Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Invasi Wilayah Utara Great Yan 2
Sumber kehancuran yang ia sebar di ujung wilayah utara perbatasan kini telah tumbuh menjadi neraka es yang tak terkendali.
Pintu benteng di perbatasan Wilayah Utara adalah kebanggaan arsitektur pertahanan Kekaisaran Great Yan. Dinding setinggi ratusan ribu kaki yang terbuat dari es abadi dan baja bintang itu tidak pernah tertembus selama ribuan tahun. Namun hari ini, kebanggaan itu telah dicat merah oleh darah.
Gelombang binatang buas (Beast Tide) tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Seratus ribu monster Ranah Jiwa di hari pertama hanyalah hidangan pembuka. Memasuki hari keempat, jutaan monster dari kedalaman hutan glasial—dipicu oleh aroma samar darah berbagai beast yang tumbang ditambah darah beast suci Mandou yang menyebar tertiup badai—telah kehilangan akal sehat mereka.
Serigala badai bermata tiga, beruang es raksasa berlengan enam, hingga cacing tanah pembeku, menerjang tembok layaknya tsunami daging dan cakar.
Di atas menara komando utama, Xu Mei berdiri dengan napas memburu. Gaun ungu gelapnya yang elegan kini bernoda darah monster. Wajah cantiknya yang biasanya memancarkan aura kepemimpinan dan keangkuhan kini dipenuhi bayangan kehancuran wilayah. Lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya. Ia belum sempat istirahat atau memulihkan qi sedetik pun sejak bencana ini dimulai.
"Nyonya Utama!" Seorang jenderal bawahan melesat turun dari pedang terbangnya, mendarat dengan lutut menghantam lantai es. Wajah pria itu sepucat kertas. "Berita dari Ibukota Pusat! Bantuan telah tiba!"
Mata Xu Mei seketika berbinar. Harapan yang nyaris padam kembali menyala. "Apa Ibukota Yan Agung bertindak! Berapa banyak pasukan yang dikirim? Apakah Penjaga Agung Primordial ikut turun tangan?!"
Jenderal itu menelan ludah dengan susah payah, bibirnya bergetar. "H-Hanya sepuluh ribu prajurit Menengah, Nyonya... dan mereka semua hanya berada di tingkat Ranah Roh awal. Tidak ada Jenderal Kuno yang di utus apalagi Penjaga Agung."
PRANG!
Xu Mei menghancurkan meja es di depannya menjadi debu kristal. Matanya melotot dipenuhi amarah yang membakar. "Sepuluh ribu kroco Ranah Roh?! Apa Kaisar sedang bercanda?! Kita menghadapi jutaan monster yang kelaparan! Mengapa Ibukota mengabaikan kita?!"
"B-Bukan mengabaikan, Nyonya," jenderal itu buru-buru menjelaskan sebelum kepalanya dipenggal. "Pasukan inti Ibukota saat ini sedang dikerahkan besar-besaran ke perbatasan Wilayah Timur. Para kultivator Iblis dan faksi liar Wilayah Timur tiba-tiba melancarkan pemberontakan skala masif! Mereka mencoba menguasai wilayah timur sacara total dan jika itu terjadi, Ibukota akan mengalami banyak kecaman dari berbagai faksi dalam!"
"Bagaimana dengan Wilayah Barat?! Duke Xi Dong?!"
"Sama buruknya, Nyonya! Perbatasan Barat sedang diinvasi oleh gabungan sekte-sekte asing dari luar kekaisaran. Duke Xi Dong terkunci dalam pertempuran dan mustahil mengirimkan pasukan bantuan. Kita... kita benar-benar terisolasi."
Xu Mei jatuh terduduk di atas kursi esnya. Tubuhnya yang memancarkan aura Ranah Kuno tahap awal tiba-tiba terasa sangat rapuh.
Timur memberontak. Barat diinvasi. Ibukota terikat.
Dunia seolah berkonspirasi untuk meruntuhkan Kekaisaran Great Yan secara bersamaan. Ia sama sekali tidak tahu bahwa rentetan bencana politik ini secara tidak langsung adalah efek riak dari ketakutan faksi-faksi luar saat mengetahui mundurnya Keluarga Wu dari Ibukota ke Selatan.
"Tanpa suamiku... tanpa Duke Bei Han yang menekan aura monster purba dengan Ranah Kuno menengahnya, tembok ini akan runtuh dalam dua hari," bisik Xu Mei putus asa.
"Archduke Xuan? Bagaimana cara menghubunginya?." gumam Xu Mei.
Dalam langkah gontai, Xu Mei meninggalkan menara komando dan berjalan menuju ruang kerja rahasia suaminya di dalam istana perbatasan. Ia mengaduk-aduk laci, menghancurkan brankas formasi, mencari apa pun—senjata rahasia, gulungan formasi terlarang, atau kontak bantuan yang mungkin disembunyikan oleh Duke Bei Han.
