NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Racun yang Menjadi Madu

Satu jam sebelum duel maut di Panggung Hidup dan Mati, suasana di paviliun persiapan murid luar terasa mencekam. Li Chen duduk bersila di sebuah ruangan kecil yang lembap, dindingnya terbuat dari batu hitam yang dingin. Ia bisa mendengar sorak-sorai penonton di luar yang tak sabar menantikan pertumpahan darah. Bagi mereka, ini adalah hiburan; bagi Li Chen, ini adalah tangga menuju puncak.

​Tok, tok, tok.

​Pintu kayu tua itu berderit terbuka. Seorang pelayan muda, yang dulunya sering bekerja bersama Li Chen di dapur alkimia, masuk dengan kepala tertunduk. Tangannya gemetar saat ia membawa nampan berisi secangkir teh hijau yang aromanya sangat harum.

​"Li... Li Chen," bisik pelayan itu, namanya Xiao Ming. "Penatua Su mengirimkan ini untukmu. Beliau bilang, kau butuh ketenangan pikiran sebelum menghadapi Wang Hu. Teh ini adalah Teh Penenang Jiwa dari kebun pribadinya."

​Li Chen membuka matanya. Pupilnya yang berwarna gelap menatap tajam ke arah cangkir itu. Secara fisik, teh itu tampak sempurna. Uapnya membentuk pola awan yang indah, dan aromanya mampu merelaksasi saraf siapa pun yang menghirupnya.

​Namun, pusaran hitam di dalam Dantian Li Chen berputar dengan gelisah. Itu adalah insting predator.

​"Penatua Su yang mengirimnya?" tanya Li Chen datar.

​"I-iya," jawab Xiao Ming, matanya melirik ke arah pintu. "Cepatlah minum, selagi hangat. Aku harus segera kembali."

​Li Chen mengambil cangkir itu. Saat jemarinya menyentuh porselen panas, ia merasakan getaran halus dari liontin hitam di dadanya. Panas yang menyengat. Liontin itu memperingatkannya: Ada kematian di dalam cangkir ini.

​Li Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Xiao Ming merinding. "Terima kasih, Xiao Ming. Kau boleh pergi."

​Setelah pelayan itu keluar dan menutup pintu dengan tergesa-gesa, Li Chen menatap cairan hijau di tangannya. Menggunakan Seni Penelan Bintang, ia mengirimkan seutas tipis Qi hitam ke dalam teh. Seketika, warna teh yang jernih berubah menjadi ungu pekat selama satu detik sebelum kembali normal.

​" Racun Pelumpuh Meridian Sembilan Naga," suara Kaisar Pedang bergema di kepalanya, terdengar jijik. "Ini bukan dari Penatua Su. Ini adalah racun khas dari Aula Logistik milik Penatua Wang. Jika kau meminumnya, saat kau mengerahkan Qi di panggung nanti, meridianmu akan membeku dan meledak dari dalam. Kau akan mati sebagai pengecut yang terkena serangan jantung."

​Li Chen tidak membuang teh itu. Sebaliknya, ia mendekatkan cangkir itu ke bibirnya.

​"Mereka pikir mereka bisa menghentikanku dengan cara picik ini?" gumam Li Chen. "Mereka lupa... aku tidak memiliki meridian normal untuk dirusak. Bagiku, racun hanyalah energi yang salah tempat."

​Glek. Glek.

​Li Chen meminum seluruh isi cangkir itu dalam satu tegukan.

​Seketika, sensasi dingin yang mematikan meledak di perutnya. Racun itu bergerak seperti ribuan jarum es, melesat menuju jalur meridian utamanya. Jika ini adalah kultivator biasa, mereka akan langsung lumpuh. Namun, sebelum racun itu sempat menyentuh dinding organ dalamnya, pusaran hitam di Dantian Li Chen mengembang dengan rakus.

​"Telan!"

​Kabut hitam menyelimuti racun ungu tersebut. Terjadi pertempuran hebat di dalam tubuh Li Chen. Wajahnya memucat, lalu berubah menjadi ungu, hijau, dan akhirnya merah padam. Darah mulai merembes dari sudut matanya. Rasa sakitnya seperti disayat-sayat oleh pedang tumpul, namun Li Chen tetap diam, giginya terkatup rapat hingga mengeluarkan bunyi berderit.

