Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Biar Anak Haram itu tidak kembali! Aku tidak peduli!"
Suara bentakan keras dari seorang wanita paruh baya menggema sangat nyaring dari seberang panggilan telepon di ponsel Parrie, memecah keheningan kamar tidur Irysh yang luas. Parrie menggigit bibir bawahnya, memegang erat-erat ponsel murahnya yang menempel di telinga.
Suara itu adalah suara istri ayahnya.
Setelah nada tajam itu mereda, terdengar helaan napas berat dari sang ayah—pria yang baru seminggu terakhir hadir dalam hidupnya setelah bertahun-tahun Mengabaikan nya.
Suara pria itu terdengar begitu letih namun dipenuhi kasih sayang yang dalam.
"Parrie, Sayang..." panggil ayahnya lembut dari seberang sana. "Jangan hiraukan ucapan Maeve. Yang penting jaga dirimu baik-baik di sana, ya? Jangan hancurkan kepercayaan Daddy. Belajar yang rajin dan cepat pulang besok pagi."
Parrie menahan rasa sesak di dadanya, berusaha mengukir senyum tipis meski ayahnya tidak bisa melihatnya.
"Iya, Dad. Parrie janji akan jaga diri baik-baik. Parrie menginap di rumah Irysh malam ini karena ada tugas kelompok yang harus diselesaikan. Daddy tidak usah cemas."
"Baiklah, Nak. Tidurlah yang nyenyak."
Klik.
Panggilan telepon itu terputus.
Parrie perlahan menurunkan ponselnya dari telinga dan menghela napas panjang. Ia baru saja meminta izin kepada ayahnya yang merasa sangat khawatir karena dirinya belum juga sampai di rumah padahal jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Demi menghindari kecurigaan dan rasa cemas sang ayah, Parrie akhirnya mengatakan bahwa ia akan menginap di rumah teman barunya, Irys untuk bekerja Kelompok.
Irysh yang sedang duduk bersila di atas karpet bulu tebal di depan tempat tidur king size-nya, menghentikan kegiatannya mengoleskan krim malam di wajah. Gadis itu menoleh ke arah Parrie dengan kening berkerut penasaran.
"Apa itu ayahmu?" tanya Irys lembut, suaranya kini terdengar lebih berhati-hati.
Parrie mengangguk pelan, berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di pinggirannya. "Iya... Ayah yang baru seminggu ini kutemui kembali."
Irysh menatap Parrie sejenak, bisa merasakan kilatan kesedihan yang tersembunyi di balik mata teduh gadis itu. Tanpa ingin mengorek luka yang belum saatnya terbuka, Irysh tersenyum hangat dan mengibaskan tangannya santai.
"Ah, sepertinya topik keluarga terlalu rumit untuk malam pertama kita menginap! Jangan dipikirkan lagi," pangkas Irysh riang, berusaha mengubah suasana yang sempat menegang. Ia berdiri dengan energik dan menunjuk ke arah balkon kamar mewahnya.
"Ayo! Kita mulai misi mengintip cowok tampan di sebelah!"
Parrie tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, tidak... Aku lebih baik tidak saja, Irysh. Bagaimana kalau nanti kita malah ditangkap satpam kompleks karena dikira penyusup?"
Irys terkekeh renyah, kembali mendaratkan tubuhnya di atas karpet empuk di samping tempat tidur. Ia menyandarkan punggungnya pada kerangka ranjang, menatap Parrie dengan senyum penuh arti.
"Baiklah, kalau mengintip cowok tampan tidak masuk dalam daftarmu..." Irys memiringkan kepalanya, matanya berbinar penasaran. "Apa kau memiliki kekasih, Parrie? Apa kekasihmu sangat tampan hingga kau tidak tertarik melihat pria lain?"
Parrie tertegun sejenak. Bayangan wajah Kaetos—tatapan tajamnya, sentuhan hangatnya, hingga bentakan kasarnya di kelas tadi pagi—seketika berkelebat hebat di pikirannya. Dada Parrie berdenyut perih, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya secara tegas.
"Tidak. Aku tidak punya kekasih," jawab Parrie pelan, suaranya terdengar begitu jujur namun menyimpan kebohongan besar atas status hubungannya dengan Kaetos yang telah hancur.
"Ah, begitu..." gumam Irys, mengangguk-angguk kecil. Namun, sedetik kemudian, sudut bibir gadis kaya itu terangkat mengukir senyum penuh godaan. "Lalu... bagaimana dengan Kaetos?"
Alis Parrie seketika terangkat tinggi. "Hah? Kaetos?"
