Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui celah tirai kamar.
Suasana kamar masih sunyi.
Dira masih tertidur… dan masih memeluk Elvan dengan erat.
Tangannya melingkar di pinggang Elvan, sementara kepalanya bersandar di dada pria itu.
Sementara Elvan…Sudah terbangun beberapa menit yang lalu.
Sejak tadi malam ia hanya terbaring diam. Tak berani banyak bergerak. Takut lepas kendali.
Ia menatap langit-langit kamar dengan ekspresi datar… meskipun sebenarnya pikirannya jauh dari tenang.
" Anak ini benar-benar…”
Elvan melirik ke arah Dira yang tidur sangat nyenyak.
Rambutnya sedikit berantakan. Napasnya pelan.
Dan tangannya masih memeluk Elvan seperti tidak mau melepas. Persis seperti malam tadi.
Elvan mencoba menggeser sedikit tubuhnya.
Namun…
Dira langsung bergerak dalam tidurnya dan memeluknya lebih erat.
Elvan langsung berhenti bergerak. Ia menghela napas panjang.
“Kalau Kenzo melihat ini…” Karna memang kenzo setiap pagi akan menjemput mereka.
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar.
Elvan menoleh ke arah pintu.
“Bos?. Dira?”
Suara Kenzo terdengar dari luar. Benar kenzo sudah datang.
“Bos? Kalian sudah bangun?”
Elvan langsung menutup matanya sebentar.
“Ini kurang bagus…”
Ia mencoba membangunkan Dira. “Dira.”
Dira mengerutkan kening sedikit.
“Hmm…”
“Bangun.”
Namun Dira malah menyembunyikan wajahnya di dada Elvan.
“Lima menit lagi ya om…”
Elvan menahan napas. “Baiklah kalau gitu biar kenzo melihatnya.”
" Hah." dira masih belum bangun.
Elvan menghela napas. Namun kemudian tersenyum lebar.
Ketukan pintu terdengar lagi.
“Bos? Kalian sudah bangun!”
Senyum Elvan langsung melebar sedikit." Masuk" Perintahnya. tak lama
Pintu kamar terbuka.
Kenzo masuk dengan santai. “Bos , sarapan udah—”
Kalimatnya langsung terhenti. Kenzo berdiri diam di pintu.
Matanya melihat pemandangan di tempat tidur.
Dira memeluk Elvan.
Elvan berbaring di sampingnya. Suasana langsung hening beberapa detik.
Lalu Kenzo perlahan mengangkat alis.
“...”
Elvan menatapnya datar.
Kenzo menyilangkan tangan. “Wow.”
Elvan menjawab tenang, Ia tahu kemana kenzo mikir.
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Kenzo tertawa kecil. “Justru ini persis seperti yang aku pikirkan bos.”
Elvan menghela napas panjang.
Sementara itu…
Dira akhirnya membuka mata perlahan.
Ia masih setengah mengantuk.
“Bang Ken… berisik banget…”
Lalu ia sadar…
Posisinya.
Ia melihat tangannya yang masih memeluk Elvan. Lalu menatap wajah Elvan yang sangat dekat.
Beberapa detik…
Otaknya akhirnya menyala.
“AAAAAA?! OM NGAPAIN?”
Dira langsung bangun dengan wajah merah.
Ia mendorong Elvan menjauh. “KENAPA OM DI TEMPAT TIDUR AKU.?!”
Kenzo langsung tertawa keras di pintu.
Elvan duduk perlahan dengan ekspresi datar. Kemudian tersenyum
“Kamu tidak ingat apa yang terjadi tadi malam ?”
Dira langsung menunjuk dirinya sendiri.
“AKU?!”
Elvan mengangguk. “Dan kamu bahkan memelukku sepanjang malam.”
Kenzo menambahkan santai, “Romantis juga.”
Dira langsung melempar bantal ke arah kakaknya. Muka memerah seperti kepiting rebus.
“DIAM BANG!”
Pagi itu…
Rumah yang biasanya tenang mendadak ramai oleh teriakan Dira.
" Kamu sengaja membuatnya malu?" Bisik kenzo mendekati elvan.
Elvan mengangguk tersenyum puas.
Suasana kamar masih penuh kekacauan.
Bantal yang tadi dilempar Dira masih jatuh di lantai.
