NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak
Popularitas:24.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Setelah melewati keheningan yang cukup panjang, kecanggungan di antara mereka perlahan-lahan menghilang seiring dengan mencairnya kemacetan. Mobil mewah Dokter Daniel kembali melaju, membelah jalanan kota yang mulai dinaungi semburat jingga senja.

Perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam hingga akhirnya mobil tersebut berbelok ke sebuah kawasan perumahan elite. Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah dengan pintu gerbang besi yang menjulang tinggi. Begitu mengenali mobil sang majikan, dua orang petugas keamanan yang berjaga di pos depan dengan sigap membuka gerbang dan memberikan hormat menyambut kepulangan sang dokter.

Shanum yang duduk di jok depan sempat terkesiap. Matanya membulat menatap kediaman Dokter Daniel yang begitu megah bak istana tersembunyi. Halamannya sangat luas dengan arsitektur bangunan yang modern dan mewah.

Di ambang pintu utama, Bik Sumi bersama beberapa ART lainnya ternyata sudah berdiri berjejer. Mereka buru-buru keluar dengan wajah sumringah untuk menyambut kepulangan Baby Ziva. Daniel memarkirkan mobilnya dengan sempurna, lalu turun dan membukakan pintu untuk Shanum.

Shanum melangkah keluar dari mobil dengan sangat hati-hati sambil menggendong Baby Ziva yang mulai gelisah. Bayi mungil itu sesekali mengucek matanya dengan kepalan tangan kecilnya, sebuah pertanda jelas bahwa ia sudah mulai mengantuk.

"Sepertinya Ziva sudah mengantuk," ucap Daniel setelah memperhatikan putrinya. Ia lalu menoleh ke arah pengasuh setianya. "Bik Sumi, tolong antarkan Shanum dan Baby Ziva ke kamarnya."

Bik Sumi mengangguk mantap dengan senyum merekah. "Siap, Tuan! Mari, Nyonya, ikut dengan saya. Wah, saya benar-benar tidak menyangka kalau Tuan Daniel diam-diam sudah menikah lagi dengan Nyonya yang cantik ini!"

Mendengar ucapan polos namun fatal dari Bik Sumi, baik Daniel maupun Shanum terkejut setengah mati. Jantung mereka rasanya seperti melompat dari tempatnya.

"Bu... bukan!" jawab Daniel dan Shanum secara serempak, membuat suasana mendadak menjadi sangat kikuk.

Dokter Daniel memijat pangkal hidungnya pelan lalu menghela napas panjang. Ia harus segera meluruskan kesalahpahaman ini sebelum gosipnya menyebar ke seluruh penghuni rumah.

"Shanum ini bukan istri baruku, Bik Sumi... melainkan ibu susunya Ziva. Mulai hari ini dia akan bekerja dan tinggal di rumah ini untuk merawat Ziva," jelas Daniel dengan nada tegas namun tetap tenang. Ia kemudian beralih menatap Shanum. "Dan untukmu Shanum, jika kamu memerlukan sesuatu selama tinggal di sini, tinggal bilang saja sama Bik Sumi."

"Baik, Pak Dokter," jawab Shanum patuh sambil merapatkan dekapannya pada Ziva.

Wajah Bik Sumi langsung memucat karena merasa bersalah. Ia menepuk bibirnya pelan. "Aduh Tuan, maafkan Bik Sumi ya! Bibi benar-benar tidak tahu, habisnya Mbak Shanum kelihatan cocok sekali bersanding dengan Tuan."

"Aku maafkan. Tapi jangan sekali-kali Bik Sumi mengulanginya lagi, ya," sahut Daniel memberi peringatan halus agar privasi Shanum tetap terjaga.

"Siap, Tuan. Tidak akan Bibi ulangi lagi," ucap Bik Sumi lega. Ia lalu beralih kepada Shanum dengan ramah. "Mari, Mbak Shanum, ikut dengan saya ke atas."

Sebelum melangkah mengikuti Bik Sumi, Shanum menghentikan langkahnya sejenak. Ia berbalik ke arah Daniel, lalu membungkukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat dan pamit. Daniel yang melihat kesopanan wanita itu membalasnya dengan sebuah senyuman tipis yang hangat, sebelum akhirnya ia sendiri melangkah tegap menuju kamarnya di lantai dua untuk membersihkan diri setelah seharian yang penuh dengan ketegangan.

