Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 14
Pelataran barak latihan pusat Eldersheath pagi itu tampak seperti lautan seragam abu-abu.
Debu beterbangan di bawah derap langkah ratusan kadet muda yang berkumpul, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dan penuh ketegangan.
Matahari musim gugur yang pucat menyinari wajah-wajah belia yang menyimpan berbagai emosi: dari ambisi yang berkobar, ketakutan yang disembunyikan, hingga keangkuhan yang terpampang nyata.
Ilwa berdiri sedikit di pinggir barisan, kopernya diletakkan di samping kaki.
Di sekelilingnya, bisikan-bisikan tajam mulai merambat seperti tanaman merambat yang beracun.
"Lihat, si 'Omni-Overlord' itu benar-benar datang," bisik seorang kadet laki-laki dengan nada mencemooh.
"Aku bertaruh dia tidak akan bertahan sampai makan malam. Lihat saja betapa pucat wajahnya," timpal yang lain sambil tertawa kecil.
"Kudengar dia menderita *Aura-Lock*. Bagaimana bisa orang cacat masuk ke barak ksatria? Ini benar-benar penghinaan bagi kita yang memiliki bakat murni."
Ilwa tidak bergeming.
Baginya, ocehan mereka tak lebih dari suara angin yang berhembus melewati celah bebatuan.
Pandangannya justru tertuju pada kerumunan di tengah pelataran.
Di sana, **Leo** berdiri dengan dikelilingi banyak pengikut. Anak-anak dari keluarga cabang berebut mencari muka, menyanjung bakat ganda yang dimiliki Leo.
"Tentu saja," batin Ilwa datar.
"Sebagai putra dari pewaris pertama Robert, Leo adalah matahari bagi mereka. Mereka berharap bisa mendapatkan sisa-sisa kehangatan dari kekuasaan yang akan ia warisi nanti."
Di sisi lain barisan, Ilwa melihat seorang gadis dengan rambut pirang panjang yang diikat ekor kuda dengan sangat rapi.
Namanya adalah **Clara**. Berdasarkan informasi Martha, Clara adalah salah satu jenius dari keluarga inti selain Leo. Tatapannya dingin dan fokus, mencerminkan elemen air yang ia kuasai dalam *Sword Magic*-nya.
Clara adalah satu-satunya yang tidak ikut menggunjing, namun ia juga tidak memandang Ilwa seolah Ilwa tidak eksis di matanya.
---
Tiba-tiba, suasana yang gaduh itu terpotong oleh suara lonceng perunggu yang didentumkan satu kali.
Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Dari arah gedung utama barak, sekelompok pria berseragam militer lengkap berjalan dengan langkah yang serempak, menciptakan aura otoritas yang menekan.
Di depan mereka adalah **Aris**. Hari ini ia tidak mengenakan seragam perwira santainya, melainkan pakaian instruktur taktis yang menonjolkan otot-otot lengannya. Ilwa segera mengenali pria yang menabraknya bulan lalu.
Aris berdiri di atas podium kayu yang tinggi, menatap tajam ke arah ratusan kadet di depannya.
"Selamat datang, para calon martir Eldersheath!" suara Aris menggelegar tanpa bantuan alat sihir apa pun.
"Aku adalah Aris, kepala instruktur kalian. Dan dengarkan baik-baik: training kali ini akan sangat berbeda dari apa yang pernah kalian dengar dari kakak atau orang tua kalian."
Aris menyeringai, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk banyak kadet berdiri. "Tidak ada jadwal kepulangan. Kalian akan berada di sini selama satu tahun, dua tahun, atau bahkan lima tahun. Kalian hanya akan keluar dari gerbang itu sebagai ksatria sejati, atau sebagai mayat yang gagal. Sampai kami menganggap kalian layak, barak ini adalah dunia kalian."
Desahan terkejut dan gumaman ketakutan pecah di barisan.
Namun, Aris segera melanjutkan dengan nada yang lebih serius.
"Kenapa? Karena generasi kalian adalah generasi yang lemah!" teriak Aris. "Kalian membanggakan *Jobdesk* tunggal kalian seolah itu adalah anugerah tuhan yang luar biasa. Biar kuberitahu sebuah fakta pahit: di zaman dulu, jika kau hanya memiliki satu *Jobdesk*, kau bahkan tidak layak disebut prajurit kelas dua. Di masa lalu, minimal dua *Jobdesk* adalah syarat wajib bagi setiap anak yang ingin memegang senjata."
Mendengar itu, seluruh kadet tertegun.
