NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: ARRINRA YANG BERDARAH

Lembah di bawah Gunung Ijen masih menyisakan kabut pagi saat Serena Arrinra memacu kecepatannya. Namun, semakin ia menjauh dari kesunyian gunung, udara yang ia hirup tidak lagi terasa segar. Bau belerang berganti dengan bau kemiskinan: campuran debu jalanan yang kering, got yang tersumbat, dan keputusasaan yang menguap dari desa-desa di pinggiran.

Kekaisaran Ser mencakup wilayah seluas 2.001.103 Km^2, sebuah daratan yang seharusnya melimpah dengan hasil bumi dan tambang. Namun, sepanjang perjalanannya menuju Ibukota Arrinra, mata Serena hanya menangkap pemandangan yang menyayat hati.

Ia berhenti di sebuah kedai kopi reot di pinggiran tembok besar ibukota. Serena mengenakan jubah lusuh berwarna cokelat tanah untuk menutupi pakaian ninjanya. Wajahnya tersembunyi di balik caping lebar.

"Satu gelas air putih dan sepotong singkong," ujar Serena pelan kepada pemilik kedai, seorang pria tua yang matanya tampak keruh.

"Hanya itu, Nak? Kamu terlihat lelah setelah perjalanan jauh," tanya pria tua itu sambil menyodorkan gelas plastik kusam.

"Hanya itu yang sanggup kubayar tanpa menarik perhatian, Kek," jawab Serena, matanya mengawasi dua prajurit kerajaan yang sedang memalak pedagang sayur di seberang jalan. "Kenapa kota ini terlihat begitu... mati?"

Pria tua itu menghela napas panjang, ia duduk di bangku kayu yang reyot di samping Serena. "Kamu pasti baru kembali dari tanah seberang. Arrinra bukan lagi jantung kekaisaran. Ini adalah perut yang lapar. Sejak keluarga Arrinra dibantai sepuluh tahun lalu, para menteri dan Jenderal Karsa membagi-bagi tanah ini seperti potongan daging."

"Jenderal Karsa?" Serena mengulang nama itu. Ia ingat pria itu. Dulu, Karsa adalah tangan kanan ayahnya yang paling dipercaya.

"Benar. Dia menyebut dirinya Wali Kekaisaran, tapi kerjanya hanya berpesta di atas penderitaan rakyat. Lihat jembatan di sana?" Pria tua itu menunjuk konstruksi mangkrak di kejauhan. "Pajak dipungut setiap bulan untuk membangun itu, tapi uangnya habis untuk membeli selir dan emas bagi para menteri. Rakyat yang tidak sanggup bayar? Mereka dijadikan kuli paksa atau dijebloskan ke penjara bawah tanah."

Tiba-tiba, suara bentakan keras memecah percakapan mereka.

"Heh! Tua bangka! Mana setoran mingguanmu?" seorang prajurit bertubuh gempal menggebrak meja kedai. Gelas Serena terguling, airnya membasahi meja.

Serena tetap diam, kepalanya tetap tertunduk, namun jemarinya mulai merasakan getaran statis di bawah meja.

"Ampun, Tuan. Hari ini belum ada pembeli yang datang kecuali gadis ini," jawab pemilik kedai dengan suara gemetar.

"Aku tidak peduli! Jenderal Karsa butuh tambahan dana untuk perayaan malam ini. Kalau tidak ada uang, serahkan kedai ini atau kami bakar!" prajurit itu mencabut sebilah belati dan menancapkannya ke meja kayu, tepat di samping tangan Serena.

"Tuan, tolong jangan..."

Prajurit itu tertawa kasar, menoleh ke arah Serena. "Dan kau, gadis kecil. Kenapa wajahmu disembunyikan? Jangan-jangan kau buronan?"

Tangan kasar prajurit itu meraih caping Serena. Namun, sebelum jemarinya menyentuh anyaman bambu itu, sebuah kilatan biru pucat muncul sekejap mata.

BZZZT!

Prajurit itu terpental ke belakang seolah dipukul oleh palu raksasa yang tak terlihat. Ia mengerang, memegangi tangannya yang kini mati rasa dan menghitam.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak rekannya, mencabut pedang.

Serena berdiri perlahan. Capingnya terlepas, memperlihatkan mata perak yang berkilat tajam. "Aku hanya sedang memberi pelajaran tentang tata krama."

"Penyihir! Dia menggunakan ilmu hitam! Tangkap dia!"

Kedua prajurit itu merangsek maju. Serena tidak mencabut pedangnya. Ia hanya bergerak selangkah, namun bagi mata mereka, Serena seolah-olah menghilang dan muncul kembali di belakang mereka. Dengan dua pukulan cepat ke tengkuk, kedua prajurit itu roboh tanpa sempat berteriak.

Pria tua pemilik kedai melongo. "Nak... siapa kau sebenarnya? Kau punya ilmu yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan..."

