Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Sumpah di Atas Darah
Dunia seakan melambat di mata Aruna. Ia melihat gada besar itu terangkat tinggi, memantulkan cahaya api dari meriam yang baru saja meledak. Arvand, suaminya yang perkasa, kini bersimpuh di atas tanah berlumpur dengan napas tersengal. Luka-lukanya terlalu banyak, dan ledakan barusan membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Arvand! Di belakangmu!" jeritan Aruna membelah kebisingan medan perang.
Arvand bereaksi. Bukan dengan pedang, karena pedangnya sudah patah, melainkan dengan insting murni seorang prajurit. Ia memutar tubuhnya, menangkap gagang gada itu dengan satu tangan yang gemetar. Tanah di bawah kakinya amblas saat ia menahan beban serangan yang mematikan itu.
Krak!
Suara tulang bahu Arvand yang bergeser terdengar mengerikan. Ia mengerang, tapi tidak melepaskan genggamannya. Dengan tangan satunya, ia merenggut belati dari pinggang si pria bertopeng dan menusukkannya tepat ke celah pelindung leher musuhnya.
Pria bertopeng itu ambruk, tapi Arvand juga jatuh terduduk. Darah segar mengalir dari mulutnya, membasahi janggutnya yang kasar.
Aruna merangkak keluar dari jurang kecil, mengabaikan rasa perih di lututnya yang berdarah. Ia berlari menerjang kepulan asap, menuju Arvand. Di seberang sana, di tengah barisan pasukan Kerajaan Utara, ia bisa melihat Arel yang ditarik paksa masuk ke dalam kereta kuda lapis baja.
"Arel... kita harus mengambil Arel..." isak Aruna sambil merangkul pundak Arvand.
Arvand menatap Aruna dengan mata yang mulai kabur. "Ratri... dengarkan aku. Pasukan mereka terlalu banyak. Kau harus pergi. Bawa kunci itu pada Kaisar... bersihkan namaku."
"Tidak! Aku tidak akan pergi tanpa kamu dan Arel!" Aruna berteriak, suaranya parau. Ia merogoh kunci perak di pinggangnya. "Kunci ini... Elara bilang ini kunci peti rahasia. Tapi aku tahu kunci ini lebih dari itu. Ini adalah simbol legitimasi takhta!"
Tiba-tiba, suara tawa yang familiar terdengar dari arah belakang mereka. Pangeran Kaelan muncul dari balik kabut asap, kali ini tanpa topengnya. Wajahnya yang tampan terlihat sangat tenang, kontras dengan kekacauan di sekelilingnya.
"Sangat dramatis, bukan?" Kaelan melangkah santai, melewati mayat-mayat yang bergelimpangan. "Jenderal yang sekarat dan istri yang setia. Sayangnya, pasukan Utara tidak akan memberikan kalian waktu untuk berpamitan."
"Kaelan, bantu kami!" Aruna memohon, meski hatinya penuh keraguan. "Kamu bilang kamu ingin Arel aman!"
"Aku ingin Arel aman di bawah kendaliku, bukan di bawah bendera Kerajaan Utara," Kaelan menyipitkan mata ke arah barisan musuh. "Mereka telah melanggar kesepakatan. Mereka seharusnya hanya mengambil Elara, bukan Arel."
Kaelan bersiul nyaring. Tiba-tiba, dari balik hutan di sisi kiri lembah, ratusan pemanah dengan seragam hitam muncul. Mereka bukan pasukan kaisar, bukan juga pasukan Arvand. Mereka adalah pasukan bayaran pribadi Kaelan yang selama ini disembunyikan.
"Serang!" perintah Kaelan.
Hujan panah melesat, tapi kali ini sasarannya adalah para penunggang kuda Kerajaan Utara yang sedang menarik kereta Arel. Kekacauan baru pecah. Pasukan Utara yang mengira mereka sudah menang, kini harus berbalik menghadapi serangan mendadak dari samping.
"Gunakan kesempatan ini, Arvand! Berdiri!" Aruna menarik lengan Arvand, membantunya berdiri dengan sisa tenaga yang ada.
Arvand menggeram, memaksakan kakinya yang gemetar untuk menopang tubuhnya. Ia mengambil tombak yang tertancap di tanah. "Ratri, tetap di belakangku. Kita ambil putra kita."
Mereka menerjang di tengah hiruk-pikuk pertempuran. Aruna merasa seperti berada di dalam mimpi buruk yang tak berakhir. Bau amis darah, suara rintihan, dan denting logam memenuhi indranya. Setiap kali ada prajurit Utara yang mendekat, Arvand menebasnya dengan gerakan yang meskipun lambat, tetap mematikan.
Di depan mereka, kereta kuda Arel mulai bergerak menjauh. Elara yang terluka parah di tanah berteriak parau, "Arel! Jangan bawa dia!"
Seorang perwira Utara turun dari kuda dan menarik rambut Elara dengan kasar. "Diam kau, wanita pengkhianat! Kau hanya alat bagi kami!"
