Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Black Suits
SUV hitam itu berhenti tepat di hadapan Gaby dengan suara mesin yang nyaris tak terdengar, namun kehadirannya terasa begitu mengintimidasi. Pintu belakang terbuka secara otomatis, menyingkap interior kabin yang gelap dan dingin. Di sana, duduk Emrys dengan setelan jas hitam yang sempurna, wajahnya terpahat kaku dalam kegelapan yang pekat. Matanya yang tajam menatap Gaby, memberikan aura dominasi yang membuat Emilia dan Sabrina tertahan di tempat mereka berdiri.
"Masuk," perintahnya singkat. Suaranya rendah, tidak berteriak, namun memiliki getaran otoritas yang membuat bulu kuduk berdiri.
Gaby melirik kedua sahabatnya, lalu dengan langkah berat ia masuk ke dalam "sarang" pria itu. Begitu pintu tertutup, kedap suara langsung mengisolasi mereka dari bisingnya Oxford.
"Sudah cukup bersenang-senangnya," ucap Emrys dingin sembari menaruh tabletnya ke samping. Ia tidak menoleh ke arah Gaby, namun auranya memenuhi setiap inci ruang sempit itu.
Mobil mulai melaju. Gaby mengepalkan tangannya di atas pangkuan, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya setelah aksi mematikan telepon tadi siang. Ia teringat akan malam sebelumnya, tentang bagaimana ia terbangun di ranjang yang sama dengan pria ini.
"Aku... Aku tidak ingin sekamar denganmu lagi," ucap Gaby dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas. "Aku punya kamarku sendiri, Kak. Kau tidak bisa terus-menerus mengurungku seperti semalam."
Emrys akhirnya menoleh. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Senyuman yang justru terlihat lebih menyeramkan daripada kemarahan meledak-ledak.
"Sesuai permintaanmu," jawab Emrys pelan.
Gaby sempat merasa lega sesaat, menyangka ia telah memenangkan satu poin lagi. Namun, kalimat Emrys berikutnya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Kau akan kembali ke kamarmu. Tapi jangan harap pintu itu akan terbuka tanpa izin dariku mulai detik ini. Jika kau ingin kebebasan dari kamarku, maka kau akan mendapatkan 'privasi' di kamarmu sendiri... lengkap dengan sistem pengunci biometrik yang hanya bisa diakses lewat otoritas ponselku."
Emrys mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Gaby bisa mencium aroma tobacco dan leather yang sangat maskulin.
"Kau ingin kamarmu sendiri, Gaby? Aku akan memberikannya. Tapi kau tidak akan melangkah keluar dari sana tanpa pengawasanku di setiap sudut koridor. Pilihlah, mana yang lebih kau sukai? Terkurung bersamaku, atau terkurung sendirian?"
Gaby menyandarkan punggungnya ke pintu mobil, menatap Emrys dengan tatapan nanar. Ia baru menyadari bahwa kemenangannya tadi siang hanyalah sebuah jebakan. Emrys tidak pernah mundur. Dia hanya sedang menyiapkan sangkar yang lebih besar dan lebih kuat.
Begitu SUV hitam itu berhenti di lobi privat penthouse, Gaby tidak menunggu pintu terbuka sempurna. Dengan sisa keberanian yang membuncah, ia menerjang keluar, mencoba berlari menuju lift layanan dengan harapan bisa menghilang di antara kerumunan staf. Namun, harapannya hancur seketika.
Di setiap sudut lobi, barisan pengawal bersetelan gelap sudah berdiri tegak seperti pagar betis. Belum sempat Gaby melangkah lima meter, sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya.
"Lepaskan! Kakak, lepaskan aku!" teriak Gaby, meronta sekuat tenaga.
Emrys tidak bersuara. Dengan gerakan efisien dan dingin, ia mengangkat tubuh Gaby, menyampirkan gadis itu di bahunya seolah-olah ia hanyalah barang bawaan yang tidak berdaya. Ia melangkah tenang melewati barisan pengawal yang menunduk hormat, masuk ke lift privat, dan langsung menuju lantai kamar Gaby.
Brak!
Pintu kamar Gaby terbuka lebar. Emrys menurunkan Gaby di tengah ruangan yang luas namun kini terasa menyesakkan. Sebelum Gaby sempat memprotes, Emrys merogoh tas Gaby dan mengambil ponsel milik gadis itu.
"Ini demi kebaikanmu, Gaby. Kau tidak butuh gangguan dari luar untuk merenungkan sikapmu," ucap Emrys datar. Ia melangkah keluar dan sedetik kemudian, bunyi klik elektronik yang tajam bergema. Pintu itu terkunci dari luar.
Malam harinya, suasana penthouse terasa mencekam dalam kesunyian yang elegan. Pintu kamar Gaby terbuka sejenak. Seorang pelayan wanita berdiri di sana dengan wajah tertunduk, memberi isyarat agar Gaby mengikutinya ke ruang makan.
