NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Malam Pembukaan yang Dingin

​Gedung Kesenian Nasional malam itu bertransformasi menjadi sebuah kuil kemewahan yang dingin dan angkuh. Karpet merah membentang panjang di bawah guyuran hujan gerimis yang menyisakan aroma aspal basah dan parfum mahal. Di bagian atas fasad gedung, lampu sorot raksasa memproyeksikan logo pameran: sebuah roda gigi emas yang melingkari bola dunia. "The Masterpiece of Time: A Legacy Rediscovered."

​Sora Kalani berdiri di balik tirai beludru ruang persiapan, jemarinya yang dingin meraba liontin kunci jam pemberian Hael. Ia mengenakan setelan jas hitam dengan potongan maskulin namun elegan, rambutnya disanggul rapi tanpa menyisakan satu helai pun yang liar—sebuah citra ketegasan yang sangat kontras dengan Sora "Si Penunggu" yang dulu.

​Di sampingnya, Hael Arlo tampak sangat tenang dalam balutan tuxedo klasik. Ia tidak memakai jam tangan, seolah ingin menunjukkan bahwa dialah satu-satunya orang di ruangan itu yang tidak bisa didikte oleh waktu.

​"Dia sudah di depan gerbang," bisik Hael sambil melirik tablet digital di tangannya yang terhubung ke kamera keamanan. "Tiga mobil pengawal. Ezra tidak datang sebagai musisi malam ini. Dia datang sebagai raja minyak horologi."

​Sora menarik napas dalam-dalam, merasakan oksigen mengisi paru-parunya dengan rasa berani yang hampir menyakitkan. "Biarkan dia masuk ke panggungnya, Hael. Biarkan dia merasa berada di puncak dunia sebelum aku menarik lantainya."

​Pintu aula utama terbuka. Sorotan lampu kamera paparazzi meledak saat Ezra Vance melangkah masuk. Ia tampak luar biasa—setelan jas dari penjahit terbaik di Savile Row, senyum yang dilatih sempurna, dan di pergelangan tangannya, melingkar sebuah kotak pelindung transparan yang di dalamnya terdapat The Chronos Heart. Jam itu bersinar dengan pendar safir biru yang menghipnotis, detaknya yang halus terdengar lewat pengeras suara ruangan yang sengaja dipasang untuk menambah dramatisasi.

​Ezra berjalan menyusuri aula, menyalami para kolektor dari Swiss, Jepang, dan Jerman. Ia tampak seperti seorang pahlawan yang membawa pulang cawan suci. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Sora yang berdiri di tengah podium utama, didampingi oleh Hael.

​Senyum Ezra membeku sesaat, sebelum ia memaksakan sebuah seringai ramah yang licik. Ia mendekat, langkah sepatunya berbunyi ritmis di atas lantai marmer.

​"Sora," sapa Ezra, suaranya tetap hangat seperti beludru, jenis suara yang dulu selalu membuat Sora luluh. "Aku tidak menyangka kamu adalah kurator teknis untuk acara sebesar ini. Kamu benar-benar sudah melangkah jauh sejak... kejadian itu."

​Sora menatap tepat ke dalam mata Ezra. Tidak ada benci yang meledak, hanya ada kedinginan yang mematikan. "Waktu tidak pernah berhenti untuk siapa pun, Ezra. Termasuk untuk mereka yang mencoba mencurinya."

​Ezra tertawa kecil, meskipun matanya berkilat waspada. Ia melirik Hael dengan tatapan meremehkan. "Dan kamu membawa pengawal antikmu juga. Menarik. Tapi Sora, jangan biarkan ambisimu malam ini merusak reputasi yang baru saja kamu bangun. Jam ini... The Chronos Heart... adalah milik sejarah. Ia tidak suka diganggu oleh tangan-tangan amatir."

​"Aku tidak di sini sebagai amatir, Ezra," balas Sora dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh beberapa jurnalis di sekitar mereka. "Aku di sini sebagai ahli horologi independen yang dipercaya oleh Dewan Internasional untuk memverifikasi keaslian setiap komponen di dalam pameran ini. Termasuk jam yang kamu bawa itu."

​Wajah Ezra mengeras. "Verifikasi? Keluargaku sudah memilikinya selama beberapa generasi. Tidak ada yang perlu diverifikasi."

​"Benarkah?" Sora melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka. "Kalau begitu, kamu tidak keberatan jika aku melakukan uji resonansi frekuensi di depan para ahli ini, bukan? Sebagai bagian dari prosedur pembukaan. Anggap saja ini sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi keagungan keluarga Vance."

​Hael memberikan kode pada teknisi suara. Lampu aula meredup, menyisakan lampu sorot yang terpusah pada Sora dan Ezra. Para kolektor dan kurator mulai berkumpul, membentuk lingkaran yang mencekam.

​"Silakan, Ezra," tantang Sora sambil menunjuk ke arah sebuah dudukan sensor frekuensi tinggi di atas podium. "Letakkan ia di sana. Jika ia memang murni karya Vance, frekuensinya akan berada di kisaran 4 Hertz yang stabil. Tapi jika ada 'jantung' lain di dalamnya... mesin itu akan berteriak."

​Ezra ragu sejenak. Ia melirik ke arah pintu keluar, namun Vanya Elara berdiri di sana dengan wajah dingin, menghalangi jalan keluar. Terpojok oleh sorotan kamera dan tatapan para ahli dunia, Ezra tidak punya pilihan. Dengan tangan yang sedikit gemetar—sebuah detail yang tidak luput dari pengamatan Hael—ia melepas jam itu dan meletakkannya di atas sensor.