*

*

Malam kian merayap pekat di luar jendela, sementara di dalam kamar atas, Baby Ziva masih mendengkur halus dalam tidurnya yang pulas. Shanum baru saja merapikan selimut bayi mungil itu saat pintu kamar diketuk pelan. Bik Sumi muncul dari balik pintu dengan senyum ramah.

"Mbak Shanum, ganti posisi dulu, yuk. Biar Bibik yang jaga Non Ziva di sini. Mbak Shanum ditunggu Tuan Daniel di bawah untuk makan malam bersama," bisik Bik Sumi pelan agar tidak mengejutkan sang bayi.

Shanum tersentak pelan, rasa sungkan langsung mampir di hatinya. "Eh? Bik, saya belum lapar... Nanti saja saya makannya belakangan di dapur," tolak Shanum halus.

"Aduh, Mbak Shanum... Ini perintah langsung dari Tuan Daniel. Sebaiknya Mbak Shanum ikuti saja ya. Soalnya kalau Tuan sudah marah, lumayan menakutkan lho!" ucap Bik Sumi dengan nada berbisik yang sengaja dibuat misterius untuk menakuti.

Shanum spontan menelan ludahnya sendiri. Membayangkan wajah tegas Dokter Daniel saat sedang mode dingin di rumah sakit saja sudah membuatnya segan, apalagi jika pria itu sampai marah di rumahnya sendiri.

"Baiklah, Bik. Kalau begitu saya titip Ziva sebentar ya," ucap Shanum pasrah.

"Siap, pokoknya Non Ziva aman sama Bibi!" sahut Bik Sumi mantap.

Akhirnya Shanum melangkah pelan menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Langkah jinjitnya membawa wanita berhijab itu sampai ke area ruang makan yang sangat mewah. Di sana, Daniel sudah duduk dengan tenang, menunggunya di hadapan berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap hangat.

Daniel mendongak begitu menyadari kehadiran seseorang. "Bagaimana dengan Ziva, Num? Apakah dia masih tidur?"

"Iya, Pak Dokter. Baby Ziva masih tertidur pulas," jawab Shanum santun, suaranya hampir lirih.

"Syukurlah. Kalau begitu kau makan dulu, dan sekalian temani aku makan malam," ujar Daniel sambil memberi isyarat ke arah kursi kosong.

Bukannya segera duduk, Shanum malah berdiri mematung beberapa langkah dari meja makan. Tangannya saling bertautan erat, merasa sangat canggung dan tidak berani melangkah mendekat. Ia merasa statusnya di rumah ini hanyalah seorang pekerja, tidak pantas rasanya duduk sejajar di meja makan semewah ini bersama sang majikan.

Melihat keraguan Shanum, Daniel menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap lurus ke arah Shanum dengan sorot mata yang tak terbantahkan.

"Shanum, duduk," perintah Daniel dengan nada bariton yang tegas namun tidak membentak.

Seketika nyali Shanum menciut. Sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia melangkah maju dan menarik kursi yang posisinya agak menjauh dari tempat Daniel duduk. Makan malam itu pun berlangsung dalam keheningan yang cukup intens. Hanya terdengar denting sendok yang beradu samar dengan piring. Shanum makan dengan sangat hati-hati, sementara Daniel sesekali melirik ke arahnya, menghargai ketenangan wanita di depannya.

Setelah mereka berdua menyelesaikan makan malam, Daniel meraih sebuah map kulit berwarna hitam yang sejak tadi tergeletak di ujung meja. Ia menyodorkannya ke hadapan Shanum.

"Apa ini, Pak Dokter?" tanya Shanum bingung sambil menatap map tersebut.

"Ini adalah surat kontrak kerja kamu selama menjadi ibu susu dan pengasuhnya Ziva. Kamu akan bekerja sampai Baby Ziva berusia dua tahun, atau mungkin bisa juga lebih dari itu. Nanti aku bisa memperpanjang kontraknya jika diperlukan. Dan di dalam surat kontrak ini, aku sudah mencantumkan nominal gaji yang akan kamu terima. Kamu bisa lihat sendiri," jelas Daniel dengan gaya bicara yang profesional namun berwibawa.

Shanum meraih map tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membuka lembar demi lembar, membaca setiap poin hak dan kewajibannya dengan saksama sebelum membubuhkan tanda tangan. Namun, begitu pandangannya jatuh pada baris yang mencantumkan nominal angka kompensasi bulanan, kedua mata Shanum seketika melotot sempurna.

