NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Ketegasan dan Kewaspadaan

Sigit melempar ikatan dahan pinus kering ke tanah pekarangan. Debu mengepul tipis.

Napasnya masih memburu, tapi kakinya tak melangkah ke arah dapur yang menyebarkan aroma manis memabukkan. Pandangannya terpaku ke arah Gito.

Bahaya.

Ini sungguhan bahaya.

Otak kecil Sigit berputar liar.

Taktik wedokan iblis itu, kali ini jauh lebih mematikan dari pukulan gagang sapu.

Hanya butuh satu hari, Gito, Sinta, dan Syaiful sudah hampir luluh karena perut kenyang dan elusan palsu.

Bodoh!

Gigi Sigit bergemeretak menahan marah. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh.

"Mas! Kenapa diam saja disitu?" Seruan Gito membuyarkan kalutnya.

Bocah tujuh tahun itu berdiri di ambang pintu dapur, bibirnya basah oleh cairan hijau manis.

"Sini cepetan! Bubur kacang hijaunya enak tenan! Anget manis!"

Sigit menelan ludah paksa. Bau pandan dan santan kelapa itu memang menyiksa akal sehat.

Ia melangkah gontai mendekati amben bambu, menyambar mangkuknya, lalu meneguknya tanpa sisa dalam satu tarikan napas panjang.

Setidaknya, kalau wedokan itu mau meracuni mereka, ia akan mati dalam keadaan perut penuh bubur mewah.

"Masih ada sisa di panci, Mas. Mau tambah?"

"Gak usah. Satu mangkuk cukup." Sigit menepis pelan tangan adiknya.

"Koen kalau mau nambah, ambil sendiri. Tapi ingat pesanku. Jangan gampang percaya."

Gito menggaruk kepalanya yang gatal penuh keringat. Senyum polos masih terukir di wajah kotornya.

Ia kembali mengendap-endap masuk dapur, menenggak sisa bubur langsung dari panci gosong.

Di dalam kamar, Sukma mengamati interaksi dua bocah laki-laki itu dari balik celah tirai.

Ia mendengus geli melihat Gito yang diam-diam menyikat bersih dasar panci.

Tapi tatapan matanya melembut menatap punggung tegang Sigit.

Anak sulungnya itu punya insting jalanan yang sangat tajam.

Perisai yang ia bangun terlalu tebal untuk dihancurkan hanya dengan satu atau dua mangkuk makanan enak.

Butuh waktu. Dan Sukma punya banyak kesabaran untuk itu.

Sore itu, suasana desa mendadak ramai oleh kedatangan Kades Darman.

Pria paruh baya berseragam safari lusuh itu membawa dua karung beras dan uang tunai sepuluh ribu rupiah.

Tanggung jawab atas insiden sapi ngamuk yang nyaris merenggut nyawa Sukma.

"Sukma, iki ganti ruginya ya." Kades Darman meletakkan bungkusan uang di atas dipan bambu dengan senyum lebar.

"Pokoke kamu fokus ndang waras. Jangan mikir macam-macam lagi."

Sukma mengangguk pelan, menyembunyikan kilat gembira di matanya. Uang dan beras ini adalah modal awalnya untuk merdeka dari bayang-bayang Lasmi.

Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama.

"Mbakyu." Suara tajam Jamilah membelah udara. Wanita itu muncul di ambang pintu, membawa selembar kertas buram usang yang dilipat rapi.

Senyum sinisnya tak bisa disembunyikan. "Iki wesel bulanannya Mas Trisno. Ibu nyuruh aku nyerahin ke sampeyan."

Sukma menerima kertas itu dengan dahi berkerut. Matanya memindai rentetan angka yang tertera di sana. Lima belas ribu rupiah.

"Nenek juga titip pesen," lanjut Jamilah dengan nada menantang.

"Karena Mbakyu sekarang wes punya beras sama uang ganti rugi dewe, jatah lumbung keluarga ndak bakal dikasih lagi ke rumah ini. Pokoke urusan beras, keluarga ini ndak ada sangkut pautnya lagi sama Nenek. Kalau sampai laper, ngemis saja nang jalanan!"

Selesai melepas bom, Jamilah membalikkan badan, melenggang pergi dengan langkah ringan.

Sukma meremas wesel itu kuat-kuat. Bibirnya membentuk garis tipis yang mematikan.

Lasmi benar-benar tak pernah kehabisan akal licik.

Perempuan tua itu memotong sumber makanan anak-anaknya hanya karena jengkel.

"Dengar, anak-anak." Suara Sukma tak lagi lembut. Nada dinginnya kembali, mengembalikan memori kelam di kepala empat bocah itu.

