Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Bagas dan Sonia
Alma menggeleng- gelengkan kepalanya saat diperlihatkan video kebersamaan Bagas dan Sonia di sebuah cafe.
"Kan....kan... Bener- bener nih cewek nggak tahu diri...cewek murahan... Berani banget dia bersikap sok akrab sama suami orang. Cipika- cipiki, gandeng tangan, colek- colek pipi, sok genit lagi...oh ya ampun, ternyata begini cara pelakor menggoda suami orang..." ucap Alma begitu emosi dengan sikap Sonia kepada Bagas.
"Suamimu juga kenapa diam aja sih digituin beb... ? Kok dia kayak pasrah gitu sih...? Apa jangan- jangan dia menikmati semua perlakukan perempuan murahan itu...? Oh ya ampun..." kali ini Alma memijit keningnya.
Iya, Alma benar- benar gemas, rasanya dia ingin menjambak rambut Sonia. Tapi dia juga kesal pada Bagas yang seolah- olah pasrah menerima perlakuan Sonia.
"Di tempat umum aja dia berani seperti itu. Gimana kalau mereka lagi berdua beb...? Mereka pasti sudah melakukan sesuatu yang lebih intim dari pada ini..." ucap Alma sambil menunjuk video di ponsel Suzan.
"Dan kamu ingat kan beb, suamimu pernah salah menyebut nama saat kalian sedang bercinta...? Aku sih yakin beb, kalau suamimu sama perempuan ini sudah pernah tidur bareng..." sambung Alma sambil menoleh ke arah Suzan.
Namun setelah melihat reaksi Suzan, Alma merasa sangat bersalah karena sudah bicara terlalu lancang. Iya, Suzan menangis dalam diam.
"Beb. ..sorry ya aku nggak bermaksud bikin kamu...
"Nggak papa... Kamu nggak salah... Apa yang ada di pikiran kamu juga ada di pikiran aku... hik...hik..." Suzan menangis.
"Sabar ya beb..." Alma bangun dari duduknya lalu memeluk Suzan.
"Beb, kamu harus menemui suamimu sekarang.Kamu minta penjelasan padanya tentang video ini, dan tanyakan padanya, mereka ada hubungan apa. Buat suamimu mengakui apa saja yang sudah mereka berdua lakukan beb..." ujar Alma.
Suzan menggelengkan kepalanya.
"Nggak Alma..sekarang belum waktunya. Aku masih ingin mengumpulkan bukti dulu. Video ini tidak akan kuat untuk dijadikan bukti kalau mereka berdua selingkuh.." sahut Suzan.
"Aku ingin bukti yang benar- benar kuat..." sambung Suzan sambil mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
Iya, Suzan tidak mau gegabah terlalu cepat bertindak hanya karena satu video kebersamaan Bagas dengan Sonia di cafe. Suzan bukan orang yang bodoh. Dia tidak akan menuduh jika bukti yang dia miliki belum kuat. Bisa saja Bagas akan mengelaknya, dan berdalih kalau dia dan Sonia hanya teman biasa.
"Maaf beb.... Aku mau tanya. Kalau suamimu memang benar- benar selingkuh dan kamu sudah memegang bukti yang kuat, apa yang akan kamu lakukan...?'' tanya Alma.
Suzan menghela nafas. Ingatan Suzan pun kembali ke masa tujuh tahun lalu. Di mana dia dan Bagas baru berencana untuk menikah. Mereka berdua pernah berjanji jika setelah mereka menikah nanti,mereka akan saling menjaga , saling cinta, saling setia dan saling mengerti dan memahami satu sama lain.
Dan mereka juga berjanji jika salah satu di antara mereka ada yang berkhianat, maka perpisahan adalah jalan yang akan mereka tempuh. Entah yang berkhianat Suzan ataupun Bagas, mereka akan berpisah. Karena bagi mereka berdua pengkhianatan dalam rumah tangga adalah kesalahan yang amat fatal.
Dan bangunan rumah tangga yang sudah retak, tidak akan bisa kembali utuh sepenuhnya walaupun dipaksakan dengan berbagai cara. Luka itu akan tetap ada membekas di hati yang sudah luka karena pengkhianatan.
''Aku akan minta pisah..." jawab Suzan dengan tatapan nanar.
Alma diam, iya, tentu saja Alma merasa miris mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Memang tidak ada satu orang pun yang ingin berpisah setelah menjalani pernikahan. Namun buat apa kita harus bertahan jika pasangan kita telah berani berkhianat.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Di tengah suasana hatinya yang tidak menentu, Suzan tetap berusaha bersikap seperti biasa di depan Bagas. Suzan masih berusaha tersenyum dan masih mengurus sang suami dengan baik. Seperti pagi ini, Suzan menyiapkan baju kantor Bagas dan semua keperluannya sebelum berangkat ke kantor.
