NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Pusaran Masalah Tanpa Ujung

Dada Arga masih berombak kencang saat punggungnya menempel erat pada pilar beton dingin di sudut lobi luar. Keringat dingin menetes perlahan menembus celah topi pet Satpam yang dikenakannya. Ia mengatur napas sehalus mungkin, menunggu hingga derap langkah kaki berhak tinggi dan rombongan pengawal berbaju safari itu benar-benar menghilang di balik pintu kaca tebal Menara Utama.

Setelah dipastikan area drop-off kembali tenang, Arga melangkah keluar dari balik pilar dengan gerakan kikuk. Ia memperbaiki posisi topi petnya, memanjangkan leher untuk memastikan selasar lobi sudah aman dari sosok wanita yang baru saja membuatnya panik setengah mati.

Komandan Bambang yang berdiri tak jauh dari lokasi parkir VVIP langsung menoleh. Alis tebalnya bertaut rapat memandangi Arga dengan tatapan penuh rasa heran sekaligus curiga.

"Hei, Arga! Kamu kenapa malah ngelus dada di balik pilar?" tegur Komandan Bambang dengan suara beratnya yang khas. "Bukannya tadi pamit mau ke toilet? Kok malah berdiri di situ kayak orang habis lihat hantu?"

Arga menelan ludah dengan susah payah. Ia mendekati Komandan Bambang dengan langkah ragu, berusaha keras menutupi getaran pada jemarinya.

"Maaf, Komandan. Perut saya... tiba-tiba mendingan," kata Arga beralasan, suaranya sedikit berguncang. Ia lalu menunjuk halus ke arah pintu lobi utama. "Komandan... wanita yang baru turun dari mobil Maybach hitam tadi... itu siapa ya, Komandan?"

Komandan Bambang menyilangkan tangan di depan dada, mengembuskan napas panjang. "Kamu ini gimana? Tadi kan sudah saya ingatkan pas mobilnya baru masuk. Itu Bu Nadia Nugroho. Beliau itu CEO Nugroho Group, bos tertinggi di gedung ini."

Jantung Arga serasa berhenti berdetak saat mendengar konfirmasi langsung dari mulut pimpinannya. Spekulasi terburuk dalam pikirannya kini menjadi kenyataan yang membentur keras dadanya.

"B-Bu Nadia Nugroho? Cucu tunggal pendiri Nugroho Group yang megang seluruh kendali holding perusahaan ini, Komandan?" tanya Arga lagi, memastikan tak ada satu pun detail yang salah.

"Iya, betul. Muka kamu kok langsung pucat begitu? Kamu kenal sama beliau?" Komandan Bambang menatap Arga picik, meneliti ekspresi wajah anak buah barunya yang mendadak berubah seperti kertas HVS polos.

"Nggak, Komandan! Mana mungkin Satpam seperti saya kenal sama CEO raksasa bisnis begitu," sahut Arga cepat, menggelengkan kepala sekuat tenaga. "Cuma... saya kagum saja, Komandan. Masih muda tapi posisinya tinggi banget."

"Makanya, jangan bikin ulah di sini. Bu Nadia itu terkenal sangat dingin, tegas, dan nggak suka ada celah dalam pekerjaan," tegas Komandan Bambang seraya menepuk bahu Arga keras-keras. "Sekarang balik ke posisi kamu! Jaga area pintu keluar kendaraan."

"Siap, Komandan!" jawab Arga lantang.

Namun, begitu Komandan Bambang berjalan menjauh untuk memeriksa pos jaga di sisi timur, kepanikan tingkat tinggi langsung menjalar ke seluruh tubuh Arga. Pikiran Arga berkecamuk hebat. Wajah tegas Nadia saat menyodorkan Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak 1 Tahun di Kafe Merah terus berputar di otaknya seperti tayangan ulang yang merusak akal sehatnya.

"Gila... ini gila banget," gumam Arga seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Gue nyamar jadi Bimo di Kafe Merah, tanda tangan surat edan itu pakai nama Bimo, dan sekarang... gue malah kerja jadi Satpam di gedung punya keluarganya? Kalau dia jalan di lobi terus tiba-tiba liat muka gue gimana? Mampus gue!"

Rasa takut bahwa penyamarannya terbongkar membuat Arga tidak bisa berpikir jernih lagi. Jika Nadia mengenali wajahnya sebagai "Bimo Palsu", bukan hanya pekerjaannya yang melayang, tetapi nasib perusahaan keluarga Bimo yang diancam denda puluhan miliar juga bisa hancur seketika.

Tanpa membuang waktu, Arga berjalan cepat menuju area lorong belakang pos keamanan yang agak tersembunyi dari jangkauan kamera pengawas dan lalu lalang karyawan. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel murahnya, lalu segera menekan nomor kontak Yayasan Penyalur Tenaga Kerja Garuda Mandiri.

