Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Langit New York pagi itu tampak kelabu, seolah mencerminkan suasana mencekam yang menyambut kepulangan sang pewaris tunggal Dominic. Begitu Archello dan Lyodra melangkah keluar dari gerbang kedatangan internasional Bandara JFK, kilatan lampu flash kamera langsung menyambar penglihatan mereka seperti petir yang bertubi-tubi.
"Archello! Benarkah Oliver Bernardo sedang mengandung anakmu?"
"Siapa wanita di sampingmu ini? Apakah dia alasan kau mencampakkan tunanganmu yang sedang hamil?"
"Bagaimana tanggapan Dominic Group mengenai tuntutan pertanggungjawaban dari keluarga Cavanaugh?"
Puluhan wartawan dari berbagai media hiburan dan bisnis merangsek maju, menyodorkan mikrofon hingga nyaris mengenai wajah Lyodra. Lyodra, yang belum sepenuhnya terbiasa dengan sorotan tajam seperti ini setelah empat tahun "mati", tampak gemetar. Ia mengeratkan pegangannya pada lengan Archello, menyembunyikan wajahnya di balik bahu pria itu.
Archello tidak gentar. Wajahnya kembali membeku, menjadi "patung es" yang dikenal dunia. Alih-alih memberikan pernyataan, ia justru menarik Lyodra ke dalam dekapannya yang protektif. Lengan kekarnya melingkari bahu Lyodra, memastikan tidak ada satu pun lensa kamera yang bisa menangkap gurat ketakutan di wajah wanitanya.
"Minggir," desis Archello dingin. Suaranya rendah namun mengandung otoritas yang membuat beberapa wartawan mundur teratur.
Tanpa sepatah kata pun mengenai skandal Oliver, Archello terus melangkah maju menuju mobil limusin hitam yang sudah menunggu di lobi. Ia bungkam seribu bahasa. Baginya, kata-kata adalah amunisi yang tidak boleh ia hamburkan untuk rumor sampah. Fokus utamanya hanya satu: membawa Lyodra masuk ke dalam mobil dengan aman.
Sementara hiruk-pikuk terjadi di bandara, di sebuah ruang kerja yang remang-remang dan penuh aroma cerutu mahal, dua orang paling berpengaruh dari dua dinasti besar sedang berbicara melalui sambungan telepon yang terenkripsi.
Nenek Besar Dominic menyesap teh pahitnya, matanya menatap tajam ke arah jendela yang menghadap taman mansion. Di seberang sana, suara berat dan penuh kebencian milik kakek Oliver, Silas Cavanaugh, terdengar menggelegar.
"Kau membiarkan mereka kembali? Kau merestui pernikahan sampah itu?" tanya Silas dengan nada menghina.
Nenek Dominic terkekeh dingin, suara tawanya terdengar seperti gesekan kertas tua. "Jangan bodoh, Silas. Semakin dekat dia denganku, maka aku akan lebih cepat membunuhnya secara perlahan. Aku merestui mereka menikah agar gadis itu bisa tinggal serumah denganku. Di bawah atapku, dia tidak akan punya tempat untuk bersembunyi. Aku akan mempreteli harga dirinya satu per satu hingga dia sendiri yang memohon untuk pergi."
"Licik seperti biasa," sahut Silas. "Tapi kau harus sadar, cucumu telah menghina cucuku di depan publik. Oliver hancur, dan kau malah membawa 'hantu' itu masuk ke dalam istanamu."
Nenek Dominic mendengus. "Salahkan cucumu yang tidak bisa mengambil hati cucuku. Archello itu keras, dan Oliver terlalu lemah. Aku sendiri bahkan pusing memikirkan apa kelebihan gadis Taylor itu hingga Archello sudi membuang segalanya demi dia."
Terdengar suara tawa sinis dari ujung telepon. "Kau ingin tahu kelebihannya? Itu karena dia pandai mengangkat kedua kakinya untuk cucumu," ucap Silas Cavanaugh dengan nada merendahkan yang sangat menjijikkan. "Dia menggunakan tubuhnya untuk mengikat Archello, sesuatu yang tidak diajarkan pada Oliver. Tapi ingat... jika Archello tidak menikahi Oliver, aku akan memastikan rumor kehamilan ini menghancurkan saham Dominic hingga ke titik nol."
"Lakukan sesukamu, Silas. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan memastikan gadis itu menderita di tanganku," ucap Nenek Dominic sebelum memutus sambungan telepon.
Di dalam limusin yang melaju menuju Mansion Dominic, Archello masih menggenggam tangan Lyodra. Ia bisa merasakan telapak tangan Lyodra yang dingin dan berkeringat.
"Jangan dengarkan mereka, Ay," bisik Archello sambil mencium kening Lyodra. "Apapun yang mereka katakan di luar sana, itu hanya angin lalu. Kita akan sampai di rumah, dan kau akan aman bersamaku."
Lyodra menatap Archello dengan cemas. "Ello, aku merasa ini bukan ide yang baik. Mengapa keluargamu tiba-tiba setuju? Aku merasa ada yang aneh. Dan Oliver... bagaimana jika dia benar-benar hamil?"
Archello menggeleng mantap. "Dia tidak hamil, Ly. Aku tidak pernah menyentuhnya. Ini hanya taktik kakeknya untuk memaksaku. Dan tentang keluargaku... Ayahku menjamin keamananmu. Selama aku ada di sana, tidak akan ada yang berani menyentuhmu."
Namun, saat gerbang Mansion Dominic yang menjulang tinggi terbuka, Lyodra merasakan firasat buruk yang semakin kuat. Mansion itu tampak seperti istana yang megah, namun baginya, itu terlihat seperti sangkar emas yang siap menelan siapa pun yang masuk ke dalamnya.
Di depan pintu utama, Nenek Besar berdiri bersama Beatrice, menunggu kedatangan mereka dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Mereka tampak seperti singa yang sedang menunggu mangsa masuk ke dalam sarang.
Archello turun dari mobil dan membantu Lyodra keluar. Ia membusungkan dadanya, siap menghadapi badai apa pun. Ia tidak tahu bahwa restu yang ia terima adalah mahkota duri yang sengaja disiapkan untuk menghancurkan Lyodra dari dalam.
"Selamat datang di rumah, Archello," ucap Nenek Besar dengan suara yang manis namun mematikan. Matanya beralih ke arah Lyodra, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Dan selamat datang... Nona Taylor. Semoga kau betah tinggal bersama kami."
Lyodra menunduk, merasakan aura dingin yang menusuk tulang. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, bukan di pengadilan atau di media, melainkan di balik dinding-dinding bisu Mansion Dominic yang menyimpan ribuan rahasia kelam.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