​Seni Penelan Bintang bekerja pada kapasitas maksimal. Teknik ini tidak hanya menghancurkan racun tersebut, tetapi membedah struktur energinya. Racun Sembilan Naga terbuat dari empedu ular naga bumi dan tanaman Rumput Roh Malam—keduanya memiliki kepadatan energi yang luar biasa.

​Perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi gelombang panas yang kuat. Energi hasil olahan racun itu mengalir deras ke seluruh sel tubuh Li Chen.

​KRETEK!

​Bunyi patahan terdengar dari dalam tubuhnya. Bukan tulang yang patah, melainkan belenggu terakhir yang menahan kekuatannya.

​Tahap Kesembilan Pengumpulan Qi!

​Tidak berhenti di sana. Energi sisa dari racun itu terus membasuh sumsum tulangnya, membersihkan kotoran terakhir yang tersisa sejak ia lahir. Kulitnya memancarkan cahaya perak yang redup sebelum kembali normal. Ia kini berada di ambang ranah Pembersihan Sumsum.

​"Penatua Wang... terima kasih atas 'hadiah' ini," bisik Li Chen. Ia menyeka darah di wajahnya dengan lengan baju. Tubuhnya sekarang terasa seringan bulu, namun setiap ototnya mengandung daya ledak yang bisa menghancurkan batu besar.

​Sementara itu, di tribun VIP Panggung Hidup dan Mati, Penatua Wang duduk dengan senyum puas. Di sampingnya, Wang Hu sedang melakukan pemanasan. Wang Hu mengenakan baju zirah ringan berbahan Perak Awan yang sangat mahal, mampu menahan serangan dari ahli ranah Pembersihan Sumsum sekalipun.

​"Ingat, Hu'er," bisik Penatua Wang. "Begitu dia naik ke panggung, dia tidak akan bisa menggerakkan satu jari pun. Kau tidak perlu terburu-buru. Siksa dia perlahan. Biarkan semua orang melihat apa yang terjadi jika ada yang berani menantang keluarga Wang."

​"Tentu, Ayah," jawab Wang Hu dengan mata penuh dendam. "Aku akan memotong lidahnya terlebih dahulu agar dia tidak bisa memohon ampun."

​Gong raksasa dipukul. TENGGG!

​"Petarung, naik ke panggung!" teriak sang wasit.

​Wang Hu melompat dengan gaya yang anggun, mendarat di tengah arena batu yang luas. Penonton bersorak memuja. Lalu, dari lorong gelap, muncul Li Chen. Langkahnya lambat, kepalanya tertunduk, dan ia terlihat sedikit gemetar.

​"Lihat! Dia ketakutan!" teriak salah satu murid luar.

"Bahkan berdiri pun dia susah. Dasar sampah, kenapa dia mencari mati?"

​Penatua Wang tertawa kecil di dalam hati. Racunnya sudah bekerja. Bagus.

​Li Chen berdiri menghadap Wang Hu. Jarak mereka hanya sepuluh meter. Angin musim dingin bertiup kencang, menerbangkan jubah mereka yang kontras—si kaya yang bersinar dan si miskin yang kusam.

​"Li Chen, kau masih punya waktu untuk bersujud dan memotong tanganmu sendiri," ejek Wang Hu, menghunuskan pedang baru yang tak kalah mewah dari yang sebelumnya. "Mungkin dengan begitu, aku akan memberimu kematian yang cepat."

​Li Chen perlahan mendongak. Di bawah poni rambutnya yang berantakan, matanya tidak menunjukkan rasa sakit atau kelumpuhan. Sebaliknya, matanya bersinar dengan intensitas yang mengerikan, seperti predator yang sedang mengamati mangsa yang terlalu percaya diri.

​"Wang Hu," suara Li Chen terdengar jernih, tanpa getaran sedikit pun. "Kau tahu apa perbedaan antara pedang dan pemegangnya? Pedang tetap tajam meski berkarat, tapi pemegang yang busuk akan hancur bahkan dengan emas di tangannya."

​Wang Hu mengernyit. "Masih sombong? Matilah!"

​Wang Hu menyerang. Ia menggunakan Langkah Kilat Azure, gerakannya menciptakan bayangan kabur di udara. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Li Chen, pedangnya mengarah tepat ke tenggorokan.

