“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUNCI RUMAH GANDA
Sisa hari Selasa setelah insiden "nota perhiasan" yang nyaris fatal itu terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca bagi Sinta. Setiap kali dia mendengar suara langkah sepatu hak tinggi Luna mendekat, jantungnya berdegup kencang hingga ke kerongkongan. Dia tidak berani menatap Jingga, dan Jingga pun tampak sibuk menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas anggaran koleksi Lumiere.
Namun, ketegangan yang sesungguhnya justru memuncak saat jam menunjukkan pukul lima sore.
Lampu-lampu di area divisi pemasaran mulai redup satu per satu saat para karyawan bersiap pulang. Sinta sedang merapikan tasnya ketika dia melihat Jingga berdiri dengan terburu-buru. Wajah pria itu tampak tegang, berkali-kali dia melirik ponselnya. Di ujung koridor, Sinta melihat Luna sedang mengobrol dengan rekan dari divisi keuangan, memunggungi meja Jingga.
Jingga merogoh saku celananya dengan gerakan yang sangat kikuk. Dia tampak sedang mencari sesuatu dengan panik. Saat itulah, sebuah benda logam terjatuh dari sakunya dan mendarat di atas karpet tipis kantor dengan bunyi klunting yang pelan namun cukup jelas di telinga Sinta yang sedang waspada.
Jingga segera membungkuk, menyambar benda itu, dan memasukkannya kembali ke saku kanan. Namun, Sinta melihatnya. Matanya yang tajam menangkap kilatan dua gantungan kunci yang sangat identik. Satu gantungan kunci berbentuk miniatur menara Eiffel—oleh-oleh dari kakek Jingga—dan satu lagi gantungan kunci kulit berwarna cokelat tua.
Sinta membeku. Itu adalah gantungan kunci rumah mereka. Apartemen unit 1205.
Masalahnya bukan pada kuncinya, melainkan pada fakta bahwa Jingga menyatukan kunci apartemen "rahasia" mereka dengan kunci rumah orang tuanya di saku yang sama. Jika Luna, yang sering merogoh saku Jingga hanya untuk mencari korek api atau permen, melihat dua kunci rumah yang berbeda di sana, tamatlah riwayat mereka.
"Jingga! Ayo, katanya mau temani aku ke butik dulu?" suara Luna memecah keheningan, dia sudah berjalan mendekat.
Jingga tersentak, wajahnya mendadak pucat. "Eh, iya, Lun. Bentar, aku... aku beresin laptop dulu."
Sinta melihat Jingga memasukkan tangannya ke saku kanan, mencoba memisahkan kedua kunci itu di dalam sana, namun gerakannya justru membuatnya terlihat sangat aneh dan gugup. Dia tampak seperti orang yang sedang menyembunyikan barang selundupan.
"Kamu kenapa sih, Jingga? Tangan kamu kenapa masuk saku terus dari tadi? Gatal?" tanya Luna, matanya menyipit penuh selidik.
"Enggak, Lun. Cuma... anu, kunci mobilnya agak nyelip," bohong Jingga, suaranya naik satu oktav.
Sinta menyadari bahwa Jingga sedang berada di ambang kehancuran akting. Pria itu tidak bisa berpikir jernih jika sudah ditekan oleh Luna. Sinta harus melakukan sesuatu, atau rahasia mereka akan terbongkar karena sepasang kunci yang saling beradu.
Sinta segera menyambar sebuah folder kosong dan berjalan cepat menghampiri mereka. "Jingga! Tunggu dulu! Ini draf vendor tadi tertinggal di meja gue. Lu harus tanda tangan sekarang, Pak Adrian minta dikirim lewat kurir malam ini juga!"
Jingga menoleh ke arah Sinta dengan tatapan berterima kasih yang sangat dalam. "Oh, iya! Duh, gue hampir lupa. Lun, bentar ya, aku tanda tangan ini dulu di meja Sinta."
"Kenapa nggak di meja kamu saja, Jingga?" tanya Luna, mengikuti mereka dengan langkah ragu.
"Meja gue berantakan banget, Lun. Nanti kertasnya kotor," sahut Jingga cepat.
Begitu sampai di meja Sinta yang posisinya agak tersembunyi dari pandangan staf lain, Sinta membentangkan folder itu lebar-lebar untuk menutupi pandangan Luna.
"Keluarin kunci apartemennya. Kasih ke gue sekarang," bisik Sinta dengan bibir yang nyaris tidak bergerak.
Jingga merogoh sakunya, tangannya masih gemetar. Di bawah tutupan folder, dia menyerahkan kunci apartemen itu ke tangan Sinta. Sinta segera memasukkannya ke dalam laci mejanya sendiri.
"Lu bener-bener ceroboh, Anjing," desis Sinta saat Jingga berpura-pura menandatangani kertas kosong di dalam folder itu.
"Gue panik, Sinting! Tadi pagi gue salah ambil celana, dan kunci itu udah ada di dalem saku ini!" balas Jingga tak kalah tajam melalui bisikan.
"Sudah selesai belum tanda tangannya?" Luna sudah berdiri tepat di samping mereka, mencoba mengintip ke dalam folder.
Sinta segera menutup folder itu dengan bunyi plak yang keras. "Sudah, Lun! Makasih ya, Jingga. Maaf mengganggu waktu kencannya."
Sinta memberikan senyum paling formal yang dia miliki. Luna hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang seolah-olah bisa membekukan air terjun.
"Ayo, Jingga. Kita sudah terlambat," ajak Luna sambil menarik lengan Jingga dengan protektif.
