NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEKERJAAN YANG TIDAK ADA DI BUKU PANDUAN KARIR

Ada satu pertanyaan yang selalu muncul di setiap pesta, setiap pertemuan keluarga, setiap kencan pertama yang — spoiler — tidak pernah berlanjut ke kencan kedua.

"Kamu kerja apa?"

Arsa Kalandra sudah mencoba berbagai versi jawaban.

Versi pertama: "Saya menulis." Ini selalu mengundang tindak lanjut yang lebih melelahkan. Oh, novel? Jurnalis? Konten kreator? Dan ia harus menjelaskan bahwa bukan, bukan itu. Sampai orang di depannya mulai terlihat bingung dengan cara yang membuat ia ingin berdiri dan pergi.

Versi kedua: "Saya bekerja di bidang dokumentasi." Ini cukup membosankan untuk menghentikan pertanyaan lebih lanjut, tapi juga membuat orang mengira ia bekerja di kantor dengan tumpukan arsip dan mesin fotokopi.

Versi ketiga — yang ia pakai sekarang, setelah enam tahun mencoba-coba — adalah yang paling jujur, paling aneh, dan paling sering diikuti dengan tatapan seperti orang yang baru saja mendengar seseorang mengaku percaya bumi datar:

"Saya merekonstruksi kehidupan orang yang sudah meninggal."

Hening.

Lalu, selalu ada satu dari dua reaksi. Yang pertama: "Oh… macam medium? Kamu bisa bicara sama arwah?" Yang kedua — lebih jarang, lebih menyenangkan — adalah saat seseorang benar-benar tertarik dan bertanya, "Maksudnya bagaimana?"

Arsa lebih suka yang kedua. Sayangnya, jenis orang itu langka.

Cara kerjanya sederhana, meski penjelasannya tidak.

Keluarga — biasanya yang baru saja kehilangan seseorang, biasanya dengan rasa sesal yang besar karena tidak sempat benar-benar mengenal orang itu — akan menghubunginya. Mereka memberikan kotak-kotak berisi foto, surat, jurnal, tiket konser lama, struk belanja yang entah kenapa disimpan, rekaman suara di ponsel lama, bahkan kertas coret-coretan di pinggiran buku. Dan Arsa akan masuk ke dalam semua itu. Ia akan mewawancarai siapapun yang pernah mengenal si almarhum — tetangga, teman SD yang sudah lama tidak bertemu, mantan kekasih yang angkat telepon dengan suara ragu. Ia akan duduk berjam-jam di kafe atau ruang tamu atau teras rumah, mendengarkan.

Lalu ia menulis.

Bukan obituari. Bukan sekadar kronologi tanggal lahir sampai tanggal mati. Ia menulis kehidupan — dengan semua kekacauannya, kontradiksinya, momen-momen kecil yang tidak ada di Wikipedia tapi justru itulah yang membuat seseorang menjadi seseorang. Cara seseorang selalu memesan kopi yang sama selama dua puluh tahun lalu tiba-tiba beralih ke teh tanpa ada penjelasan. Bagaimana ia tertawa — apakah pelan dan tertahan atau keras sampai menepuk meja. Hal-hal yang hanya diingat orang-orang yang pernah benar-benar hadir, bukan sekadar ada.

Hasilnya bisa berupa buku, bisa berupa manuskrip pribadi untuk keluarga, bisa berupa pameran kecil. Tergantung permintaan.

Pekerjaannya tidak ada di buku panduan karir mana pun. Ia menemukan jalannya sendiri ke profesi ini dengan cara yang tidak akan ia ceritakan ke siapa pun di pesta — karena cerita itu bukan tentang dirinya. Atau setidaknya, begitulah yang selalu ia katakan pada diri sendiri.

Pagi itu, Arsa duduk di meja kerjanya di apartemen lantai empat di kawasan Kemang Selatan. Meja itu selalu terlihat seperti reruntuhan yang terorganisir — tumpukan folder di kiri, dua monitor di tengah, secangkir kopi yang sudah dingin di kanan, dan di lantai, tiga kotak kardus berlabel dengan nama yang sama di semua sisinya:

KOTAK PAK WAHYU — JANGAN DIBUKA DULU (ARSA, INI SERIUS)

Tulisan terakhir dalam kurung itu ditulis oleh dirinya sendiri, tiga minggu lalu, ketika ia baru menerima proyek ini dan tahu — dengan insting yang sudah ia asah selama enam tahun — bahwa ini akan menjadi kasus yang berat.

Bukan karena Pak Wahyu adalah orang terkenal. Bukan karena keluarganya kaya atau dramatis. Tapi karena dari telepon pertama dengan kliennya — seorang perempuan bernama Ibu Sari, anak tertua Pak Wahyu — ia sudah bisa mendengar lapisan-lapisan sesal yang tidak terucap di balik setiap kalimatnya.

"Bapak saya… kami tidak terlalu dekat," kata Ibu Sari waktu itu, dengan nada yang dibuat terdengar santai tapi gagal. "Kami ingin tahu siapa beliau sebenarnya. Sebelum terlalu terlambat untuk bertanya."

Sudah terlambat, tentu saja. Pak Wahyu meninggal tiga bulan lalu, usia 71 tahun, serangan jantung mendadak di halaman belakang rumahnya, ditemukan oleh tetangga yang kebetulan melempar bola kucing yang nyangkut di pagar.

