Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempurnaan Fana
Kegelapan di dalam lorong sebelah kanan terasa sepekat tinta. Udara dipenuhi oleh bau karat dan debu purbakala yang menyesakkan dada. Shen Yuan melesat menembus bayang-bayang dengan Langkah Bayangan Hantu, tubuhnya seringan daun gugur yang terbawa angin malam.
Di belakangnya, gema dentuman langkah kaki dan kilatan cahaya obor mulai merayap masuk ke dalam percabangan lorong.
"Bagi menjadi tiga pasukan! Susuri setiap lorong! Jika kalian menemukan anak itu, jangan langsung dibunuh. Patahkan keempat anggota tubuhnya dan bawa ke hadapanku!"
Suara Jian Wushuang, yang membawa tekanan mutlak dari Ranah Pembentukan Inti Emas, bergema menggetarkan dinding-dinding obsidian. Sang Tuan Muda Pertama Sekte Pedang Langit benar-benar telah dibutakan oleh amarah karena dipermainkan oleh seorang pengelana fana.
Shen Yuan mendengus dingin. Lorong yang ia pilih ternyata bukanlah sebuah jalan lurus, melainkan sebuah labirin raksasa yang dinding-dindingnya terbuat dari tumpukan tulang rusuk binatang buas. Setiap persimpangan terlihat identik, menyesatkan pandangan dan mengacaukan arah pandang batin.
"Ini adalah Labirin Tulang Pembingung," suara Leluhur Darah terdengar di lautan kesadaran Shen Yuan. "Bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan jiwa yang kuat, tempat ini adalah kuburan abadi. Mereka akan berputar-putar hingga mati kelaparan. Namun bagimu, ini adalah benteng pertahanan alami."
Shen Yuan mengangguk. Berkat Niat Pedang Perak yang ia telan sebelumnya, lautan kesadarannya kini sangat luas dan jernih. Ia bisa merasakan aliran udara tipis yang mengalir dari pusat labirin, menandakan jalan keluar yang sebenarnya.
Namun, ia tidak segera mencari jalan keluar.
Langkah Shen Yuan terhenti di sebuah ceruk buntu yang tertutup oleh stalagmit batu kapur. Ia menyelinap ke balik bongkahan batu tersebut, duduk bersila dalam posisi teratai, dan mengatur napasnya hingga nyaris tak terdengar.
"Sekte Pedang Langit menyebarkan murid-murid pilihan mereka ke dalam labirin ini. Cepat atau lambat, anjing-anjing pelacak itu akan menemukanku," batin Shen Yuan. "Perbedaan kekuatanku dengan Jian Wushuang masih terlalu besar. Aku harus menembus Lapisan Kesembilan sekarang juga!"
Ia merogoh Kantong Qiankun-nya dan mengeluarkan Jamur Giok Darah Hitam. Aroma darah purba dan energi Yin yang sangat murni seketika mengusir bau apek di dalam ceruk tersebut.
Tanpa keraguan sedikit pun, Shen Yuan menggigit kelopak jamur pusaka itu. Teksturnya selembut sutra namun membawa rasa pahit yang menyengat lidah. Begitu jamur itu tertelan, sebuah ledakan energi dingin yang sangat pekat menyebar ke seluruh rongga dadanya.
Berbeda dengan hawa liar binatang buas, energi dari Jamur Giok Darah Hitam ini bagaikan lautan tenang di malam hari. Ia meresap ke dalam sumsum tulang, menutrisi lautan kesadaran, dan mendinginkan sisa-sisa hawa panas dari Akar Darah Naga Matahari yang masih bersembunyi di dalam darah Shen Yuan.
Dua kekuatan mutlak—Yin dan Yang—bertemu di dalam pusaran Dantian-nya. Bukannya saling menghancurkan, di bawah panduan Sutra Penelan Surga, kedua energi itu mulai berputar membentuk simbol keseimbangan yang sempurna.
Tubuh Emas Gelap Shen Yuan memancarkan cahaya redup yang berkelap-kelip antara merah darah dan hitam pekat. Kotoran-kotoran fana terakhir yang tersisa di dalam daging dan organ dalamnya didorong keluar, menguap menjadi asap kelabu sebelum sempat menyentuh kulitnya.
Deg! Deg! Deg!