"Apa... tiga puluh juta?" gumam Shanum, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ia menggelengkan kepala, mengira matanya salah lihat karena kelelahan. Jari telunjuknya bahkan sampai menghitung kembali jumlah angka nol yang tertera di kertas putih itu satu per satu. Tetap sama. Tiga puluh juta rupiah per bulan.

"Pak Dokter... Apakah ini tidak terlalu berlebihan? Gaji saya ini... terlalu besar untuk seorang pengasuh," protes Shanum dengan perasaan tidak enak yang membuncah. Angka itu bahkan jauh lebih dari cukup untuk melunasi cicilan rumah sakit dimana Neneknya sedang dalam perawatan medis beberapa bulan saja.

Daniel yang melihat ekspresi syok Shanum justru menumpukan kedua tangannya di atas meja dan tersenyum renyah. Sebuah tawa kecil yang tulus lolos dari bibirnya.

"Itu sangat sebanding dengan pekerjaanmu, Shanum. Merawat anakku dan memberikan ASI eksklusif bukanlah hal yang mudah. Dan jangan khawatir, setiap akhir tahun akan ada bonus tahunan serta THR di luar gaji pokok itu," ucap Daniel santai.

Shanum masih terpaku di tempat duduknya, memandangi surat kontrak di tangannya dengan perasaan campur aduk. Detak jantungnya berdegup kencang. Setelah rentetan badai malang yang menghancurkan hidupnya beberapa minggu lalu, kini takdir seolah membalikkan telapak tangan begitu cepat. Di dalam ruangan mewah yang sunyi itu, Shanum merasa seolah-olah ia sedang terjebak di dalam sebuah mimpi indah yang tak ingin ia sudahi.

Bersambung...

1
Nar Sih
siip daniel hajar terus sampai klara ngk bisa berkutik dan kmu lah yg jdi pemenang nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😉
total 1 replies
neny
makanya jng menganggap sepele sm orang lain,, apalagi masa lalu itu km sendiri yg menghancurkan nya,,
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
neny: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Nar Sih
semagat 💪daniel smoga kmu lah yg menang atas tuntutan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 😊
total 1 replies
~Ni Inda~
Klw perlu karir yg dia bangun mati²an dg memanfaatkan Sony...hancur berkeping²
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju kak, hancur dengan sikapnya sendiri
total 1 replies
~Ni Inda~
Masalah gakan selesai dg saling menduga
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, mantap uji nyali ya kak🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
hajR trus spe masuk bui tuh perempuan licik dia yg berulah dia yg emosi hahaha kau ga bakal menang Kiara dasar perempuan murahan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
neny
ya iya lah daniel,,km yg buat Hanum seperti itu,,muka km hrs menyelesaikan Maslah ini,,spy kalian berdua harmonis lg🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
semoga shanum dan Daniel yg memenangkan hak asuh ziva
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin 🤲🏼
total 1 replies
neny
semuanya serba salah faham,,sebaik nya jujur ajh sm perasaan masing2,,drpd kesalah fahaman ini ber larut2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul, tunggu saatnya tiba, harus ada salah satu yang mengalah
total 1 replies
Teh Yen
nanti malam.jangan.salahkan.shanum.klaau Tidka.mau.tidur sekamar lagi yah dok.huuh 😤
Teh Yen
lah knp malah kata kata itu yg keluar dari mulutmu Daniel hadeeuh kasian kan shanum terluka padhl dia jg berharap loh dokter Suka smaa dia 🙈
Teh Yen
nah gt dong untung dokter daniel.cepat sadar dengan perasaannya yah ,, smoga shanum jg mau mengakui perasaannya pada Daniel yah
Teh Yen
kasian dokter.daniel.sakit.karena kelelahan mungkin yah
Teh Yen
xixixi .... engg pa pa num pijit ajah lumayan bikin badan rileks kan 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣
total 1 replies
Teh Yen
yah kali ini gagal mah umpannya 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
Xixixiii mamah Daniel bisa aj nih bikin pengantin baru salah tingkah d nurutin kemauannya dari pada sandiwaranya terbongkar hihii tp bagus sih anggap aj latihan yah 😁
Teh Yen
duh udh main peluk peluk aj nih shanum cie daniel.deg deg gan engg tuh hihii 🤭
Nar Sih
dr daniel ,,jujur dgn shanum biar gak ada slh paham lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😀
total 1 replies
Nar Sih
bnr kan ahir nya dr daniel jatuh cinta dgn mu shanum☺️
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!