Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang Terdengar Seperti Keputusan
Pagi itu, Raze meminta Alya datang lebih awal ke rumahnya. Begitu Alya sampai, dia menemukan meja makan sudah tertata rapi dengan lilin-lilin kecil menyala meski matahari baru saja terbit, bunga melati segar tersebar di sepanjang taplak putih. Sebuah pemandangan yang begitu jauh dari kebiasaan sarapan sederhana mereka biasanya. Aroma melati bercampur kopi hangat memenuhi udara. Di sudut ruangan, seorang pemain biola yang tidak pernah Alya lihat sebelumnya berdiri diam, menunggu aba-aba untuk mulai bermain.
"Ada apa ini?" Alya bertanya dengan tersenyum heran. Matanya menjelajahi ruangan yang terasa seperti disiapkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar sarapan.
"Duduk dulu," Raze berkata. Suaranya tenang, tapi Alya bisa menangkap getar kecil yang jarang sekali muncul di baliknya. Dan tangannya yang biasanya begitu stabil kali ini sedikit gemetar saat menarik kursi untuknya.
Mereka duduk berhadapan. Alih-alih langsung makan, Raze menggenggam kedua tangan Alya di atas meja, matanya menatap lurus, dalam, seolah sedang menghitung ulang setiap alasan yang membawanya ke titik ini.
"Aku sudah menghabiskan bertahun-tahun mengendalikan segalanya dalam hidupku," katanya, memulai, suaranya lebih pelan dari biasa. "Bisnisku, jaringanku, bahkan caraku mencintaimu dari kejauhan sebelum aku berani mendekat. Tapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kukendalikan, ketakutan kehilangan kamu."
"Raze—"
"Biarkan aku menyelesaikan ini," dia memotong, lembut tapi tegas, gaya bicara yang sudah begitu Alya kenali. "Aku tidak akan bertanya dengan cara yang memberimu banyak pilihan untuk menolak, karena aku terlalu takut mendengar jawaban selain yang aku inginkan. Tapi aku janji, permintaan ini datang dari tempat paling jujur yang aku punya."
Di luar jendela, biola itu mulai mengalun pelan. Melodi sederhana yang tidak pernah dia dengar sebelumnya, dan Alya bertanya-tanya berapa lama Raze merencanakan detail sekecil itu, berapa banyak malam yang dia habiskan menyusun momen yang terasa begitu sempurna ini.
Dia berdiri, mengelilingi meja, berlutut di depan kursinya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Sesuatu yang sederhana, elegan, berisi cincin dengan batu kecil yang justru terasa lebih personal karena kesederhanaannya.
"Menikahlah denganku, Alya," katanya, bukan pertanyaan yang menggantung penuh keraguan, melainkan pernyataan yang terdengar seperti keputusan yang sudah lama dia susun matang-matang. "Bukan karena aku ingin memilikimu secara sah di atas kertas, meski aku tidak akan menyangkal itu juga menjadi bagian dari alasanku. Tapi karena aku tidak sanggup lagi membayangkan menjalani hari-hariku tanpa kamu di dalamnya, dan aku ingin dunia tahu itu, secara terbuka, tanpa perlu bersembunyi lagi."
Alya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh begitu saja. Campuran antara syok dan kebahagiaan yang begitu besar hingga sulit dia tampung sekaligus. "Raze, ini... ini terlalu cepat."
"Aku tahu terdengar begitu bagi dunia luar," dia menjawab, tetap berlutut, matanya tidak berkedip menatapnya. "Tapi bagiku, ini adalah suatu hal yang sudah aku nanti cukup lama dalam hidupku. Hidupmu sudah jadi bagian dari hidupku sejak malam kecelakaan itu, meski kau baru mengenalku beberapa bulan."
Tangannya yang menggenggam kotak cincin itu sedikit gemetar. Alya melihat ada sebuah ketakutan di matanya, ketakutan bahwa jawaban yang dia tunggu bertahun-tahun mungkin tidak datang seperti yang dia harapkan.
"Kalau kau butuh waktu," Raze menambahkan, cepat, seolah mencoba menutupi keraguan yang baru saja terlihat, "aku akan menunggu. Aku hanya tidak ingin menunggu lagi tanpa setidaknya mengucapkan apa yang aku rasakan."
"Kamu nggak nanya, kamu ngasih tau," Alya berkata, setengah tertawa setengah menangis, mengenali pola bicaranya yang begitu khas.
"Aku memang begitu," Raze mengakui, sudut bibirnya terangkat tipis. "Tapi aku akan tetap menunggu jawabanmu, meski aku sudah cukup percaya diri menebak apa jawabannya."
