Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
.
.
.
Hari-hari setelah pesta dansa keluarga Fratellion tidak berjalan seperti biasanya.
Awalnya, Bella mengira semuanya akan kembali normal. Bahwa bisikan-bisikan kecil yang ia dengar di pesta itu hanyalah riak sesaat—sesuatu yang akan menghilang seiring waktu, seperti gosip-gosip lainnya yang sering muncul dan tenggelam di kalangan society.
Tapi ia salah.
Sangat salah.
Pagi itu, ketika Bella sedang duduk di ruang tamu kecil rumahnya, dengan secangkir teh hangat di tangannya, seorang pelayan datang membawa beberapa surat undangan yang biasanya rutin ia terima setiap minggunya.
Atau… setidaknya dulu begitu.
“Ini surat-surat yang datang pagi ini, Nona,” ujar pelayan itu sopan, sambil meletakkan nampan perak di atas meja.
Bella mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Ia tidak langsung membukanya.
Sejujurnya, ia tidak terlalu bersemangat.
Entah kenapa, ada perasaan aneh sejak bangun pagi tadi. Seperti firasat buruk yang menggantung tipis di hatinya.
Tangannya bergerak pelan, mengambil satu amplop pertama.
Segel keluarga Valemont.
Biasanya, ini adalah undangan minum teh sore yang cukup menyenangkan. Lady Valemont selalu bersikap ramah padanya.
Bella membuka surat itu dengan hati-hati.
Matanya membaca baris demi baris…
Dan perlahan, alisnya mengernyit.
Bukan undangan.
Melainkan… penolakan halus.
> “Dengan sangat menyesal, kami harus membatalkan rencana pertemuan kita dalam waktu dekat…”
Bella terdiam.
Tangannya masih menggenggam kertas itu.
“…kami berharap Nona dapat memahami situasi yang ada saat ini…”
Situasi?
Bella menarik napas pelan.
Baiklah… mungkin ini hanya kebetulan.
Ia mencoba tetap tenang, lalu mengambil amplop kedua.
Segel keluarga Brixton.
Dibuka.
Dibaca.
Isi yang sama.
Penolakan.
Lebih halus, tapi… jelas.
Bella mulai merasakan sesuatu yang tidak enak.
Ia mengambil amplop ketiga.
Keempat.
Kelima.
Satu per satu.
Dan semuanya… sama.
Tidak ada satu pun undangan.
Tidak ada satu pun sapaan hangat.
Yang ada hanya alasan.
Alasan sopan.
Alasan yang dibungkus dengan kata-kata indah.
Tapi tetap saja—
Penolakan.
Bella perlahan meletakkan semua surat itu kembali ke meja.
Ruang tamu yang biasanya terasa nyaman itu tiba-tiba terasa… dingin.
Sangat dingin.
Ia menatap kosong ke arah jendela.
“Oh…”
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya.
Akhirnya… ini benar-benar terjadi.
“Ini keterlaluan!”
Suara Darwin terdengar keras begitu ia selesai membaca salah satu surat itu.
Ia berdiri di tengah ruangan, wajahnya penuh emosi yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Mereka benar-benar melakukannya?” lanjutnya dengan nada tidak percaya.
Bella hanya duduk diam di kursinya, kedua tangannya terlipat di pangkuan.
“Aku rasa… iya,” jawabnya pelan.
Darwin menghembuskan napas kasar, lalu berjalan mondar-mandir.
“Ini bukan lagi sekadar gosip, Bella. Ini sudah jadi… pengucilan!”
Bella tersenyum tipis.
Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya.
“Sepertinya begitu.”
Darwin berhenti, menatapnya.
“Kau tidak marah?”
Bella mengangkat bahu pelan.
“Untuk apa?”
“Untuk apa?!” Darwin hampir tak percaya. “Bella, mereka menjauhimu! Mereka memperlakukanmu seperti—”
“Seperti apa?” potong Bella lembut.
Darwin terdiam sejenak.
“…seperti seseorang yang harus dihindari,” jawabnya akhirnya.
Bella menunduk sedikit.
“Bukankah itu sudah jelas sejak awal?”
Darwin menghela napas panjang, lalu mendekat.
“Ini semua karena Brandon, bukan?”
Bella tidak langsung menjawab.
Tapi diamnya… sudah cukup menjelaskan.
Darwin mengepalkan tangannya.
“Aku tahu pria itu tidak akan berhenti. Tapi aku tidak menyangka dia akan sejauh ini.”
Bella menatapnya, kali ini dengan tatapan yang sedikit lebih tegas.
“Darwin… tolong jangan ikut campur.”
“Apa maksudmu jangan ikut campur?” Darwin mengerutkan kening. “Aku tidak akan diam saja melihatmu diperlakukan seperti ini.”
“Aku bisa menghadapinya.”
“Sendiri?”
“Iya.”
Darwin menatapnya lama.
Seolah mencoba mencari celah dalam keyakinan itu.
Tapi yang ia lihat hanya satu hal—
Keteguhan.
Dan mungkin… sedikit luka yang disembunyikan dengan rapi.
“…kau keras kepala,” gumamnya akhirnya.
Bella tersenyum kecil.
“Aku tahu.”
Hari itu, Bella tetap memutuskan untuk keluar.
Bukan karena ia ingin.
