Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: MALAM YANG SUNYI
Langkah kaki itu tidak muncul.
Dan untuk pertama kalinya, Ardi merasa kecewa.
Tidak ada yang masuk.
Tidak ada yang melihat.
Seharusnya itu melegakan.
Seharusnya itu membuat semuanya kembali normal.
Tapi yang berubah bukan keadaan.
Yang berubah adalah keinginan Ardi.
Dia tidak takut.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada ketahuan.
Maya lebih dulu bergerak. Dia mengambil piring kotor dari meja, membawanya ke wastafel dengan tangan gemetar. Air keran menyala, terlalu keras—seperti mencoba menutupi sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.
Ardi tidak bergerak.
Matanya tidak lagi ke lorong.
Tidak lagi ke pintu.
Hanya ke Maya.
Mungkin tadi hanya bayangan.
Mungkin hanya suara rumah tua.
Atau mungkin…
tidak ada siapa pun yang datang—
karena yang seharusnya menghentikan mereka sudah gagal sejak awal.
“Maya.”
Namanya terdengar pelan. Tapi cukup untuk membuat bahu wanita itu menegang.
“Harusnya kita berhenti,” bisik Maya tanpa menoleh.
Ardi tersenyum tipis.
“Harusnya,” ulangnya.
Tapi dia melangkah mendekat.
“Kamu tidak perlu khawatir,” katanya.
“Tidak ada yang datang.”
Hening.
“Jadi tidak ada yang bisa menghentikan kita.”
Ardi menoleh. Maya berdiri di depan wastafel, punggungnya membelakangi Ardi, bahunya masih sedikit naik turun. Air terus mengalir, membasahi piring yang sudah lama bersih.
“Aku tidak khawatir,” kata Ardi. Suaranya lebih tegas dari yang dia rasakan.
Maya tidak menjawab. Dia mematikan air, mengeringkan tangan dengan handuk kecil, lalu berbalik. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Seperti air danau yang menutupi dasar yang dalam.
“Aku tidur dulu.” Maya berjalan melewati Ardi, menjaga jarak. Di ambang pintu dapur, dia berhenti. “Supnya... kalau dingin, bisa dipanasin lagi.”
Ardi tidak menjawab. Dia hanya mendengar langkah kaki Maya menaiki tangga, pelan, seperti tidak ingin mengganggu rumah yang sudah terlalu sunyi.
Dia duduk kembali di meja dapur, sendirian dengan sup yang sudah dingin dan dua cangkir kopi yang mengering. Di luar, angin malam menggoyang daun-daun pohon mangga di taman belakang.
Ardi membuka ponsel. Tidak ada pesan dari Sari. Tidak ada dari ayahnya. Dunia terasa jauh, seperti dia sedang melihatnya dari balik kaca tebal.
Dia menulis di jurnal sebelum tidur: Langkah kaki itu hanya imajinasiku. Atau mungkin aku hanya mencari alasan untuk tetap di sana, di dapur, bersamanya.
Pagi berikutnya, Ardi bangun dengan kepala berat.
Dia tidak tahu persis kapan dia tertidur. Yang dia ingat hanyalah berbaring di ranjang, mendengar suara rumah yang asing, mencoba membedakan mana suara angin dan mana suara langkah kaki yang tidak pernah datang.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan. Ardi mandi, berganti pakaian, dan turun dengan ekspektasi bahwa Maya sudah berada di dapur, seperti kemarin.
Tapi dapur kosong.
Tidak ada kopi. Tidak ada telur. Tidak ada aroma masakan. Meja masih seperti semalam: dua cangkir kotor, piring yang sudah dicuci Maya, sup dingin di panci.
Ardi membuka lemari es, mengambil air mineral, minum langsung dari botolnya. Matanya mengamati rumah yang terlalu besar untuk satu orang. Atau dua orang, pikirnya. Tapi dua orang yang tidak ingin bersama.
Dari ruang tamu, terdengar suara ponsel berdering. Bukan ponselnya.
Ardi mengikuti suara itu, menemukan ponsel Maya tergeletak di atas meja kopi, layarnya menyala dengan nama Bram.
Dia tidak berniat mengintip. Tapi matanya secara alami menangkap sepenggal pesan yang muncul di layar:
*Bram: Aku berangkat ke Surabaya lagi. Urusan mendadak. Maaf tidak bisa pamit langsung. Jaga rumah baik-baik. *
Pesan itu dikirim dua puluh menit lalu.
Ardi menoleh ke arah tangga. Maya belum turun. Mungkin dia masih tidur, atau mungkin sengaja tidak turun. Dia tidak tahu.
Dia meletakkan ponsel kembali, lalu berjalan ke pintu garasi. Mobil Bram tidak ada. Artinya, ayahnya sudah pergi sejak pagi, mungkin sebelum subuh, seperti biasa.
Seperti yang selalu dia lakukan.
Ardi berdiri di teras, menatap gerbang besi hitam yang tertutup. Rumah ini, pikirnya, selalu ditinggalkan. Dulu ibunya, lalu dia, sekarang Maya. Bram Hartono ahli dalam menciptakan ruang-ruang kosong dan mengisinya dengan kepergian.