​Penatua Wang sudah bersiap untuk melihat kepala Li Chen jatuh ke tanah. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat seluruh stadion terdiam.

​Li Chen tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kanannya dengan gerakan yang sangat lambat, namun entah bagaimana, ia berhasil menjepit bilah pedang Wang Hu di antara dua jarinya.

​TING!

​Bunyi denting logam bergema ke seluruh penjuru lapangan. Pedang itu berhenti total, hanya beberapa inci dari kulit Li Chen.

​"Apa?!" Wang Hu membelalakkan mata. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, tapi pedang itu seperti tertanam di dalam gunung. "Kenapa... kenapa kau bisa bergerak? Racunnya seharusnya—"

​Wang Hu langsung menutup mulutnya, menyadari bahwa ia baru saja membocorkan rahasia ayahnya.

​Li Chen menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang putih mengkilap. "Racun? Maksudmu 'minuman penambah energi' yang kau kirim tadi? Rasanya cukup enak. Berkat itu, aku merasa jauh lebih kuat sekarang."

​Mata Li Chen berubah menjadi merah gelap. Kabut hitam mulai merayap dari jari-jarinya menuju bilah pedang Wang Hu.

​"Seni Penelan Bintang: Pemutus Jiwa Logam!"

​KRAK! KRAK! KRAK!

​Pedang mewah itu mulai retak. Energi spiritual di dalamnya tersedot masuk ke dalam tubuh Li Chen seperti air yang mengalir ke lubang pembuangan. Wang Hu merasakan kekuatan hidupnya ditarik melalui gagang pedang. Ia mencoba melepaskannya, tapi tangannya seolah terpaku pada pedang itu.

​"Ayah! Tolong aku!" teriak Wang Hu dengan wajah penuh horor.

​Penatua Wang berdiri dengan panik. "Hentikan! Li Chen, kau menggunakan sihir terlarang! Wasit, hentikan duel ini!"

​Namun, Penatua Su yang duduk tak jauh darinya mendengus dingin. "Penatua Wang, ini adalah Panggung Hidup dan Mati. Aturan sekte menyatakan bahwa siapa pun yang mencampuri akan dihukum mati. Apakah Anda ingin mencoba hukum itu?"

​Penatua Wang gemetar karena amarah dan ketakutan. Ia melihat putranya mulai menyusut, wajahnya menjadi keriput dalam hitungan detik.

​Li Chen berbisik di telinga Wang Hu, cukup pelan agar hanya mereka berdua yang dengar. "Dunia ini tidak butuh sampah sepertimu, Wang Hu. Jadilah bahan bakar untuk perjalananku."

​DUARRR!

​Li Chen melepaskan ledakan energi dari telapak tangannya. Wang Hu terlempar ke udara, pedangnya hancur menjadi ribuan kepingan yang tidak lagi memiliki cahaya. Tubuhnya menghantam dinding pelindung arena dengan keras sebelum jatuh ke lantai, tak sadarkan diri dengan kultivasi yang benar-benar musnah. Dantian Wang Hu telah hancur total—ia sekarang lebih dari sekadar sampah; ia adalah cacat permanen.

​Li Chen berdiri di tengah arena, napasnya tenang. Aura di sekelilingnya meledak, menembus langit musim dingin.

​Ranah Pembersihan Sumsum Tahap Pertama!

​Seluruh murid luar tertunduk, tidak berani menatap langsung ke arah pemuda yang mereka panggil sampah tadi pagi. Di tribun, Penatua Wang meraung penuh duka dan amarah, namun Li Chen hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

​Lalu, di tengah kekacauan itu, Li Chen merasakan getaran di dalam cincin ruang yang diberikan Yue Yin. Sebuah pesan suara samar muncul di benaknya: "Gunakan kekacauan ini untuk pergi ke Perpustakaan Terlarang di bawah Aula Utama. Ada sesuatu yang kau butuhkan di sana sebelum kau meninggalkan sekte ini."

​Li Chen tahu, kemenangannya hari ini hanyalah permulaan. Ia baru saja menyatakan perang terhadap salah satu faksi terkuat di sekte ini.

​"Ujian belum selesai," gumam Li Chen sambil melihat ke arah Aula Utama yang menjulang tinggi. "Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!