Jingga mengikuti Luna, namun sebelum dia benar-benar pergi, dia sempat menoleh ke arah Sinta dan memberikan isyarat mulut: "Nanti di rumah kita bahas."
Sinta menghela napas panjang saat sosok mereka menghilang di balik lift. Dia menjatuhkan dirinya ke kursi kerja, merasa tenaganya baru saja terkuras habis. Dia membuka laci mejanya dan menatap kunci apartemen itu. Benda kecil ini nyaris menghancurkan hidupnya hari ini.
Dia memutuskan untuk pulang lebih larut agar tidak berpapasan dengan mereka di parkiran. Pukul tujuh malam, Sinta baru sampai di apartemen. Dia membuka pintu dan mendapati lampu ruang tamu sudah menyala. Jingga duduk di sofa dengan wajah yang sangat muram, masih mengenakan kemeja kantornya yang sudah kusut.
"Lu udah balik?" tanya Sinta, meletakkan tasnya di meja makan.
Jingga mendongak. "Luna tadi nanya hal yang aneh di mobil."
Sinta menegang. "Nanya apa?"
"Dia nanya kenapa lu selalu muncul di saat-saat yang 'tepat' setiap kali gue lagi gugup atau ada masalah kecil di kantor. Dia bilang, seolah-olah lu itu punya radar buat tau kapan gue lagi dalam bahaya," Jingga mengusap wajahnya dengan kasar. "Dia curiga kalau kita punya rahasia yang nggak melibatkan pekerjaan, Sin."
Sinta duduk di sebelah Jingga, menjaga jarak namun tetap dalam radius bicara yang serius. "Terus lu jawab apa?"
"Gue bilang itu cuma kebetulan karena kita satu tim proyek. Tapi gue rasa Luna nggak percaya. Dia diem terus sepanjang jalan ke butik tadi," Jingga menoleh ke arah Sinta. "Sin, soal kunci tadi... makasih ya. Kalau lu nggak gercep, dia pasti liat ada dua kunci rumah yang beda di saku gue."
Sinta mendengus, mencoba menutupi rasa khawatirnya dengan ejekan. "Lu itu emang bego, Jing. Bisa-bisanya naruh kunci apartemen ini di saku yang sama sama kunci rumah nyokap lu. Lu mau pamer ke Luna kalau lu punya 'rumah cadangan'?"
"Gue tadi pagi buru-buru, Sinting! Gue nggak sempet mikir!" Jingga membela diri, namun suaranya tidak senyaring biasanya. Ada nada keletihan yang nyata di sana. "Gue ngerasa kayak buronan di kantor sendiri. Setiap langkah gue diawasi sama Luna, dan setiap kesalahan kecil lu yang harus beresin."
Sinta terdiam sejenak. Dia menatap Jingga yang tampak rapuh. "Bukan cuma lu yang ngerasa gitu. Gue juga capek, Jing. Capek pura-pura nggak kenal lu di lobi, capek liat lu mesra-mesraan sama Luna sementara gue harus jaga jarak dua meter biar nggak dikira pelakor."
"Gue tahu," bisik Jingga. "Tapi kita nggak punya pilihan lain sampai warisan itu cair, kan?"
Sinta berdiri, mengambil kunci apartemen yang tadi dia amankan dari tasnya. Dia meletakkannya di atas meja kopi dengan bunyi denting yang nyaring. "Mulai besok, kunci ini jangan pernah keluar dari tas lu. Atau lebih baik, taruh di tempat tersembunyi di tas kerja lu. Jangan pernah ditaruh di saku celana lagi."
Jingga mengambil kunci itu, menatapnya lama. "Gue kadang mikir, apa kakek emang sengaja bikin aturan 'satu divisi' ini biar kita tersiksa kayak gini?"
"Mungkin," jawab Sinta singkat. "Kakek kan emang suka liat kita berantem."
"Tapi hari ini kita nggak berantem," ucap Jingga tiba-tiba, menatap mata Sinta. "Hari ini kita malah jadi tim yang solid banget buat nipu Luna."
Sinta memalingkan wajahnya, merasa ada semburat merah yang muncul di pipinya. "Itu karena gue nggak mau warisan gue ilang, bukan karena gue mau jadi tim lu. Inget itu, Anjing."
Jingga terkekeh pelan, tawa pertama yang tulus sejak insiden di kantor tadi. "Iya, gue tau, Sinting. Lu emang mata duitan."
"Lu juga!" balas Sinta.
Malam itu, apartemen unit 1205 terasa sedikit lebih hangat. Meskipun mereka baru saja melewati badai kecurigaan di kantor, di dalam ruang privasi ini, mereka menyadari bahwa satu-satunya orang yang bisa mereka andalkan untuk menjaga rahasia ini adalah orang yang selama ini mereka anggap musuh.
Jingga berdiri dan berjalan menuju dapur. "Gue laper. Lu mau mi instan nggak?"
"Pakai telur ya? Telurnya jangan kematengan," sahut Sinta dari ruang tamu.
"Dih, pesenannya banyak banget! Masak sendiri sana!"
"Tadi siapa yang gue selametin di depan Luna? Hah?" ancam Sinta.
Jingga mendengus, namun tangannya tetap meraih dua butir telur dari kulkas. "Iya, iya, Nyonya Besar. Mi instan spesial buat penyelamat hidup gue siap dilaksanakan."
Sinta tersenyum tipis sambil menatap punggung Jingga di dapur. Kehidupan dua wajah ini memang melelahkan, tapi entah kenapa, saat mereka berada di balik pintu tertutup ini, rasa lelah itu perlahan tergantikan oleh sesuatu yang mulai terasa seperti... kenyamanan yang dipaksakan namun nyata.