NovelToon NovelToon
Mereka Pikir Aku Miskin

Mereka Pikir Aku Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.

Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.

Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.

Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.

Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

.

“Ayah…? Ayah?”

Arsen mengguncang pelan lengan Darma yang mendadak kehilangan keseimbangan lalu terjatuh di atas lantai. Wajah pria paruh baya itu pucat pasi, sementara tatapannya masih terpaku pada Keira seolah-olah perempuan yang duduk tenang di samping Daren itu bukanlah mantan menantunya yang selama ini mereka kenal.

“Tidak mungkin…” Darma menggeleng berkali-kali sambil memegang dadanya. “Keira tidak mungkin pemilik perusahaan sebesar ini. Dia hanya…”

“Wanita rumah tangga?” Keira menyambung dengan suara datar.

Darma seketika terdiam ketika matanya melihat Keira bangkit dari kursinya, kemudian merapikan ujung blazernya dan menatapnya dengan sorot mata yang tak pernah ia lihat selama ini. Wanita itu memang tidak terlihat marah, bahkan terlalu tenang. Tetapi ketenangan itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan. Apalagi panggilan wanita itu yang sudah berubah tak lagi memanggilnya dengan sebutan Ayah.

“Apakah itu yang ingin Anda katakan, Pak Darma?” lanjutnya. “Bahwa pekerjaan saya hanya memasak, mencuci pakaian, dan mengurus rumah, sehingga saya tidak mungkin memahami dunia bisnis?”

Darma masih memegangi dadanya, sementara matanya menatap Keira yang berdiri tinggi menjulang di hadapannya. Tampak olehnya wanita itu yang melipat kedua tangannya di depan dada. Jelas sekali bahwa wajah itu bukan lagi wajah yang dia kenal selama empat tahun. Wajah itu terlalu dominan dengan aura wanita penguasa yang begitu kental.

“Pak Darma,” tegur Daren dengan suara dingin. “Sayang sekali Anda telah melepaskan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan perusahaan Anda.”

Darma terdiam dengan wajah masih menunjukkan ketidakpercayaan. Sementara itu, Arsen perlahan melepaskan tangannya dari lengan ayahnya, lalu melangkah mendekati Keira. Ada banyak pertanyaan yang berdesakan di kepalanya, tetapi ada satu hal jauh lebih mendesak daripada semuanya. Perusahaan mereka sedang berada di ambang kehancuran, dan perempuan yang selama ini mungkin menjadi penyelamat mereka ternyata berdiri tepat di hadapannya.

“Keira, tunggu.”

Keira yang hendak terlalu bersama Daren berhenti, kemudian menoleh sekilas. “Ada yang ingin Anda sampaikan, Pak Arsen?”

Arsen mengatupkan rahangnya mendengar panggilan formal itu. Ia ingin memprotes sikap Keira yang memperlakukannya seperti orang asing, tetapi ia tahu dirinya tidak memiliki hak untuk menuntut apa pun dari perempuan itu. Karena itulah, setelah menarik napas panjang, ia memilih mengesampingkan harga dirinya.

“Jadi benar ternyata kamu adalah pemilik KA Grup?” tanyanya, masih sulit mempercayai kenyataan tersebut. “Jadi semua.bantuan yang diterima Wijaya Group selama ini adalah darimu?”

Keira menatap wajah Arsen dengan tenang tanpa berniat untuk menjawab. “Sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu tidak harus dibahas di masa sekarang," ucapnya tegas.

Arsen menahan napas. Perkataan Keira seakan ingin mempertegas bahwa di antara mereka sudah tidak lagi ada hubungan. Tetapi pria itu tidak ingin berhenti berharap. Dengan wajah yang begitu antusias ia maju semakin mendekat.

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menolong kami sekali lagi?” tanyanya penuh harap.

“Dulu, saya melakukannya karena merasa menjadi bagian dari keluarga Wijaya.” Keira berhenti sejenak, kemudian menatap Arsen lurus-lurus. “Tetapi itu dulu. Sekarang saya bukan lagi bagian dari keluarga Wijaya.”