Dia kembali ke dalam, menulis pesan singkat ke Sari: Ada rapat, nanti malam aku kabari. Lalu menyimpan ponsel.
Di tangga, Maya muncul dengan pakaian santai, rambut masih terurai, wajah tanpa riasan. Matanya sedikit sembab, seperti habis menangis atau kurang tidur.
“Pagi,” sapanya pelan.
“Pagi.” Ardi menunjuk ke ruang tamu. “Ayahmu telepon. Dia pergi ke Surabaya.”
Maya mengangguk, tanpa ekspresi terkejut. “Aku lihat pesannya.”
“Kamu tidak kaget?”
Maya berjalan menuju dapur, membuka lemari, mengeluarkan roti tawar. “Aku sudah bilang, aku sudah biasa.”
Ardi mengikutinya, berdiri di ambang pintu, menatap Maya yang menyiapkan sarapan sederhana dengan gerakan otomatis. Roti bakar, selai kacang, dua cangkir teh hangat.
“Dia selalu begitu?” Ardi bertanya. “Pergi tanpa pamit?”
Maya tidak menjawab segera. Dia mengoleskan selai di atas roti, terlalu tebal, lalu memberikannya ke Ardi. “Makan dulu.”
Ardi menerima roti itu, duduk di kursi yang kemarin. Maya duduk di seberangnya, memulai sarapan dengan hening.
Suasana berbeda dari kemarin. Tidak ada ketegangan yang menusuk, tapi juga tidak ada kenyamanan. Hanya kehampaan yang mengambang di antara mereka, seperti kabut tipis yang tidak bisa diusir.
“ART libur sampai besok,” kata Maya tiba-tiba. “Jadi hari ini... hanya kita berdua.”
Ardi mengangkat wajah. Maya tidak menatapnya, matanya tertuju pada roti di tangannya yang sudah hancur karena dipegang terlalu erat.
“Kita bisa makan malam bersama,” kata Ardi, tanpa berpikir. “Aku beli bahan makanan nanti sore.”
Maya mendongak. Matanya sedikit melebar, seperti tidak menyangka. “Kamu... tidak ke kantor?”
“Tidak ada rapat penting.”
Itu bohong. Tapi Ardi tidak peduli.
Maya tersenyum—senyum kecil yang sama seperti di jendela, yang membuat Ardi merasa ada sesuatu yang pecah di dadanya. “Baik. Aku bisa masak. Meskipun tidak enak.”
“Tidak masalah.”
Mereka menghabiskan sarapan dalam diam yang berbeda. Diam yang tidak lagi canggung, tapi juga belum bisa disebut nyaman. Diam yang seperti menunggu sesuatu terjadi.
Sore harinya, Ardi pulang dengan dua kantong plastik berisi sayuran, daging, dan ikan.
Maya sudah di dapur, mengganti celemek biru yang kemarin. Rambutnya diikat kuda poni, wajahnya segar seperti baru mandi. Ada semangat yang tidak dia tunjukkan sebelumnya.
“Wah, banyak sekali.” Maya membuka kantong plastik, mengeluarkan satu per satu bahan makanan. “Ini terlalu banyak untuk dua orang.”
“Untuk stok,” kata Ardi. “Besok ART datang, bisa dimasak lagi.”
Maya mengangguk, mulai memilah sayuran. Ardi berdiri di sampingnya, tidak tahu harus membantu apa. Di kantor, dia terbiasa mengatur puluhan orang dan memutuskan miliaran rupiah. Tapi di dapur ini, dengan wanita yang menikahi ayahnya, dia merasa canggung seperti anak kecil.
“Kamu bisa potong bawang,” kata Maya, seolah membaca pikirannya.
Ardi mengambil pisau, mulai mengupas bawang merah dengan gerakan kaku. Maya mencuri pandang, tersenyum kecil. “Kamu belum pernah masak?”
“Pernah. Dulu... waktu mama masih ada, aku sering bantu.” Ardi berhenti sebentar. Kata mama terasa asing di lidah, seperti nama yang sudah lama tidak diucapkan.
Maya tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengambil wajan, memanaskan minyak, memulai proses memasak dengan gerakan yang canggung tapi tekun.
Mereka bekerja berdampingan dalam keheningan yang perlahan berubah. Sesekali tangan mereka hampir bersentuhan saat mengambil garam atau kecap. Sesekali bahu mereka bergesekan saat berdiri terlalu dekat di depan kompor.
Tapi tidak ada yang menjauh.
Setelah satu jam, meja dapur terisi tiga piring: tumis sayur, ikan goreng, dan telur dadar yang sedikit gosong di pinggir. Maya mengatur piring dengan cermat, meletakkan nasi di dua mangkuk, dan duduk di seberang Ardi.
“Selamat makan,” katanya.
Ardi mengambil nasi, mencicipi tumis sayur. Asin, sedikit terlalu asin. Tapi hangat. Hangat seperti dulu.
“Enak,” katanya.
Maya tersenyum. Senyum yang tidak dipaksakan, yang membuat matanya menyipit dan pipinya naik sedikit. “Kamu bohong.”