Leo, yang selama ini diagung-agungkan karena memiliki dua bakat, tampak tersentak. Harga dirinya terusik.
Ia mengangkat tangannya dengan tegas.
"Izin bertanya, Instruktur!" seru Leo.
"Bicara, Leo," jawab Aris.
"Jika di masa lalu dua *Jobdesk* adalah hal yang lumrah, lalu ke mana perginya kekuatan itu sekarang? Kenapa di generasi kami hal itu menjadi sangat langka?" tanya Leo dengan nada yang menuntut penjelasan.
Aris terdiam sejenak, matanya menatap langit seolah mengenang sesuatu yang kelam. "Alasannya adalah perang lima puluh tahun lalu. Perang melawan **Sang Pembawa Kehancuran, Albus**."
Ilwa yang mendengar nama lamanya disebut, merasakan sedikit kedutan di sudut matanya. Ia menajamkan pendengarannya.
"Dalam perang besar itu, Albus membantai hampir seluruh elit *Sword Magic* dan *Sword Master* yang memiliki bakat ganda. Ribuan jenius mati di tangannya hanya dalam semalam. Kehancuran yang ia bawa tidak hanya membunuh manusia, tapi seolah-olah mengutuk garis keturunan benua ini. Sejak kematiannya, entah kenapa, kapasitas mana anak-anak yang lahir semakin menyusut. Dunia ini menjadi miskin akan bakat karena kerakusan Albus yang ingin menghancurkan segalanya."
"Jadi... apakah keluarga kita kekurangan pengguna bakat ganda karena monster itu?" tanya seorang kadet lain dengan suara gemetar.
"Itu adalah fakta sejarah yang kita tanggung sekarang," jawab Aris dingin.
Di barisannya, Ilwa mengepalkan tangan hingga kukunya memutih.
"Fakta sejarah?" batinnya dengan amarah yang mendidih.
"Kalianlah yang mengepungku! Kalian yang mengirim ribuan orang untuk membunuh satu orang yang menolak menyembah dewa-dewa palsu kalian! Aku membela diri, dan sekarang kalian menyebut kematian para tentara kalian sebagai 'pembantaian jenius' dan 'kutukan'? Benar-benar narasi yang menjijikkan!"
"Aku tidak melakukan apa pun pada silsilah kalian, dasar manusia-manusia lemah! Jika kemampuan kalian menurun, itu karena kalian terlalu bergantung pada doa daripada latihan!" umpat Ilwa dalam hati.
---
Aris mengangkat tangannya untuk menenangkan suasana yang mulai emosional. "Sudah cukup sejarahnya. Aku punya tamu istimewa untuk kalian. Beliau adalah seseorang yang selamat dari era tersebut dan akan membantu kalian mengejar ketertinggalan bakat kalian."
Seorang pria tua melangkah maju ke samping Aris.
Meskipun rambut dan janggutnya sudah putih bersih, tubuhnya tampak sangat bugar dan tegap, bahkan lebih berotot daripada ksatria muda lainnya.
Ia mengenakan zirah kulit yang sudah usang namun terawat dengan sangat baik. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang besar yang terlihat sangat berat.
Visualnya mengingatkan Ilwa pada Robert, namun pria ini memiliki aura yang lebih "kasar" dan berbau medan perang yang amis. Namanya adalah **gilios**.
Pria tua itu menatap para kadet dengan mata yang tampak sangat lelah namun tajam. "Namaku gilios," ucapnya dengan suara serak yang terasa seperti gesekan batu.
"Aku tidak peduli siapa ayahmu atau seberapa kaya keluargamu. Di depanku, kalian semua hanyalah daging mentah yang harus ditempa. Jika kalian berpikir bisa bersantai karena memiliki bakat, aku sendiri yang akan mematahkan tulang kalian."
Gillion berdiri dengan tangan bersedekap, auranya yang mencekam membuat banyak kadet menundukkan kepala.
Ilwa menatap Gillion dengan seksama.
Ia tidak mengenal pria ini secara pribadi, namun ia bisa merasakan bahwa Gillion adalah tipe petarung yang bertahan hidup murni karena insting hewani.
"Latihan pertama kalian akan dimulai sepuluh menit lagi," tutup Aris sambil melirik Ilwa dengan tatapan penuh arti. "Siapkan nyawa kalian."
Ilwa menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan posisi kalung ibunya di balik seragam.
-----
Kembali masa lalu pada saat upacara jobdesk baru saja selesai, pada malam hari...
Malam itu, hutan yang mengelilingi wilayah pinggiran barak Eldersheath tampak lebih mencekam dari biasanya.