Di balik sebuah kompartemen rahasia berlapis timah penahan Qi, Xu Mei menemukan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya tergeletak sebuah cermin artefak komunikasi dua arah tingkat tinggi.
Xu Mei mengerutkan kening. Cermin ini terkalibrasi ke frekuensi tunggal yang sangat spesifik. Suaminya menyembunyikan jalur komunikasi rahasia? Ke mana?
Tanpa pilihan lain, Xu Mei mengalirkan Qi-nya ke dalam cermin tersebut.
Sementara itu, di Wilayah Selatan yang hangat dan tenang.
Di dalam kamar pribadinya yang redup, Yan Melin sedang duduk sambil memeriksa pembukuan kota. Matanya kosong menatap tumpukan kertas perkamen tersebut. Sejak "Sidang Darah" beberapa hari yang lalu, ia praktis menjadi tahanan rumah. Tak ada yang mengurungnya, tetapi teror di dalam kepalanya menjadi jeruji besi yang tak bisa ia tembus.
Tiba-tiba, dari dalam cincin spasial di jarinya, sebuah getaran halus terasa.
Yan Melin tersentak. Ia mengeluarkan sebuah cermin artefak kecil yang permukaannya mulai berpendar merah.
Jantung Yan Melin seolah berhenti berdetak. Ini adalah artefak komunikasi rahasianya dengan Duke Bei Han!
‘T-Tidak mungkin... Bei Han menghubungiku? Bukankah dia sudah memakan racun mematikan, bagaimana mungkin?’ batin Yan Melin panik. Keringat dingin langsung membasahi punggungnya. ‘Bagaimana jika dia selamat? Bagaimana jika ini jebakan lain dari Wu Xuan?!’
Cermin itu terus bergetar. Bunyinya terasa seperti panggilan malaikat maut di telinga Yan Melin. Awalnya ia berniat membuang artefak itu, membiarkannya mati. Namun, ketakutan akan ketidaktahuan jauh lebih menyiksa. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menyentuh permukaan cermin itu, menerima panggilan tersebut.
Permukaan cermin beriak, namun wajah yang muncul bukanlah wajah kasar Duke Bei Han yang ia perkirakan.
Itu adalah wajah seorang wanita cantik yang tampak sangat kelelahan dan putus asa. Xu Mei.
Kedua wanita itu terdiam selama beberapa detik. Kebingungan, kecanggungan, dan syok bertabrakan di udara.
Xu Mei menatap tajam ke arah Yan Melin dari balik cermin. Sebagai Nyonya Utama dari wilayah Utara, jaringan intelijennya pernah menangkap desas-desus kotor tentang hubungan suaminya dengan selir Keluarga Wu ini. Menemukan artefak ini terkalibrasi ke frekuensi Yan Melin adalah konfirmasi dari pengkhianatan suaminya. Jika ini adalah hari biasa, Xu Mei pasti sudah merobek layar itu dan mencari Bei Han untuk meminta jawaban.
Namun, hari ini bukanlah hari biasa. Tembok Utara sedang hancur, dan nyawa jutaan rakyatnya berada di ujung tanduk. Ego pribadi tidak lagi memiliki ruang.
"Yan Melin," ucap Xu Mei, suaranya parau namun tegas. Ia memalingkan pikirannya dari perselingkuhan itu secara paksa. "Aku tidak peduli urusan busuk apa yang kau miliki dengan suamiku di masa lalu. Hari ini aku tidak menelepon untuk mencari masalah. Aku membutuhkanmu."
Yan Melin masih terlalu terkejut untuk menjawab dengan benar. "X-Xu Mei... kau..."
"Tembok Utara sedang runtuh," potong Xu Mei cepat. "Aku tidak punya waktu untuk drama. Kekaisaran tidak bisa membantu kami. Barat dan Timur sedang terbakar. Berikan artefak ini pada Archduke Xuan. Aku harus berbicara dengannya."
"Archduke? Suamiku?" Yan Melin menelan ludah. "A-Aku tidak bisa. Dia tidak akan—"
KRAAAKK!
Suara retakan yang memekakkan telinga mendadak terdengar di dalam kamar Yan Melin.
Wanita itu menjerit tertahan saat ruang dimensi tepat di belakang punggungnya robek begitu saja, seolah seseorang baru saja menyobek kanvas lukisan. Dari dalam kegelapan retakan spasial itu, sebuah tangan dengan jari-jari yang panjang dan elegan terjulur keluar.
Tangan itu dengan santai merampas cermin artefak komunikasi dari genggaman Yan Melin yang gemetar.
