NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Pagi jam 07.00.

Aditya Pradana sudah rapi dan siap berangkat ke kantor. Kemeja putih bersih disetrika Alena semalam, dasi hitam, jas abu-abu, sepatu pantofel mengkilap, rambut disisir rapi, jam Rolex Daytona di tangan, wangi parfum mahal dan begitu juga Alena sudah bangun jam 05.00 pagi, membuatkan sarapan nasi goreng spesial dengan telur mata sapi bulat sempurna, sosis bakar, dan kopi hitam tanpa gula di cangkir couple *MR. PRADANA*. Mengantar Aditya sampai gerbang dengan daster rumahan dan senyum malu-malu, masih dengan panggilan baru semalam.

"Hati-hati di jalan ya Mas," kata Alena pelan, pipinya merah.

Aditya yang biasanya hanya jawab "Hmm" dengan wajah datar, pagi ini tersenyum tipis dan mengusap kepala Alena pelan, "Iya, sayang."

Porsche hitam melesat dijalanan menuju ke kantor.

Di kantor, lantai 32 Pradana Tower, jam 09.00 pagi.

Rapat direksi. 10 dewan direksi duduk. Laporan keuangan kuartal. Proyektor menyala.

Tapi Aditya Pradana tidak fokus sama sekali.

Matanya menatap laporan, tapi pikirannya ada di kamar utama Pondok Indah semalam. Malam ketiga satu ranjang tanpa guling. Genggaman tangan pertama di atas seprai putih. Suara Alena yang berbisik malu-malu, "Mas..." dan kata "sayang" yang pertama kali keluar dari mulutnya sendiri.

Dia lebih mirip anak remaja 17 tahun yang baru saja mengenal cinta.

Semalaman Aditya tidak bisa tidur nyenyak.

Bukan karena AC 18 derajat. Bukan karena kerjaan.

Karena deg-degan. Karena baru pertama kali setelah menikah ia tidur satu ranjang dengan Alena tanpa pembatas, bergandengan tangan dengan jarak 30 cm, lampu warm temaram.

Meskipun ini pernikahan keduanya namun tetap saja ini Alena berbeda dengan istrinya yang dulu.Benih cinta mulai tumbuh dihati sang CEO.

Ia bolak-balik, menatap wajah Alena yang tertidur pulas di sebelahnya dengan daster satin cream, rambut basah yang sudah kering, napas teratur. Tangannya masih digenggam Alena sampai pagi.

Jam 03.00 pagi Aditya masih melek, menatap langit-langit kamar sambil menggenggam tangan Alena.

Akibatnya, pagi ini di rapat, mata Aditya berat, lingkar mata hitam.

"Pak Aditya? Pak Aditya? Bagaimana pendapat Bapak soal akuisisi lahan di BSD?" tanya Direktur Keuangan.

Aditya kaget, "Hmm? Apa? Ulangi."

Satu ruang rapat kaget. CEO dingin yang biasanya paling fokus, paling tajam, paling detail, hari ini melamun.

Jam 11.00 siang, Aditya menyerah.

Ia menutup laptop MacBook Pro-nya.

"Rapat selesai. Saya pulang. Saya tidak fokus hari ini. Semua keputusan tunda besok."

Supirnya kaget, "Pulang Pak? Sekarang Pak? Baru jam 11 Pak?"

Aditya mengangguk, wajahnya datar tapi lelah, "Pulang. Saya tidak bisa tidur semalam."

Porsche hitam melaju kembali ke Pondok Indah.

Di rumah Pondok Indah, jam 11.30 siang.

Alena sudah selesai masak. Di meja makan sudah ada sayur sop, ayam goreng, tempe goreng, sambal, dan nasi putih hangat. Sudah selesai beres-beres dapur, cuci piring, sapu lantai.

Karena semalam juga tidak bisa tidur nyenyak - deg-degan digenggam tangan Aditya pertama kali di ranjang, dipanggil sayang pertama kali - Alena merasa ngantuk berat. Matanya perih.