Serena menatap pria tua itu dengan tatapan sedih. "Simpan uang ini, Kek. Dan pergilah dari sini untuk beberapa hari. Malam ini, Ibukota Arrinra akan berdarah."

Ia memberikan sekeping koin emas murni dengan lambang bunga teratai—lambang asli keluarga Arrinra yang sudah dilarang selama satu dekade. Tanpa menunggu jawaban, Serena melesat pergi, menghilang di balik kerumunan kumuh menuju gerbang utama ibukota.

Masuk ke Jantung Kegelapan

Ibukota Arrinra adalah labirin kontras yang memuakkan. Di distrik luar, rakyat tidur di atas tumpukan sampah, sementara di distrik pusat, lampu-lampu kristal menyinari jalanan marmer yang hanya boleh dilewati oleh kaum bangsawan.

Serena bergerak di atas atap-atap gedung. Ia melihat istana ayahnya dari ketinggian. Di sana, di balkon utama, berdiri seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan jubah bermotif harimau emas. Jenderal Karsa.

"Lihatlah kemegahan ini, Menteri Ganda," suara Karsa terdengar sombong, terbawa angin malam menuju telinga tajam Serena.

"Benar, Jenderal," sahut seorang pria kurus dengan janggut kambing. "Rakyat mulai berbisik tentang kelaparan, tapi siapa yang peduli? Selama militer di tangan kita, suara mereka hanyalah desiran angin."

"Aku mendengar desas-desus bahwa sisa-sisa pengikut Arrinra sedang mengumpulkan kekuatan di perbatasan," ujar Karsa sambil meneguk anggur dari cawan emas.

Menteri Ganda tertawa kecil. "Biarkan saja. Mereka hanyalah tikus-tikus tua. Tanpa pemimpin, mereka tidak ada gunanya. Putri Serena sudah mati dimakan binatang buas di Gunung Ijen sepuluh tahun lalu. Tidak ada lagi yang bisa mengklaim takhta ini."

Serena yang mendengarkan dari balik bayangan menara lonceng mengepalkan tinjunya. Mati? pikirnya. Aku lebih hidup dari kalian semua.

Namun, keadaan di Arrinra lebih buruk dari yang ia bayangkan. Saat ia menyusuri lorong-lorong gelap kota menuju kuil tua tempat ia dulu sering bermain, ia menemukan sesuatu yang membuatnya merinding.

Di sebuah gang buntu, ia melihat sekumpulan orang berpakaian hitam sedang melakukan ritual. Di tengah mereka, terdapat sesajen berupa daging mentah dan simbol-simbol aneh yang digambar dengan darah.

"Wahai roh-roh kegelapan, jagalah kekuasaan kami. Berikan kami kekuatan untuk membungkam mereka yang berontak," gumam seorang dukun istana yang dikenal sebagai Penasihat Mistis Jenderal Karsa.

Serena merasakan hawa dingin yang bukan berasal dari angin malam. Ini adalah Ilmu Hitam Banaspati. Rupanya, para penguasa korup ini tidak hanya menggunakan senjata untuk menindas rakyat, tapi juga bersekutu dengan kekuatan gaib untuk menjaga stabilitas kekuasaan mereka yang busuk.

"Horor ini harus berakhir," bisik Serena pada dirinya sendiri.

Ia turun dari atap, mendarat tanpa suara tepat di tengah lingkaran ritual tersebut. Para pemuja itu tersentak.

"Siapa kau?!" teriak si dukun, matanya melotot.

"Aku adalah jawaban dari doa-doa orang yang kalian korbankan," sahut Serena. Ia mencabut pedang Raijin dari punggungnya. Bilah pedang itu tidak mengkilap seperti cermin, melainkan berwarna biru tua transparan yang di dalamnya mengalir arus listrik konstan.

"Bunuh dia! Dia mengganggu persembahan!"

Para pengawal dukun itu merangsek maju. Mereka bukan prajurit biasa; gerakan mereka kaku seperti mayat hidup, hasil dari manipulasi ilmu hitam.

Serena menarik napas dalam. Jurus Petir Langit: Lingkaran Guntur.

Ia memutar tubuhnya. Pedang Raijin menebas udara, melepaskan gelombang kejut listrik yang menghantam semua orang di lingkaran itu. BOOM! Ledakan cahaya putih menerangi gang gelap itu sesaat. Saat cahaya meredup, para pengawal itu terkapar dengan asap keluar dari mulut mereka.

Dukun itu gemetar, mencoba merapalkan mantra kutukan. "Kau... kau tidak mungkin manusia biasa... Kekuatan itu..."

"Kekuatan ini adalah murni dari alam, bukan dari darah dan nyawa manusia seperti yang kau lakukan," Serena mendekat, ujung pedangnya berada tepat di tenggorokan sang dukun. "Katakan padaku, berapa banyak menteri yang terlibat dalam ritual ini?"

"Semuanya! Semua menteri di bawah Karsa telah meminum darah sumpah!" teriak dukun itu ketakutan. "Kau tidak akan menang! Jenderal Karsa punya ribuan prajurit dan perlindungan dari iblis hutan!"

