NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Skripsi di Ambang Kehancuran

Keheningan dini hari di Wisma Lavender pecah bukan oleh suara alarm, melainkan oleh raungan frustrasi yang menggetarkan dinding kamar Arka. "TIDAAAK! JANGAN SEKARANG! PLEASE!" Teriakannya begitu memilukan, penuh keputusasaan yang murni, hingga membuat Gendis yang sedang asyik maskeran di kamar sebelah hampir menelan potongan timunnya bulat-bulat karena kaget. Suara itu bukan sekadar teriakan marah, melainkan ratapan seseorang yang dunianya baru saja runtuh dalam sekejap mata.

Arka terduduk lemas di depan meja belajarnya, bahunya merosot tajam. Cahaya dari lampu meja yang temaram menyorot wajahnya yang pucat pasi. Layar laptop lawasnya—sebuah perangkat yang sudah sering ia 'operasi' sendiri dengan obeng kecil dan pembersih debu—kini hanya menampilkan layar biru pekat yang mengerikan: Blue Screen of Death. Masalahnya bukan sekadar perangkat keras yang mogok karena usia, melainkan fakta bahwa revisi bab terakhir skripsinya, yang ia kerjakan selama tiga hari tiga malam tanpa tidur dan hanya bermodalkan kopi hitam pekat, ada di sana. Dan Arka, dalam kelelahan yang luar biasa hingga fungsi otaknya menurun, lupa melakukan backup ke Cloud, Flashdisk, maupun kirim ke email pribadi.

Dalam hitungan menit, koridor Wisma Lavender yang biasanya sunyi mendadak riuh. Pintu kamar Arka digedor-gedor tanpa ampun. Seluruh pasukan penghuni kos muncul dengan kostum tidur masing-masing, wajah-wajah bantal mereka dipenuhi raut cemas.

"Ada apa, Ka? Ada kecoak raksasa mutasi? Atau mantan Sari datang lagi bawa pasukan ormas?" tanya Ziva yang muncul paling depan. Ia mengenakan daster motif macan tutul andalannya, dengan rambut yang dibungkus hairnet biru, tampak siap untuk bertarung melawan apa pun yang mengganggu ketenangan kos.

"Skripsi gue, Ziv... Laptop gue mati total tepat pas gue mau klik save," ucap Arka dengan suara parau yang terdengar seperti orang yang baru saja kehilangan harta warisan paling berharga. Matanya yang berkantung hitam karena kurang tidur menatap kosong ke arah layar yang tak bernyawa, mencerminkan keputusasaan yang mendalam. "Gue baru saja selesai ngerjain revisi dari dosen pembimbing yang paling galak se-fakultas, terus tiba-tiba ada bunyi krek pelan dari dalam mesin... dan semuanya gelap."

"Tenang, Arka! Jangan panik! Panik adalah musuh utama kecerdasan!" seru Dira dengan nada sok bijak, mencoba menenangkan suasana, padahal ia sendiri masih memegang sikat gigi yang penuh busa odol di sudut mulutnya. "Gue punya kontak sepupu yang jago servis HP di Glodok, mungkin dia punya ilmu buat benerin laptop lewat doa jarak jauh atau konsultasi via telepati!"

Sari, yang biasanya paling logis dan tenang, langsung masuk ke mode darurat medis seolah-olah ia sedang berada di ruang UGD. Ia mendekat ke meja Arka, meraba suhu adaptor dan bagian bawah laptop dengan punggung tangannya. "Ini panas banget, Ka. Suhunya sudah di atas ambang normal, kayak pasien demam berdarah stadium lanjut yang butuh penanganan instan. Kita butuh kompres!" Tanpa menunggu persetujuan Arka, Sari lari secepat kilat ke dapur dan kembali membawa sebungkus kacang polong beku dari freezer. Ia meletakkannya di atas badan laptop Arka dengan raut wajah sangat serius, seolah-olah ia sedang menangani luka bakar derajat tiga pada seorang pasien.

"Sar, itu laptop, bukan atlet yang keseleo pas tanding!" protes Arka lemah dengan suara serak, namun ia benar-benar tidak punya sisa tenaga untuk menolak perlakuan medis aneh tersebut.

Gendis tidak mau ketinggalan dalam aksi penyelamatan ini. Ia masuk ke kamar Arka sambil membawa dupa aroma terapi yang mengepul dan beberapa butir kristal yang katanya bisa "membersihkan aura negatif". "Gue rasa ini bukan sekadar masalah teknis, Ka. Ini gara-gara aura lo lagi butek karena stres skripsi. Laptop itu benda mati yang sensitif sama perasaan pemiliknya. Sini, biar gue netralisir dulu ruangan ini supaya chip dan motherboard-nya nggak stres." Dalam sekejap, kamar Arka yang sempit itu penuh dengan asap wangi melati yang menyengat, yang bukannya menenangkan, malah membuat Arka bersin-bersin tak henti hingga matanya berair.

