satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekerja dan Berlatih
Grooook
Grooook
baru saja Satria akan melangkah ke rumah, dari balik rimbunnya semak terdengar suara ngorok
" sialan itu suara Babi hutan!" gerutu Satria dan beberapa babi hutan keluar dari semak, satu bertubuh besar dan caling nya mencuat
Drug
drug
drug
melihat ada manusia babi itu langsung menyeruduk Satria
" Sial" Satria berlari dengan sekuat tenaga, ia tak menyadari karena latihannya larinya menjadi lebih cepat beberapa kali, hanya sebentar saja ia sudah berada di rumah panggung,namun ia menyangka karena rasa takut ia bisa berlari cepat
" selamet, selamet, makan nasi pake ayam" Satria mengelus dadanya karena berhasil lolos dari serudukan babi itu
Satria menyalakan lampu dinding dan mulai memakan makanan ringan , ia lupa siang tadi tak masak karena asik berlatih, jadi ia hanya memakan makanan yang di bekalkan oleh tetangganya
tadinya Satria berniat tidur setelah mengisi perutnya namun setelah berbaring matanya tak juga mengantuk
" Apa aku mencoba ke Taman Bawah sadar kemarin ?" gumam Satria , ia lalu duduk bersila di atas ranjangnya dan mencoba masuk ke taman Alam Bawah sadarnya
Wush
Saat ia memejamkan mata, dalam sekejap jiwanya sudah berada di dalam alam bawah sadarnya
Suasana masih sama, air terjun dan juga taman kecil, Satria melangkah menuju goa yang berada di balik air terjun, melihat bekas tempat duduk eyang Wiratama ia membungkukkan badannya sedikit
" Eyang aku datang " Gumam Satria
Lalu ia duduk di atas batu dekat dengan tempat Eyang Wiratama duduk
Di sana ia mulai menggali ingatan yang di tinggalkan oleh eyang Wiratama
Satu persatu ia lihat dan ia pelajari menurut susunan yang telah di berikan, dasar dari ilmu warisan itu adalah tenaga dalam, jadi ia harus meningkatkan tenaga dalamnya dulu ke tingkat tertentu baru bisa mempelajari yang lain,
satria kembali badan kasarnya dan mulai kembali berlatih. Ia semakin bersemangat saat melihat ingatan yang di di tinggalkan eyang Wiratama, jika ia mampu menguasai itu semua ia bisa mengobati orang lain, dengan tenaga dalamnya dan dalam ingatannya juga Eyang Resi Wiratama membuat satu ilmu, ilmu Kuku Pancanaka, hanya saja berbeda dengan milik Bima, kuku Pancanaka yang ia pelajari jika berhasil maka satu kuku yang terbentuk dari kondensasi energi keluar dari jempolnya, sedangkan kuku Pancanaka merupakan kuku Bima sendiri yang panjang melengkung
Kukuruyuk
Satria terbangun dari semedinya saat mendengar kokok ayam
Ia melihat hpnya dan benar saja sudah jam 6 pagi, ia bergegas mandi, karena hari ini adalah hari pertama kerja nya ia tak boleh terlambat
Saat sampai di rumah pak Karno, Satria langsung mengetuk pintu,
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum" Satria mengucap salam dan mengetuk pintu
" waalaikum salam" suara pak Karno terdengar dari dalam
Krieeeet
pintu terbuka dan pak karno tersenyum melihat Satria di depan pintu
" wah rajin juga nak Satria, sebentar" ucap Pak Karno dan ia kembali masuk ke dalam, tak lama ia membawa topi caping dan sepatu bot
Ini pakai dulu, " ucapnya sambil menyerahkan caping bambu dan sepatu bot
" ini untuk saya pak?" tanya Satria
" iya ini di sediakan oleh kantor " sahut Pak Karno, Satria tersenyum dan mengambil caping bambu itu lalu memakainya begitu juga dengan sepatu bot.