Di ujung meja panjang, Emrys sudah menunggu. Makan malam itu berlangsung tanpa suara, hanya denting alat makan perak yang beradu dengan porselen mahal. Emrys tidak sekalipun menatap Gaby, namun tatapan matanya yang tertuju pada iPad-nya menunjukkan konsentrasi yang tak terganggu. Gaby bahkan tidak sanggup menyentuh risotto-nya. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh amarah dan kesedihan.
Begitu makan malam selesai, Emrys berdiri. Ia sendiri yang menuntun Gaby kembali ke kamarnya, seolah memastikan tidak ada satu celah pun bagi gadis itu untuk berbelok arah. Di depan pintu kamar, Emrys berhenti sejenak, menatap Gaby dengan pandangan yang sulit diartikan. Dingin, namun penuh kepemilikan.
"Tidurlah. Besok aku sendiri yang akan mengantarmu kembali ke Oxford. Jangan ada drama lagi," ucapnya sebelum menutup pintu dan menguncinya kembali secara otomatis.
Gaby terpaku di tengah kamarnya yang sunyi. Ia berjalan gontai menuju jendela balkon yang besar, menatap gemerlap lampu London dari balik kaca yang kini terkunci rapat. Bahkan sistem otomatis balkon pun telah dinonaktifkan oleh Emrys.
Gaby merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada kaca dingin itu. Ia memeluk lututnya sendiri, merasa benar-benar terisolasi. Tanpa ponsel, tanpa akses keluar, dan tanpa suara siapa pun yang bisa ia ajak bicara. Di dalam kemewahan ini, ia menyadari bahwa ia bukan lagi seorang adik sepupu yang disayangi, melainkan tawanan berharga di dalam sangkar emas milik sepupunya sendiri.
.
.
.
Pagi hari di penthouse terasa lebih dingin dari biasanya. Sinar matahari London yang pucat menembus kaca jendela, namun tidak sedikit pun menghangatkan suasana hati Gaby yang masih hancur. Begitu pintu kamarnya terbuka dengan bunyi klik elektronik yang kini sangat ia benci, seorang pelayan sudah berdiri di sana dengan sikap formal yang kaku.
"Nona Gabriella, sarapan sudah siap. Tuan Emrys sudah menunggu Anda di ruang makan," ucap pelayan itu sambil menunduk.
Gaby melangkah gontai mengikuti pelayan tersebut. Ia mengenakan setelan rok wol dan blazer yang sangat tertutup. Pilihan yang sudah disiapkan di atas tempat tidurnya pagi ini. Tidak ada lagi gaun transparan atau gaya avant-garde yang ia cintai. Emrys telah menghapus setiap inci ekspresi dirinya dalam berpakaian.
Di ruang makan, keheningan kembali menyambutnya. Emrys duduk di ujung meja, kali ini tidak memegang iPad atau koran. Ia hanya duduk tegap, menyesap kopi hitamnya dengan mata yang tertuju lurus ke arah kursi kosong di depannya.
Gaby duduk tanpa suara. Pelayan meletakkan sepiring avocado toast dan buah-buahan segar, namun Gaby hanya menatap makanan itu dengan tatapan kosong.
"Makan, Gaby. Kau butuh energi untuk kelasmu hari ini," suara Emrys memecah kesunyian. Rendah dan tidak terbantah.
"Aku tidak lapar," sahut Gaby tanpa menoleh.
Emrys meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang cukup keras di atas meja porselen. "Jangan membuatku harus memaksa menyuapimu seperti anak kecil. Kita akan berangkat sepuluh menit lagi."
Gaby akhirnya meraih garpunya, memaksakan sedikit makanan masuk ke kerongkongannya yang terasa sempit. Ia merasa seperti robot yang dikendalikan oleh remote kontrol di tangan pria di depannya.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam SUV hitam yang sama dengan semalam. Emrys benar-benar menepati ucapannya. Ia sendiri yang duduk di samping Gaby, mengantarnya ke Oxford. Selama perjalanan, Gaby hanya menatap keluar jendela, mematung saat melihat pantulan wajahnya yang polos tanpa riasan berlebih di kaca mobil.
"Mana ponselku?" tanya Gaby tiba-tiba saat mobil mulai memasuki kawasan kampus.
Emrys tidak menoleh. "Ponselmu tetap bersamaku. Kau bisa mendapatkannya kembali saat kau membuktikan bahwa kau bisa dipercaya untuk tidak menghubungi orang-orang yang tidak aku setujui."
Gaby mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Lalu bagaimana jika ada keadaan darurat? Bagaimana jika dosenku atau teman-temanku mencariku?"
"Anak buahku akan selalu berada dalam jangkauanmu. Jika ada sesuatu yang mendesak, mereka yang akan menghubungiku," jawab Emrys dingin.
