Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
"lo punya rencana apa lagi sih?"Tamara menatap curiga ke arah Sarah yang saat ini dengan santainya mengepel lantai toilet.
Tamara heran saja, gadis arogan seperti Sarah biasanya akan memanfaatkan posisinya sebagai anak donatur tertinggi di sekolah untuk menghindari hukuman. Tapi kali ini, gadis itu hanya pasrah dihukum bersamanya. Terlihat aneh bukan?
Sarah memutar bola matanya dengan malas, ia tidak menjawab sama sekali pertanyaan Tamara. Saat ini, dirinya hanya ingin menyelesaikan hukumannya dan pergi ke perpustakaan untuk mencari sesuatu.
"Sialan!"umpat Tamara sambil melanjutkan hukumannya dengan malas. Tiba-tiba terbesit ide di otaknya.
Tamara menyeringai." Eh, Sarah Lo kenal Fabian gak?"
Sarah tidak menjawab.
"Elah, kampret Lo. Gue dari tadi nanya baik-baik ini." Ujar Tamara dengan kesal.
"Gue tahu, kenapa emangnya?!" tanya Sarah dengan ketus tanpa menghentikan kegiatannya.
"Tadi gue dengar, dia mau ketemu lo di rooftop."ujar Tamara dengan wajah meyakinkan.
Pergerakan Sarah terhenti, dia lalu menatap ke arah Tamara." Loh? Ngapain ketua kelas nyuruh gue ke rooftop?" tanya Sarah heran, kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
Tamara mengedikkan bahunya." Mana gue tau."
Mendengar hal itu membuat Sarah menatap curiga ke arah Tamara." Bohong kan Lo?"
Tamara memutar bola matanya dengan malas." Terserah lo aja deh, gue cuma nyampein amanah doang."
Sarah hanya menghela napas, ia bertanya-tanya alasan kenapa ketua kelas yang Bahkan tidak pernah diajak bicara itu tiba-tiba Ingin bertemu dengannya, apalagi dia memintanya bertemu di rooftop.
Ah,,
Sarah jadi ingat, dulu dirinya pernah berurusan dengan si ketua kelas. Masalahnya karena Sarah salah mengambil earphone yang kebetulan iPhone mereka berdua sangat mirip, dan untuk menghindari gosip-gosip yang tidak diinginkan maka laki-laki itu ingin bertemu di rooftop.
Tapi kenapa sekarang harus bertemu di rooftop? Di kehidupannya sebelumnya laki-laki itu biasanya selalu memintanya bertemu di taman.
Apakah Sarah sudah merubah takdir?
...
Sarah mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang memintanya untuk datang dengan earphone yang sudah ada di genggamannya.
"Si ketua kelas mana sih?" Gumamnya.
Saat dirinya sibuk mencari keberadaan Fabian, tiba-tiba terdengar suara pintu terkunci. Suara itu terdengar sangat jelas.
Sarah sontak berbalik dan menghampiri pintu. Dia segera memutar knock pintu memastikan bahwa pintu menuju ke bawah tidak terkunci, Tapi sayangnya pintu tersebut tidak bisa terbuka. Cara berusaha menggedor-gedor pintu tersebut sembari tetap berusaha memutar knock pintunya.
"Buka!! Woy, tolong siapapun buka pintunya!!!"
"Sialan! Gue dikunciin." Umpat Sarah.
Sarah mengepalkan kedua tangannya dengan erat, ia teringat pada orang yang menyuruhnya datang ke tempat ini. " Sialan Tamara! Dia ngerjain gue!"
Sarah menggeram kesal." Kampret banget Tamara!"
Sarah berteriak sembari menghantarkan kakinya dengan kesal, sesekali dia meninjau udara saking kesalnya.
Gadis itu pun menghelan nafas dan akhirnya bersandar di pintu. Dia menatap lurus ke arah gedung-gedung pencakar langit yang terlihat jelas dari tempat di mana dirinya berada saat ini.
Semilir angin yang menyapu halus wajah Sarah dapat memberikan sensasi tenang bagi gadis itu. Ia berjalan perlahan mendekati pembatas gedung, ia menerawang jauh ke depan ketika ingatannya kembali pada kehidupan dirinya sebelumnya.
Apakah dirinya bisa merubah takdir hidupnya sendiri?
Apakah dirinya bisa bertahan dan menjadi sosok yang lebih baik dari kehidupan dirinya yang sebelumnya?
Bagaimana jika pada akhirnya takdir itu tidak bisa diubah?
Tuhan, apa yang harus dirinya lakukan?
Di tengah lamunannya tiba-tiba suara bariton terdengar membuat Sarah sedikit terkejut. Gadis itu refleks berbalik dan menjatuhkan earphone yang digenggamnya.
Mata gadis itu membulat ketika melihat laki-laki yang paling ia hindari kini berada di hadapannya.
