Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Bagus Mahendra menjawab dengan nada tidak sabar, “Lahan-lahan di Tambak Lorok itu cuma bikin repot, untungnya tipis tapi perawatannya melelahkan. Begitu kontrak pengelolaan selesai, putus saja kerja samanya.”
Begitu melihat Bagus Mahendra muncul, mata Dodi langsung berbinar. Bagus Mahendra adalah taipan keuangan ternama di Jawa Tengah! Proyek elit Marina Bay merupakan salah satu portofolio investasi besarnya.
Dodi pernah beberapa kali diajak ayahnya menghadiri pertemuan bisnis dan melihat sendiri betapa berwibawanya Bagus Mahendra. Bahkan ayahnya harus membungkuk hormat saat bersulang, sementara Bagus Mahendra jarang sekali melirik mereka. Memikirkan hal itu, Dodi segera maju dengan senyum menjilat.
“Halo, Pak Bagus,” sapa Dodi.
“Siapa kamu?” Bagus Mahendra menoleh sekilas, wajahnya tampak asing.
“Saya Dodi, putra dari Pak Wijaya. Anda bisa panggil saya Dodi saja,” ujar Dodi penuh sanjung.
“Wijaya? Oh, si 'Juragan Semen' itu ya?” ujar Bagus seolah baru ingat. Panggilan itu diberikan karena ayah Dodi memang merintis bisnis dari toko bangunan kecil.
“Benar, benar, Bapak masih ingat,” kata Dodi tanpa merasa tersinggung, malah merasa sangat terhormat.
“Dulu aku sempat hadir di acara syukuran rumahmu. Tak kusangka kau sudah besar sekarang,” kata Bagus santai.
“Haha, Pak Bagus terlalu memuji. Jika tidak keberatan, bolehkah saya memanggil Anda Om Bagus?” ujar Dodi tanpa malu.
“Boleh,” jawab Bagus sambil mengangguk singkat.
“Oh ya, Om Bagus, ini pacar saya, Vina. Saya membawanya ke sini khusus untuk mengambil unit di Marina Bay,” kata Dodi sambil membusungkan dada.
“Benarkah? Bagus, anak muda harus punya selera investasi!” wajah Bagus tampak lebih ramah. “Ngomong-ngomong, Om Bagus, tadi saya dengar Anda mau menghentikan urusan di Tambak Lorok?”
“Benar. Kawasan itu tidak prospek, pemiliknya juga sering komplain masalah rob. Begitu kontrak habis, saya lepas.”
Mendengar itu, Dodi merasa mendapat dukungan besar. Ia menoleh ke arah sales tadi dengan gaya bos besar. “Kalian dengar sendiri? Om Bagus mau memutus urusan Tambak Lorok. Kenapa gembel ini belum kalian usir?”
“Mas Arga?! Mengapa Anda ada di sini?”
Pada saat itu, Bagus Mahendra akhirnya menyadari keberadaan Arga yang berdiri tak jauh dari sana. Begitu mengenali Arga, Bagus spontan memanggil dengan sebutan hormat, lalu melangkah cepat menyambutnya. Ia bahkan mengulurkan tangan lebih dulu sambil sedikit membungkukkan badan.
Manajer umum tercengang. Para sales membeku. Dodi dan Vina benar-benar tertegun! Hanya Sherly yang berdiri di samping dengan senyum penuh arti, seolah sedang menikmati adegan komedi di depannya.
Melihat Bagus Mahendra—sosok yang ayahnya saja tidak berani tatap matanya—kini bersikap begitu menjilat pada Arga, tubuh Dodi terasa lemas. Ia memanggil Bagus sebagai "Om", tapi Bagus memanggil Arga dengan sebutan "Mas" yang sangat terhormat.
Ini… bagaimana mungkin?
“Pak Bagus?” Arga menjabat tangan itu dengan ekspresi datar.
“Ada apa, Mas Arga? Anda tampak kurang berkenan,” tanya Bagus cemas.
Arga melirik sekeliling, lalu tersenyum pahit. “Jika Anda datang hendak membeli properti, lalu disebut ‘pelanggan kelas rendah’ dan diusir, apakah Anda akan senang?”
Senyum di wajah Bagus Mahendra langsung membeku. Keringat dingin mengucur di dahinya. Arga adalah "orang sakti" yang menghancurkan Joni Hartono dalam satu malam! Dan kini, orang sehebat itu dihina di wilayah kekuasaannya!