​Sora meraba kancing jasnya, mengaktifkan perangkat pemancar resonansi yang ia rakit semalam.

​Seketika, layar monitor besar di belakang mereka menunjukkan grafik gelombang suara yang kacau. Awalnya terdengar detak tik-tok yang normal. Namun, saat Sora memutar modul frekuensi di tangannya, suara itu berubah.

​Zzzzzzzzt... wengggggg...

​Sebuah suara dengungan frekuensi tinggi yang sangat murni mulai memenuhi aula. Itu bukan suara jam biasa. Itu adalah suara "nyanyian" logam yang hanya bisa dihasilkan oleh baja khusus hasil tempaan Aris Kalani.

​"Apa-apaan ini?!" seru seorang kurator senior dari Swiss. "Itu frekuensi resonansi The Infinite Spring! Tapi mesin itu seharusnya tidak ada lagi di dunia!"

​Sora menatap Ezra yang kini mulai berkeringat dingin di bawah lampu sorot. "Jelaskan pada mereka, Ezra. Kenapa jam keluarga Vance yang legendaris ini bernyanyi dengan suara mesin ayahku? Kenapa frekuensi detaknya identik dengan prototipe yang kamu katakan hangus terbakar sepuluh tahun lalu?"

​"Ini sabotase!" teriak Ezra, mencoba meraih kembali jam itu. Namun Hael dengan cepat menepis tangannya.

​"Jangan sentuh barang bukti ini, Vance," ucap Hael dengan nada dingin yang mengancam. "Sensor ini baru saja mendeteksi adanya lapisan pelindung safir buatan yang tidak ada dalam cetak biru asli Vance tahun 1920. Seseorang sengaja memasang safir itu untuk meredam getaran mesin curian di dalamnya."

​Sora mengambil mikrokamera dari sakunya dan menyorotkannya ke celah terkecil di belakang The Chronos Heart. Di layar besar, muncul sebuah angka seri yang sangat kecil, tersembunyi di balik roda gigi utama: AK-1988.

​"Aris Kalani, 1988," suara Sora bergetar karena emosi yang tertahan. "Tahun aku lahir. Ayahku mengukir ini sebagai warisan untukku. Bukan untuk dijual sebagai tiket masukmu ke dunia elit."

​Aula itu meledak dalam bisik-bisik yang riuh. Kamera jurnalis berkedip tanpa henti, menangkap wajah Ezra yang kini tampak seperti pencuri yang tertangkap basah.

​"Kamu membunuhnya, Ezra," bisik Sora, cukup pelan hanya untuk didengar oleh pria di depannya. "Kamu membakar bengkel itu bukan untuk menyelamatkanku, tapi untuk membunuh saksi dan mengambil harta ini. Sepuluh tahun aku mencintaimu, dan sepuluh tahun itu pula kamu menyembunyikan darah ayahku di pergelangan tanganmu."

​Ezra menatap Sora dengan tatapan yang kini penuh kebencian yang telanjang. "Ayahmu seorang pemimpi yang bangkrut, Sora! Dia tidak tahu cara memasarkan karyanya. Aku hanya memastikan bahwa jeniusnya tidak terbuang sia-sia! Jam ini... jam ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya diingat!"

​"Dia diingat bukan lewat jam ini, Ezra," balas Sora. "Dia diingat lewat keadilan yang akan aku tegakkan malam ini."

​Tiba-tiba, Detektif Januar dan beberapa petugas berpakaian sipil muncul dari kerumunan. Mereka membawa sebuah dokumen bersegel resmi.

​"Ezra Vance, atas nama Kepolisian Internasional dan berdasarkan bukti rekaman transaksi rahasia serta kesaksian baru dari Liora Thalassa yang kini berada dalam perlindungan saksi, Anda ditahan atas tuduhan pencurian aset intelektual, penipuan, dan keterlibatan dalam kasus pembakaran berencana yang mengakibatkan kematian Aris Kalani sepuluh tahun silam."

​Wajah Ezra pucat pasi. Ia menoleh ke arah pintu, berharap ada keajaiban, namun ia melihat Liora berdiri di kejauhan, mengenakan topi lebar dan kacamata hitam, memberikan lambaian tangan kecil yang penuh kemenangan sebelum menghilang di balik bayangan.

​Sora mengambil The Chronos Heart dari sensor itu. Ia memegangnya dengan penuh penghormatan. "Waktumu sudah habis, Ezra. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, jam ini akan kembali kepada pemilik aslinya."

​Saat petugas memborgol Ezra dan membawanya keluar di bawah hujan cemoohan para kolektor, Sora merasa sebuah beban raksasa yang selama ini menindih dadanya luruh seketika. Ia terjatuh ke dalam pelukan Hael, bukan karena lemah, tapi karena ia akhirnya bisa melepaskan napas yang telah ia tahan selama satu dekade.

​"Kita melakukannya, Sora," bisik Hael sambil membelai rambutnya.

​Sora menatap jam di tangannya. Detaknya kini terasa lebih ringan, lebih jujur. "Bukan 'kita', Hael. Ayahku melakukannya. Dia hanya menungguku untuk cukup berani mendengar suaranya."

​Malam itu, di bawah langit kota yang masih menangis, sebuah keadilan lama akhirnya berdetak kembali. Dan Sora Kalani tahu, esok hari, saat ia membuka mata, waktu tidak akan lagi menjadi musuh atau penjara baginya. Waktu akan menjadi kanvas kosong yang siap ia lukis dengan detak jantungnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!