SUV itu berhenti tepat di depan gedung fakultas. Sebelum Gaby keluar, Emrys memegang pergelangan tangan gadis itu, menahannya sejenak. Tatapannya menajam, seolah sedang memindai setiap pikiran di kepala Gaby.
"Ingat, Gaby. Satu gerakan salah, satu pertemuan rahasia dengan Blackwood, dan aku tidak akan segan-segan menarikmu keluar dari Oxford secara permanen. Aku tidak sedang mengancam, aku sedang memberitahumu faktanya. Mengerti?"
Gaby hanya bisa membalas dengan tatapan nanar, menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Emilia dan Sabrina sudah menunggu di depan pintu teater kuliah dengan gelisah. Begitu melihat Gaby turun dari SUV hitam yang tampak seperti tank baja, mereka segera berlari menghampiri. Namun, langkah mereka tertahan saat melihat Emrys masih duduk di dalam, menatap tajam dari balik kaca jendela yang gelap.
Begitu mobil itu meluncur pergi, Sabrina langsung menarik tangan Gaby menuju toilet wanita di lantai dasar, tempat yang menurutnya paling aman dari jangkauan telinga para pengawal yang kini kembali berjaga di koridor.
"Gaby, talk to us!" bisik Sabrina begitu mereka masuk ke dalam bilik toilet yang luas. Ia mengunci pintu utama toilet agar tidak ada mahasiswa lain yang masuk. "We’ve been texting you all night. Why didn’t you answer?"
( Kami sudah mengirimimu pesan sepanjang malam. Kenapa kamu tidak menjawab?)
Emilia memegang tangan Gaby yang sedingin es. "You look like a ghost, Gaby. And this outfit... it’s not you. What happened?"
(Kamu terlihat seperti hantu, Gaby. Dan pakaian ini... ini bukan kamu. Apa yang terjadi?)
Gaby menyandarkan punggungnya pada pintu bilik, napasnya mulai tersengal. "Dia menyita ponselku," bisik Gaby parau, air matanya hampir pecah. "Aku dikunci di kamar semalam. Dia sendiri yang mengantarku tadi. Aku... aku merasa seperti tahanan."
Sabrina menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. "He took your phone? That’s mental! This is Oxford, not a Victorian boarding school!"
(Dia mengambil ponselmu? Itu gila! Ini Oxford, bukan sekolah ber-asrama zaman Victoria!)
"He’s serious, Sab," sela Emilia dengan nada cemas. "Did you see his face earlier? Mr. Kaito looks like he’s ready to burn this campus down if Gaby disappears for even a second."
(Apa kau melihat wajahnya tadi? Pak Kaito terlihat seperti siap membakar kampus ini jika Gaby menghilang walau hanya sedetik.)
Gaby menatap bayangannya di cermin toilet. Wajahnya yang polos tanpa riasan dan setelan tweed yang kaku membuatnya merasa asing bagi dirinya sendiri. "Dia mengancam akan mengeluarkanku dari Oxford jika aku bertemu Melvin lagi secara pribadi. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak punya cara untuk menghubungi siapa pun."
Sabrina tiba-tiba merogoh tas designer-nya dan mengeluarkan sebuah ponsel lipat kecil yang tampak sangat sederhana, model lama yang tidak memiliki fitur GPS canggih.
"Take this," bisik Sabrina, menyelipkan ponsel itu ke dalam saku blazer Gaby. "It’s my burner phone for... well, emergencies. No one knows about this number, not even my brother. Use it only if you’re desperate."
( Ini adalah ponsel sekali pakai saya untuk... yah, keadaan darurat. Tidak ada yang tahu nomor ini, bahkan saudara laki-laki saya. Gunakan hanya jika kamu benar-benar putus asa.
"Sabrina, if Emrys finds that..." Emilia memperingatkan dengan wajah pucat.
"He won’t. As long as Gaby keeps it on silent and hidden," tegas Sabrina. Ia memegang kedua bahu Gaby, menatapnya dengan intens. "Listen to me, Gaby. Don’t let him break your spirit. We have the innovation project today. Focus on your work. Show him that he can lock your body, but he can’t lock your mind."
(Dia tidak akan. Selama Gaby menjaganya tetap diam dan tersembunyi. Dengarkan aku, Gaby. Jangan biarkan dia menghancurkan semangatmu. Kita ada proyek inovasi hari ini. Fokus pada pekerjaanmu. Tunjukkan padanya bahwa dia bisa mengurung tubuhmu, tapi dia tidak bisa mengurung pikiranmu.)
Gaby meraba ponsel kecil di sakunya, merasakan sedikit harapan yang mulai tumbuh di tengah keputusasaan. "Terima kasih," bisiknya.
"Now, let’s go. Before those 'Black Suits' outside start kicking the door down," ajak Sabrina sembari merapikan rambut Gaby yang sedikit berantakan.
(Sekarang, ayo pergi. Sebelum 'Jas Hitam' di luar mulai mendobrak pintu,)