Detak jantung Shen Yuan bergema kuat, menyerupai tabuhan genderang perang di dasar bumi. Tulang-tulangnya yang sebelumnya berwarna emas gelap kini menyatu sepenuhnya dengan otot dan dagingnya, menciptakan sebuah wadah fana yang tidak memiliki kelemahan atau celah.
Bum!
Sebuah suara dentuman yang sangat dalam meletus dari dalam Dantian Shen Yuan. Batas terakhir dari alam fana telah hancur! Hawa murni iblis di dalam tubuhnya melonjak puluhan kali lipat, mengalir deras bagaikan sungai air raksa yang mematikan.
Ranah Penempaan Raga Lapisan Kesembilan! Kesempurnaan Fana!
Shen Yuan membuka matanya. Di dalam kegelapan mutlak ceruk tersebut, sepasang matanya tidak lagi memancarkan cahaya merah yang buas, melainkan menjadi hitam pekat tanpa dasar, menyerap segala cahaya di sekitarnya.
Ia mengepalkan tinjunya. Tidak ada suara gemeretak tulang, tidak ada kebocoran hawa murni. Kekuatannya kini benar-benar terkunci di dalam dagingnya, sehalus air namun seberat gunung. Jika ia melepaskan pukulan sekarang, ia yakin bahkan sebuah bukit kecil pun bisa diratakan menjadi debu hanya dengan kekuatan fisiknya!
"Jadi ini rasanya berdiri di puncak alam fana," gumam Shen Yuan. Ia berdiri, membiarkan jubah abu-abunya jatuh menutupi tubuhnya yang kini seimbang sempurna. "Langkah selanjutnya adalah Ranah Pembukaan Nadi, di mana aku bisa memancarkan hawa murni keluar tubuh sebagai senjata. Tapi untuk saat ini... ini sudah lebih dari cukup untuk menyambut para tamu kita."
Telinga Shen Yuan berkedut. Dari lorong di balik stalagmit, terdengar suara langkah kaki yang mengendap-endap, diiringi pendaran cahaya dari batu berpendar cahaya putih.
Lima orang murid Sekte Pedang Langit, mengenakan jubah putih perak, sedang menyusuri labirin tulang tersebut. Tiga di antaranya berada di Lapisan Kedelapan, dan dua orang yang memimpin berada di awal Lapisan Kesembilan.
"Labirin terkutuk," gerutu salah satu murid Lapisan Kedelapan, menendang sebuah tengkorak hingga hancur. "Tuan Muda Pertama benar-benar kejam menyuruh kita mencari pemuda itu tanpa peta. Bagaimana jika kita tersesat selamanya di sini?"
"Tutup mulutmu! Jika Tuan Muda mendengarnya, lidahmu akan dipotong," desis murid di Lapisan Kesembilan, memegang kompas pelacak berukir susunan aksara. "Kompas Pelacak Jiwa ini bereaksi kuat di sekitar sini. Anak itu pasti bersembunyi di dekat—"
Kata-katanya terputus saat sebuah bayangan hitam melangkah keluar dari balik stalagmit batu kapur dengan santainya.
Kelima murid itu tersentak kaget dan langsung menghunus pedang mereka secara serentak. Ujung pedang perak mereka memantulkan cahaya dingin, membidik lurus ke arah pemuda berjubah abu-abu yang berdiri tanpa senjata di hadapan mereka.
"Itu dia! Si pencuri peta!" teriak murid yang memegang kompas, matanya memancarkan keserakahan. "Tangkap dia! Siapa pun yang berhasil melumpuhkannya akan mendapatkan hadiah pil pusaka dari Tuan Muda!"
Keserakahan mengalahkan kehati-hatian. Kelima murid Sekte Pedang Langit itu menerjang maju bagaikan kawanan serigala yang melihat sepotong daging segar. Formasi pedang mereka tertata rapi, mengurung Shen Yuan dari lima penjuru.
Bagi mereka, pengelana tanpa sekte ini hanyalah seekor semut yang beruntung. Namun, mereka tidak tahu bahwa semut yang mereka buru baru saja menjelma menjadi naga iblis sejati.
Shen Yuan tidak tersenyum. Ia bahkan tidak memposisikan kuda-kudanya. Ia hanya berjalan menyongsong kelima ujung pedang tajam itu.
"Seni Pedang Bintang Jatuh! Mati kau!"