Pepohonan tua yang menjulang tinggi seolah-olah memiliki tangan-tangan panjang yang ingin menggapai langit, menghalangi cahaya bulan untuk menyentuh tanah.
Di tengah kegelapan yang pekat itu, sebuah titik cahaya kecil bergoyang mengikuti langkah kaki seorang pria.
Aris berjalan dengan tenang, tangan kanannya memegang lentera minyak yang apinya menari-nari tertiup angin malam yang dingin.
Sepatu botnya menginjak ranting kering dan dedaunan busuk, menciptakan irama monoton di tengah sunyinya hutan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh melewati semak belukar yang jarang dijamah manusia,
sebuah bayangan bangunan kayu yang kokoh akhirnya muncul di hadapannya.
Itu adalah sebuah pondok kayu tua yang tersembunyi dengan sangat baik di balik tebing batu.
Tanpa ragu, Aris melangkah maju dan mendorong pintu pondok itu dengan santai, mengabaikan sopan santun untuk mengetuk terlebih dahulu.
"Hai, Gil—"
Kalimat Aris terputus seketika.
Udara di sekitarnya mendadak membeku, dan sebuah sensasi dingin yang tajam menempel tepat di kulit lehernya.
Sebuah mata pedang yang sangat tipis namun memancarkan haus darah yang luar biasa kini berada hanya beberapa milimeter dari nadinya.
"Hai, hai... santai. Ini aku, Aris," ucap Aris dengan suara yang sedikit bergetar, namun ia tetap mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
Pemilik pedang itu, **Gilios**, menatap Aris dengan mata yang tajam dan tak bersahabat di balik kegelapan ruangan.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, Gilios menarik kembali senjatanya dengan gerakan yang sangat cepat hingga mata telanjang hampir tidak bisa mengikutinya.
Ia mendengus, lalu berbalik dan berjalan menuju perapian.
"Kau beruntung aku tidak sedang dalam suasana hati untuk memotong kepala orang hari ini, Aris," suara Gilios terdengar berat dan parau.
Aris menghela napas panjang, mengusap lehernya yang terasa dingin. "Mungkin aku memang baru saja lolos dari maut. Kau masih tetap sensitif seperti dulu, Gil."
Gilios tidak menyahut.
Ia duduk di sebuah kursi kayu besar di depan *hearth*—perapian besar yang apinya sedang berkobar pelan, menyalurkan asapnya ke cerobong batu yang menembus atap pondok. Aroma kayu pinus yang terbakar memenuhi ruangan yang dipenuhi dengan senjata-senjata tua dan berbagai peralatan latihan fisik yang berat.
Aris mengambil sebuah kursi kayu di sudut ruangan dan menyeretnya ke depan api unggun, duduk berhadapan dengan pria tua yang bugar itu. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Gilios menatap api yang menari-nari. "Sudah kubilang, aku tidak tertarik menjadi... apa sebutannya? In-instrak-tur? Apalah itu di barak barumu."
"Instruktur, Gil. Namanya instruktur," Aris membetulkan dengan nada sabar.
"Sama saja. Aku tidak tertarik melatih sekumpulan anak manja dari keluarga inti itu," ketus Gilios.
Aris tersenyum tipis. "Jadi, jika tujuanku kemari bukan untuk membujukmu soal pekerjaan itu, apakah kau mau mendengarku? Aku datang karena sebuah rasa penasaran yang sangat mengganggu pikiranku sebulan terakhir."
Gilios meliriknya sekilas. "Katakan."
"Aku ingin tahu..." Aris mencondongkan tubuhnya ke depan, bayangan api membuat wajahnya terlihat serius. "Apakah kau pernah mendengar atau tahu apa itu *Jobdesk* **Omni-Overlord**?"
Seketika itu juga, gerakan tangan Gilios yang sedang mengorek bara api terhenti. Keheningan yang sangat berat tiba-tiba jatuh di antara mereka. Gilios tidak langsung menjawab;
ia justru mengambil sebuah botol minuman keras tua, meminumnya seteguk besar, lalu menatap Aris dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Untuk apa kau menanyakan hal yang seharusnya sudah terkubur bersama mitos penciptaan dunia, Aris?" tanya Gilios dengan nada rendah.
Aris tertawa kecil, meski tawanya terdengar sedikit dipaksakan. "Aku hanya penasaran saja. Di upacara kemarin, nama itu muncul pada seorang bocah yang... yah, cukup unik."