"Kalau aku bilang ya," Alya berbisik, "aku mau kamu janji satu hal. Aku bukan cuma jadi milikmu yang harus dilindungi terus-terusan. Aku mau tetep jadi partner kamu, bukan cuma barang berharga yang kamu simpan di brankas paling aman."
Untuk sesaat, Raze terdiam, mempertimbangkan permintaan itu dengan kesungguhan yang sama seperti dia mempertimbangkan keputusan bisnis besar. "Aku janji," katanya akhirnya, suaranya tulus. "Meski aku mungkin akan gagal beberapa kali dalam prosesnya, karena insting posesifku tidak akan hilang semalam. Tapi aku janji akan selalu berusaha."
"Ada satu lagi," Alya menambahkan, matanya menatap tajam meski masih berkaca-kaca. "Aku mau kamu berhenti nyimpen rahasia besar dariku. Semua yang terjadi hari ini, semua yang bakal terjadi ke depannya soal keluarga Wijayanto atau siapa pun, aku mau tau. Aku bukan lagi orang yang perlu dilindungi dari kebenaran, Raze."
"Itu janji yang lebih sulit," Raze mengakui, jujur. "Tapi aku akan mencobanya. Untukmu, aku akan mencoba banyak hal yang dulu kupikir mustahil."
"Kalau gitu," Alya berbisik, tersenyum di sela air matanya, "iya, Raze. Aku mau."
Raze memasangkan cincin itu ke jarinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Hal langka untuk seseorang yang tangannya selalu stabil bahkan saat melakukan operasi jantung tersulit sekalipun. Begitu cincin itu terpasang sempurna, dia menariknya berdiri, memeluknya erat, mengangkatnya sedikit dari lantai seperti Bayu dulu di stasiun, tapi dengan intensitas yang jauh berbeda. Dengan kelegaan seseorang yang akhirnya berhasil menggenggam sesuatu yang dia kejar seumur hidupnya.
"Aku mencintaimu," dia berbisik di telinganya, "lebih dari yang pantas dimiliki siapa pun, dan aku tidak akan pernah meminta maaf untuk itu."
Alya menariknya ke dalam ciuman yang dalam dan penuh, tangannya menangkup wajahnya, merasakan setiap detail garis rahangnya yang tegas. Nafasnya yang memburu, detak jantung yang beradu dengan detak jantungnya sendiri. Untuk beberapa saat, dunia terpusat ke dua orang yang akhirnya berhenti menyembunyikan seberapa dalam mereka saling menginginkan.
Mereka berpindah ke sofa ruang tamu. Dengan posisi masih berpelukan, tidak ingin melepaskan kontak fisik meski hanya sedetik. Raze menariknya duduk di pangkuannya, dahi mereka bersentuhan, tangannya mengusap punggungnya naik turun dengan gerakan lambat yang selalu berhasil membuat Alya merasa seperti satu-satunya hal berharga di dunia ini.
"Aku nggak pernah ngebayangin hidupku bakal seindah ini," Alya berbisik, jarinya menelusuri garis rahangnya. "Setelah semua yang terjadi."
"Aku juga tidak," Raze mengakui, mengecup ujung hidungnya, lalu keningnya, lalu akhirnya bibirnya lagi, lebih lembut kali ini. "Tapi aku akan menghabiskan sisa hidupku memastikan keindahan ini bertahan, apa pun yang harus kulakukan."
Rani, yang kebetulan datang untuk sarapan bersama seperti yang sudah jadi kebiasaan baru mereka, muncul di ambang pintu tepat saat mereka masih berpelukan. Saat melihat cincin di jari Alya, dia berteriak kegirangan, berlari memeluk mereka berdua sekaligus.
"AKHIRNYA!" serunya, tertawa dan menangis bersamaan. "Aku bilang juga apa, kan? Aku jadi among tamu, ya! Udah janji!"
"Iya, iya," Alya tertawa, memeluk kakaknya erat. "Kamu jadi among tamu, Mbak."
"Kapan nikahnya? Aku udah nggak sabar mau lihat gaun kamu," Rani bertanya bersemangat, matanya berbinar seperti anak kecil. "Aku bisa jahitin gaunnya, lho! Anggap aja hadiah dariku."
"Aku suka ide itu," Alya berkata, terharu, menggenggam tangan kakaknya. "Nggak ada yang lebih spesial dari gaun buatan Mbak sendiri."
"Nanti aku bikinin motif bordir khusus," Rani melanjutkan, sudah membayangkan desainnya sendiri di kepala. "Simbol dua kembar yang akhirnya ketemu lagi, biar setiap kali kamu pakai gaun itu, kamu inget hari ini bukan cuma soal pernikahan, tapi soal keluarga yang lengkap lagi."
