Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : RUANG INTEROGASI
Bau lembap dan karat berpadu pekat di dalam ruang interogasi bawah tanah itu. Sinar lampu neon tunggal yang menggantung di langit-langit berderit pelan, memantulkan bayangan panjang di dinding beton yang basah oleh rembesan air malam.
Chen duduk di atas kursi kayu reyot; tangan kecilnya terikat kencang di belakang sandaran kursi menggunakan kabel ties. Dinginnya malam Kota Yucheng meresap hingga ke tulang, tetapi bukan suhu rendah yang membuat napasnya terasa berat, melainkan kehadiran tiga pria berbadan besar yang berdiri di hadapannya tanpa suara.
Vane, dengan seringai tipis yang menyembunyikan amarah menggelegak, melangkah maju mendekati bocah itu. Tatapan mata Vane tajam bagai belati yang siap merobek daging kapan saja.
"Kau pikir kecerdasan kekanak-kanakanmu bisa menyelamatkanmu dari tempat ini, bocah?" suara Vane berbisik rendah, tetapi penuh penekanan yang menggetarkan udara di dalam ruangan. Ia mencengkeram dagu Chen dengan jemari kasarnya, memaksa kepala anak itu mendongak. "Shen Mo mungkin melindungimu di menara itu, tapi di sini, di sektor utara, hukumnya berbeda. Kau telah mencampuri urusan yang terlalu besar untuk ukuran anak sepertimu."
Chen tidak bergeming. Ia tidak berteriak ataupun meronta seperti anak seusianya. Ingatan fotografisnya merekam setiap detail mikro di ruangan itu—mulai dari jumlah baut pada pintu besi di sudut ruangan, pola retakan di dinding sebelah kiri, hingga goresan luka di punggung tangan kanan Vane.
Tatapan mata Chen justru balas menatap manik mata Vane tanpa sedikit pun rasa takut—sebuah ketenangan dingin yang justru membuat sang pengkhianat faksi merasa terintimidasi.
"Kau bukan hanya mengancam posisiku, Vane," kata Chen dengan suara pelan namun terdengar sangat jelas di tengah keheningan ruangan. "Kau adalah duri dalam daging yang selama tujuh tahun ini sengaja dibiarkan hidup oleh Shen Mo karena ia masih menghargai darah senioritas. Tapi kesabarannya sudah habis, dan dokumen digital yang kusebarkan sebelum aku diculik sudah berada di tangan yang tepat."
Mendengar kata-kata itu, cengkeraman Vane di dagu Chen semakin mengencang hingga kulit bocah itu memerah. Napas Vane memburu; dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak.
"Tutup mulut kecilmu!" bentak Vane seraya melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat kepala Chen terhuyung ke samping. Vane berbalik badan, mondar-mandir gelisah di depan meja logam berkarat. Faksi konservatif di belakangnya mulai berbisik-bisik resah.
Mereka tahu bahwa anak di hadapan mereka ini bukan sekadar tawanan biasa, melainkan otak kecil berbahaya yang mampu melumpuhkan seluruh jaringan keuangan sindikat hanya dengan beberapa baris kode rahasia.
Suara derit pintu besi yang didorong keras dari luar memecah ketegangan. Seorang pengawal masuk dengan napas terengah-engah; peluh membasahi pelipisnya.
"Tuan Vane! Ada pergerakan di luar perimeter pelabuhan utara. Jaringan komunikasi kita di sektor tiga terputus total dalam waktu bersamaan!"
Vane menghentikan langkahnya; matanya melebar seketika. Belum sempat ia memberikan instruksi, suara dentuman keras mengguncang lantai beton tempat mereka berdiri, disusul suara tembakan beruntun yang memecah malam di luar sana.
Shen Mo menepati janjinya. Hanya butuh waktu kurang dari dua belas jam bagi pria itu untuk memobilisasi seluruh kekuatan bayangan bawah tanah Yucheng menuju titik penyanderaan ini.
Di tengah kekacauan yang mendadak terjadi di luar ruangan, Chen mengangkat sedikit sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis penuh kemenangan yang hanya bisa disaksikan oleh Vane.
"Waktumu habis, Vane," bisik Chen dengan nada yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding.
Pintu besi ruang interogasi itu meledak hancur berkeping-keping dalam satu detik berikutnya, memperlihatkan siluet tinggi seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan kepulan asap tipis dan tatapan mematikan.