Yan Melin memutar tubuhnya dengan syok absolut. Di balik retakan itu, Wu Xuan berdiri dengan jubah tidurnya yang terbuat dari sutra hitam. Senyum tenang nan mematikan terukir di wajah tampannya. Sang Archduke memandang rendah ke arah istrinya, matanya menyiratkan satu pesan jelas: Tidak ada satupun rahasia di tanah ini yang luput dari pandanganku.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Yan Melin, Wu Xuan melangkah mundur kembali ke dalam retakan spasialnya, membawa serta cermin tersebut. Retakan ruang itu tertutup seketika, mengembalikan kamar itu pada kesunyian yang mencekam, meninggalkan Yan Melin yang jatuh terduduk dengan napas memburu dan jantung nyaris meledak karena terkejut.
Di dalam ruang kerja pribadi Archduke Xuan yang mewah.
Wu Xuan duduk di atas kursi kebesarannya, menyilangkan kaki dengan santai. Di dalam tubuhnya, sebuah miniatur tata surya kosmik berputar dengan tenang, memberikan pasokan energi murni yang membuat tubuhnya terasa seringan bulu namun seberat gunung.
Ia menatap cermin di tangannya. Di layar, wajah tegang Xu Mei menatapnya dengan campuran antara kewaspadaan dan permohonan.
Di balik wajah tenangnya, monolog batin Wu Xuan sedang tertawa berguling-guling.
'Ah, sungguh sebuah ironi yang indah,' batin sifat aslinya. 'Menciptakan sebuah masalah berskala genosida biologis dengan beberapa tetes darah singa peliharaanku, lalu duduk manis di kursi bos menunggu korbannya menelpon untuk meminta bantuan. Praktik kapitalisme monopoli paling murni! Di duniaku, perusahaan farmasi melakukan ini dengan virus sambil menunggu para petinggi untuk mengeluarkan anti virusnya, di sini aku melakukannya dengan monster es. Sama saja.'
Wu Xuan berdehem pelan, menyesuaikan ekspresinya menjadi wajah seorang negarawan yang kebingungan namun elegan.
"Nyonya Xu Mei," sapa Wu Xuan dengan nada suara baritonnya yang menenangkan, berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Sungguh sebuah kejutan. Menemukanmu di ujung frekuensi artefak rahasia milik... ah, sudahlah. Ada apa kau menghubungiku selarut ini? Bukankah Utara sedang merayakan musim dinginnya?"
Xu Mei menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Hanya pria ini satu-satunya harapan menyelamatkan jutaan nyawa penduduk tak bersalah.
"Yang Mulia Archduke," ucap Xu Mei, menundukkan pandangannya sedikit sebagai bentuk penghormatan fana. "Aku akan membuang semua basa-basi. Wilayah Utara sedang mengalami situasi yang luar biasa genting. Jutaan monster es dari Hutan Glasial mengamuk tanpa alasan yang jelas. Gelombang Beast Tide ini tidak terkendali."
"Oh....Tragis sekali," tanggap Wu Xuan singkat, nadanya datar seolah sedang mendengar kabar tentang gagal panen kentang. "Kaisar pasti sudah mengirimkan Penjaga Agung untuk membantu kalian."
"Kaisar berfokus pada wilayah timur karena lebih dekat dengan ibukota" suara Xu Mei meninggi tanpa sadar, sebelum ia menurunkannya kembali. "Mereka hanya mengirim pasukan kroco! Sementara Wilayah Barat diinvasi. Kami sendirian, Archduke."
Xu Mei menatap lekat-lekat wajah Wu Xuan melalui cermin. "Kami memiliki tiga puluh Tetua di Ranah Kuno. Tapi mereka semua hanyalah tahap awal yang dipaksakan. Jika gelombang ini terus berlanjut... monster purba tingkat Kuno tahap akhir dari kedalaman es pasti akan terbangun. Tanpa suamiku, tanpa Duke Bei Han yang mengendalikan formasi es kuno, kami tidak akan mampu menahannya. Dinding akan jebol, dan jutaan rakyat akan dibantai oleh para monster yang kehilangan kewarasan. Aku... aku memohon bantuan militer dari Wilayah Selatan."
Wu Xuan terdiam sejenak. Ia memutar-mutar cermin itu dengan jari-jarinya.
Akar Spiritual Samudra Terdalam di dalam tubuhnya mendengung pelan. Dengan kekuatan ini, ia bisa memanipulasi elemen air dan es dari tingkat atom hingga seukuran tata surya fana. Dan dalam skala gila alam semesta ini, 'tata surya kecil' hanyalah setara dengan ukuran sebuah gunung raksasa di Benua Tianlan. Menghentikan lautan monster di padang es sebenarnya hanyalah perkara ringan. Tapi, seorang pedagang tidak pernah memberikan barang berharganya secara gratis.