"Aku tidak butuh menang melawan iblis," ujar Serena dingin. "Aku hanya perlu menunjukkan pada rakyat bahwa iblis pun bisa mati."

Dengan satu pukulan telak ke ulu hati, Serena membuat dukun itu pingsan. Ia tidak membunuhnya, karena ia ingin orang ini menjadi saksi saat kebenaran terungkap.

Malam yang Panjang di Arrinra

Serena melanjutkan perjalanannya menyusuri ibukota. Ia melihat pasar-pasar yang tutup lebih awal karena jam malam yang ketat. Ia melihat anak-anak kecil mengais sisa makanan di belakang dapur restoran mewah para bangsawan.

Hatinya semakin hancur saat melewati Alun-alun Arrinra. Di sana, terpampang patung ayahnya yang telah dihancurkan kepalanya, digantikan dengan patung Jenderal Karsa yang memegang pedang. Di bawah patung itu, terdapat papan pengumuman:

PENGUMUMAN KERAJAAN

Pajak Gandum naik 40% mulai bulan depan.

Barangsiapa berbicara buruk tentang Wali Kekaisaran akan dihukum gantung.

"Dua juta kilometer persegi wilayah, dan kalian menjadikannya penjara raksasa," gumam Serena.

Ia berhenti di depan sebuah rumah kecil yang tampak lebih terawat di antara rumah-rumah kumuh lainnya. Itu adalah rumah rahasia milik mantan Panglima perang ayahnya yang ia harap masih setia.

Serena mengetuk pintu dengan pola khusus. Tiga ketukan cepat, dua ketukan lambat.

Pintu terbuka sedikit. Seorang pria tua dengan luka parut di wajahnya menatap curiga. "Siapa kau?"

Serena membuka cadarnya dan menunjukkan kalung emas berbentuk petir yang melingkar di lehernya. Pria itu terbelalak, matanya berkaca-kaca. Ia langsung berlutut di tanah.

"Putri... Putri Serena? Anda masih hidup?" bisik pria itu dengan suara serak.

"Bangunlah, Paman Bram. Aku tidak kembali untuk disembah," ujar Serena sambil membantunya berdiri. "Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hak rakyat."

Bram membawa Serena masuk ke dalam. Di dalam, terdapat peta besar Kekaisaran Ser. "Keadaan sudah sangat buruk, Putri. Karsa telah membagi kekaisaran menjadi kadipaten-kadipaten kecil yang dipimpin oleh para jenderalnya. Rakyat di Arrinra sudah di ambang pemberontakan, tapi mereka takut. Karsa menggunakan teror gaib dan eksekusi publik untuk membungkam mereka."

"Aku sudah melihatnya, Paman. Aku melihat ritual mereka di gang gelap tadi," kata Serena.

"Mereka menggunakan ketakutan untuk memerintah," sahut Bram. "Tapi jika ada simbol harapan... jika mereka tahu bahwa darah Arrinra masih ada, mereka akan bangkit."

Serena menatap peta itu. "Aku tidak ingin mereka bangkit hanya untuk mati dalam perang saudara. Aku ingin membersihkan istana dari dalam. Besok malam adalah pesta ulang tahun Karsa yang ke-50, kan?"

"Benar, Putri. Seluruh jenderal pengkhianat akan berkumpul di sana."

"Bagus," Serena menyarungkan pedangnya dengan mantap. "Siapkan orang-orang setiamu di luar tembok istana. Jangan menyerang sebelum kalian melihat petir menyambar menara utama istana tiga kali di langit yang cerah."

"Tapi Putri, masuk ke sana sendirian adalah bunuh diri! Ada lebih dari lima ratus penjaga elit!"

Serena tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kemarahan badai di dalamnya. "Paman lupa siapa yang melatihku selama sepuluh tahun ini. Aku bukan lagi putri yang lari ketakutan. Aku adalah badai itu sendiri."

Malam itu, Serena menghabiskan waktunya untuk bermeditasi, menghimpun seluruh energi listrik dari udara Arrinra yang pengap. Ia bisa merasakan denyut nadi kota ini—denyut nadi yang lemah, penuh luka, namun masih memiliki keinginan untuk berdetak.

Di luar sana, di jalanan Arrinra, seorang pemuda bernama Anton Firmansyah sedang mengangkut sisa-sisa bata dari proyek jembatan yang mangkrak. Ia menyeka keringat di dahinya, tidak tahu bahwa takdirnya akan segera bersilangan dengan wanita yang sedang bersiap untuk mengguncang dunia.

Serena Arrinra menatap bulan yang tertutup awan hitam. "Ayah, Ibu... lihatlah. Besok, Arrinra tidak akan lagi berdarah karena luka, tapi karena pembersihan."

Angin bertiup kencang, membawa aroma hujan yang akan datang. Seolah alam pun tahu bahwa esok hari, Kekaisaran Ser akan menyaksikan kembalinya sang pemilik petir yang sah.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!