Gilios menarik napas dalam-dalam, asap dari perapian mengepul di sekitarnya saat ia mulai berbicara.
"Dengar, Aris. *Omni-Overlord* bukanlah sekadar kelas atau bakat. Itu adalah sebuah anomali. Di masa lalu, ketika dunia masih dipenuhi dengan mana yang murni, gelar itu dikenal sebagai 'Puncak dari Segala Jalan'. Itu adalah satu-satunya *jobdesk* yang memungkinkan seseorang menguasai empat disiplin tertinggi sekaligus tanpa mengalami konflik internal mana yang akan meledakkan tubuhnya."
Gilios berhenti sejenak, wajahnya terlihat sangat serius saat ia mulai menjelaskan secara mendalam.
"Pertama, adalah **High Magician**. Ini bukan sekadar penyihir yang merapal mantra dari buku. Pemilik gelar ini mampu melakukan kendali elemen tingkat tinggi di luar tubuh secara murni. Mereka tidak butuh perantara; mereka memerintah alam semesta. Mereka bisa menciptakan badai atau memanggil meteor hanya dengan kehendak pikiran mereka, memanipulasi hukum alam seolah dunia ini adalah taman bermain mereka."
Aris mendengarkan dengan seksama, matanya tidak berkedip.
"Kedua," lanjut Gilios, "adalah **Sword Master**. Ini adalah penguatan fisik dan teknik senjata tanpa batas. Jika ksatria biasa punya limit pada otot mereka, seorang *Omni-Overlord* mampu memperkuat raga mereka hingga setara dengan mitologi raksasa. Teknik senjata mereka melampaui logika; mereka bisa membelah ruang dan waktu hanya dengan sebatang kayu. Fisik mereka adalah senjata itu sendiri."
Gilios meneguk minumannya lagi sebelum melanjutkan ke bagian yang lebih mengerikan.
"Ketiga adalah **Grand Sword Magic**. Ini adalah puncak dari penggabungan dua dunia. Penyatuan elemen ke dalam serangan senjata secara absolut. Bayangkan pedang yang tidak hanya dilapisi api, tapi pedang yang *adalah* inti matahari itu sendiri. Setiap tebasan tidak hanya memotong daging, tapi menghancurkan jiwa dan rupa lawan dengan energi elemen yang sangat padat. Tidak ada pertahanan yang bisa menahan serangan yang menggabungkan sihir penghancur dengan teknik pedang sempurna."
"Dan yang terakhir... yang paling langka," Gilios merendahkan suaranya, "adalah **Mana Architect**. Kemampuan untuk memanipulasi struktur mana pada benda mati maupun makhluk hidup. Mereka bisa melihat aliran mana di dunia ini seolah itu adalah benang-benang kain. Mereka bisa memperkuat senjata, merusak jantung sihir lawan dari dalam, atau bahkan menyusun ulang struktur mana dalam tubuh mereka sendiri untuk menyembuhkan luka yang seharusnya mematikan. Singkatnya, mereka adalah arsitek dari realitas magis."
Gilios menatap Aris dengan mata yang tampak sangat lelah. "Memiliki salah satu dari itu saja sudah menjadikanmu pahlawan. Memiliki dua menjadikannya legenda. Tapi menguasai keempatnya? Itulah arti dari *Omni-Overlord*. Penguasa dari segala hal. Seseorang yang berdiri di atas segala kelas dan disiplin. Namun..."
Gilios terdiam, api di perapian meletup kecil. "Terakhir kali gelar itu muncul secara tidak resmi adalah dalam catatan terlarang tentang masa kegelapan. Jika benar bocah yang kau bicarakan itu memiliki gelar ini... maka kau sedang melihat sebuah takdir yang bisa membangunkan kembali dewa, atau menghancurkan seluruh benua ini sekali lagi."
Aris hanya terdiam seribu bahasa.
Penjelasan panjang Gilios terasa seperti hantaman godam di dadanya.
Ia membayangkan sosok Ilwa—bocah berambut putih yang tampak lemah namun memiliki ketenangan yang mengerikan. Bayangan tentang empat kekuatan besar yang dijelaskan Gilios menari-nari di kepalanya.
Suasana pondok kayu itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara kayu yang terbakar dan napas berat Gilios.
Aris masih terpaku pada kursinya, mencoba mencerna setiap informasi tentang potensi mengerikan yang baru saja ia dengar, sementara Gilios kembali menatap bara api dengan pandangan kosong,
seolah ia baru saja menceritakan sebuah kiamat yang sedang menunggu waktu untuk meledak.
bersambung...