NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

​Pagi itu, suasana di rumah Davino terasa berbeda. Tidak ada lagi aroma kopi yang tenang atau suara gemericik air dari taman belakang yang damai. Sebaliknya, ada ketegangan yang menggantung di udara. Orang tua Davino, Pak Baskoro dan Ibu Ratna, baru saja mendarat di Jakarta setelah menjalani pengobatan rutin di Singapura selama beberapa bulan. Kepulangan mereka berarti satu hal bagi Davino dan Alisa: sandiwara pernikahan mereka harus naik level ke panggung yang lebih besar.

​Maura sudah lebih dulu berangkat ke rumah orang tuanya sejak subuh. Gadis itu tampak bersemangat, namun ia sempat membisikkan sesuatu pada Alisa sebelum pergi. "Kak, hati-hati ya. Mama itu detektif paling handal kalau soal perasaan Kak Vino. Jangan sampai ketahuan kalau kalian cuma... yah, tahu sendiri."

​Alisa hanya bisa menghela napas panjang. Masalahnya, hari ini ia merasa sangat tidak stabil. Perutnya kram, pinggangnya terasa pegal luar biasa, dan setiap kata yang keluar dari mulut Davino terdengar seperti tantangan duel baginya. Pre-Menstrual Syndrome (PMS) adalah musuh terburuknya saat ini.

​"Sudah siap?" tanya Davino, muncul di depan kamar dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Perban di lengannya masih ada, tersembunyi di balik kain, namun gerakannya sudah jauh lebih luwes.

​Alisa menatap Davino datar. "Kenapa kita harus menginap? Bukannya mampir makan siang saja cukup?"

​Davino mengerutkan kening. "Mama yang minta. Mereka rindu Maura, dan mereka ingin melihat menantu mereka. Hanya satu malam, Alisa. Jangan berlebihan."

​Jangan berlebihan. Dua kata itu seperti bensin yang disiramkan ke api di dalam dada Alisa. "Aku tidak berlebihan, Mas. Aku cuma lelah. Aku baru pulang shift malam kemarin, ingat?"

​Davino terdiam sejenak, mengamati wajah Alisa yang sedikit pucat namun pipinya kemerahan karena emosi. "Aku tahu kamu lelah. Kita akan banyak istirahat di sana. Ayo, mobil sudah siap."

​Perjalanan menuju kediaman keluarga Narendra di daerah Menteng terasa sangat panjang bagi Alisa. Sepanjang jalan, ia hanya menatap keluar jendela, mengabaikan usaha Davino yang sesekali mencoba mencairkan suasana dengan bertanya soal rumah sakit. Alisa merasa setiap getaran mobil membuat perutnya semakin melilit.

​Kediaman keluarga Narendra adalah sebuah rumah kolonial megah yang memancarkan aura wibawa. Begitu mobil berhenti, Maura sudah berlari keluar menyambut mereka, diikuti oleh Mama Sari yang tampak lebih segar setelah pengobatannya.

​"Davino! Alisa!" seru Mama Sari, langsung memeluk Alisa dengan hangat. "Ya ampun, menantu Mama cantik sekali."

​Alisa memaksakan senyum terbaiknya. "Apa kabar, Ma? Senang melihat Mama sudah sehat."

​"Berkat doa kalian semua, Sayang. Ayo masuk, Papa sudah menunggu di ruang makan. Kita baru saja menyiapkan makan siang spesial."

​Di meja makan, interogasi halus pun dimulai. Papa Hendra, seorang purnawirawan jenderal yang memiliki tatapan setajam elang, memperhatikan setiap gerak-gerik Davino dan Alisa. Davino, yang biasanya kaku, tampak berusaha ekstra keras. Ia sesekali mengambilkan lauk untuk Alisa atau mengusap bahu istrinya itu—tindakan yang bagi orang luar terlihat romantis, tapi bagi Alisa terasa sangat dipaksakan.

​"Jadi, Alisa," suara berat Papa Hendra memecah keheningan. "Bagaimana rasanya hidup dengan robot kaku seperti Davino? Papa harap dia tidak memperlakukanmu seperti anak buahnya di kepolisian."

​Alisa melirik Davino yang sedang mengunyah tenang. "Mas Vino... sangat disiplin, Pa. Tapi dia punya cara sendiri untuk menunjukkan perhatiannya."

​Ya, dengan cara mengirim chat singkat 'makan siang' atau 'jangan pulang malam', batin Alisa sinis.

​Setelah makan siang yang melelahkan secara mental, Mama Sari menggiring mereka ke lantai atas. "Kamar kalian sudah disiapkan. Kamar lama Davino. Mama tidak mengubah apa pun, hanya mengganti seprainya saja agar lebih nyaman untuk kalian berdua."