Sementara Kenzo sudah mendekat dengan wajah yang jelas-jelas menahan tawa.
“Aku nggak nyangka pagi aku bakal seindah ini.”
Dira langsung melotot ke arah kakaknya. “Keluar!”
Kenzo malah bersandar di pintu.
“Enggak. Abang lagi menikmati drama.”
Dira mengambil bantal lain dan melemparnya lagi.
" BANG KENZO!”
Kenzo akhirnya keluar sambil tertawa. “Turun kalau udah selesai mesra-mesraan!”
BRAK.
Pintu kamar ditutup dari luar. Kamar kembali hening.
Sekarang hanya ada Dira dan Elvan. Dira berdiri di atas tempat tidur dengan wajah merah.
Sementara Elvan duduk santai di tepi tempat tidur.
Dira menunjuknya dengan kesal. “Ini semua salah om!”
Elvan mengangkat alis. “Salahku?”
“Iya!”
Elvan menatapnya datar." Kamu yang menarikku.Dan gak ada salahnya cantik.”
Dira terdiam sebentar. Ia mencoba mengingat sesuatu.
Semalam…
Ia ikut ke ruang kerja elvan.
Lalu mengantuk…
Lalu dengan berani duduk di pangkuan—
Dira langsung menutup wajahnya dengan bantal.
“MATI AKU.”
Elvan hampir tersenyum melihat reaksinya.
Dira menoleh lagi dengan kesal. “Om harusnya nolak!”
Elvan menjawab tenang, “Kamu sudah tidur.”
Dira terdiam lagi.
Beberapa detik kemudian ia menunjuk Elvan lagi.
“Pokoknya jangan bilang siapa-siapa ya om!”
Elvan berdiri dari tempat tidur.Ia merapikan bajunya dengan santai.
“Kenzo sudah tahu.”
Dira langsung memegang kepalanya. “Aduh…”
Elvan berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia menoleh sedikit.
“Turun sarapan.”
Dira mendengus. “Malas.”
Elvan menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Kalau kamu tidak turun… aku bisa kembali tidur di sini.”
Dira langsung mengambil bantal lagi. Ia sudah sangat malu dengan kakaknya dan juga elvan.
“PERGI!”
Elvan akhirnya keluar dari kamar dengan langkah santai.
***
Di ruang makan…
Kenzo sudah duduk santai sambil minum kopi.
Begitu melihat Elvan datang, ia langsung tersenyum lebar.
“Tidur nyenyak?”
Elvan duduk di kursinya. “Diam.”
Kenzo tertawa kecil.
“Aku pikir kalian setelah menikah tidur di kamar terpisah."
Elvan menatapnya dingin. “Aku yang paksa. Dan Dia hanya takut tidur sendiri.”
Kenzo mengangguk pelan.
“Aku tahu. Dari dulu dia selalu takut sendiri, bahkan dia selalu tidur dengan bibi ”
Lalu ia menyeringai. “Tapi Kalian tetap lucu Kal–”
Elvan menatap tajam kenzo. Dan membuat kenzo berhenti berbicara
Beberapa menit kemudian…
Dira turun dari tangga.Sudah rapi dengan seragam sekolahnya Rambutnya diikat tinggi rapi memperlihatkan leher jenjangnya. Dan tak lupa tas dibahunya.
Begitu melihat Kenzo…
Ia langsung menatap tajam.
“Kalau abang ngomong macam-macam—”
Kenzo langsung mengangkat tangan. “Oke oke. Abang diam.”
Dira duduk di kursinya sambil mendengus. Ia mengambil roti di meja.
Namun beberapa detik kemudian ia melirik ke arah Elvan.
Elvan juga sedang melihatnya. Tatapan mereka bertemu sebentar.
Dira langsung memalingkan wajah.
“Nyebelin.”
Elvan hampir tersenyum kecil.
Kenzo yang melihat itu hanya menggeleng sambil bergumam pelan.
" Dua orang ini....benar-benar serasi."
***
Pagi itu udara masih segar saat mobil hitam milik Elvan melaju keluar dari halaman rumah.
Seperti biasa, Kenzo duduk di kemudi depan sementara Dira duduk di kursi belakang sambil memegang tas sekolahnya.
Namun bukannya diam…
Dira malah terus bicara.