“Apa yang sebenarnya terjadi?! Jelaskan!” Bagus memanggil kepala tim sales dengan suara menggelegar.
Dengan gemetar, sang kepala tim menceritakan semuanya. Bagus Mahendra langsung murka! Ia melangkah ke depan Arga dan membungkuk dalam-dalam.
“Mas Arga, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Ini kelalaian saya dalam mendidik staf. Saya akan memecat seluruh staf yang terlibat hari ini, termasuk manajer umum. Selain itu, jika Anda butuh apa pun, saya sendiri yang akan melayani Anda sebagai bentuk permohonan maaf.”
Seorang raksasa finansial bersedia jadi pelayan pribadi! Semua orang di ruangan itu hampir pingsan mendengarnya.
Ekspresi Arga melunak. Ia mengangguk pelan. Namun, Bagus Mahendra ingin memastikan "kemarahan" Arga reda. Ia menoleh ke arah Dodi dan berteriak, “Kau pulang sekarang! Bilang pada ayahmu bahwa dia sudah menyinggung tamu kehormatanku! Jangan harap bisnismu bisa lancar di kota ini lagi! Keluar!”
Sherly melangkah mendekati Dodi sambil tersenyum tipis. “Sepertinya yang diusir seperti anjing bukan Mas Arga-ku.”
“Oh ya, siapa tadi yang bilang, ‘jangan menyinggung orang yang tidak selevel’?”
Dodi dan Vina merasakan malu yang luar biasa. Hanya dengan satu kalimat Arga, nasib keluarga mereka kini di ujung tanduk. Wajah Dodi pucat pasi, ia tak mampu memahami mengapa Bagus Mahendra begitu takut pada pemuda yang ia anggap miskin itu.
“Om Bagus, aku…” Dodi mencoba membela diri.
Bagus hendak meledak, namun Arga menahan dengan suara tenang, “Mereka pelanggan Anda, Pak Bagus. Biarkan saja mereka di sini.”
“Hmph!” Bagus mendengus dingin, melotot ke arah Dodi, lalu segera mengawal Arga dan Sherly ke area VIP dengan sangat sopan.
Para sales yang dipecat menatap Dodi dengan mata merah, seolah ingin menerkamnya karena telah membuat mereka kehilangan pekerjaan. Meski tidak diusir, Dodi dan Vina kini duduk di atas duri.
“Mas Dodi… aku malu sekali, ayo pergi!” bisik Vina manja.
Plak! Dodi justru menampar Vina karena frustrasi. “Diam! Ini semua gara-gara mulutmu!”
Dodi belum pergi karena ingin tahu apa yang sebenarnya direncanakan Arga. Dan saat itulah, suara Arga terdengar menggema dari area VIP:
“Pak Bagus, saya ingin memborong seluruh lahan dan bangunan di Kawasan Tambak Lorok.”
Boom!
Satu kalimat itu meledak bagai petir, mengguncang benak semua orang di seluruh kantor penjualan!
Semua orang—termasuk Bagus Mahendra—menatap Arga dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Seburuk apa pun kondisi Kawasan Tambak Lorok, memborong seluruh lahan dan bangunan di sana tetap membutuhkan dana yang luar biasa besar!
Melihat ekspresi Bagus yang tampak terkejut, Arga tersenyum tipis. “Ada apa, Pak Bagus? Apa Anda mengira saya tidak mampu membelinya?”
Bagus segera menggeleng dan tersenyum pahit. “Baru saja Anda memenangkan 10 miliar dari Joni Hartono. Mana mungkin Anda tidak mampu?”
Boom!
Kalimat itu menghantam pikiran Dodi seperti halilintar di siang bolong! Ia teringat pada satu sosok yang belakangan ini terus dibicarakan ayahnya dengan nada penuh kekaguman: sang pemenang besar yang mengguncang dunia finansial dalam "Pertarungan Milenium"—sang Titisan Naga!
Dodi tak pernah membayangkan bahwa Arga, teman kuliah yang dulu ia remehkan, ternyata adalah sosok legendaris yang merampas sepuluh miliar dari Joni Hartono dalam satu malam.
“Habis… benar-benar habis sekarang…” Keringat dingin seketika membanjiri tubuh Dodi.
“Pak Bagus, saya sungguh-sungguh ingin membelinya. Anda tidak akan menolak, bukan?” tanya Arga tenang.