​Davino membuka pintu kamar itu. Aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang sudah lama mengendap menyambut mereka. Kamar itu besar, maskulin, dengan furnitur kayu gelap yang kokoh. Ada sebuah ranjang king size di tengah ruangan dengan dua nakas di sisi kanan dan kirinya.

​"Aku ada perlu dengan Papa di ruang kerja sebentar. Kamu istirahatlah dulu," kata Davino setelah meletakkan tas mereka.

​Alisa tidak menjawab. Ia langsung merebahkan diri di ranjang, memeluk perutnya yang semakin kram. Setelah pintu tertutup dan suara langkah kaki Davino menjauh, Alisa mencoba memejamkan mata. Namun, rasa pegal di punggungnya membuatnya terus berganti posisi.

​Saat ia berbalik menghadap nakas di sisi tempat tidur Davino, matanya menangkap sesuatu di balik lampu tidur. Ada sebuah laci kecil yang sedikit terbuka. Secara impulsif, rasa penasaran yang didorong oleh suasana hati yang buruk membuatnya menarik laci tersebut.

​Di dalamnya, terdapat sebuah tumpukan kecil amplop cokelat dan sebuah bingkai foto yang diletakkan tertelungkup. Tangan Alisa bergerak mengambil bingkai itu dan membaliknya.

​Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

​Di dalam foto itu, Davino tampak jauh lebih muda, mungkin sekitar awal usia dua puluhan. Ia mengenakan seragam taruna akmil, berdiri gagah dengan senyum yang... Alisa belum pernah melihat senyum seperti itu. Senyum yang sangat tulus, sangat lebar, dan matanya berbinar penuh kebahagiaan. Dan di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut sebahu terurai merangkul lengannya dengan mesra. Wanita itu tertawa, menatap Davino dengan tatapan memuja.

​Alisa membuka amplop cokelat di bawah bingkai tersebut. Isinya adalah kumpulan foto-foto lain. Davino dan wanita itu di pantai, Davino dan wanita itu saat wisuda, bahkan ada selembar foto lama di mana mereka sedang makan es krim bersama dengan noda cokelat di hidung masing-masing.

​Sarah. Nama itu muncul begitu saja di kepala Alisa. Wanita yang pernah diceritakan oleh Bi Ijah. Wanita yang membuat Davino menutup diri dari dunia selama bertahun-tahun.

​Tiba-tiba, rasa panas menjalar dari dada ke tenggorokan Alisa. Perasaan hampa yang ia rasakan kemarin saat merindukan Davino seketika berubah menjadi rasa pahit yang menyesakkan.

​Jadi ini alasannya?. Dia begitu kaku padaku karena hatinya masih tertinggal di sini? Di dalam laci ini?, batin Alisa

​Hormon PMS-nya mulai mengambil alih akal sehatnya. Ia merasa seperti orang bodoh. Selama ini, ia mulai merasa baper dengan perhatian kecil Davino, mulai merasa nyaman berada di dekat pria itu, bahkan mulai merindukannya. Ternyata, ia hanya menghuni ruang kosong yang pemilik aslinya tidak akan pernah benar-benar pergi.

​Suara pintu terbuka membuat Alisa tersentak. Davino masuk ke kamar, masih dengan ekspresi datarnya yang biasa. Ia melihat Alisa duduk di pinggir ranjang dengan tangan memegang tumpukan foto.

​Suasana seketika membeku.

​Mata Davino tertuju pada bingkai foto yang terbuka di pangkuan Alisa. Ekspresinya berubah dalam sekejap—dari datar menjadi tegang, lalu dingin.

​"Kenapa kamu menyentuh barang-barang di laci itu?" suara Davino rendah, ada nada peringatan di sana.

​Alisa mendongak. Matanya merah, bukan hanya karena marah, tapi karena menahan tangis yang entah kenapa ingin pecah. "Owh, jadi ini area terlarang? Maaf kalau aku sudah lancang menyentuh 'kuil suci' kenanganmu ini, Mas."

​Davino melangkah maju, mencoba mengambil foto itu dari tangan Alisa. "Kembalikan. Itu bukan urusanmu."

​Alisa menarik tangannya menjauh, berdiri dari ranjang dengan gerakan cepat yang membuat perutnya melilit hebat. Ia mengabaikan rasa sakit fisiknya. "Bukan urusanku? Kita ini menikah, Mas! Meskipun di atas kertas, meskipun sandiwara, aku tinggal di rumahmu, aku tidur di ranjangmu, dan aku harus berhadapan dengan orang tuamu!"

​"Alisa, jangan mulai. Kamu sedang tidak stabil," kata Davino, mencoba menenangkan suaranya meskipun matanya berkilat emosi.