Tapi Arsa tidak pernah mengatakan itu kepada kliennya. Karena terlambat dalam pekerjaannya adalah konsep yang tidak berlaku. Kisah tidak kedaluwarsa. Kenangan yang tersimpan di kepala orang-orang yang masih hidup tidak mati bersama pemilik aslinya.

Ia menarik napas panjang, membungkuk, dan membuka kotak pertama.

Bau khas langsung menyambutnya — campuran kertas lama, sedikit kapur barus, dan sesuatu yang lembap tapi tidak tidak menyenangkan. Bau yang sudah sangat ia kenal. Bau masa lalu seseorang.

Di atas tumpukan paling atas ada amplop manila besar yang sudah kuning di pinggirnya. Arsa membukanya dengan hati-hati — bukan karena rapuh, tapi karena ia selalu memperlakukan semua benda ini seperti yang mereka sebenarnya: satu-satunya jembatan yang tersisa antara seseorang dengan dunia yang sudah ia tinggalkan.

Foto-foto. Puluhan.

Ia mengeluarkan semuanya dan menyebarkannya di meja, mengelompokkan berdasarkan era secara intuitif — ini keahlian yang ia kembangkan tanpa sadar. Dari warna foto, tekstur kertas, gaya pakaian, bahkan jenis kamera yang digunakan. Polaroid, foto cetak biasa, foto yang sudah dipindai dari film negatif.

Pak Wahyu muda terlihat berbeda dari yang ia bayangkan. Di foto paling tua — sepertinya awal delapan puluhan, judging dari kemeja bermotif kotak-kotaknya yang luar biasa — ia berdiri di depan sebuah bangunan dengan papan nama yang hampir tidak terbaca. Tersenyum. Bukan senyum formal untuk kamera. Senyum orang yang sedang bahagia dan tidak terlalu memikirkan kamera.

Seseorang yang bahagia, catat Arsa dalam kepalanya. Di titik ini. Sebelum apa yang terjadi kemudian — yang belum saya tahu.

Ia membalik foto itu. Tulisan tangan di belakang:

"Hari pertama. Akhirnya."

Dua kata yang menyimpan satu dunia. Akhirnya — setelah apa? Berapa lama ia menunggu? Apa yang ia tunggu?

Arsa meletakkan foto itu di kolom pertama — kolom yang ia beri label mental: Pertanyaan yang harus dijawab.

Ia meneruskan. Foto pernikahan — Pak Wahyu dengan perempuan yang senyumnya sama persis dengan foto yang dikirimkan Ibu Sari via email sebagai referensi. Ibu Rini, sudah meninggal 12 tahun lalu, tulis Ibu Sari di catatannya. Foto anak-anak kecil — tiga orang, dua perempuan satu laki-laki. Foto liburan di Bali, sepertinya akhir sembilan puluhan dari pakaiannya. Foto di rumah sakit yang membuat Arsa berhenti sejenak.

Di foto rumah sakit itu, Pak Wahyu duduk di kursi di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan seseorang yang terbaring — tapi sosok di ranjang itu terpotong di luar frame. Hanya tangan mereka yang terlihat. Tangan Pak Wahyu menggenggam tangan yang lebih kecil, lebih muda.

Ekspresi Pak Wahyu di foto itu adalah sesuatu yang Arsa kenali segera. Ia sudah melihat ekspresi itu ratusan kali dalam fotonya sendiri yang tidak pernah dicetak — di cermin, di pantulan jendela kereta, di mana pun ia tidak siap berhadapan dengan dirinya sendiri.

Orang yang sedang berusaha sangat keras untuk tidak hancur.

Arsa membalik foto itu.

Tidak ada tulisan.

Ia menaruhnya di kolom kedua: Inti dari segalanya.

Ponselnya bergetar. Notifikasi kalender:

14.00 — Wawancara pertama. Ibu Sari. Kafe Tikar, Cipete.

Arsa melirik jam. 12.47.

Ia menutup kotak dengan perlahan, seperti menutup sesuatu yang masih bernapas. Berdiri, meregangkan punggungnya yang sudah kaku dari membungkuk terlalu lama, dan berjalan ke dapur untuk menuang kopi baru — kopinya yang keempat hari itu, tapi siapa yang menghitung.

Di luar jendela, Jakarta sudah mulai mempersiapkan diri untuk hujan sore. Langit di atas gedung-gedung memiliki warna abu-abu yang spesifik itu — abu-abu yang bukan suram, tapi lebih seperti dunia sedang mengambil napas dalam-dalam sebelum sesuatu terjadi.

Arsa selalu suka itu. Momen sebelum hujan. Dunia yang sedang menunggu.

Ia tidak tahu bahwa enam kilometer dari apartemennya, di sebuah studio rekaman kecil di atas toko buku bekas di Blok M, seorang perempuan sedang duduk di depan mikrofon dengan selembar kertas di tangannya — kertas yang sudah ia baca berkali-kali sampai tepinya mulai kusut karena jari-jarinya.

Dan ia sedang mempersiapkan diri untuk membacakannya kepada jutaan orang yang tidak tahu nama aslinya.

Surat untuk seseorang bernama Langit.

Surat yang tidak pernah terkirim.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!