Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Garis di Atas Pasir
Selasa pagi di Carlton terasa lebih sunyi, jenis sunyi yang biasanya mendahului badai besar. Alya terbangun bukan karena alarm, tapi karena aroma minyak kayu putih yang tajam. Ia menemukan Arkah duduk di tepi tempat tidur, sedang memijat pelipisnya sendiri dengan botol kecil di tangan. Laptopnya masih menyala, menampilkan jendela obrolan dengan kode area +65—Singapura.
"Belum tidur, Bang?" tanya Alya, suaranya parau.
Arka menoleh, tersenyum lelah yang dipaksakan. "Baru selesai conference call. Investor Singapura itu... mereka bukan cuma mau kasih modal, Al. Merekah mau aku akuisisi lini logistik firma hukum di kota kita. Mereka tahu firma itu lagi 'sakit' karena terlalu banyak main uang panas buat kepentingan politik lokal."
Alya duduk, menarik selimut wol ke bahunya. "Maksud kamu, firma hukum milik... dia?"
"Persis." Arka menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. "Dia pikir dia bisa pakai firma itu buat nekan kamu di Melbourne. Dia nggak sadar kalau di dunia korporasi, ikan besar selalu makan ikan kecil. Dan sekarang, aku bawa hiu dari Singapura buat gigit dia."
Alya menatap suaminya. Arka yang sekarang terlihat begitu asing sekaligus menenangkan. Tidak ada lagi sisa-sisa pemudah yang pingsan di gudang tua. Pria di depannya ini sedang merancang sebuah serangan balik yang sistematis, dingin, dan mematikan.
"Tapi Bang, ini berisiko buat bisnis kamu," kata Alya khawatir.
"Risiko terbesar itu kalau aku biarin kamu ketakutan tiap kali ada paket datang, Al," Arka meraih tangan Alya, meremasnya pelan. "Sekarang, giliranmu. Bawa tiket itu ke kantor. Jangan nangis. Jangan kelihatan gemetar. Tunjukin ke bosmu kalau kamu itu aset yang sedang disabotase, bukan beban yang punya masalah pribadi."
Di kantor lantai 12, Alya berjalan dengan langkah yang sengaja ia buat berbunyi di atas lantai parket. Ia tidak menuju mejanya. Ia langsung menuju ruang Regional Head.
"Sir," kata Alya, meletakkan tiket pesawat hancur dan buket mawar yang sudah layu (ia memungutnya lagi dari tempat sampah pagi tadi sebagai bukti fisik) di atas meja bosnya. "Ini adalah bentuk intimidasi fisik dan spionase industri yang dilakukan olleh pihak ketiga yang terafiliasi dengan vendor Jakarta-Singapura yang kita bahas kemarin."
Bosnya mengerutkan kening, melihat tiket itu. "Ini... tiket pesawat?"
"Upaya untuk menyingkirkan saya dari posisi Lead agar audit mereka tidak berlanjut," kata Alya, suaranya stabil, tanpa emosi, persis seperti mesin audit yang mereka inginkan. "Saya ingin perusahaan menyediakan tim legal untuk melaporkan ini ke Kepolisian Federal Australia sebagai pellecehan terhadap staf ahli. Dan saya ingin akses penuh ke database vendor Singapura selama 24 jam ke depan."
Bosnya terdiam lama. Ketegasan Alya yang dingin ini ternyata jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Marcus. Kamu yakin ini bukan masalah domestik, Chief?
"Masalah domestik saya sudah selesai di unit 3B pagi tadi, Sir," jawab Alya tajam. "Ini adalah masalah integritas perusahaan Anda. Pilihannya: Anda dukung saya, atau saya bawa bukti penggelapan Marcus ke media industri sebagai kegagalan manajemen regional."
Itu adalah gertakan paling berani yang pernah Alya lakukan. Dan itu berhasil. Bosnya mengangguk pelan, memberikan kode akses di secarik kertas. "Kamu punya 24 jam, Alya. Jangan bikin saya menyesal."