"Mulai hari ini, kita hidup sendiri. Jangan harap ada jatah makanan dari nenek kalian lagi. Kalau mau makan, kalian harus kerja lebih keras."

Sigit mendengus kasar. Matanya menyalang penuh kebencian.

"Kerja? Buat apa? Biar uangnya Ibu ambil semua kayak biasa?"

Sukma menatap lurus ke dalam sepasang mata gelap anak sulungnya.

"Tidak. Uang dan beras ini akan kupakai untuk bertahan hidup. Kalau kalian mau makan enak kayak kemarin, turuti peraturanku."

"Peraturan apa?" potong Gito, mulai merasa takut dengan perubahan drastis ibunya.

"Pertama, kebersihan. Ibu tidak mau melihat kalian kotor dan bau lagi. Nanti sore kalian semua harus mandi. Pakai sabun. Sampai bersih." Sukma menunjuk satu per satu anak-anak itu.

"Kedua, kerjakan tugas rumah. Kalau tidak ada rotan bambu, kalian harus cari kayu kering di bukit."

Sigit menahan gerutuan di ujung lidahnya. Mandi? Mereka mandi saja tak pernah.

Sekarang disuruh pakai sabun? Sabun dari mana?

Matahari mulai condong ke barat saat Sukma menyiapkan air hangat di halaman belakang.

Empat anak itu berbaris canggung, telanjang bulat sambil memeluk tubuh kurus mereka sendiri.

Sinta menyembunyikan wajah di balik punggung Sigit, malu luar biasa. Syaiful sudah mulai menggigil.

"Sigit, Gito." Sukma menyodorkan sepotong sabun batang Cap Cuci yang berbau tajam namun bersih.

"Kalian anak laki-laki. Mandi sendiri. Gosok sampai semua daki hilang."

Sigit merenggut sabun itu dengan kasar. Ia mengguyur adiknya dan dirinya sendiri asal-asalan, menggosok tubuh sekadarnya, lalu berlari masuk ke kamar untuk memakai kembali pakaian kumal mereka.

Sukma menghela napas panjang melihat kelakuan dua jagoannya itu. Tak apa, pikirnya. Setidaknya bau keringat asam itu sedikit berkurang.

Sekarang gilirannya.

Sukma mengambil sabun, mendekati Sinta dan Syaiful yang masih mematung kedinginan.

Ia mulai menyabuni tubuh mungil Syaiful perlahan. Air matanya nyaris tumpah saat jari-jarinya merasakan tonjolan tulang rusuk balita tiga tahun itu. Sangat kurus.

"Ibu..." Syaiful meringis saat busa sabun pedih masuk ke matanya.

"Perih..."

"Tahan sebentar, Sayang." Suara Sukma melembut. Ia membilas wajah mungil itu dengan air hangat.

"Biar bersih, biar wangi."

Gantian Sinta. Gadis kecil itu menutup mata rapat-rapat saat tangan ibunya mulai menggosok leher dan punggungnya.

Ada ketakutan yang mengakar di sana, tapi juga rasa nyaman yang perlahan menyusup. Tangan ibunya tak lagi kasar seperti amplas.

Selesai memandikan mereka, Sukma mengeringkan rambut dua anak itu dengan handuk usang yang sedikit berbau apak.

Ia lalu membalurkan minyak kayu putih ke perut, dada, dan punggung mereka, memastikan hawa dingin sore tak membuat mereka masuk angin.

"Wanginya enak, Bu," bisik Sinta ragu-ragu. Gadis kecil itu mencium lengannya sendiri yang tak lagi bau amis.

Sukma tersenyum. Senyum tulus yang baru pertama kali muncul sejak ia terbangun di tubuh ini. "Tentu saja. Anak-anak Ibu harus wangi."

Di balik celah pintu kamar, Sigit dan Gito mengintip adegan itu. Hati mereka diliputi kebingungan yang teramat sangat.

Ibu memandikan Sinta dan Syaiful dengan lembut? Tanpa pukulan? Tanpa makian?

"Mas..." Gito berbisik lirih.

"Sepertinya Ibu kesurupan setan yang baik ya?"

Sigit tak menjawab. Kepalanya pusing mencerna perubahan drastis ini.

Malam harinya, rumah bata diselimuti keheningan yang tegang.

Sukma memasak sisa mi telur dan telur mata sapi, lalu membaginya ke dalam empat mangkuk. Sama persis seperti siang tadi.

Sigit menatap makanan itu dengan tatapan curiga. Ia yakin makanan ini adalah sogokan terakhir sebelum wedokan iblis ini melakukan rencana jahatnya.

