Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Tanpa Suara
Meja makan kayu panjang itu kini terasa seperti medan perang yang membeku. Di satu ujung, Arga duduk dengan postur tegak, jemarinya lincah menggeser layar tablet yang menampilkan grafik bursa saham pagi ini. Di ujung lainnya, Nara sibuk mengoleskan selai kacang ke roti bakarnya, gerakan tangannya sangat lambat seolah itu adalah tugas paling rumit di dunia.
Aroma kopi hitam yang kuat milik Arga beradu dengan wangi teh melati milik Nara, menciptakan aroma yang membingungkan—sama seperti status mereka saat ini.
Bi Sumi melintas dari dapur, meletakkan sepiring buah potong di tengah meja. "Ini Pak, Bu. Katanya kalau pengantin baru harus banyak makan buah biar segar terus," godanya dengan kedipan mata yang membuat Nara hampir tersedak rotinya.
Arga hanya berdeham pelan tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Terima kasih, Bi."
Begitu Bi Sumi kembali ke belakang, keheningan yang lebih berat kembali menyelimuti. Hanya suara detak jam di ruang tengah dan denting sendok Nara yang beradu dengan piring. Tidak ada ucapan "bagaimana tidurmu?" atau "ingin tambah kopi?". Kejadian di kamar tadi—melihat Arga setengah tanpa busana dan momen memasangkan kancing manset—seolah-olah menjadi gajah besar di ruangan itu yang tidak ingin disentuh oleh siapa pun.
Nara melirik Arga dari balik cangkir tehnya. Pria itu tampak sangat fokus, dahi yang berkerut tipis menunjukkan bahwa pikirannya sudah berada di ruang rapat kantor, jauh dari meja makan ini. Nara merasa ada sedikit rasa perih yang aneh; meskipun ia yang meminta batasan, diabaikan sepenuhnya di hari kedua pernikahan tetap saja terasa hambar.
"Arga," panggil Nara akhirnya. Suaranya terdengar terlalu keras di ruangan yang sunyi itu.
Arga meletakkan tabletnya perlahan. "Ya?"
"Nanti di kantor... kalau ada yang tanya kenapa kita berangkat bareng, kamu mau jawab apa?"
Arga menyesap kopi hitamnya, matanya menatap Nara dengan dingin namun tajam. "Saya sudah bilang, supir akan antar jemput kamu. Kita tidak berangkat satu mobil. Kamu berangkat sepuluh menit setelah saya. Kita akan bertemu di lobi sebagai klien dan vendor, seperti biasa."
Nara menghela napas, meletakkan rotinya yang baru separuh dimakan. "Sangat rapi. Sangat profesional. Kamu benar-benar tidak memberikan celah sedikit pun ya?"
"Celah hanya akan membawa komplikasi, Nara. Dan komplikasi adalah musuh efisiensi," jawab Arga datar. Ia bangkit, merapikan jasnya yang tersampir di kursi. "Saya berangkat duluan. Jangan lupa, file presentasi revisi itu harus sudah ada di meja saya jam sembilan."
Arga melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Pintu depan terdengar tertutup dengan bunyi klik yang tegas, disusul suara mesin mobil yang perlahan menjauh.
Nara terduduk lesu di kursinya. Sarapan tanpa suara ini bukan hanya soal keheningan fisik, tapi tentang bagaimana mereka masing-masing membisukan perasaan demi sebuah kesepakatan. Ia menatap piring Arga yang sudah kosong bersih—seperti cara Arga mengatur hidupnya: rapi, tuntas, tanpa sisa emosi.
"Dua puluh menit lagi," gumam Nara pada dirinya sendiri, menghitung waktu kapan ia boleh berangkat.
Ia menyadari bahwa pernikahan ini bukan hanya tentang berbagi rumah, tapi tentang bagaimana ia harus membiasakan diri dengan kesunyian yang sengaja diciptakan oleh suaminya sendiri. Namun, saat ia melihat sisa selimut yang semalam ia berikan pada Arga masih terlipat di sofa ruang tengah, Nara tahu bahwa di balik kesunyian sarapan ini, ada sesuatu yang mulai bergerak pelan—sesuatu yang tidak bisa diatur oleh jadwal keberangkatan mobil maupun poin-poin kesepakatan mereka.
