teritorial yang sangat jelas dan tidak terbantahkan.
"S-siapa kamu?" Pak Bima gelagapan, terintimidasi oleh tatapan Kafka yang menyorotnya seolah ia adalah kuman yang menempel di sepatu mahalnya.
Kafka mengukir senyum miring yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Saya Kafka. Pria yang bertanggung jawab penuh atas senyum, keamanan, dan transportasi Naya. Jika Bapak punya urusan pekerjaan dengannya, silakan hubungi di jam kantor. Tapi di luar itu, dia adalah milik saya."
Wajah Pak Bima memerah karena malu. Ia berdehem canggung, membetulkan letak dasinya. "O-oh... maaf, saya tidak tahu Naya sudah punya kekasih baru. Kalau begitu, saya permisi duluan." Manajer Pemasaran itu buru-buru berbalik dan melangkah cepat meninggalkan lobi, nyaris menabrak pintu putar karena saking paniknya.
Naya menyembunyikan wajahnya di balik lengan Kafka, menahan tawa melihat kelakuan atasannya itu.
Kafka menunduk, matanya yang semula tajam kini melembut saat menatap Naya. "Ada yang mengganggumu lagi selain pria tua barusan?"
Naya menggeleng pelan. "Nggak ada. Kamu datang tepat waktu, Kaf."
"Bagus," Kafka mencium puncak kepala Naya tanpa memedulikan tatapan beberapa karyawan yang masih mengamati mereka. "Ayo kita pergi. Ada tempat yang harus kita kunjungi sebelum pulang."
Naya menautkan alisnya saat Kafka menuntunnya keluar lobi dan membukakan pintu mobil. "Kita mau ke mana? Kamu mau ngajak aku makan malam?"
"Makan malam bisa nanti," jawab Kafka setelah ia masuk ke kursi pengemudi dan mulai menghidupkan mesin. Pria itu menoleh ke arah Naya, menatap jemari wanita itu yang bertaut di atas pangkuan. Seringai tipis kembali menghiasi bibirnya.
"Kita mau ke mal," lanjut Kafka santai sambil memutar kemudi.
"Ngapain ke mal jam segini?"
Tatapan Kafka menggelap, sarat akan keposesifan yang manis. "Untuk membeli sebuah cincin, Kak Naya. Sepertinya aku harus mengamankan dirimu secepatnya dari pria-pria tebar pesona, sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku dan membeli seluruh gedung perusahaanmu."