"Kenapa tidak dimakan?" Suara Sukma memecah kesunyian ruang tengah.

Sigit tak menjawab. Tangannya menggenggam sendok begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Takut kuracuni?" Sukma menyodorkan mangkuk kelima yang kosong, menuangkan sedikit sisa kuah kaldu, dan meminumnya sendiri.

"Nih, aku makan juga. Biar kalian tenang."

Sinta dan Syaiful sudah makan dengan lahap, tak peduli dengan ketegangan antara ibu dan kakak sulungnya.

Gito ragu-ragu sejenak, lalu ikut menyantap bagiannya.

Perut laparnya tak bisa diajak kompromi.

Hanya Sigit yang tetap membisu. Matanya menatap tajam ke arah ibunya.

"Bu," panggil Sigit memecah keheningan yang menyesakkan itu. Suaranya dingin, tak ada sedikit pun rasa hormat.

"Ibu mau jual adik-adikku ke kota?"

Ruangan itu seketika sunyi senyap. Hanya terdengar suara dentingan sendok beradu dengan mangkuk keramik.

Gito nyaris tersedak. Sinta berhenti mengunyah, matanya membelalak lebar. Syaiful menatap kosong tanpa mengerti apa-apa.

Sukma meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap lurus ke sepasang mata kelam Sigit.

Sorot mata yang sama persis dengan Sutrisno, penuh ketegasan dan kewaspadaan.

"Dari mana kau dapat pikiran sekonyol itu?"

"Dari sikap Ibu." Sigit tak mundur. Ia justru membusungkan dada, siap menerima tamparan kapan saja.

"Ibu ndak pernah peluk Syaiful. Ibu ndak pernah ngasih baju baru buat Sinta. Ibu selalu pukul kami kalau minta makan enak. Tapi sekarang Ibu ngasih mi mahal, mandiin adik-adikku, janji ngasih kain bagus. Buat apa kalau bukan mau ngelabui orang kota biar harganya tinggi?"

Sukma menghela napas panjang. Sangat panjang. Hatinya mencelos. Betapa dalamnya luka yang ditinggalkan pemilik asli tubuh ini di dada anak-anak tak berdosa ini.

Pukulan fisik itu menyakitkan, tapi pukulan mental ini telah merusak cara mereka melihat dunia.

"Sigit," panggil Sukma lembut, tapi tegas.

"Ibu memang pernah jahat. Ibu salah. Tapi Ibu ndak bakal pernah jual kalian. Sumpah."

Sigit mendengus kasar, tak percaya. "Sumpah Ibu ndak ada harganya."

"Kalau begitu, awasi aku terus." Tantang Sukma berani.

"Jangan pernah lepas pandanganmu dariku. Kalau aku berani melangkah keluar desa bawa adik-adikmu, kau boleh teriak minta tolong ke Pak Kades, ke Carik Tejo, atau ke siapa saja. Kau bisa langsung lapor ke Koramil tempat Bapakmu."

Mata Sigit memicing. Tantangan itu terlalu berani. Wedokan ini sedang bermain api.

"Dan satu lagi," lanjut Sukma, mematahkan keraguan di benak anak sulungnya.

"Ibu kasih tahu rahasia. Uang wesel Bapak sama ganti rugi beras ini, bakal Ibu pakai buat jualan di depan balai desa minggu depan."

"Ibu butuh bantuanmu sama Gito buat ngantar kayu bakar tiap sore. Kita cari uang sama-sama. Biar ndak ada yang bisa meremehkan rumah bata ini lagi."

Sontak, seluruh mata di ruangan itu terbelalak menatap Sukma. Jualan? Ibunya? Perempuan pemalas yang bahkan enggan menyapu halaman sendiri?

Sigit menelan ludah. Rencana itu terdengar nyata. Sangat nyata. Terlalu nyata untuk sebuah kebohongan murahan.

Namun, sebelum ketegangan itu benar-benar reda, pintu depan rumah digedor dengan sangat keras.

Suara hantaman kayu itu memekakkan telinga.

"Sukma! Buka pintunya!" Suara parau seorang pria yang sangat mereka kenal menggelegar dari luar.

Suara berat yang membawa aura kematian bagi siapa saja yang berani mencari masalah dengannya.

Darah di sekujur tubuh Sukma berdesir hebat. Jantungnya berdetak liar.

Keempat bocah itu membeku di tempat. Wajah mereka sepucat kertas.

Sutrisno Priyanto.

Lelaki itu benar-benar pulang.

1
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!