Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
"Mas tidak mengabari terlebih dahulu jika akan kembali," ucap Alea berada di dalam kamar sembari membersihkan ranjang.
"Kenapa sayang? Apa aku mengganggu kamu bersama dengan Raidan?" tanya Dharma.
Pandangan mata Alea terlihat begitu serius melihat ke arah suaminya.
"Hanya bercanda sayang. Aku hanya ingin memberikan suprise untuk kamu," ucap Dharma tersenyum.
Tetapi Alea tidak membalas senyuman itu, wajahnya tampak begitu datar dan entahlah apa yang saat ini sedang ada dipikirannya, reaksi suaminya juga seketika berubah begitu saja membuat Alea kebingungan.
"Apa, Mas sudah makan?" tanya Alea masak nasi pada Dharma.
"Belum, bagaimana jika kita makan di luar?" jawab Dharma dan bahkan mengajak istrinya untuk dinner.
"Memang Mas tidak lelah?" tanya Alea.
"Memang kamu lelah?" Dharma menimpali pertanyaan itu.
"Tidak! baiklah, jika kita memang harus makan di luar. Alea bersih-bersih terlebih dahulu dan juga ganti baju," ucap Alea.
"Baiklah sayang, aku akan menunggu kamu," ucap Dharma membuat Alea menganggukan kepala.
Sementara Dharma melihat ranjang yang baru saja dibersihkan sang istri, sudah dapat dipastikan ranjang itu merupakan tempat istrinya bercinta dengan Raidan.
*****
Alea dan Dharma sudah berada di salah satu Restaurant dengan keduanya menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja.
"Kamu dan Raidan sudah cukup melakukan semua ini," ucap Dharma tiba-tiba saja memberi keputusan membuat Alea mengangkat kepala dan serius melihat suaminya.
"Aku sudah cukup memberi kalian waktu, dalam waktu satu minggu kedepan kita akan ke dokter untuk memeriksa keadaan kamu, usaha kamu dan Raidan akan terlihat apakah berhasil atau tidak," ucap Dharma.
"Jadi semuanya sudah selesai," batin Alea.
"Tetapi kenapa tiba-tiba saja aku tidak bahagia? Aku merasa keputusan itu diambil terlalu cepat," batin Alea terlihat begitu murung.
"Kenapa Alea? Apa yang barusan aku sampaikan kepada kamu membuat kamu kaget? Apa semuanya terlalu cepat?" tanya Dharma menduga-duga pikiran istrinya itu.
"Tidak. Mas. Hanya saja aku takut jika hasilnya tidak sesuai, bagaimana jika aku tidak hamil dan bukankah aku akan kembali bukan hal itu bersama denganmu Raidan?" ucap Alea menyampaikan rasa kekhawatirannya.
"Mungkin Raidan yang salah karena tidak berhasil membuat kamu hamil?" tanya Dharma.
"Maksud, Mas, jika Raidan tidak berhasil dan artinya dia salah, lalu apa aku akan bersama dengan laki-laki lain lagi?" tanya Alea memastikan semua pikiran konyolnya.
"Ha-ha-ha-ha-ha-ha!" Dharma tiba-tiba saja tertawa membuat Alea kebingungan dengan mengerutkan dahi.
"Apa maksud kamu sayang? Apa Kamu pikir aku sejahat itu menyuruh kamu bersama pria ini dan pria itu hanya untuk mendapatkan anak.
Alea Raidan adalah laki-laki pilihan, aku terlebih dahulu sudah pasti memastikan Raidan sudah bisa diandalkan," jawab Dharma masih saja tertawa seolah-olah semua itu adalah hal yang lucu.
Sementara reaksi Alea benar-benar datar tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di pikiran suaminya itu.
"Sudahlah sayang, intinya kita tunggu satu minggu ke depan bagaimana kondisi kamu, untuk urusan lain berhasil atau tidak maka aku yang akan menyelesaikan semua dengan Raidan," sahut Dharma dengan santai dan melanjutkan makannya.
"Apa Raidan akan mendapatkan masalah jika sampai aku tidak hamil? Apa yang akan dilakukan mas Dharma," batin Alea tiba-tiba saja khawatir.
****
Alea hari ini bersama dengan suaminya bertamu ke rumah kedua orang tua Dharma, Mereka tampak mengobrol di ruang tamu dengan tangan Dharma sejak tadi merangkul Alea.
"Alea apa kamu sudah memeriksakan kandungan kamu?" tanya Karina Ibu mertuanya.
"Belum. Ma, aku dan Mas Dharma berencana ke dokter 3 hari ke depan," jawab Alea.
"Semoga saja hasilnya positif," sahut Karin membuat Alea mengharapkan kepala.
Sejujurnya ini menjadi bahan pikiran lengkapnya. Alea benar-benar takut jika dia tidak berhasil hamil.
"Sebenarnya kalian ini pulang bulan madu kapan, 3 hari yang lalu atau sebelumnya?" tanya Leon.
"Kami baru saja pulang dari Jepang 3 hari yang lalu," jawab Dharma.
"Berarti Papa salah lihat, Papa sebelum itu melihat Alea. Apa mungkin hanya mirip saja," ucap Leon.
Dharma langsung melihat serius ke arah istrinya. Alea seketika menjadi panik dan jelas saja mungkin Leon pernah melihat dirinya
karena Alea memang pernah keluar rumah.
"Papa pasti hanya salah lihat saja, bagaimana mungkin bisa tiba-tiba melihat Alea dan sementara dia sedang liburan bersama dengan suaminya," sahut Karin.
"Ya, benar mungkin memang hanya salah lihat saja," sahut Leon dengan tersenyum.
Di tengah-tengah pembicaraan itu tiba-tiba saja Raidan datang dengan menundukkan kepala. Alea langsung melihat kearah Raidan berdiri gagah di sebelahnya, sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan laki-laki.
"Ini. Om, laporan yang Om inginkan," ucap Raidan map berwarna hitam.
"Baiklah Raidan, saya coba periksa dulu maaf ya kamu harus datang ke rumah untuk membawa dokumen ini," ucap Leon.
"Tidak apa-apa. Om," sahut Raidan tampak begitu santai.
"Raidan jangan hanya berdiri saja di sana, ayo duduk!" ucap Karin.
Raidan menganggukan kepala dan kemudian duduk di sebelah Alea. Seketika tubuh Alea seperti tertiup angin jantungnya bahkan berdebar tidak biasanya, Alea terlihat gelisah dan pahala apa yang membuatnya menjadi gugup seketika.
Alea bahkan curi-curi pandang kepada Raidan yang sebut tadi hanya fokus menunggu dokumen yang diperiksa oleh Leon.
"Kamu memang selalu memberikan hasil pekerjaan yang sangat memuaskan Raidan. Kamu sangat banyak membantu Perusahaan," ucap Leon tidak tenang-tenang memberi pujian kepada Raidan.
"Raidan, terima kasih juga karena kamu juga banyak membantuku ketika aku bulan baru bersama istriku," sahut Dharma.
"Saya berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan," ucap Raidan.
Situasi memang terlihat berbeda tampak canggung dan apalagi Raidan dan juga Alea.
Bersambung....