Bi Ijah sudah pulang siang. Sean masih ujian try out terakhir di sekolah.

Rumah sepi.

Alena masuk ke kamar utama, masih dengan daster rumahan bunga-bunga yang dipakai pagi tadi antar Aditya. Ia melihat ranjang king size yang tadi pagi masih berantakan karena buru-buru, seprai putih yang masih ada bekas guling yang jatuh semalam di bawah ranjang.

Alena menguap.

"Ngantuk sekali... tidur siang sebentar..."

Ia naik ke ranjang, tidak ganti daster satin, langsung dengan daster rumahan bunga-bunga itu, menarik selimut putih sampai dada, memeluk guling yang semalam dijatuhkan Aditya ke bawah ranjang - sekarang guling itu dipeluk lagi karena kangen.

Dalam 5 menit, Alena terlelap. Tidur siang yang pulas. Napasnya teratur, wajahnya tenang tanpa make up, rambutnya digerai ke bantal, satu tangannya memeluk guling, satu tangannya di atas selimut.

Jam 12.00 siang. Gerbang rumah terbuka.

Aditya pulang. Masuk dengan langkah pelan, melepas sepatu pantofel di teras, melepas jas abu-abu.

"Alena?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. Rumah sepi.

Ia melihat di meja makan sudah ada masakan lengkap, masih hangat. Berarti Alena sudah selesai masak.

Ia naik ke lantai 2, ke kamar utama. Pintu kamar tidak dikunci.

Aditya membuka pintu pelan.

Dan di sanalah ia melihat durian runtuh.

Di ranjang king size, di balik selimut putih, Alena sedang tertidur siang pulas. Dengan daster rumahan bunga-bunga, rambut digerai ke bantal putih, wajah polos tanpa make up, pipi sedikit merah karena udara AC, memeluk guling.

Pemandangan yang tidak pernah Aditya lihat siang hari. Biasanya Alena selalu sigap, rapi, menunggu di depan pintu. Hari ini Alena tertidur pulas seperti putri tidur.

Aditya berdiri di depan pintu lama, menatap istrinya. Jantungnya berdetak kencang lagi, seperti malam ketiga kemarin. Tapi kali ini bukan deg-degan canggung, tapi rasa bahagia, rasa haru, rasa memiliki seutuhnya.

Ia adalah suaminya. Dan istrinya sedang tertidur pulas di ranjang mereka, menunggu, dalam keadaan paling polos dan paling cantik.

Aditya tidak berpikir panjang lagi. Ia meletakkan jas dan dasinya di kursi, masuk ke kamar mandi, bersih-bersih, cuci muka, ganti baju dengan kaos oblong putih dan celana tidur yang ada di lemari. Rambutnya yang tadi disisir rapi, sekarang dibiarkan agak berantakan.

Lalu dengan langkah sangat pelan, takut membangunkan, Aditya naik ke ranjang dari sisi kiri.

Ia menyusup masuk ke dalam selimut putih yang sama dengan Alena.

Selimut yang semalam hanya jadi pembatas genggaman tangan, siang ini jadi selimut berdua.

Alena yang tertidur pulas, merasakan ada gerakan, mengerjap pelan, membuka mata setengah.

"Mas...? Mas sudah pulang?" Suara Alena serak, masih ngantuk, bingung, melihat Aditya sudah ada di dalam selimut yang sama.

Aditya tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan di kantor, senyum hangat.

"Iya, saya pulang. Saya tidak fokus di kantor. Tidak bisa tidur semalam. Jadi saya pulang."

Alena yang masih setengah sadar, tersenyum malu-malu, "Mas... Aku mengantuk sekali Mas..."

"Saya juga," bisik Aditya.

Di dalam selimut putih yang hangat itu, di siang bolong yang sepi, hanya ada mereka berdua. Rumah sepi, Bi Ijah tidak ada, Sean masih di sekolah.