Alya memeluknya erat, terharu oleh betapa cepatnya kakaknya ini menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap momen penting dalam hidupnya, seolah dua puluh tahun yang hilang sedang berusaha mereka kejar bersama-sama dalam waktu sesingkat mungkin.
"Secepatnya," Raze menjawab, tangannya masih melingkar di pinggang Alya. "Aku tidak ingin menunggu lebih lama dari yang diperlukan."
"Buru-buru banget," Rani menyindir, menyenggol lengan Raze main-main. "Takut Alya berubah pikiran, ya?"
"Selalu," Raze menjawab, jujur, tanpa berusaha menyembunyikan kerentanan itu, dan untuk sesaat, Rani menatapnya dengan sesuatu yang menyerupai kelembutan, mulai memahami kedalaman perasaan yang dimiliki pria ini terhadap adiknya.
Kebahagiaan itu terhenti oleh bunyi ponsel Raze yang bergetar keras di meja, dan begitu dia melihat nama yang muncul di layar, wajahnya berubah serius seketika.
"Damar," katanya, menjawab panggilan itu, dan seluruh ruangan seolah menahan nafas menyaksikan perubahan drastis di wajahnya saat mendengarkan laporan di seberang telepon.
"Kapan ini terjadi?" Raze bertanya, suaranya sudah kembali dingin dan terkendali. "Baik. Perketat semua pengamanan. Aku akan ke kantor sekarang."
"Ada apa?" Alya bertanya, cemas melihat perubahan drastis suasana hatinya.
"Keluarga Wijayanto baru saja mengirim surat resmi," Raze menjawab, rahangnya mengeras. "Mereka mengundang pertemuan bisnis minggu depan, tapi menyebutkan nama Rani secara eksplisit di dalamnya, sebagai 'topik yang perlu didiskusikan'. Itu bukan undangan bisnis biasa, Alya. Itu pesan bahwa mereka sudah tahu segalanya, dan mereka ingin aku tahu itu."
Wajah Rani memucat mendengarnya. "Ini salahku," bisiknya, tangannya gemetar. "Kalau bukan karena utangku, mereka nggak akan pernah tau soal kita."
"Ini bukan salahmu," Raze berkata, tegas, menatapnya lurus. "Ini salah orang-orang yang memilih menjadikan keluarga sebagai senjata negosiasi. Jangan pernah biarkan dirimu berpikir sebaliknya."
Kebahagiaan yang baru saja mereka rayakan tiba-tiba terasa rapuh, digantikan oleh ketegangan baru yang mengingatkan mereka bahwa dunia di luar pintu rumah itu masih penuh ancaman yang menunggu kesempatan.
Di lantai dua puluh dua, malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang bercampur antara kebahagiaan dan kewaspadaan yang tidak bisa lagi dia pisahkan.
Dia bilang ya. Aku sudah menduga jawabannya, tapi mendengarnya diucapkan langsung tetap terasa seperti keajaiban yang tidak pantas kuterima.
Aku berjanji akan berhenti menyimpan rahasia besar darinya. Itu janji yang lebih berat daripada yang dia sadari. Delapan tahun aku hidup dengan prinsip bahwa informasi adalah kekuasaan, dan kekuasaan harus dijaga ketat. Belajar membagikannya secara setara adalah pertarungan baru yang belum pernah kuhadapi sebelumnya.
Keluarga Wijayanto bergerak lebih cepat dari yang kuduga. Menyebut nama Rani secara terbuka berarti mereka sudah memahami penuh apa yang mereka pegang sebagai leverage. Aku perlu menyelesaikan ini sebelum pernikahan berlangsung, atau risikonya akan menular ke hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup kami.
Aku sudah memerintahkan Damar menyusun profil lengkap keluarga itu malam ini juga. Kekuatan mereka, kelemahan mereka, dan yang terpenting, apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku selain sekadar mengganggu. Tidak ada orang yang membuka permainan seterbuka ini tanpa tujuan akhir yang jelas.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan dua emosi yang begitu berlawanan secara bersamaan. Kebahagiaan paling murni yang pernah kurasakan, dan ketakutan paling tajam yang pernah menusukku. Aku hanya berharap, aku cukup kuat untuk melindungi keduanya, tanpa harus mengorbankan salah satunya.
❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜
Ada kebahagiaan yang datang beriringan dengan bayangan yang mengintai di baliknya. Yang membedakan mereka yang selamat dan yang tidak, bukanlah ketiadaan bayangan itu, melainkan keberanian untuk tetap merayakan cahaya, sekalipun tahu gelap sedang menunggu di ambang pintu.