Sore itu, Alya tidak pulang cepat. Ia terkunci di ruang server, matanya perih menatap ribuan angka. Ia menemukan pola baru: aliran dana dari Marcus ternyata bukan cuma ke keluarga Marcus, tapi ada aliran balik ke akun operasional firma hukum di kota asalnya—uang suap untuk melicinkan izin vendor logistik di pelabuhan Jakarta.
Ia mengirimkan semua data itu ke email pribadi Arka.
Pukul delapan malam, Alya pulang. Nicholson Street sedang diguyur hujan deras. Ia sampai di apartemen dengan pakaian yang setengah basah. Begitu masuk, ia melihat Arka sedang menelepon seseorang dalam bahasa Jawa yang halus namun penuh penekanan.
"...nggih, Pak. Pastikan saja ibunya tidak diganggu. Kalau ada yang datang lagi bawa paket, langsung laporkan ke Polsek. Saya sudah kirim 'dana operasionalnya'."
Arka menutup telepon, melihat Alya yang berdiri membeku di pintu. Dia langsung menghampiri, mengambil tas laptop Alya, dan menuntunnya duduk di depan pemanas ruangan.
"Berhasil?" tanya Arka.
"Aku punya buktinya, Bang. Marcus dan dia... mereka satu lingkaran setan," jawab Alya, badannya mulai menggigil karena dingin dan adrenalin yang turun.
Arka tidak bicara lagi. Dia pergi ke dapur, kembali membawa handuk hangat dan segelas teh jahe. Dia duduk di lantai di depan Alya, mulai mengeringkan rambut istrinya dengan telaten. Kemistri di antara mereka malam itu terasa sangat intim, tapi bukan tipe romantis yang mendayu-dayu. Ini adalah keintiman dua orang prajurit yang sedang mengobati luka satu sama lain di parit perlindungan.
"Bang," panggil Alya saat tangan Arka masih di rambutnya.
"Hm?"
"Kenapa kamu lakuin ini semua? Kamu bisa aja hidup tenang di Sydney tanpa harus urusan sama hantu-hantuku."
Arka berhenti menggosok rambut Alya. Dia menatap mata istrinya dalam-dalam. "Dulu di stasiun, aku gagal karena aku nggak punya kekuatan buat ngelawan mereka. Aku cuma punya nyali, tapi nggak punya senjata. Sekarang, aku punya senjatanya, Al. Dan aku nggak akan biarin senja di kota itu mencuri kamu lagi dari aku."
Arka menarik Alya ke dalam pelukannya. Alya bisa mencium bau kopi, keringat, dan aroma minyak kayu putih yang menenangkan dari tubuh Arka. Di bawah tembok hijau mint yang mereka cat bersama, Alya merasa benar-benar aman.
"Besok," kata Arka, "hiu Singapura-ku bakal mulai 'makan'. Firma hukum itu bakal kena audit investigasi dari otoritas keuangan karena dugaan pencucian uang suap vendor. Dia bakal terlalu sibuk urus pengacaranya sendiri sampai nggak sempat lagi kirim bunga mawar ke Melbourne."
Alya memejamkan mata. "Terima kasih, Bang."
"Jangan bilang terima kasih," bisik Arka. "Bilang aja kalau besok kita bakal beli tanaman baru lagi. Sesuatu yang bunganya putih, tapi bukan mawar. Sesuatu yang baunya harum, biar Mr. Henderson makin betah protes."
Alya tertawa kecil, tawa pertama yang benar-benar lepas sejak ia kembali dari Jakarta. Di luar, hujan Melbourne masih menderu, tapi di unit 3B, garis di atas pasir sudah ditarik. Siapa pun yang mencoba melintasinya akan berhadapan dengan tembok hijau yang tidak akan goyah.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