“Tidak. Aku suka asin.”
Maya tertawa. Tawa pendek, hampir terbatuk, seperti tidak terbiasa. Tapi tawa itu membuat Ardi ikut tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak telepon yang menghancurkan itu, Ardi merasa rumah ini tidak sepenuhnya sunyi.
Mereka makan dengan lahap, kadang diselingi obrolan ringan tentang makanan, tentang masakan ibu masing-masing, tentang kenangan kecil yang tidak pernah mereka bagikan pada siapa pun.
“Dulu aku pengen buka galeri,” kata Maya saat makanan mulai habis. Tangannya memegang gelas air, matanya menerawang ke jendela yang gelap. “Galeri seni kecil. Tempat seniman-seniman muda bisa pamerin karya mereka.”
“Kenapa tidak jadi?”
Maya mengangkat bahu. “Banyak alasan. Uang, waktu, ketakutan.” Dia menoleh ke Ardi, tersenyum pahit. “Aku selalu punya alasan untuk tidak memulai.”
Ardi menatapnya. Di bawah lampu dapur yang redup, wajah Maya terlihat lebih muda, lebih rapuh. Ada sesuatu di matanya yang mengingatkannya pada dirinya sendiri. Pada mimpi-mimpi yang mati perlahan tanpa ada yang melihat.
“Kamu masih bisa memulai,” kata Ardi.
Maya tertawa kecil. “Sekarang? Aku sudah menikah. Punya rumah besar, suami sibuk, anak tiri yang—” Dia berhenti, menyadari kata-katanya.
Ardi menunggu.
“Anak tiri yang... baik,” selesa Maya pelan.
Keheningan jatuh di antara mereka. Ardi tahu Maya hendak mengatakan sesuatu yang lain. Mungkin membenciku, atau tidak menginginkanku di sini. Tapi dia memilih kata baik, dan itu membuat Ardi merasa aneh.
“Aku tidak sebaik itu,” kata Ardi akhirnya.
Maya tidak menjawab. Dia hanya menatap Ardi dengan mata yang tidak bisa dibaca. Lalu tangannya—tanpa sadar, tanpa rencana—bergerak di atas meja, jari-jarinya menyentuh punggung tangan Ardi.
Hanya sentuhan. Ringan, cepat, seperti daun jatuh.
Tapi Ardi merasakannya di seluruh tubuhnya.
Maya menarik tangannya, tersenyum malu. “Maaf, aku—”
“Tidak apa-apa.”
Ardi tidak tahu kenapa dia mengatakan itu. Tapi dia tidak ingin Maya minta maaf. Dia tidak ingin jarak itu kembali.
Mereka menghabiskan sisa makan malam dengan diam yang berbeda. Diam yang penuh dengan kata-kata yang tidak diucapkan. Diam yang membuat Ardi sadar bahwa dia tidak ingin malam ini berakhir.
Pukul sepuluh, mereka berdua berdiri di lorong lantai dua, di depan pintu kamar masing-masing.
Maya memegang gagang pintu kamar utama, tapi belum membukanya. Ardi berdiri beberapa langkah di belakangnya, tidak bergerak.
“Terima kasih untuk malam ini,” kata Maya tanpa menoleh. “Aku... senang tidak sendirian.”
Ardi ingin mengatakan sesuatu. Ingin mengatakan bahwa dia juga tidak ingin sendirian. Bahwa selama ini, di apartemen yang sunyi, dia selalu merasa sendiri meskipun dikelilingi orang.
Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
“Selamat malam,” katanya akhirnya.
Maya menoleh, tersenyum kecil, lalu masuk ke kamar. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang lembut.
Ardi berdiri di lorong, mendengarkan keheningan. Di balik pintu itu, Maya mungkin sedang bersiap tidur, mungkin juga tidak bisa tidur, mungkin juga memikirkan hal yang sama.
Dia masuk ke kamarnya, duduk di tepi ranjang, mengambil jurnal.
Dia bilang dia senang tidak sendirian. Aku juga. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Karena jika aku mengatakannya, itu berarti aku mengakui bahwa selama ini aku sendiri. Dan jika aku sendiri, lalu untuk apa semua ini? Perusahaan, jabatan, Sari—semua hanya topeng. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, topeng itu terasa berat.
Tangannya menyentuh punggung tanganku. Hanya sebentar. Tapi aku masih merasakannya sampai sekarang.
Ardi menutup jurnal, meletakkannya di meja. Dia mematikan lampu, berbaring di ranjang, menatap langit-langit yang gelap.
Di kamar sebelah, dia bisa membayangkan Maya juga berbaring, juga tidak bisa tidur, juga memikirkan sentuhan yang tidak seharusnya terjadi.
Ardi memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya, yang muncul bukan suara tangis Maya—
tapi senyumnya.
Senyum kecil yang membuatnya merasa…
bahwa di rumah yang selalu terasa kosong ini,
mungkin dia tidak perlu sendirian.
Dan dia tidak yakin—
apakah itu hal yang harus dia syukuri…
atau dia takuti.
Suka ceritanya? Save & like ya—lanjutannya bakal lebih dalam dari ini.