Mereka juga masih berangkat kantor bersama dan mengantar Alvaro ke sekolah. Dan Suzan masih mau bercanda ria dengan Alvaro di dalam mobil, saat dia dan Bagas mengantar putra semata wayangnya ke sekolah. Iya, Suzan sengaja menahan segala perasaan yang bergejolak dalam hatinya agar Bagas tidak curiga lagi bahwa diam- diam dia sedang memata- matai Bagas dengan bantuan Tomi.
Suzan tidak mau bergerak sendiri, dan lebih memilih menerima informasi dari dari Tomi, detektif yang dia sewa untuk memata- matai Bagas. Karena menurutnya itu akan jauh lebih aman.
"Dadah mami... Papi...." Alvaro melambaikan tangan sambil berjalan masuk ke kelasnya yang langsung di sambut oleh guru kelasnya.
Suzan dan Bagas pun membalas lambaian tangan putra semata wayangnya sambil tersenyum. Lalu mereka berdua kembali naik ke mobil dan meneruskan perjalanan ke perusahaan Hartanto Group.
"Mas... Nanti sore kamu ada meeting nggak...?'' tanya Suzan sambil melirik sekilas ke arah sang suami yang sedang fokus menyetir.
"Nggak ada sayang... " jawab Bagas.
"Kamu sendiri gimana....?'' tanya Bagas.
Suzan menghela nafas lalu menoleh ke arah sang suami.
"Hari ini aku pulang telat. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan mengenai kontrak dengan perusahaan Perkasa Mandiri..." jawab Suzan.
"Oh, ya udah nanti aku temani kamu ya, seperti biasa, aku menunggumu, dan kita pulang bersama..." sahut Bagas.
"Tidak usah..." jawab Suzan.
"Lho kenapa...? Kan kita sudah berjanji kita akan berangkat dan pulang bersama setiap hari..." sahut Bagas.
Suzan kembali menghela nafas. Lalu Suzan meminta Bagas agar pulang lebih awal dan menemani Alvaro bermain di rumah.
"Kasihan Alvaro nanti nungguin kita sampai malam. Kamu ajak saja dia main, biar dia nggak kesepian..." ucap Suzan.
"Oh... Baiklah kalau gitu..." jawab Bagas sambil mengangguk.
"Siang ini jadwal kamu ketemu sama siapa saja...?'' tanya Suzan.
"Paling cuma ketemu tuan Ferdinan, sekalian makan siang...." jawab Bagas.
Suzan hanya menganggukkan kepalanya.
" Apa kamu mau ikut makan siang bareng, sayang...? "tanya Bagas.
"Nggak... Aku makan di kantor saja. Kerjaan ku padat sekali hari ini..." jawab Suzan.
"Tapi kamu jangan sampai telat makan ya..." ucap Bagas sambil mengusap kepala Suzan, sementara tangan kanannya memegang kemudi.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Ikuti suamiku... Dia akan meeting di restauran Selera Nusantara...." Suzan mengirim pesan pada detektif Tomi.
"Siap bu Suzan...." detektif Tomi membalas pesan Suzan.
Suzan kembali melanjutkan pekerjaan kantornya, namun hingga dua jam berlalu, Tomi belum juga mengirim apapun padanya. Suzan yang sudah berkali- kali mengecek ponsel pun merasa heran.
"Beb..." Alma mengetuk pintu lalu masuk ke ruang kerja Suzan dengan membawa berkas di tangannya.
"Kenapa sih, kok ngelamun gitu...?'' tanya Alma saat melihat Suzan bengong sambil memegang ponselnya.
Suzan menghela nafas. Lalu Suzan memberitahu Alma kalau dirinya sedang menunggu pesan dari Tomi mengenai hasil pengintaiannya hari ini. Namun Tomi sama sekali tidak memberikan informasi apapun.
"Beb, kalau Tomi nggak ngasih info tentang suamimu, itu artinya memang suamimu tidak melakukan hal- hal yang mencurigakan..." ucap Alma.
"Iya juga sih, tapi nggak tahu kenapa aku jadi nggak tenang kalau mas Bagas pergi keluar..." sahut Suzan lalu memainkan pulpen.
"Suamimu dan Fikri sedang meeting sama tuan Ferdinan kan...?'' tanya Alma, dan Suzan mengangguk.
"Berarti suamimu nggak ketemuan sama Sonia si perempuan murahan itu. Nggak mungkin juga kan, Sonia mau gabung, kecuali kalau suamimu meeting sama bosnya Sonia. Sudah pasti mereka akan ketemu..." sahut Alma yang yakin kalau tidak terjadi hal yang mencurigakan pada Bagas.
Suzan menggeleng- gelengkan kepalanya. Entah mengapa Suzan merasa tidak bisa tenang saat ini.
