NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Bagi para bangsawan Swantipura, musim dingin bukanlah halangan untuk memamerkan keperkasaan. Di pelataran timur keraton yang dikelilingi oleh tembok-tembok pualam berukir gargoyle, salju tebal telah disapu bersih, menyisakan lapangan batu yang luas untuk latihan memanah. Angin utara berhembus membawa kristal-kristal es yang menampar wajah, namun Pangeran Mahkota Jayantaka tampak sama sekali tidak terganggu.

Sang pangeran berdiri tegap mengenakan tunik kulit beruang yang pas di badan, memamerkan lengannya yang berotot. Ia menarik busur panah raksasanya yang terbuat dari tanduk rusa kutub hingga melengkung sempurna. Matanya yang sebiru es menyipit, membidik sebuah sasaran jerami berbentuk manusia yang diletakkan sejauh seratus langkah.

*Wusss! Jleb!*

Anak panah berbulu elang itu melesat membelah angin beku dan menancap tepat di tengah-tengah jantung boneka jerami tersebut.

"Tembakan yang luar biasa, Gusti Pangeran! Tidak ada satu pun ksatria di seluruh daratan utara yang memiliki ketajaman mata dan kekuatan lengan seperti Gusti!" seru sebuah suara yang dipenuhi oleh kekaguman yang terlalu dibuat-buat.

Pria yang bertepuk tangan itu adalah Senopati Argakusuma. Kepala telik sandi (mata-mata) Swantipura itu berdiri tak jauh dari sang pangeran. Berbeda dengan prajurit sejati, Argakusuma mengenakan jubah sutra berlapis bulu rubah merah yang sangat mahal. Rambutnya disisir rapi dan diminyaki dengan wewangian dari selatan. Tangannya yang putih bersih tidak memegang senjata, melainkan memegang secawan anggur hangat. Ia adalah parasit berwajah tampan yang hidup dari memuji ego sang calon raja.

Di atas balkon berundak yang terlindung dari angin oleh tirai beludru tebal, duduklah Dewi Pregiwa.

Sang permaisuri mengenakan gaun wol berwarna putih gading yang menyatu dengan warna salju, dilengkapi dengan jubah bulu cerpelai yang membungkus leher jenjangnya. Ia duduk dengan punggung tegak lurus, memangku sebuah nampan perak berisi cawan-cawan anggur rempah. Senyum pualamnya terukir tipis saat ia menonton pertunjukan maskulinitas yang menurutnya sangat kekanak-kanakan itu.

*Ketajaman mata?* batin Pregiwa mencemooh pujian Argakusuma. *Pria bodoh itu bahkan tidak bisa melihat belati yang sudah menempel di urat lehernya sendiri.*

Pregiwa telah menghabiskan tiga hari terakhir merajut jaring laba-labanya. Melalui Ki Randu, pria tua penjaga menara gagak yang kini menjadi anjing pelacak rahasianya, Pregiwa telah mengumpulkan cukup banyak racun untuk membunuh karir Argakusuma. Ternyata, mencari kesalahan sang senopati sutra itu jauh lebih mudah dari perkiraannya. Argakusuma sangat korup. Ia menggelapkan dana yang seharusnya digunakan untuk membayar mata-mata di perbatasan, dan menggunakannya untuk membeli kuda-kuda ras murni serta pelacur-pelacur kelas atas dari negeri seberang.

Namun, seorang ratu yang cerdas tidak pernah menyerang musuhnya secara langsung. Ia harus membuat suaminya yang arogant merasa bahwa ia sendirilah yang menemukan pengkhianatan tersebut.

Jayantaka menyerahkan busurnya kepada seorang pelayan, lalu berjalan menghampiri balkon tempat Pregiwa duduk. Napasnya mengepulkan uap putih di udara.

"Apakah Kanda Pangeran lelah?" sapa Pregiwa dengan suara semerdu tetesan embun. Ia bangkit berdiri, menyodorkan secawan anggur rempah yang mengepul hangat. "Tembakan Kanda sungguh membuat hamba takjub. Bahkan ayahanda Arjuna pun mungkin harus berlatih keras untuk bisa menandingi kekuatan tarikan busur Kanda di tengah angin sedingin ini."

Pujian yang membandingkannya dengan ksatria terhebat Pandawa itu membuat dada Jayantaka membusung bangga. Ia menerima cawan itu, menyesapnya, lalu menatap Pregiwa dengan penuh gairah. "Kekuatanku bersumber dari ratuku yang menyaksikanku. Anggur ini sangat lezat, Istriku."

Argakusuma bergegas menyusul pangerannya, ikut menunduk hormat di hadapan balkon. "Gusti Permaisuri benar. Gusti Pangeran Jayantaka adalah anugerah terbesar bagi Swantipura. Dengan Gusti Pangeran di atas singgasana nanti, dan hamba sebagai mata serta telinga Gusti, tidak ada pemberontakan sekecil apa pun yang bisa lolos dari cengkeraman kita."

Pregiwa menatap Argakusuma. Senyum di bibirnya tidak memudar sedikit pun, namun jika ada yang menatap ke dalam pupil matanya saat itu, mereka akan melihat seekor ular berbisa yang bersiap mematuk.

"Tentu saja, Senopati Argakusuma. Dedikasimu pada kerajaan ini sangatlah... terkenal," ucap Pregiwa dengan nada yang sangat halus, namun memberikan penekanan aneh pada kata 'terkenal'. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada suaminya, merapikan kerah tunik beruang Jayantaka dengan jari-jarinya yang lentik. "Kanda Pangeran, hamba mendengar dari para pelayan bahwa pagi ini ada seorang utusan khusus yang tiba dengan kudanya yang nyaris mati kelelahan di gerbang utara. Apakah Kanda sudah menerima laporannya?"

Jayantaka mengernyitkan dahi, kemeriahan di wajahnya sedikit meredup. "Utusan khusus? Di gerbang utara? Aku belum mendengar apa-apa."

Sang pangeran segera menoleh dengan tajam ke arah Argakusuma. "Argakusuma, apakah kau menahan sebuah laporan dariku? Apakah ada pergerakan suku barbar di utara?"

Argakusuma tampak terkejut. Wajahnya yang tampan sedikit memucat. "A-ampun, Gusti Pangeran. Hamba bersumpah tidak ada laporan apa pun yang masuk ke meja hamba pagi ini. Gerbang utara aman terkendali. Para pelayan keputrian pasti hanya menyebarkan gosip murahan. Mereka sering melebih-lebihkan kedatangan pedagang bulu hewan."

"Ah, begitukah?" desah Pregiwa, terdengar sangat polos dan penuh penyesalan. "Maafkan hamba, Kanda. Mungkin hamba terlalu cepat mempercayai gosip. Hamba hanya khawatir, mengingat gerbang utara adalah titik buta kita. Terutama setelah... kejadian badai yang menghalangi burung-burung pengirim pesan Kanda waktu itu."

Satu kalimat sederhana itu bekerja layaknya mantra sihir yang mematikan. Pregiwa dengan sengaja mengungkit kembali kegagalan Argakusuma dalam memprediksi serangan Adipati Karna di Kurusetra. Ia memukul ego Jayantaka tepat di titik lukanya, memicu kembali paranoia sang pangeran yang telah ia tanam beberapa malam yang lalu.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!