Nada sambung berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat di ujung telepon.

"Halo, Yayasan Garuda Mandiri. Dengan Pak Hendra di sini. Ada yang bisa dibantu?"

"Selamat pagi, Pak Hendra! Ini saya, Pak... Arga Dewa Putra," ucap Arga dengan nada bicara yang cepat dan memburu.

"Oh, Arga! Gimana hari pertama kamu di Menara Utama Nugroho Group? Aman, kan? Komandan Bambang ada komplain soal kamu?" tanya Pak Hendra santai dari balik telepon.

"Aman, Pak. Komandan Bambang baik banget. Tapi... begini, Pak Hendra," Arga menghentikan kalimatnya sejenak, mengusap keringat di dahinya. "Bisa nggak saya minta tolong dipindah tugaskan hari ini juga, Pak? Ke gedung lain saja, Pak. Gedung bank, mal, pabrik, atau apa saja deh, asal jangan di Menara Utama Nugroho Group!"

Di ujung telepon, Pak Hendra terdengar terkejut. Suaranya yang tadinya ramah mendadak berubah menjadi agak tegang dan heran.

"Lho? Kenapa kamu mendadak minta pindah, Arga? Kamu baru bertugas belum ada tiga jam di sana! Ada masalah sama petugas lain? Atau kamu bikin keonaran di lobi?"

"Enggak, Pak! Sama sekali enggak ada masalah sama tim di sini. Semuanya baik," potong Arga cepat, memutar otak mencari alasan yang masuk akal. "Hanya saja... tempat ini rasanya kurang cocok buat saya, Pak. Saya merasa agak kurang fit kalau bertugas di gedung pencakar langit se-ramai ini. Tolonglah, Pak Hendra... pindahin saya ke pos mana saja."

Pak Hendra menghela napas panjang dari balik telepon. Suara decakan napasnya terdengar jelas menandakan kekecewaan.

"Arga, dengarkan saya baik-baik ya," kata Pak Hendra dengan nada tegas. "Kamu itu baru masuk hari pertama dan status kamu masih dalam masa percobaan tiga bulan. Sesuai kontrak kerja yang kamu tanda tangani kemarin di kantor yayasan, penempatan kerja itu sepenuhnya hak prerogatif pihak penyalur dan klien."

"Tapi Pak, kalau cuma geser pos..."

"Nggak bisa, Arga!" pangkas Pak Hendra tanpa kompromi. "Prosedurnya tidak sebercanda itu. Kamu ini dikirim ke Nugroho Group karena fisik kamu bagus dan berkas kamu lengkap. Kalau kamu baru kerja beberapa jam sudah minta pindah tanpa alasan medis atau pelanggaran prosedur dari pihak klien, nama baik Yayasan Garuda Mandiri yang taruhannya!"

Arga makin panik. "Aduh, Pak Hendra... tolong banget, Pak. Sekali ini saja..."

"Keputusan saya sudah bulat, Arga. Tidak ada pindah tugas selama masa percobaan tiga bulan pertama," tegas Pak Hendra. "Kalau kamu nekad mundur atau menolak bertugas di Menara Utama sekarang, berarti kamu dianggap memutus kontrak secara sepihak. Kamu kenal sanksinya, kan? Nama kamu bakal di-blacklist dari seluruh jaringan penyalur kerja, dan kamu harus bayar denda penalti ke yayasan."

Kata-kata Pak Hendra bagaikan petir yang menyambar Arga di siang bolong. Membayar denda penalti yayasan adalah hal yang sangat tidak mungkin bagi Arga yang saat ini tidak memiliki simpanan uang sama sekali.

"Jadi... benar-benar nggak bisa diusahakan ya, Pak?" tanya Arga pelan, suaranya melemah.

"Nggak bisa, Arga. Saran saya, jalani dulu tugas kamu dengan profesional. Jangan banyak mengeluh. Buktikan kalau kamu memang layak kerja di sana. Sudah ya, saya masih ada rapat," tutup Pak Hendra tegas sebelum mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.

Tut... tut... tut...

Ponsel di tangan Arga perlahan turun. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding lorong cold storage di belakang pos, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Tubuhnya terasa lemas seketika. Harapan untuk melarikan diri dari jangkauan Nadia runtuh dalam sekejap.

Ia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Benar-benar tidak menyangka bahwa aksi penyamaran konyol demi membantu Bimo di Kafe Merah malam itu justru melilit kehidupannya sejauh ini.

"Sialan..." bisik Arga pasrah, meratapi nasibnya yang kini seperti berada di dalam sarang macan. "Siapa yang menyangka masalah kafe kemarin malam berbuntut panjang sampai ke tempat cari makan gue begini? Sekarang gue harus bertaruh nyawa tiap hari di sini, berdoa biar enggak berpapasan langsung sama Nadia."

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!