Dua pedang dari murid Lapisan Kesembilan menebas dari kiri dan kanan, mengincar kedua bahu Shen Yuan untuk memutus urat lengannya.
Namun, saat mata pedang yang dibalut hawa murni itu mengenai jubah Shen Yuan...
Traanggg! Kraaak!
Bukan daging yang terbelah, melainkan dua pedang pusaka fana tingkat tinggi yang hancur berkeping-keping! Pecahan logam beterbangan ke udara, memantulkan wajah penuh kengerian dari kedua murid pilihan tersebut.
"Tubuh kebal senjata?! Iblis apa kau?!" jerit salah satu murid Lapisan Kesembilan, mencoba mundur dengan panik.
"Terlalu lambat," bisik Shen Yuan sedingin angin musim dingin.
Tangan kirinya melesat, mencengkeram wajah murid Lapisan Kesembilan di sebelah kirinya. Dengan satu hentakan tanpa ampun, Shen Yuan membanting kepala murid itu ke dinding tulang di samping lorong.
Bum! Dinding tulang hancur, dan kepala murid itu meledak layaknya semangka busuk.
Dalam kerdipan mata yang sama, tangan kanan Shen Yuan membentuk bilah tangan, menebas mendatar ke arah leher murid Lapisan Kesembilan di sebelah kanannya.
Wussshhh!
Udara menjerit saat tangan Shen Yuan membelah ruang. Leher murid itu terputus rapi seolah ditebas oleh pedang dewa, darah menyembur tinggi ke langit-langit labirin.
Dua ahli Lapisan Kesembilan dari sekte raksasa tewas dibantai dalam satu tarikan napas, murni oleh kekuatan jasmani!
Tiga murid Lapisan Kedelapan yang tersisa membeku di tempat. Kaki mereka gemetar hebat, dan senjata di tangan mereka terasa seberat gunung. Ketakutan mutlak mengunci jiwa mereka. Ini bukan pertarungan, ini adalah pembantaian sepihak!
"L-Lari! Beri tahu Tuan Muda Pertama! Dia bukan manusia!" teriak salah satu dari mereka dengan suara melengking putus asa.
Mereka berbalik dan menggunakan seluruh hawa murni mereka untuk kabur. Namun, di hadapan Shen Yuan yang kini berada di puncak mutlak alam fana, kecepatan mereka tak lebih dari sekadar siput yang merayap.
Langkah Bayangan Hantu!
Shen Yuan bahkan tidak perlu memecah bayangannya. Kecepatan murninya melesat melampaui suara. Ia muncul tepat di depan ketiga murid yang sedang melarikan diri, seolah ia menguasai ilmu berpindah tempat seketika.
"Jalan buntu," ucap Shen Yuan dengan nada datar.
Tapak Penghancur Nadi!
Kedua telapak tangan Shen Yuan melesat berulang kali, menghantam dada dan perut ketiga murid tersebut. Ledakan hawa murni iblis menyusup masuk, menghancurkan organ dalam dan meremukkan setiap inci pembuluh nadi di tubuh mereka. Ketiga murid itu terhempas ke dinding labirin, memuntahkan darah hitam dan tewas seketika.
Shen Yuan berdiri di tengah kelima mayat tersebut. Ia mengibaskan tangannya, memercikkan sisa darah musuh ke lantai batu.
Ia tidak menggunakan Sutra Penelan Surga untuk menyerap esensi mereka. Di Puncak Lapisan Kesembilan, esensi darah manusia fana sudah tidak lagi memiliki nilai apa pun bagi Dantian-nya. Ia kini membutuhkan pusaka setingkat Inti Emas atau energi bumi purba untuk memecahkan batas menuju Ranah Pembukaan Nadi.
"Sekte Pedang Langit... umpan pembuka yang cukup menghibur," gumam Shen Yuan.
Ia memungut kompas pelacak milik salah satu mayat, meremukkannya menjadi debu, lalu menatap tajam ke ujung lorong labirin yang mengarah semakin dalam ke perut bumi. Di sanalah aura Tuan Tanah Hantu memanggilnya, dan di sanalah Jian Wushuang pasti menunggunya.
Tanpa menoleh kembali pada karya seninya yang berdarah, sang Iblis Penelan Surga kembali berjalan menembus kegelapan, selangkah lebih dekat menuju warisan yang akan mengguncang Sembilan Cakrawala.