Alma menatap wajah Suzan beberapa saat. Iya tentu saja Alma paham apa yang sedang sahabatnya rasakan. Istri mana yang akan tetap tenang setelah melihat foto dan video kedekatan suaminya dengan perempuan lain.
"Beb... Sudah ya, kamu serahkan saja semua urusan suamimu pada Tomi. Dia pasti akan menginformasikan apapun yang memang harus kamu tahu..." ucap Alma.
Suzan menghela nafas, lalu mengangguk.
"Beb... Ini tolong ditandatangani dulu ya..." ucap Alma sambil memberikan berkas pada Suzan.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sore hari Suzan dan Alma kembali harus mengadakan meeting untuk membahas kerja sama dengan perusahaan Perkasa Mandiri. Dan otomatis Suzan harus kembali bertemu dengan Bintang, mantan kekasihnya. Iya, CEO dari perusahaan Perkasa Mandiri yaitu tuan Anggara masih berada di luar negri, maka dari itu Bintang lah yang menggantikan bosnya untuk membahas kerja sama dengan perusahaan Hartanto Group.
Begitu juga dengan tuan Haryanto yang akhir- akhir ini nampak begitu sibuk di luar kantor. Dia lebih sering meminta Suzan untuk menggantikannya menemui klien.
"Beb... Jadi sore ini kita meeting lagi nih sama Bintang...?'' tanya Alma.
Suzan yang masih duduk di kursi meja kerjanya mengangguk sambil memasukkan laptop dan beberapa berkas yang harus dia bawa untuk meeting nanti.
"Papa mertua kamu ke mana sih beb...? Perasaan akhir- akhir ini dia sering keluar kantor dan menyerahkan pekerjaan ke kamu...?'' tanya Alma.
"Papa sibuk di luar..." jawab Suzan sambil merapihkan penampilannya yaitu memoles wajahnya dengan bedak dan juga lipstik di bibirnya agar penampilannya tetap fresh walaupun seharian dia berada di kantor.
"Cieee.... Yang mau ketemu mantan pacar...." uca Alma yang memang suka usil pada Suzan.
"Apaan sih..." sahut Suzan sambil bercermin.
"Udah...jangan cantik- cantik dandannya... Nanti mantan pacarnya jadi nggak fokus...." ucap Alma.
"Ish....kamu ini...." Suzan melempar pulpen ke arah Alma. Dan Alma pun tertawa.
"Perasaan kamu gimana beb...?'' tanya Alma kepo.
"Perasaan apa...?" tanya Suzan sambil melirik Alma.
"Ya, maksudnya hati kamu berdebar- debar nggak...? Kan sebentar lagi mau ketemu mantan ....?'' sahut Alma sambil menyengir.
"Ish... Kamu ini..."jawab Suzan.
Lagi- lagi Alma tertawa. Dan bersamaan dengan itu Bagas masuk ke ruang kerja Suzan.
"Sayang..." ucap Bagas.
"Sore pak Bagas..." ucap Alma dengan sopan.
"Sore..." jawab Bagas sambil melangkah menghampiri Suzan.
"Sayang, kamu mau meeting sekarang...?'' tanya Bagas yang sudah berdiri di samping Suzan.
"Iya... " jawab Suzan.
"Biar aku antar ya...." ucap Bagas.
"Nggak usah, aku pergi sama Alma, nanti pulangnya Alma yang akan antar . Paling sebelum makan malam aku sudah di rumah..." jawab Suzan sambil menoleh ke arah sang suami.
Bagas pun menoleh ke arah Alma yang berdiri di depan meja kerja Suzan.
"Iya pak Bagas, pak Bagas jangan khawatir, nanti saya akan mengantar istri bapak sampai rumah dengan selamat..." ucap Alma sambil mengangguk sopan pada Bagas.
"Kamu pulang saja mas, temani Alvaro di rumah...." ucap Suzan sambil mendongak menatap wajah sang suami.
"Oh baiklah kalau begitu...." jawab Bagas sambil merangkul pundak Suzan.
"Aku pulang dulu ya sayang..selamat meeting... Cepat pulang ya, aku sama Alvaro menunggumu di rumah..." sambung Bahas lalu mengecup kening dan bibir Suzan.
Bagas lalu keluar dari ruang kerja Suzan.
"Di depan istrinya berlagak romantis dan perhatian. Tapi ketika di luar, dia mau aja dipegang- pegang sama perempuan murahan... Huh.... Dasar laki- laki...." ucap Alma dengan ketus.
Suzan hanya diam mendengar sang sahabat menggerutu. Iya, sebenarnya Suzan juga kesal dan tidak ingin disentuh oleh Bagas. Tapi mau bagaimana lagi, Bagas masih tetap suaminya yang mempunyai hak atasnya.
Bersambung....