Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 4
"Rapatku baru aja selesai. Ini aku lagi jalan ke parkiran mau meluncur pulang."
"Baru selesai?!" Arsyad tertawa sinis dari seberang telepon.
"Tega ya kamu, Zem. Demi ngerjain laporan dari atasan kamu yang semena-mena itu, kamu membiarkan Ibu terlantar di rumah! Kamu kan bisa minta izin keluar lebih awal!"
Rasa panas mendadak menyengat dada Zemima. Tangan kirinya mengepal erat di samping gaun mewahnya.
"Mas, Ibu enggak terlantar," tegas Zemima, suaranya merendah namun sarat akan penekanan.
"Ada Mbak Mirna yang siapin kompres dan urus Ibu di kamar. Lagipula, Mas sendiri ke mana sekarang? Mas juga masih di kantor, kan?"
"Ya beda dong, Zem! Mas ini lagi ada deadline proyek yang kalau Mas tinggalkan bisa kena sanksi SP dari bos Mas!" seru Arsyad membela diri.
"Kamu kan cuma staf biasa, masa minta izin beberapa jam aja enggak berani?"
Zemima menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Rasanya ingin sekali saat ini juga ia berteriak di depan ponselnya: 'Mas, bos yang kamu takutkan itu aku! Aku yang punya perusahaan tempat kamu bekerja!' Namun, ia menahan sekuat tenaga demi menjaga akal sehatnya.
"Mas..." Zemima menghela napas berat, melangkah masuk ke dalam lift eksekutif yang pintunya baru saja terbuka.
"Bukan cuma Mas yang punya tanggung jawab. Aku juga punya tanggung jawab di sini. Dan yang penting, sekarang aku udah jalan pulang."
"Harusnya dari tadi, Dek!" sahut Arsyad tak mau kalah, nadanya penuh ketegasan yang seolah memojokkan.
"Ibu itu orang tua kita. Ibu yang paling utama."
"Iya aku paham, kalau mas sangat menyayangi ibu, aku juga sama. Ibu udah jadi ibu aku juga, tapi tolong ngerti kita sama-sama kerja. Lagian kan di rumah sudah ada Mbak Mirna yang menjaga ibu. Aku juga sekarang sudah pulang... Lagian Mas bingung sama saudara-saudara Mas yang tinggal serumah sama Ibu..."
"Maksudmu? Mas Hendri sama Siska?"
"Iya! Siapa lagi?!"
"Padahal Mas Hendri sama Siska itu tinggal satu atap sama Ibu di rumah utama. Tapi mengapa mereka semua bahkan tidak peduli dengan keadaan ibu! Bahkan untuk menengok ibu di rumah kita saja tidak kan?" kesal Zemima kepada dua saudara suaminya.
Giliran kesusahan mereka selalu melimpahkan kepada Arsyad dan dirinya. Kalau saja Arsyad tidak naik jabatan entah bagaimana hidupnya. Dan dia juga belum bisa mengatakan kebenaran yang dia sembunyikan kepada Arsyad. Dia masih ingin melihat bagaimana Arsyad mengelola salah satu anak perusahaan miliknya tanpa dia tahu kalau itu adalah milik Zemima.
Telepon di genggaman Zemima berderik hebat seiring napas Arsyad yang kian memburu. Pintu lift eksekutif berdenting pelan, tertutup rapat, memantulkan bayangan Zemima dalam balutan gaun custom made yang anggun namun tampak siap melemparkan ponselnya ke dinding kaca.
"Zemima! Jaga mulut kamu ya!" sentak Arsyad, suara bass-nya menggema memenuhi panggilan.
"Mas Hendri itu lagi sibuk merintis bisnis! Siska juga masih fokus cari kerjaan! Kamu jangan asal menuduh saudara-saudaraku tak peduli!"
"Sibuk merintis bisnis apa, Mas?!" Zemima meledak, tak lagi mampu menahan tawa sumbang yang lolos dari bibirnya.
"Merintis bisnis dengan cara minta modal ke kamu tiap minggu? Atau Siska yang 'fokus cari kerja' tapi tiap hari cuma mengunggah foto coffe shop pakai uang yang kamu kirim?!"
"Zemima!"
"Pikir pakai logika kamu, Mas Arsyad!" potong Zemima cepat, menghentakkan hak tinggi stilettunya begitu lift sampai di area parkir khusus direksi. Suara langkah kakinya bergema tajam di area bawah tanah yang sepi.
