"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
"Ketika kesombongan berada di ujung tanduk, dunia akan menarik seluruh karpet merahnya dalam sekejap. Di episode ini, Bima menyadari bahwa obsesinya untuk memiliki kembali Hana hanyalah pelarian dari kenyataan pahit bahwa ia telah kehilangan segalanya. Saat ia selangkah lagi menyentuh ambang pintu masa lalunya, badai hukum justru menyeretnya kembali ke realitas yang mengerikan di Jakarta. Mari saksikan bagaimana sang Tuan Muda yang angkuh mulai kehilangan istananya, sementara sang ibu melesat menjauh menuju kebebasan yang dingin."
.
.
Gerimis mulai turun membasahi Sukamaju, menciptakan aroma tanah basah yang biasanya menenangkan, namun bagi Bima, setiap tetes air yang jatuh ke kaca mobilnya terasa seperti ejekan semesta.
Ia sudah berada di tepi jalan desa, hanya beberapa ratus meter dari ruko Anindita Pastry.
"Cepat sedikit! Kamu mengganti ban atau sedang merajut syal?!" bentak Bima pada petugas bengkel yang sejak sejam lalu berkutat dengan baut yang macet.
"Sabar, Pak. Ini bautnya sudah karatan, kalau dipaksa nanti patah malah makin lama," sahut petugas itu dengan dahi berkerut, tak peduli dengan setelan jas mahal Bima yang kini sudah terkena cipratan lumpur.
Bima mondar-mandir di samping mobilnya, napasnya memburu. Pikirannya bercabang. Di satu sisi, ia membayangkan Hana yang mungkin sedang tertawa di dalam ruko itu bersama si dokter desa.
Di sisi lain, ada firasat buruk yang terus menghimpit dadanya sejak ia meninggalkan Jakarta.
~~
Sementara itu, di dalam kabin First Class pesawat yang sedang membelah awan menuju London, Bu Sarah duduk terdiam.
Ia menatap ke luar jendela kecil, melihat lampu-lampu Jakarta yang mengecil hingga akhirnya menghilang ditelan kegelapan laut.
Ada setitik air mata yang jatuh di pipinya yang mulai keriput. Sebagai seorang ibu, nuraninya menjerit. Ia meninggalkan putranya di tengah puing-puing kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Namun, akal sehat Bu Sarah jauh lebih kuat.
"Maafkan Mama, Bima," bisiknya sangat lirih, hampir tak terdengar oleh deru mesin pesawat. "Ini adalah satu-satunya cara agar kamu mengerti bahwa harta dan nama besar tidak bisa melindungimu dari kebusukan hati. Mama harus menyelamatkan sisa martabat keluarga Erlangga di London, karena di Jakarta, kamu sudah menghabiskannya tanpa sisa."
Bu Sarah memejamkan mata, mematikan lampu baca di samping kursinya, dan memilih untuk tidur dalam kedinginan kabin yang sunyi, pelarian yang pahit namun perlu.
~~
Kembali di jalanan Sukamaju, ban mobil Bima akhirnya terpasang. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia melempar beberapa lembar uang ratusan ribu ke arah petugas bengkel dan langsung memacu mobilnya.
Ruko Anindita Pastry sudah terlihat. Lampu neon kecil di depannya masih menyala, memberikan kesan hangat di tengah gerimis. Bima menghentikan mobilnya tepat di depan ruko.
Ia merapikan rambutnya yang berantakan, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya sebelum berhadapan dengan Hana.
Baru saja kakinya menyentuh tanah, ponsel di saku jasnya bergetar hebat. Nama '**Panji**' muncul di layar. Bima awalnya ingin mengabaikannya, namun panggilan itu masuk berkali-kali seolah membawa kabar kiamat.
"Apa lagi, Panji?! Aku sudah bilang jangan ganggu aku!" bentak Bima saat mengangkat telepon.
"Pak... Bapak harus kembali sekarang juga! Ini gawat, Pak!" suara Panji terdengar gemetar, ada latar belakang suara riuh rendah orang-orang yang sedang berdebat di seberang sana. "Pihak Bank Artha datang bersama kepolisian dan juru sita pengadilan. Mereka membawa surat penyitaan aset total, Pak! Kantor pusat sedang disegel sekarang!"