"Marvin? Eum Lo ngapain di sini?" Tanya Sarah dengan suara bergetar. Ingatan terakhir dirinya bertemu dengan Marvin di kehidupan sebelumnya masih terbayang-bayang. Tatapan dingin dan wajah benci itu masih terlihat jelas diingatannya.
"Lo ngikutin gue?" Banyak laki-laki itu tanpa ekspresi, namun tatapan tajam itu tidak pernah berubah.
Mendengar hal itu Sarah untuk menggelengkan kepalanya, berusaha untuk meyakinkan Marvin." Enggak, Vin. Gue,,gue tadi,,,"
Sarah tahu, sebaiknya ia berkata jujur. Tapi dia juga yakin jika Marvin tidak akan mempercayai ucapannya. Selama satu tahun lebih, Sarah selalu mengikuti Marvin kemanapun laki-laki itu pergi dan mengganggunya tanpa memikirkan perasaannya. Lalu di saat seperti ini, apakah Sarah pantas untuk membela diri?
"Apa?!" Tanya Marvin dingin.
Sarah perlahan mundur ketika langkah Marvin semakin mendekat ke arahnya.
"Jawab."
Entah kenapa mulut Sarah menjadi kaku, dia tidak dapat menjawab pertanyaan dari laki-laki itu. Pada akhirnya dia hanya memundurkan langkahnya untuk menghindari Marvin. Sarah tersentak begitu punggungnya menabrak pagar pembatas rooftop, refleks gadis itu berbalik dan melihat ke arah bawah gedung.
Tiba-tiba dirinya teringat akan kejadian di mana dirinya jatuh dari jembatan si kehidupan yang sebelumnya.
Tiba-tiba saja nafas Sarah mulai tidak teratur, mulutnya terbuka berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya. Dadanya terasa sesak seperti ditimpa oleh batu yang begitu besar. Sarah menggenggam erat dadanya yang teramat sakit.
Marvin yang melihat pergerakan aneh dari gadis itu, segera mendekatinya.
" Lo kenapa?" Tanya Marvin kebingungan sekaligus khawatir melihat kondisi Sarah.
Marvin membantu Sarah untuk duduk, karena terlihat garis itu seperti akan kehilangan kesadarannya.
Sarah buru-buru merogoh kantong baju dan roknya, mencari inhaler yang selalu dia bawa kemana-mana. Tapi sialnya, dia tidak berhasil menemukan benda penting itu. Matanya bergerak mencari benda itu di sekelilingnya, dengan tangan yang meraba-raba berharap benda itu terjatuh di sekitarnya.
"Lo cari apa? Tenangin Didi Lo dulu." Marvin berusaha menenangkan Sarah yang napasnya semakin tidak teratur.
Dengan penuh keputusasaan, Sarah terpaksa meraih tangan Marvin dan menempatkan telapak tangan laki-laki itu tepat di mulut dan hidungnya. Telapak tangan yang besar itu mampu menutupi sebagian wajah Sarah yang kecil.
Marvin hanya membiarkan gadis itu melakukan sesuatu, dengan tangan yang bergetar gadis itu berusaha menahan tangannya.
Marvin dapat melihat air mata gadis itu mengalir bersamaan dengan nafasnya yang sudah mulai teratur. Metro coklat milik Marvin tidak lepas dari setiap pergerakan yang dilakukan oleh gadis itu.
Sarang berusaha menenangkan diri dan mengatur nafasnya. Sudah hampir 5 menit, akhirnya Sarah bisa menguasai dirinya dan keadaannya sudah cukup membaik.
Perlahan Sarah melepaskan tangan Marvin, lalu ia segera mengambil tisu dan mengalah tangan laki-laki itu yang basah karena air mata dan bercampur keringat dari wajahnya.
"Maaf, Vin." Ucap Sarah dengan lirih, ia menatap netra cokelat Marvin yang selalu mampu meluluhkan hatinya.
"Serangan panik?" tanya Marvin menebak-nebak.
Sarah menelan salivanya, kemudian berusaha berdiri meskipun sedikit sulit karena tenaganya hampir terkuras habis.
"Asma," jawab Sarah sambil mengalihkan pandangannya.
Sebelah alis Marvin naik begitu mendengar jawaban Sarah." Pemicunya?"
Sarah menjilat bibirnya yang kering." Bukan urusan lo."
Marvin mengangguk mengerti, toh memang yang dikatakan Sarah benar hal itu bukanlah urusannya.
Marvin kemudian merogoh sesuatu dari kantong celananya, lalu melempar benda itu ke arah Sarah dan dengan sigap gadis itu menangkap benda yang dilempar oleh Marvin.
"Kunci?"
Marvin mengangguk kemudian menunjuk ke arah pintu.
Seakan mengerti isyarat dari Marvin, Sarah mengangguk kemudian mengucapkan terima kasih.
Setelah itu Sarah buru-buru berjalan menuju ke pintu keluar. Sedangkan Marvin, masih menatap ke arah Sarah sampai gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.