"Mereka tinggal di rumah utama, persis di sebelah kamar Ibu! Tapi begitu Ibu demam tinggi, siapa yang dipanggil? Kita! Siapa yang disuruh pulang? Aku! Mana Mas Hendri? Mana Siska?! Selalu ada alasan untuk membela mereka, Mas kamu sadar nggak sih?"
"Mereka itu nggak paham urusan medis, Zem! Jangan disamakan!" Arsyad berkilah, nadanya makin berapi-api namun terdengar sangat defensif.
"Lagipula, kamu kan istriku! Sudah kewajiban kamu mengurus rumah tangga dan orang tua! Jangan melimpahkan tugas kamu ke saudara-saudara Mas! Ingat kalau nggak ada Mas dan keluarga Mas kamu nggak punya siapa-siapa, Zemima!"
"Mas! Apa kamu sadar dengan yang kamu katakan itu?" tanya Zemima. Sepertinya Arsyad baru menyadari kesalahannya bicara kepada Zemima karena terdengar dengan jelas helaan panjang dari pria itu.
"Maafkan Mas, Dek! Mas terbawa suasana... Mas hanya khawatir dengan keadaan ibu... Kamu pulang sekarang ya, Dek.. nggak apa-apa gaji kamu di potong setengah hari. Toh aku masih bisa menutupi kebutuhan rumah tangga kita dengan gaji aku!"
TUUUTTT
Zemima mematikan telepon sepihak. Dia benar-benar kesal dengan jawaban dari suaminya. Dia tak mengira kalau Arsyad akan bicara seperti itu.
"Bu Zemima... Apa anda akan pergi sekarang? Saya akan meminta sopir untuk menyiapkan mobil..." ucap Maya pelan.
"Maaf kalau hari ini kamu akan lebih sibuk menghandle beberapa pekerjaan aku, Maya. Aku memang harus segera pulang..."
"Tidak apa-apa, Bu.... Semoga ibu mertuanya lekas sembuh..."
"Terima kasih, Maya," ucap Zemima seraya mengembuskan napas panjang. Ia merapikan blazer kasmir yang membalut gaun mewahnya, berusaha meredam gemuruh kekesalan di dadanya.
"Jadwal meeting besok pagi dengan jajaran direksi anak perusahaan tetap jalan. Jangan ada yang diubah."
"Baik, Bu Zemima. Mobil sudah siap di lobi bawah," balas Maya penuh hormat, mengiringi langkah tegas sang CEO menuju mobil dinasnya.
Begitu pintu mobil tertutup, Zemima menyandarkan kepalanya ke jok kulit yang dingin. Ucapan Arsyad masih berdengung tajam di telinganya.
'Ingat kalau nggak ada Mas dan keluarga Mas, kamu nggak punya siapa-siapa, Zemima!'
Sebuah senyum miring nan dingin terukir di wajah cantiknya. Arsyad tidak pernah tahu bahwa gedung pencakar langit yang baru saja ia tinggalkan, hingga anak perusahaan tempat Arsyad menyombongkan jabatannya, adalah milik Zemima, wanita yang selalu ia sebut 'staf biasa'.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Zemima berhenti di depan rumahnya. Zemima melangkah melintasi halaman depan. Hak tinggi stilettunya menapak hening di atas marmer teras. Ia memutar knop pintu utama yang rupanya tidak terkunci. Di dalam rumah, suasana begitu hening. Tidak ada kepanikan, tidak ada dokter yang dipanggil, ataupun aroma obat-obatan yang menyengat.
Zemima berjalan menuju lorong kamar utama di lantai dasar.
Klek.
Zemima mendorong pintu kamar ibu mertuanya secara perlahan.
Di dalam kamar berpendingin udara yang harum terapi lavender itu, pemandangan dramatis yang digambarkan Arsyad sama sekali tidak berbekas. Tidak ada wanita tua yang terkapar lemah merintih kesakitan.
Ibu mertuanya sedang duduk bersandar di ranjang bertiang kayu jati, tampak begitu segar bugar. Tangan kanannya memegang remot TV kecil di meja samping, sementara Mbak Mirna, asisten rumah tangga mereka, sedang merapikan piring bekas bubur yang sudah bersih tak tersisa.
"Eh, Zemima..." Ibu menyapa lembut dengan suara jernih tanpa serak sedikit pun. Wajahnya terangkat ramah begitu melihat menantunya berdiri di ambang pintu.
"Baru pulang, Nak?"