Langkah Bima terhenti di depan pintu ruko Hana. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Apa kamu bilang? Disegel? Tidak mungkin sedalam itu!"
"Bukan hanya kantor, Pak!" Panji berteriak putus asa. "Kepala keamanan rumah Bapak baru saja menelepon. Petugas bank juga sudah sampai di rumah utama. Mereka meminta semua orang keluar karena rumah dan seluruh isinya akan dipasangi garis penyitaan malam ini juga! Mereka bilang Ibu Sarah tidak bisa dihubungi dan Bapak adalah penanggung jawab tunggal!"
**Duar** !!!
Bima merasa seolah ada beton raksasa yang jatuh tepat di atas kepalanya. Ia menoleh ke arah pintu ruko Hana. Tinggal tiga langkah lagi.
Ia hanya perlu mengetuk pintu itu, masuk, dan melampiaskan egonya. Namun, berita dari Jakarta adalah hantaman realitas yang mematikan.
Jika ia masuk ke ruko itu sekarang, ia bukan lagi Bima sang CEO Erlangga Group yang berkuasa. Ia akan masuk sebagai pria bangkrut yang bahkan tidak punya tempat tidur untuk malam ini.
Ponsel Bima kembali berbunyi. Kali ini dari satpam rumahnya.
"Halo, Pak Bima! Tolong, Pak! Mereka memaksa masuk! Barang-barang Nyonya Sarah mau didata! Kami tidak bisa menahan mereka tanpa perintah Bapak!"
Bima meraung frustrasi. Ia memukul tiang kayu di depan ruko Hana dengan tangan kosong hingga buku jarinya berdarah. Air matanya pecah karena rasa malu yang luar biasa.
Ia melihat ke jendela ruko, samar-samar ia melihat bayangan Hana yang sedang menggendong Saka, tampak begitu tenang dan terlindungi.
Hana kini berada di sebuah dunia yang tidak bisa ia jangkau lagi dengan uang atau ancaman.
"Hana..." bisik Bima pilu. "Aku kehilangan segalanya. Aku kehilangan rumahku... aku kehilangan kantorku..."
Amarah yang tadi ia simpan untuk Adrian kini berubah menjadi ketakutan yang mencekam. Tanpa mengetuk pintu, tanpa sempat mengucapkan satu patah kata pun pada wanita yang ia kejar ribuan kilometer itu, Bima berbalik arah.
Ia berlari kembali ke mobilnya dengan langkah yang lunglai.
Ia memutar balik mobilnya dengan kasar, melindas genangan lumpur yang menciprati papan nama ruko Hana. Ia harus kembali ke Jakarta. Ia harus mempertahankan istananya yang sedang dijarah oleh kenyataan.
Di dalam ruko, Hana sempat menoleh ke arah pintu saat mendengar suara decitan ban mobil yang terburu-buru. Ia mengernyitkan dahi.
"Ada apa, Hana?" tanya Adrian yang sedang mencuci gelas di dapur.
"Tidak tahu, Mas. Seperti ada mobil yang berhenti lama di depan, lalu pergi mendadak dengan kasar," jawab Hana tenang. Ia kembali menatap Saka yang terlelap di gendongannya. "Mungkin orang tersesat."
Hana tidak tahu bahwa di balik kegelapan malam, mantan suaminya sedang menangis di balik kemudi, meluncur kembali menuju Jakarta untuk menghadapi puing-puing kehidupannya yang sudah hancur lebur.
Bima memacu mobilnya seperti orang gila. Ia berkali-kali mencoba menelepon mamanya, namun suara operator selalu menjawab bahwa nomor tersebut tidak aktif.
Ia tidak tahu bahwa mamanya sudah berada di atas samudera, meninggalkannya sendirian di tengah bara api yang ia nyalakan sendiri.
Malam itu, Jakarta menunggu Bima bukan dengan karpet merah, melainkan dengan surat penyitaan dan garis polisi yang dingin.
Bagaimana hancurnya mental Bima saat ia sampai di rumahnya sendiri dan dilarang masuk oleh petugas?
...----------------...
To Be Continue ....
Bima semangat 🔥💪🥰