Wajah Arsen menegang. “Keira, aku tahu kita memang sudah bercerai, tetapi—”

“Kalau begitu seharusnya Anda juga tahu bahwa saya tidak lagi memiliki kewajiban untuk melakukan apapun untuk keluarga Wijaya." Suara Keira tetap tenang seakan tak terusik dengan wajah Arsen yang begitu memelas.

“Tapi perusahaan kami sedang dalam kesulitan!” Arsen tanpa sadar meninggikan suaranya membuat semua peserta yang masih berada di ruangan itu menoleh padanya. Arsen menyadari hal itu tetapi rasa putus asa mengalahkan rasa malunya. “Bukankah selama ini kamu selalu membantu kami? Kenapa tidak lakukan sekali lagi? Berikan tender itu kepada Wijaya Group!”

Daren mengangkat alis. Beberapa direktur KA Grup saling berpandangan, tak menyangka seorang CEO seperti Arsen akan memohon demi mendapatkan proyek yang telah dinyatakan menjadi milik perusahaan lain.

Keira sendiri hanya memandang mantan suaminya tanpa perubahan ekspresi. “Anda ingin saya mengubah keputusan perusahaan hanya demi menyelamatkan Wijaya Group?”

Arsen terdiam sesaat sebelum mengangguk. “Kalau itu bisa menyelamatkan perusahaan kami, kenapa tidak?”

Keira menarik napas pelan. “Kualifikasi apa yang dimiliki oleh Wijaya group hingga harus membuat saya mengambil resiko? tanya wanita itu tenang. “Mahendra Corp menang karena mereka yang dinilai paling layak dan mampu. Saya tidak akan mempertaruhkan dana triliunan hanya karena Anda mantan suami saya.”

“Tapi kamu bisa membuat pengecualian!” Suara Arsen sedikit meninggi tak mau menyerah begitu saja.

“Dan mengorbankan kepercayaan semua mitra bisnis kami demi perusahaan yang sebentar lagi akan kolaps?” Keira menggeleng tipis. “Tidak!”

Arsen menatapnya dengan wajah tak percaya. “Jadi, kamu benar-benar tidak mau membantu kami lagi?”

Keira menatap wajah Arsen beberapa saat sebelum kemudian melangkah pergi diikuti oleh Daren. Lalu setelah itu semua peserta satu persatu ikut meninggalkan ruangan itu.

Alasan menatap nanar punggung wanita itu yang mulai menjauh, teringat hari ketika malam itu di dalam pesta, Keira yang diperlakukan layaknya seorang pembantu, lalu ibunya memperkenalkan Clarisa sebagai calon istrinya. Baru gini ia menyadari malam itulah semua kehancuran Wijaya dimulai.

“Keira, kamu tidak boleh pergi begitu saja—”

“Tuan Arsen!”

Suara teriakan Mario yang memanggil dirinya membuat Arsen yang ingin mengejar Keira menghentikan langkah. Pria itu berbalik dan mendapati ayahnya terbaring di lantai dengan wajah semakin pucat. Satu tangannya mencengkeram dada, sementara tangan lainnya mencengkeram tangan Mario yang menopang tubuhnya.

“Ayah?” Arsen segera menghampiri. “Ayah kenapa?”

Darma mencoba menjawab, tetapi napasnya terdengar berat. Ia menatap Arsen dengan mata yang mulai kehilangan fokus, lalu tubuhnya mendadak limbung.

“Ayah!” Arsen segera mendekat ke arah mereka. Mario berteriak panik membuat beberapa orang yang belum sempat keluar dari ruangan kembali menoleh.

“Ayah… Ayah bisa mendengarku?” tanya Arsen sambil menepuk pelan pipi ayahnya.

Darma tidak memberikan jawaban yang jelas. Tubuhnya semakin lemas dalam dekapan Arsen, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

“Tolong... Tolong Ayah saya!" teriak Arsen. “Keira… " teriak Arsen lagi semakin panik karena melihat mata ayahnya telah terpejam. “Tol9ng ayahku… Ayahku sakit!”

Daren yang telah berada di luar pintu dan mendengar suara teriakan itu segera menoleh kepada Keira. “Bos, sepertinya Pak Darma sedang tidak baik-baik saja. Apa kita perlu memanggil ambulans?”