Tapi karena ia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang bersembunyi.
Ia masih Arabella Winston.
Dan ia tidak akan membiarkan rumor mengubah siapa dirinya.
Setidaknya… itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.
Namun, begitu ia melangkah ke jalanan utama Vincent, realitas mulai terasa.
Orang-orang masih menyapanya.
Tapi tidak seperti dulu.
Senyum mereka lebih tipis.
Tatapan mereka lebih cepat berpaling.
Dan beberapa… bahkan berbisik saat ia lewat.
Bella bisa mendengarnya.
Walaupun samar.
“…itu dia…”
“…katanya dia…”
“…dengan pria itu…”
“…memalukan…”
Langkahnya sempat terhenti.
Hanya sepersekian detik.
Lalu ia melanjutkan berjalan.
Kepalanya tetap tegak.
Seolah semua itu tidak berarti apa-apa.
Padahal… di dalam—
Semuanya terasa.
Setiap bisikan.
Setiap tatapan.
Setiap perubahan kecil yang dulu tidak pernah ia rasakan.
Bella masuk ke salah satu toko yang biasa ia kunjungi.
Dulu, pemilik toko itu selalu menyambutnya dengan hangat.
“Nona Winston! Senang sekali melihat Anda kembali!”
Tapi sekarang—
“Oh… Nona Winston.”
Nada yang berbeda.
Lebih datar.
Lebih… formal.
Bella tersenyum sopan.
“Selamat siang.”
Pemilik toko itu mengangguk, tapi tidak melanjutkan percakapan seperti biasanya.
Tidak ada obrolan ringan.
Tidak ada tawaran khusus.
Hanya… jarak.
Bella merasakan dadanya sedikit sesak.
Tapi ia tetap berjalan, melihat-lihat barang di toko itu, mencoba bertingkah seperti semuanya baik-baik saja.
Sampai akhirnya ia tak tahan lagi.
“Terima kasih,” ucapnya singkat sebelum keluar.
Dan begitu ia kembali ke jalan…
Ia berhenti.
Menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak pagi—
Bella merasa… lelah.
Di sisi lain kota Vincent…
Melvin berdiri di balkon mansionnya, memandang ke arah jalanan di kejauhan.
Tangannya memegang gelas berisi anggur, tapi ia tidak benar-benar meminumnya.
Pikirannya… tidak ada di situ.
“Apa kau sudah mendengar kabar terbaru?”
Suara itu datang dari belakang.
Melvin tidak menoleh.
“Aku mendengar banyak kabar setiap hari,” jawabnya santai.
Langkah kaki mendekat.
“Kalau begitu kau pasti tahu tentang Nona Winston.”
Baru kali ini Melvin sedikit mengalihkan pandangannya.
“Lanjutkan.”
“Dia mulai dijauhi. Undangan sosialnya ditarik. Dan rumor tentangnya… semakin buruk.”
Melvin terdiam.
Hanya sesaat.
Tapi cukup untuk membuat suasana berubah.
“Dan?” tanyanya pelan.
“Dan orang-orang mulai percaya.”
Melvin tersenyum tipis.
Tapi senyum itu… tidak hangat.
“Orang-orang selalu suka mempercayai hal-hal yang membuat mereka merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.”
Ia akhirnya menoleh.
Tatapannya dingin.
“Tapi bukan itu yang menarik.”
“Lalu apa?”
Melvin mengangkat gelasnya, menatap cairan merah di dalamnya.
“Yang menarik adalah… siapa yang memulainya.”
Senyumnya semakin tipis.
“Dan bagaimana cara menghentikannya.”
Sore itu, Bella kembali ke rumah.
Langkahnya lebih pelan dibandingkan saat ia berangkat.
Gaunnya sedikit berdebu di bagian bawah, dan ekspresinya… tidak lagi setenang pagi tadi.
Ia langsung menuju kamarnya tanpa banyak bicara.
Menutup pintu.
Dan bersandar di sana.
Untuk beberapa detik… ia hanya diam.
Lalu perlahan… tubuhnya meluncur turun hingga ia duduk di lantai.
Tangannya terangkat, menutup wajahnya.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Tidak ada air mata.
Tidak ada tangisan.
Hanya… perasaan kosong yang aneh.
“Kenapa…” bisiknya pelan.
Bukan pertanyaan untuk siapa-siapa.
Hanya… untuk dirinya sendiri.
Ia tahu ini akan terjadi.
Ia sudah mempersiapkan diri.
Tapi tetap saja—
Menghadapinya langsung… terasa berbeda.
Lebih nyata.
Lebih menyakitkan.
Dan di tengah semua itu—
Satu hal muncul di pikirannya.
Melvin.
Entah kenapa… ia teringat pria itu.
Cara ia menatapnya.
Cara ia berbicara.
Cara ia mengatakan bahwa ia tidak akan percaya pada rumor.
Bella memejamkan mata.
“Jangan…” gumamnya.
Ia tidak ingin bergantung pada pemikiran itu.
Tidak ingin berharap.
Tidak ingin…
Tapi semakin ia menolak—
Semakin jelas satu hal itu terasa.
Bahwa di tengah dunia yang mulai menjauhinya…
Ada satu orang—
Yang justru mendekat.
Dan itu…
Adalah hal paling berbahaya dari semuanya.
cerita nya keren👍👍👍