Kekacauan semakin memuncak ketika Ziva memutuskan untuk mengambil tindakan paling radikal dan berbahaya. "Minggir semua! Biar ahlinya yang turun tangan!" Ia merebut obeng kecil dari laci meja Arka dan mulai menusuk-nusuk lubang ventilasi laptop dengan asal-asalan, seolah sedang melakukan akupunktur. "Gue pernah baca di forum internet, kalau barang elektronik macet, biasanya ada kabel yang 'keseleo' atau 'nyangkut' di dalemnya. Perlu sedikit tekanan fisik!"

"Ziva, jangan! Itu bagian kipas dan sensor!" jerit Arka, tapi suaranya kalah cepat dengan tindakan Ziva. Terdengar suara krak kecil yang memilukan, membuat jantung Arka seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Ia yakin skripsinya benar-benar telah terkubur bersama rongsokan logam itu.

Namun, di tengah hiruk-pikuk asap dupa Gendis yang membuat pernapasan sesak, kompres kacang polong Sari yang mulai berair, dan 'pembedahan' brutal ala Ziva, Dira tiba-tiba berteriak histeris, "GUYS! LIHAT! ADA CAHAYA KEHIDUPAN!"

Semua orang mendadak terdiam, menahan napas. Layar laptop Arka berkedip sekali, dua kali, mengeluarkan suara dengungan kasar, lalu perlahan menampilkan logo pabrikannya yang sudah kusam. Arka menahan napas, tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menekan tombol Enter. Keajaiban terjadi; layarnya kembali normal, menampilkan dokumen Word yang masih terbuka dengan label Recovered. Seluruh revisi yang ia tangisi tadi ternyata terselamatkan oleh fitur auto-save.

"SAVE SEKARANG JUGA, ARKA! CEPAT SEBELUM DIA MATI LAGI!" teriak mereka semua serempak, suaranya memenuhi seluruh koridor Wisma Lavender.

Jari Arka bergerak secepat kilat, didorong oleh adrenalin yang memuncak. Klik kanan, Copy, lalu ia melakukan Paste ke tiga akun Google Drive berbeda, mengunggahnya ke Dropbox, mengirim ke email pribadinya, email Sari, email Ziva, bahkan email ibunya di kampung yang bahkan tidak tahu cara membuka lampiran. Begitu indikator unggahan menunjukkan angka 100%, laptop itu mengeluarkan suara ngiiiing panjang yang menyedihkan, mengeluarkan sedikit asap tipis dari lubang ventilasi, dan mati total secara permanen. Layarnya hitam pekat, kali ini benar-benar wafat dengan tenang setelah menjalankan tugas terakhirnya.

Arka menyandarkan seluruh beban punggungnya ke sandaran kursi, napasnya tersengal-sengal seolah baru saja berlari maraton. Ia menatap teman-temannya yang masih dalam kondisi berantakan. Sari dengan tangan yang kedinginan karena memegang es kacang polong, Gendis yang rambutnya tertutup abu dupa, Ziva yang masih memegang obeng seperti senjata perang, dan Dira yang sudut mulutnya masih sedikit berbusa odol putih.

"Gue... gue benar-benar nggak tahu harus bilang apa," bisik Arka haru, matanya berkaca-kaca. "Skripsi gue selamat. Meskipun laptop kesayangan gue akhirnya benar-benar jadi rongsokan abadi."

"Nggak masalah, Ka. Laptop bisa beli lagi atau pinjam, yang penting lo nggak gagal lulus hanya gara-gara teknologi jadul yang menyerah di saat kritis," kata Sari sambil tersenyum tulus dan menepuk bahu Arka, meskipun ia akhirnya menyadari kacang polong beku itu sudah mulai mencair sepenuhnya dan membasahi tumpukan buku di meja Arka.

"Tapi lo harus bayar jasa tim penyelamat profesional ini," sahut Ziva sambil menyeringai nakal, mencoba mencairkan suasana yang sempat emosional. "Besok pagi, lo yang bertanggung jawab penuh buat masak sarapan mewah buat kita semua. Dan ingat, nggak boleh ada insiden nasi gosong atau telur asin keasinan kayak waktu itu!"

Arka tertawa lepas, tawa pertamanya setelah berjam-jam dicekam ketakutan akan kegagalan. Di kamar sempit yang kini berbau campur aduk antara melati, odol, dan aroma kacang polong dingin itu, ia menyadari sebuah kebenaran penting. Meski skripsinya hampir hancur berkeping-keping, ia memiliki 'sistem backup' paling canggih dan tak ternilai di dunia: teman-teman kosnya yang luar biasa rusuh, aneh, namun selalu bisa diandalkan di saat hidupnya sedang berada di titik nadir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!