---
Nara masih terpaku di kursinya, menatap cangkir tehnya yang mulai mendingin. Suasana rumah yang tadinya terasa hangat berkat kehadiran Bi Sumi, mendadak berubah menjadi gedung perkantoran yang steril setelah keberangkatan Arga.
Ia meraih ponselnya, melihat jam digital yang terus berdetak. Masih ada delapan menit lagi sebelum ia diizinkan keluar oleh "protokol" yang dibuat suaminya. Nara tersenyum getir; ia merasa seperti agen rahasia yang sedang menjalankan misi penyamaran, padahal ia hanya seorang istri yang ingin berangkat kerja.
"Bu Nara, kok belum berangkat? Pak Arga sudah jalan tadi," Bi Sumi muncul kembali, kali ini membawa lap meja.
"Eh, iya Bi. Masih ada email yang harus dibalas sebentar," bohong Nara sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Wah, Pak Arga sama Ibu ini memang cocok ya. Sama-sama sibuk, sama-sama serius. Tapi jangan lupa ya Bu, sesibuk apa pun, kalau di rumah mah harus tetap manja-manjaan sama suami," ujar Bi Sumi polos sambil mengelap sisa remah roti di ujung meja.
Nara hanya bisa tersenyum kaku. Manja-manjaan? Bahkan untuk sekadar sarapan tanpa suara saja sudah merupakan perjuangan mental yang luar biasa.
Tepat sepuluh menit setelah Arga pergi, Nara berdiri. Ia merapikan tas kerjanya dan memastikan tidak ada satu pun atribut "istri" yang menempel padanya. Ia melepas cincin kawinnya—yang untungnya memang berdesain sangat simpel—lalu memasukkannya ke dalam saku rahasia di dalam tasnya.
"Bi, saya berangkat dulu ya," pamit Nara.
"Iya Bu, hati-hati. Semoga kerjaannya lancar!"
Di dalam mobil jemputan yang dikirim Arga, Nara menyandarkan kepalanya. Ia mencoba memutar kembali percakapan sarapan tadi. Arga sangat konsisten. Tidak ada celah, tidak ada emosi, tidak ada tanda-tanda bahwa semalam mereka baru saja berbagi oksigen yang sama dalam jarak dua meter.
Namun, saat ia menoleh ke samping, ia melihat selembar tisu yang tertinggal di jok belakang. Tisu itu memiliki noda kopi yang samar—kopi yang sama dengan yang diminum Arga tadi. Secara impulsif, Nara mengambil tisu itu dan meremasnya kecil.
"Dasar robot," gumamnya pelan.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Nara menyiapkan mentalnya. Ia tahu, sesampainya di sana, ia harus kembali menjadi Nara si desainer yang kompeten, yang menatap Arga Abimanyu sebagai CEO yang berkuasa, bukan sebagai pria yang semalam kedinginan di atas sofa kulit.
Saat mobil memasuki area perkantoran Arga, Nara menarik napas panjang. Ia turun dari mobil, melangkah dengan dagu tegak menuju lobi. Namun, tepat di depan pintu putar, ia melihat Arga sedang berdiri bersama beberapa jajaran direksi.
Arga melihatnya. Tatapan mereka bertemu sejenak di tengah keramaian lobi. Namun, Arga segera membuang muka, kembali melanjutkan pembicaraan serius dengan rekan-rekannya seolah Nara hanyalah bagian dari dekorasi gedung yang baru saja lewat.
Rasa sesak itu kembali muncul. Sarapan tanpa suara tadi ternyata hanyalah pembukaan dari sandiwara panjang yang harus ia perankan hari ini. Nara terus berjalan tanpa menyapa, menyadari bahwa di gedung ini, dinding pemisah mereka jauh lebih tebal daripada dinding kamar yang mereka bagi semalam.