“Bang Ken , nanti kalau ujian selesai kita liburan beneran kan?”
Kenzo menguap kecil." Kamu nanya itu tiap lima menit dir.”
Dira mendengus. “Biar pasti bang.”
" Tanya sama suami kamu"
Dira menoleh ke arah elvan.
" Jadi kan om?"
Dari kursi samping pengemudi, Elvan hanya mengangguk pelan. Melihat jawaban elvan . Dira hanya mendengus.
Mobil terus melaju melewati jalan kota yang mulai ramai.
Namun beberapa menit kemudian…
Kenzo sedikit mengernyit. Ia melihat ke kaca spion.
Sebuah mobil hitam lain terlihat berada beberapa meter di belakang mereka.
Awalnya Kenzo tidak terlalu memikirkan.
Namun saat mobil mereka berbelok ke jalan lain…
Mobil itu masih mengikuti. Kenzo menyipitkan mata.
“Elvan.”
Elvan tidak menoleh. “Apa.”
“Coba lihat spion kanan.”
Elvan melirik sekilas.
Elvan melirik sekilas Mobil yang sama. Masih di sana.
Beberapa detik mereka diam.
Dira yang duduk di belakang mulai curiga karena suasana mendadak sepi.
“Kenapa kalian tiba-tiba diam?”
Kenzo menjawab santai, “Enggak apa-apa.”
Namun Kenzo sudah memperhatikan dengan serius.
Ia sengaja mempercepat mobil sedikit.
Mobil di belakang juga mempercepat. Kenzo membelok ke jalan kecil.
Mobil itu masih mengikuti.
Sekarang jelas.
Kenzo menghela napas pelan. “Sepertinya bukan kebetulan.”
Dira langsung menegakkan tubuhnya.
“Hah? Kenapa bang?”
Elvan menoleh sedikit ke belakang. “Dir… jangan panik ya.”
Kalimat itu justru membuat Dira langsung panik.
“Kenapa aku harus jangan panik?!”
Elvan berbicara tenang. “Ada mobil yang mengikuti kita.”
Wajah Dira langsung pucat. “Hah?!”
Ia langsung melihat ke kaca belakang.
Dan benar.
Mobil hitam itu masih ada di sana. Jaraknya tidak terlalu jauh.
Jantung Dira mulai berdebar cepat.“Itu… siapa..bang?”
Kenzo menjawab pelan, “Kita belum tahu.”
Dira langsung menggenggam tasnya erat. “Jangan-jangan…”
Ia menelan ludah.
“…orangnya Bara?”
Suasana mobil langsung menjadi lebih tegang.
Elvan menatap jalan dengan fokus. Namun suaranya tetap tenang.
“Dira.”
“Iya?”
“Tidak apa-apa.”
Dira mencoba percaya. Namun tangannya sudah sedikit gemetar. Ia jadi teringat kecelakaan bulan lalu.
Mobil di belakang tiba-tiba mendekat lebih cepat.
Elvan langsung menoleh.
“Ken…”
Kenzo sudah menekan gas lebih dalam. Mobil mereka melaju lebih cepat di jalan raya.
Dira memegang kursi di depannya."Kenapa mereka ngejar kita?!”
Kenzo mencoba tetap tenang. “Tenang, Dir.”
Namun Dira jelas mulai ketakutan.
Ia tanpa sadar meraih tangan Elvan dari belakang kursinya. Elvan menggenggam tangan dira dengan lembut.
“Om…”
Elvan meliriknya sekilas. Melihat wajah Dira yang benar-benar takut. Tatapannya langsung berubah lebih serius.
Kenzo langsung menekan gas lebih kuat. Mobil mereka melaju cepat di jalan. Mobil di belakang masih mengikuti.
Elvan menatap spion dengan wajah tegang.
“Kayaknya ini bukan sekadar ngintai…”
Kenzo menjawab dingin.
“Ya. kamu benar .”
Lalu ia menoleh sedikit ke arah Dira. “Pegang sabuk pengamanmu dir.”
Dira langsung menegang. “Kenapa…?” Tapi ia segera memasang sabuk pengaman nya.
Kenzo menatap jalan lurus di depannya.
Suaranya rendah. “Kita mungkin akan dikejar.”
.
.
.
.
.
Bersambung................