​"Aku memang tidak stabil! Aku sedang PMS, perutku sakit, kepalaku pusing, dan sekarang aku harus melihat suamiku ternyata masih memuja foto mantan kekasihnya di sebelah tempat tidur!" suara Alisa naik satu oktav. "Kenapa kamu melarang saya untuk memikirkan masalaluku? Sedangkan kamu sendiri yang masih menyimpan dan memikirkan masa lalu mu Mas!. Kenapa kamu memberiku harapan dengan perhatian-perhatian kecilmu itu kalau ternyata aku cuma figuran di hidupmu?"

​Davino tertegun. Kata-kata 'memberiku harapan' itu menghantamnya tepat di ulu hati. "Aku tidak pernah bermaksud memberikan harapan palsu. Foto itu... itu masa lalu. Aku hanya lupa membuangnya."

​"Lupa membuangnya atau sengaja menyimpannya agar kamu bisa melihatnya setiap malam sebelum tidur?" Alisa melempar foto itu ke atas ranjang. Air matanya kini benar-benar jatuh. "Kamu jahat, Mas. Kamu benar-benar robot tanpa perasaan. Kamu menyeretku ke dalam hidupmu yang rumit ini, membuatku terbiasa dengan keberadaanmu."

​"Alisa, cukup!" Davino membentak, membuat Alisa terdiam sesaat karena terkejut. Davino jarang sekali meninggikan suara, setelah insiden pertengkaran mereka dulu diawal pernikahan.

​Davino mengusap wajahnya dengan kasar, frustrasi. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku rasakan. Menyimpan foto itu bukan berarti aku masih ingin bersamanya. Itu adalah pengingat tentang kegagalanku. Kamu pikir mudah bagiku untuk memulai sesuatu yang baru setelah semua itu?"

​"Kalau susah, ya jangan dimulai!" teriak Alisa. "Jangan tarik orang lain ke dalam lubang kesedihanmu! Aku bukan pengganti, Mas! Aku bukan obat pelipur lara yang bisa kamu panggil dan usir sesukamu!"

​Alisa menyambar tas kecilnya dan berjalan menuju pintu.

​"Mau ke mana kamu?" Davino menahan lengan Alisa.

​"Lepaskan!" Alisa menyentak tangan Davino dengan tenaga yang luar biasa kuat untuk ukuran wanita. "Aku mau keluar. Aku butuh udara segar. Aku tidak tahan berada di ruangan yang sama denganmu dan bayangan wanita itu!"

​"Di luar ada orang tuaku, Alisa. Kamu mau mereka curiga?"

​Alisa tertawa hambar, air matanya masih mengalir. "Bilang saja istrimu yang temperamental ini sedang ingin jalan-jalan. Bukankah itu alasan yang bagus? Kamu kan ahli dalam berbohong."

​Tanpa menunggu jawaban, Alisa keluar dari kamar, menutup pintu dengan dentuman keras yang mungkin terdengar sampai ke lantai bawah. Ia berlari menuruni tangga, mengabaikan panggilan Maura yang sedang menonton TV di ruang tengah.

​Davino berdiri terpaku di tengah kamar. Ia menatap foto Sarah yang tergeletak di atas seprai. Ia melihat senyumnya sendiri di foto itu—senyum yang memang sudah lama hilang. Namun, saat ia memikirkan Alisa yang baru saja pergi dengan mata basah, ia merasakan sebuah rasa sakit yang berbeda. Rasa sakit yang bukan berasal dari masa lalu, tapi dari masa kini.

​Ia menyadari sesuatu. Kemarahannya tadi bukan karena Alisa menyentuh foto Sarah, tapi karena ia merasa terpojok oleh kebenaran yang diucapkan Alisa. Ia memang takut. Ia takut jika ia melepaskan masa lalu sepenuhnya, ia akan menjadi rentan. Tapi dengan bersikap seperti ini, ia justru melukai wanita yang perlahan-lahan mulai ia sayangi.

​"Bodoh kamu, Vino," gumamnya pada diri sendiri.

​Ia segera mengambil kunci mobil dan berlari keluar. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang akan dikatakan orang tuanya. Ia harus menemukan Alisa. Karena di tengah emosi yang meledak-ledak tadi, Davino menyadari satu hal: ia lebih takut kehilangan Alisa yang nyata dan pemarah daripada kehilangan kenangan Sarah yang sudah mati.

​Sementara itu, Alisa berjalan cepat di trotoar Menteng yang rindang. Angin sore itu tidak membantu mendinginkan hatinya. Perutnya semakin melilit, dan ia merasa ingin pingsan, tapi harga dirinya menahannya untuk tetap berdiri tegak.