---
Nara melangkah masuk ke dalam lift yang penuh dengan karyawan. Ia berdiri di pojok, menatap pantulan dirinya di dinding besi yang mengkilap. Di dalam sana, ia melihat seorang perempuan yang tampak profesional dan terkendali, namun di dalam tasnya, ada sebuah cincin yang terasa seberat bongkahan batu.
Begitu pintu lift terbuka di lantai divisi pemasaran, Nara langsung disambut oleh kesibukan yang luar biasa.
"Mbak Nara! Akhirnya datang juga," sapa Rio, salah satu desainer junior dari tim internal Arga yang memang ditugaskan untuk mendampingi proyek Nara. Rio masih muda, energik, dan selalu punya cara untuk membuat suasana jadi cair. "Gimana? Hari libur kemarin menyenangkan? Kok HP-nya susah dihubungi?"
Nara tersentak pelan, teringat bahwa kemarin adalah hari pernikahannya yang ia rahasiakan dari dunia. "Oh, iya Rio. Kemarin ada urusan keluarga mendadak yang cukup... menyita waktu. Jadi ponsel saya matikan."
"Yah, padahal saya mau tanya soal konsep warna baru itu. Tapi tenang, saya sudah siapkan drafnya. Sambil nunggu rapat jam sembilan sama Pak Arga, kita kopi-kopi dulu gimana?" Rio memberikan senyum lebar, tangannya dengan santai memegang pundak Nara untuk mengarahkan perempuan itu menuju pantry.
Dari kejauhan, pintu lift khusus direksi terbuka. Arga melangkah keluar dikelilingi oleh asisten dan beberapa manajernya. Langkahnya yang tegas mendadak melambat saat matanya menangkap pemandangan di dekat pantry. Ia melihat Rio berdiri sangat dekat dengan Nara, tertawa, dan tangan Rio masih bertengger di bahu perempuan yang beberapa jam lalu sarapan bersamanya dalam keheningan.
Arga merasakan rahangnya mengeras. Ada sebuah dorongan aneh di dalam dadanya—sesuatu yang panas dan tidak rasional.
"Pak Arga? Jadwal rapatnya sudah siap di ruang utama," lapor Bayu, asistennya.
Arga tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada Nara yang tampak mulai mengobrol asyik dengan Rio. Di rumah, Nara sangat kaku dan dingin padanya, namun kenapa di sini, dengan pria asing yang baru dikenalnya beberapa minggu, Nara bisa tersenyum selebar itu?
"Bayu," panggil Arga, suaranya terdengar lebih tajam dari biasanya.
"Ya, Pak?"
"Pastikan semua vendor dan tim pendamping sudah duduk di ruang rapat tepat waktu. Saya tidak suka menunggu. Dan satu lagi..." Arga menjeda kalimatnya, matanya menyipit. "Katakan pada tim desainer interior, jaga jarak profesional selama jam kerja. Saya tidak membayar mereka untuk bercanda di koridor."
Bayu mengerjapkan mata, bingung dengan instruksi yang tiba-tiba spesifik itu. "Baik, Pak."
Arga melangkah menuju ruangannya dengan langkah yang lebih keras. Sarapan tanpa suara tadi mungkin merupakan strateginya untuk menjaga profesionalisme, namun melihat Nara "bersuara" dengan pria lain di depan matanya sendiri ternyata merupakan gangguan efisiensi yang tidak ia perhitungkan.
Nara, yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diawasi, masih tertawa kecil mendengar lelucon Rio. Namun, saat matanya tidak sengaja menangkap sosok Arga yang menghilang di balik pintu ruang CEO, tawa itu mendadak hilang. Ia merasakan aura dingin yang ditinggalkan Arga, meski pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.
Pesta sandiwara ini baru saja dimulai, dan Nara mulai menyadari bahwa sarapan tanpa suara di rumah jauh lebih mudah dihadapi daripada tatapan tajam Arga di tengah keramaian kantor.