Tanpa ragu, perwira itu mengangkat pedangnya. Aruna memejamkan mata sesaat saat pedang itu berayun. Elara, ibu kandung Arel yang penuh dendam itu, tewas di tempat yang sama dengan tempat ia dilahirkan. Di tanah lembah yang dingin.
"Ibuuu!" teriak Arel dari dalam kereta.
Mendengar teriakan itu, kekuatan baru seolah menyengat tubuh Aruna. Ia melihat sebuah kuda yang tidak bertuan berlari di dekatnya. Tanpa berpikir panjang, Aruna melompat ke atas kuda itu.
"Ratri! Apa yang kau lakukan?" teriak Arvand.
"Aku akan menghentikan kereta itu!"
Aruna memacu kudanya dengan gila-gilaan. Ia bukan penunggang kuda yang ahli, tapi amarah dan rasa bersalah terhadap Arel membuatnya berani. Ia menyalip barisan prajurit, menghindari tebasan pedang, dan terus fokus pada kereta lapis baja di depannya.
Saat jaraknya sudah cukup dekat, Aruna melompat dari kudanya ke atas atap kereta yang sedang melaju kencang. Ia nyaris tergelincir, tapi tangannya berhasil mencengkeram besi pengait di atap.
"Arel! Ini Ibu!" teriak Aruna sambil mencoba membuka pintu atas kereta.
Pintu itu terkunci dari dalam. Aruna meraba pinggangnya, mengambil kunci perak itu. Ia tidak tahu apakah ini akan berhasil, tapi ia melihat sebuah lubang kunci kecil di bagian engsel pintu darurat kereta.
Klik!
Pintu terbuka. Aruna langsung melompat masuk ke dalam. Di dalam sana, Arel sedang diringkuk oleh dua prajurit Utara. Melihat Aruna masuk, para prajurit itu segera menghunus belati mereka.
"Berani sekali kau, wanita!"
Aruna tidak punya senjata besar, tapi ia punya kebanggaan dan obsesi untuk melindungi. Ia menendang wadah minyak lampu yang ada di sudut kereta, membuat api kecil menyebar di lantai kayu. Di tengah kepanikan prajurit karena api, Aruna menerjang, menusukkan kunci peraknya yang tajam ke arah mata salah satu prajurit.
"Arel, kemari!"
Arel berlari ke pelukan Aruna. Bocah itu gemetar hebat, air matanya membasahi baju Aruna. "Ibu... aku takut..."
"Jangan takut, Ibu di sini," bisik Aruna.
Namun, kereta itu tiba-tiba berhenti mendadak karena roda depannya terkena ledakan meriam dari pasukan Kaelan. Kereta itu terguling, melemparkan Aruna dan Arel ke arah dinding kayu yang keras.
Dunia Aruna berputar. Ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari dahinya. Saat ia mencoba membuka mata, ia melihat pintu kereta yang rusak ditarik paksa dari luar.
Sosok pria dengan jubah hitam berdiri di sana. Bukan Arvand, bukan Kaelan. Pria itu memakai topeng yang berbeda... topeng berbentuk serigala.
"Lady Ratri," suara pria itu dingin dan dalam. "Akhirnya kunci itu berada di tempat yang tepat. Serahkan anak itu dan kuncinya, atau aku akan membakar kereta ini dengan kalian di dalamnya."
Aruna memeluk Arel semakin erat. Ia menatap ke luar kereta yang hancur, berharap melihat Arvand. Namun, yang ia lihat justru Arvand sedang dikepung oleh belasan prajurit dengan tombak yang diarahkan ke lehernya. Arvand tertunduk, tidak lagi mampu melawan.
Di sisi lain, Kaelan hanya berdiri diam di atas bukit, memperhatikan dari kejauhan dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Siapa kamu?" tanya Aruna dengan suara bergetar.
Pria bertopeng serigala itu membuka topengnya perlahan. Aruna terbelalak. Wajah itu... wajah itu adalah wajah yang sama dengan Master Daryan saat masih muda.
"Master Daryan?" bisik Aruna menatap sosok itu tak percaya.
"Daryan hanyalah nama samaran. Aku adalah orang yang seharusnya memimpin kerajaan ini sebelum kaisar palsu itu merebutnya," pria itu mengulurkan tangannya. "Berikan kuncinya, Aruna. Jangan buat aku membunuh satu-satunya wanita yang berhasil mengubah alur naskah yang sudah kubuat selama sepuluh tahun ini."
Aruna menyadari sesuatu yang sangat mengerikan. Master Daryan tidak pernah tewas karena ingin melindunginya, ia memalsukan kematiannya untuk menarik Aruna ke dalam perangkap terakhir ini.
Ternyata Master Daryan adalah dalang yang sebenarnya? Apa hubungan pria itu dengan kunci perak dan takhta kaisar? Dan mampukah Aruna menyelamatkan Arvand yang nyawanya kini hanya di ujung tombak musuh?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.