"Bantuan militer..." Wu Xuan mengulang kata itu, menyandarkan dagunya di tangannya. Senyumnya kini memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. "Nyonya Xu Mei, kita sama-sama orang dewasa yang realistis. Selatan baru saja menata ulang rumahnya. Prajuritku butuh istirahat. Cuaca di Utara sangat tidak cocok untuk kami, dan jujur saja, aku tidak melihat satu pun alasan logis mengapa aku harus menumpahkan darah prajuritku untuk melindungi tanah yang bukan milikku."
Wajah Xu Mei memucat pasi. Pria ini menolaknya secara langsung! "Archduke! Jika Utara jatuh, monster-monster itu pada akhirnya akan turun dan mengancam keseimbangan seluruh Kekaisaran Great Yan! Anda tidak bisa—"
"Jangan menceramahiku tentang keseimbangan Kekaisaran," potong Wu Xuan tajam, matanya menembus layar cermin layaknya pedang. "Keseimbangan adalah ilusi bagi mereka yang membutuhkan. Jika monster-monster itu turun ke Selatan, aku hanya perlu membantai mereka. Pertanyaannya adalah, apa yang bisa Utara tawarkan padaku, selain tumpukan mayat dan utang budi yang tidak bisa dimakan?"
Kata-kata Wu Xuan sangat kejam, egois, dan seratus persen rasional. Tidak ada hero fiktif yang akan terbang menyelamatkan dunia karena panggilan moral bodoh. Ia menuntut bayaran.
Xu Mei memejamkan matanya, air mata keputusasaan menetes di pipinya. Ia telah kalah. Ia telah kehilangan semua posisi tawar-menawarnya.
"Tambang Kristal Es Abadi di sektor utara," bisik Xu Mei, menyerahkan aset terbesar klannya. "Hak penggunaan jalur perdagangan.... dan koordinasi militer. Wilayah Utara akan menjadi sekutu sejati bagi Selatan."
Di dalam hatinya, jiwa pemuda Bumi itu bersorak kemenangan. 'Jackpot! Aku menjual asuransi perlindungan kepada orang yang rumahnya sedang kubakar.'
Wu Xuan membiarkan keheningan menguasai percakapan itu selama sepuluh detik, menyiksa batin Xu Mei hingga ke batas maksimalnya. Barulah setelah itu, senyum tenang namun mematikan kembali terukir di wajah tampannya.
"Tawaran yang sangat bagus, Nyonya," ucap Wu Xuan, nadanya kembali lembut dan bersahabat, sebuah perubahan mood yang mengerikan. "Karena kau telah meminta dengan begitu sopan, aku akan datang."
Xu Mei langsung mendongak, matanya melebar. "Anda akan mengirimkan armada tempur Anda?"
"Aku sedang tidak mood dalam membawa banyak pasukan," Wu Xuan berdiri dari kursinya. Di dalam dantiannya, energi galaksi berputar lambat, sementara Pedang Pelahap Dunia tingkat Primordial bergetar pelan, roh naga Armis di dalamnya meraung haus akan darah. "Aku akan datang sendiri."
"S-Sendiri?! Tapi Archduke, jumlah mereka jutaan!" seru Xu Mei, tidak mengerti bagaimana satu orang, meskipun ia adalah Primordial Suci, bisa menahan gelombang biologis berskala benua kecil akan mengalami kelelahan karena kehabisan Qi.
"Siapkan Formasi Teleportasi Titik Koordinat Tertinggi di menara komandomu," Wu Xuan mengabaikan kepanikan wanita itu, suaranya berubah menjadi titah seorang dewa perang. "Atur agar menyambung langsung ke frekuensi koordinat Cermin Giok ini. Aku akan tiba dalam sepuluh menit."
"Tapi—"
"Lakukan saja, Xu Mei. Atau kau lebih suka aku terlambat dan hanya datang untuk mengumpulkan batu dari reruntuhan istanamu?"
KLIK. Sambungan komunikasi diputus secara sepihak dari sisi Selatan.
Di dalam ruang kerjanya yang kini kembali sunyi, Wu Xuan melempar cermin itu ke atas meja. Ia merentangkan kedua tangannya. Jubah santainya meluncur jatuh, tergantikan seketika oleh zirah tempur elegan berwarna keemasan dengan kain putih yang memancarkan cahaya keemasan.
Pintu ruang kerjanya terbuka pelan. Mandou, sang singa putih raksasa berkepala tiga, melangkah masuk. Salah satu kepalanya menguap malas, namun dua kepala lainnya memamerkan taring, mencium aroma niat pertarungan yang meluap dari tuannya.
"Ayo, Mandou," panggil Wu Xuan sambil melangkah menuju balkon yang menghadap langsung ke langit malam. Senyum mematikan terukir di bibirnya. "Kita pergi ke Utara. Sudah saatnya kita memainkan peran sebagai pahlawan penyelamat dunia."
Bersambung...