"Iya, Kaetos Ashford! Pria temperamental yang duduk di sampingmu," goda Irys dengan cengiran lebar. "Kau tahu? Kau itu wanita pertama yang pernah diizinkan duduk di sebelahnya selama dia kuliah di kampus kita! Dan terserah padamu kalau kau mau percaya atau tidak..."
Parrie mengerutkan keningnya, rasa penasaran yang terpendam di dadanya kembali membuncah. "Percaya tentang apa?"
Irys memajukan tubuhnya, menatap Parrie dengan raut wajah sangat serius. "Dia bahkan mengatakan padaku kemarin sore, untuk memberitahumu seluk-beluk dan aturan tentang kampus kita!"
"Oh ya?" mata Parrie membelalak tidak percaya. "Dia mengatakan apa? Kenapa... kenapa pria seperti dia bisa peduli padaku?"
Irys mendengus pelan sambil memutar kedua bola matanya. "Aku juga bingung setengah mati! Kaetos itu biasanya tidak pernah peduli pada siapa pun, apalagi pada mahasiswi baru. Tapi kemarin waktu kami tidak sengaja berpapasan di perpustakaan utama, dia tiba-tiba menatapku tajam dan berkata, 'Hey, berisik. Kenapa kau tidak mengajak bicara dan mengenalkan kampus kita pada mahasiswi baru di sampingku?' Cuma itu! Itu bukan pertanyaan ramah, Parrie... itu perintah! Sialan sekali, kan? Dia menganggapku seperti asisten pribadinya!"
Parrie terpaku di tempatnya. Kaetos... menyuruh Irysh untuk mendekatiku dan menjadi temanku? batin Parrie dengan dada yang bergemuruh heboh.
Jadi ucapan Kaetos di dalam kelas tadi pagi bukan sekadar kebetulan? Pria itu secara terselubung berusaha melindunginya dari serigala-serigala kampus dengan menempatkan Irysh di sisinya?
"Kalian... sangat akrab ya?" tanya Parrie lagi, suaranya memelan saat mencoba menggali lebih dalam.
"Tentu saja! Kami sangat akrab sejak kecil karena kami bertetangga dan orang tua kami bersahabat," jawab Irys cepat. Namun, tiba-tiba nada bicara Irysh berubah menjadi agak berat dan muram.
Tangannya yang tadinya memegang botol krim malam terhenti. "Hanya saja... sejak kejadian itu, dia berubah total. Dia menjadi pria yang sangat dingin, jahat, dan..."
Irys menghentikan kalimatnya, menggelengkan kepala seolah-olah baru saja menyadari bahwa ia hampir membocorkan sesuatu yang terlarang. "Ah, tidak usah membahas pria gila itu! Malah bikin pusing. Boleh aku tahu tentang dirimu, Parrie? Sejak tadi pagi aku memperhatikanmu, kau terlihat seperti gadis yang sangat sederhana dan tenang."
Parrie tersenyum tipis, menerima pengalihan topik itu meski hatinya berontak ingin tahu. "Ya... aku hanya gadis miskin yang kebetulan beruntung diterima di universitas megah itu karena sedikit pintar dan mendapat beasiswa."
••••
Malam semakin larut. Jarum jam dinding di kamar Irys sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun kedua gadis itu masih terjaga di dalam temaram lampu tidur.
Pembicaraan mereka mengalir dengan sangat alami. Dari obrolan ringan mengenai makanan favorit, hobi membaca, hingga pengalaman konyol Irysh saat masa SMA. Namun, sepanjang malam itu, pikiran Parrie sama sekali tidak bisa lepas dari satu nama: Dimitriou Kaetos Ashford.
Rasa penasaran yang merayapi jiwa Parrie semakin tidak tertahankan.
Di dalam kepalanya, bayangan percakapannya dengan Glen—saudara laki-lakinya—berputar kembali. Glen pernah memberitahukan hal yang persis sama: bahwa Kaetos sangat takut pada sentuhan fisik manusia dan tidak bisa disentuh oleh siapa pun. Dan kini, Irysh juga menyiratkan hal yang sama!
Mengapa seorang pria yang begitu kuat, berkuasa, dan berwajah sangat tampan seperti Kaetos memiliki ketakutan yang begitu luar biasa pada sentuhan fisik?
Mengapa pria itu selalu bereaksi setiap kali ada orang yang mendekatinya? Dan Pada dirinyanitu sama sekali tidak berlaku! Kejadian mengerikan apa yang sebenarnya telah terjadi pada masa lalumu Kae...