Tanpa menghentikan langkahnya Keira menjawab dengan enteng. “Tidak perlu. Sepertinya para pembaca sudah menyiapkannya dari tadi.”

Dan benar saja, hanya beberapa menit petugas medis memasuki ruangan. Ingatkan Arsen untuk mengucapkan terima kasih pada pembaca yang baik hati.

Petugas medis itu segera memeriksa kondisi Darma, memastikan jalan napasnya, lalu memberikan penanganan awal sebelum bersiap membawa pria paruh baya itu ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Pak, kami akan membawa ayah Anda ke rumah sakit sekarang,” ujar salah seorang petugas medis.

Arsen mengangguk cepat. “Baik. Tolong selamatkan ayah saya.”

Darma dipindahkan ke tandu. Arsen berjalan di sampingnya dengan wajah pucat, terus memanggil ayahnya agar tetap sadar, sementara Mario memerintahkan tim nya untuk membawa semua bawaan mereka lalu kembali ke perusahaan.

Ketika mereka tiba di lobi, Arsen sempat menoleh ke arah Keira yang sedang berbincang dengan beberapa pengusaha. Barulah kali itu Arsen menyadari bahwa perempuan itu benar-benar bukan lagi istri yang mengisi hidupnya selama empat tahun.

Dulu, bahkan ketika Arsen bersikap dingin, atau ketika ibunya memperlakukan dengan buruk, Keira tetap setia dan tak pernah sekalipun protes. Tapi sekarang semua telah berubah..Keira bukan lagi wanita yang bisa ia kendalikan.

“Pak Arsen, ambulansnya sudah siap berangkat,” ujar Mario.

Arsen akhirnya berbalik dan mengikuti petugas medis yang membawa ayahnya keluar. Namun, sebelum melewati pintu, ia kembali memandang Keira. Berharap ada belas kasih di wajah wanita itu. Sayangnya, hingga pintu ambulan tertutup harapan itu tidak terwujud.

Saat ambulan yang membawa Darma bergerak meninggalkan halaman gedung, saat itu Daren sedang membuka pintu mobil untuk Keira.

“Bos, kau yakin tidak ingin memastikan kondisi Pak Darma?” tanya Daren penasaran.

Keira yang sudah duduk di dalam mobil menggeleng pelan. “Dia sudah bersama anaknya dan tim medis. Mau ngapain aku ikut?”

Daren mengangguk, lalu berjalan memutar dan masuk ke kursi kemudi,

“Bagaimana kalau setelah ini Arsen kembali mencarimu?” tanya Daren saat mobil mereka sudah melaju.

Keira menatap jalanan di hadapannya dengan wajah datar. “Apa pun alasannya datang, jawabannya tetap tidak!"

1
Ayuk Witanto
biar saja jantungan pdk darma
Ayuk Witanto
pasti pada syok
Ayuk Witanto
tamat riwayat mu arsen
Ayuk Witanto
itu dulu
Ayuk Witanto
lanjut
adam Ridho
waaaarbiyasaaaa
Ayuk Witanto
tau aja🤭
nayla tsaqif
Kita mahhh gk nyiapin ambulans, thor,, tp nyiapin TPU,, 😅
Dwi Setyaningrum
baguslah keira ga usah peduliin org yg ga penting seperti mantanmu itu emang enak dicuekin🤪
vania larasati
lanjut
Mundri Astuti
seeehhhh mang Keira mau masuk ke lubang yg sama ...ga lah ..
kan skrg kamu ngemis" ...kemarin jam sombong kali kau
Ilfa Yarni
Bagus keira ngapain mikirin kluarga yg meremehkanmu biar kan sajark collabs
Adinda
bagus keira kalau bisa buat mereka semakin menderita
Noor hidayati
kenapa sekarang up nya lelet ya,apa bacanya numpuk bab saja,biar ga bolak balik ngecek sudah up apa belum
merry
duduk drmhh lh renungin penyesalan kliann
Aditya hp/ bunda Lia
mampus ....
vania larasati
lanjut
Muft Smoker
hellloooooo ,,
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
Muft Smoker
datang laa petir di tengah ruang rapat ,,
🤭🤭😁😁😁
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!