Tidak ada lagi canggung seperti malam pertama punggung-punggungan. Tidak ada lagi jarak satu meter. Tidak ada lagi guling di tengah.

Siang itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama menikah, setelah 3 malam canggung satu ranjang, mereka melakukan penyatuan sebagai suami istri yang sesungguhnya.

Bukan karena nafsu, tapi karena rindu yang tertahan lama, karena janji selamanya di Hotel Mulia, karena panggilan Mas dan sayang semalam, karena kopi hitam tanpa gula dan nasi goreng spesial tiap pagi.

Semua terjadi dengan lembut, dengan pelan, dengan saling meminta izin, dengan saling memeluk, dengan napas yang beradu di bawah selimut putih. Alena yang awalnya malu-malu, akhirnya memeluk Aditya dengan erat, menyembunyikan wajah merahnya di dada Aditya. Aditya yang biasanya dingin, siang itu mengusap rambut Alena dengan lembut dan berbisik, "Terima kasih ya sayang..."

Waktu terasa lama, tapi hangat.

Jam 14.30 sore.

Mereka keluar dari selimut. Keduanya rambutnya basah karena keringat, wajahnya merah, tapi matanya berbinar bahagia.

Alena langsung berlari kecil ke kamar mandi dengan daster rumahan bunga-bunganya, malu-malu tidak berani menatap Aditya, sambil membawa selimut.

Aditya juga masuk kamar mandi setelahnya, bersih-bersih lagi.

Mereka mandi berdua dengan giliran, masih malu-malu, tapi ada tawa kecil di dalam kamar mandi yang tidak pernah ada sebelumnya.

Sore jam 15.30, mereka keluar dari kamar dengan rambut masih basah, handuk di leher, memakai baju rumah yang baru. Alena dengan daster bersih, Aditya dengan kaos oblong baru.

Di dapur, mereka makan siang bersama dengan masakan yang tadi pagi Alena masak yang sudah agak dingin, tapi terasa paling enak.

Alena menyuapi Aditya ayam goreng, Aditya menyuapi Alena nasi. Tidak ada lagi kata Pak, hanya Mas.

"Mas, tadi siang... aku .." bisik Alena sambil menunduk, rambut basahnya masih menetes.

Aditya mengusap rambut basah Alena dengan handuk kecil, "trimakasih sayang mas sangat bahagia

Sore itu mereka menghabiskan waktu di karpet perpustakaan, tidak belajar UTBK, hanya berdua, Alena bersandar di bahu Aditya, Aditya memeluk Alena dari belakang, menonton hujan sore di jendela.

Dan malam harinya, jam 22.00 malam.

Lampu warm temaram kamar utama menyala lagi.

Ranjang king size sudah rapi kembali dengan seprai baru yang diganti Alena sore tadi.

Aditya sudah di ranjang dengan kaos oblong putih, menatap Alena yang baru keluar dari kamar mandi dengan daster satin cream yang sama seperti semalam, rambut basah digerai, pipi merah.

Alena naik ke ranjang, masih malu-malu, tapi tidak lagi jarak satu meter. Langsung duduk dekat, jarak 10 cm.

Aditya berbisik, dengan suara serak, tapi penuh sayang, tidak dingin lagi.

"Sayang... boleh... kita ulangi lagi seperti siang tadi? Saya... saya masih kangen sayang..."

Alena yang mendengar itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu, tapi mengangguk pelan di balik tangannya, suaranya kecil hampir tidak terdengar.

"Boleh Mas... tapi pelan-pelan ya Mas... seperti siang tadi..."

Dan malam keempat satu ranjang itu menjadi malam yang paling hangat, tanpa guling, tanpa jarak, tanpa kata Pak lagi, hanya kata Mas dan sayang yang beradu pelan di bawah selimut putih, dengan rambut yang kembali basah.

Bersambung...

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!