​Ia duduk di sebuah bangku taman yang sepi, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis sesenggukan. Ia benci dirinya sendiri karena merasa secemburu ini. Ia benci fakta bahwa ia sudah jatuh terlalu dalam ke dalam perangkap yang dibuat Davino.

​"Kenapa harus sekarang sih datang bulannya?" isaknya di sela tangis. "Kenapa harus ada foto itu? Kenapa dia harus ganteng banget di foto itu?"

​Dunia medis mengenal istilah perubahan suasana hati yang ekstrem saat PMS, tapi bagi Alisa, ini bukan sekadar hormon. Ini adalah momen kejujuran yang dipicu oleh rasa sakit fisik dan mental yang bertemu di satu titik. Ia merasa asing di rumah orang tua Davino, merasa asing di hidup Davino, dan yang paling menyakitkan, ia mulai merasa asing dengan perasaannya sendiri.

​Tiba-tiba, sebuah bayangan menutupi sinar matahari sore yang mulai meredup. Alisa mendongak, berharap itu bukan orang jahat.

​Itu Davino. Pria itu berdiri di depannya dengan napas yang sedikit memburu. Tidak ada mobil, sepertinya ia mengejar Alisa dengan berlari.

​Alisa segera menghapus air matanya dan membuang muka. "Pergi. Aku tidak mau bicara."

​Davino tidak pergi. Ia justru duduk di samping Alisa, memberikan jarak yang cukup agar Alisa tidak merasa terancam. Ia menyerahkan sebuah bungkusan plastik kecil yang baru ia beli dari minimarket di ujung jalan.

​"Apa ini?" tanya Alisa ketus, tanpa menoleh.

​"Kiranti dan balsem hangat. Aku ingat kamu bilang perutmu sakit," suara Davino terdengar tulus, tanpa ada sisa kedinginan yang tadi.

​Alisa tertegun. Ia menoleh perlahan, menatap bungkusan itu lalu menatap Davino. "Mas... beli ini?"

​"Tadi aku lari mencarimu, lalu lewat minimarket. Aku ingat kamu sedang... yah, sedang di fase itu. Maafkan aku soal yang tadi, Alisa."

​Alisa terdiam. Kemarahannya yang tadi meluap-luap tiba-tiba seperti balon yang kempes. Perhatian kecil ini lagi. Selalu perhatian kecil yang tidak terduga ini yang membuatnya lemah.

​"Foto itu," Davino melanjutkan, menatap lurus ke depan. "Malam ini akan aku bakar. Atau aku buang ke tempat sampah yang paling jauh. Kamu benar, tidak seharusnya aku menyimpan hantu di kamar kita. Aku hanya... aku hanya tidak terbiasa membersihkan masa lalu. Tapi melihatmu menangis seperti tadi, aku sadar hantu itu mulai menyakiti orang yang ada di depanku sekarang."

​Alisa menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis baru yang ingin muncul—kali ini bukan karena marah. "Mas... Mas beneran mau buang fotonya?"

​"Ya. Karena foto itu tidak penting lagi dibandingkan dengan wanita yang rela menungguku pulang di balkon sampai jam 11 malam dengan sup ayam hangat." Davino menoleh, menatap mata Alisa yang sembab. "Maafkan aku karena menjadi robot yang tidak peka."

​Alisa menunduk, memainkan jemarinya. "Aku juga minta maaf karena meledak-ledak. Hormonku benar-benar berantakan hari ini."

​"Aku tahu. Ayo pulang ke rumah Papa. Mama pasti khawatir. Setelah ini, kamu bisa istirahat. Aku akan memijat punggungmu kalau itu bisa membantu rasa sakitnya."

​Alisa menatap Davino tidak percaya. "Mas mau memijat punggungku? Kapten Davino Narendra mau jadi tukang pijat?"

​Davino tersenyum tipis—kali ini sebuah senyum yang nyata, meskipun tidak selebar di foto lamanya. "Hanya untuk malam ini. Dan hanya untukmu."

​Alisa merasakan jantungnya berdebar kencang. Rasa pahit tadi perlahan berubah menjadi manis yang malu-malu, hingga ia melupakan kontrak itu. Ia mengambil bungkusan dari tangan Davino. "Terima kasih, Mas."

​Malam itu, di rumah orang tua Davino, sebuah babak baru dimulai. Di bawah atap yang penuh kenangan masa lalu, Davino dan Alisa justru menemukan cara untuk membangun masa depan mereka sendiri. Tanpa foto-foto lama, tanpa bayang-bayang Sarah, hanya ada mereka berdua yang belajar untuk saling mengerti di tengah badai emosi dan rasa sakit yang ternyata, justru memperkuat ikatan di antara mereka.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!