" ayo kita ke kebun coklat blok 4 di sana awal kita bekerja" ajak pak Karno , satria mengangguk dan mengikuti langkah Pak Karno
setelah beberapa saat berjalan, mereka akhirnya tiba di kenun coklat yang di tuju, kebun itu sangat luas, dan Satria melihat banyak buah Coklat yang sudah menguning
" Nah tugas kamu, membersihkan dahan coklat yang mati, juga membersihkan gulma yang ada di sekitar batang pohon" Pak Karno menjelaskan pekerjaan yang harus di lakukannya
" Itu bukannya sudah matang pak?" Tanya satria sambil menunjuk buah coklat yang sudah menguning
" iya itu sudah masak, nanti ada pemetik yang mengambilnya" sahut Pak Karno
" Pak saya boleh mencicipi buah itu, saya belum pernah merasakan apa rasanya buah coklat " Pinta Satria yang memang belum pernah makan buah coklat
" Ambil saja satu" sahut pak Karno, tak membuang waktu lagi Satria memetik satu buah coklat yang sudah menguning sempurna
Satria memecah kulit buah coklat itu dan mulai memakan isinya yang putih
" Emmmh. manis pak, tapi kok isinya berwarna putih yah?" tanya Satria heran
" Ha ha ha, kamu ini ada ada saja, namanya coklat itu warna hasil pengolahan bijinya" pak Karna tertawa lucu karena pertanyaan Satria tadi
" ooh, aku pikir buah coklat itu isinya berwarna coklat" gumam Satria sambil tersenyum malu
" NAh kamu kerja di sini dulu, saya akan memeriksa kebun yang lain" Ucap Pak Karno
" Ya pak" sahut Satria
satria segera membersihkan rumpur dan tanaman kecil lain yang tumbuh di sekitar batang pohon coklat
karena sering bekerja keras, bagi satria pekerjaan itu tak terlalu berat, ia terus bekerja membersihkan kebun coklat itu
" Satria makan dulu!" terdengar seruan Mandor Karna , satria melihat ke atas, matahari ternyata telah di atas kepalanya, tak terasa ia bekerja sudah setengah hari
" Ya pak saya cuci tangan dulu" sahut Satria langsung menuju sungai kecil yang berada tak jauh dari sana, memang untuk makan di tanggung oleh perusahaan jadi makan pagi siang dan malam sudah di siapkan oleh istri Pak Karno
" Ini makan siangmu, nanti pulang bawa lagi rantangnya yah, bapak mau ke kebon lagi" ucap Pak Karna saat Satria sudah di depannya
" iya pak, makasih" sahut satria, ia duduk di dahan pohon yang rindang dan membuka rantang tiga susun itu, saat ia membuka nasi putih, sayut nangka dan sambel serta telur mata sapi, Satria tersenyum dan mulai memakan makanannya, terasa nikmat walau tak mewah, memang jika perut lapar makan apa saja akan terasa nikmat
Setelah makan ia mencuci rantang itu hingga bersih dan menaruhnya di bawah pohon tempat ia makan lagi
Setelah beristirahat sejenak ia kembali melanjutkan pekerjaannya, tak sampai jam 3 ia telah menyelesaikan pekerjaannya , kini kebun coklat itu terlihat lebih bersih tanpa gulma di sekitarnya
Karena masih siang, Satria memutuskan berlatih di kebun itu, untuk bersemedi tak mungkin karena butuh konsentrasi yang tinggi dan tak boleh ada gangguan dari luar, jadi ia memutuskan berlatih jurus saja
Hiaaat
wuut
syuuut
Satu persatu Satria melakukan jurus silat yang ada di ingatannya, Satria pernah di ajari dasar silat oleh kakek Pandu jadi gerakannya tak terlalu kaku lagi
dalam ingatannya ada tujuh jurus yang terangkai dalam jurus Tangan Seribu, di mana saat jurus itu di kerahkan maka bayangan tangan Satria akan berubah menjadi banyak
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