NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Bukan Sekadar Keberuntungan

"Masa, sih?" Siman mencoba meyakinkan, walaupun ada perasaan sedikit senang dengan pujian yang Siman dengar langsung dari teman satu angkatannya. Dia meraih sekaleng minuman, dia berusaha memberanikan diri. Matanya menatap Rido.

"Sudahlah, kamu ini kayak anak kecil. Dari dulu ya memang begitu!" Rido mendengus. Ia melirik layar Siman yang menampilkan portofolio desainnya. Sebuah desain logo makanan lokal sederhana terpampang di sana, menampilkan guratan warna-warni daun. "Wah, bagus nih desainmu, Man. Logo untuk toko apa ini? Jelas banget detailnya."

"Oh, itu... itu tugas kelas, do. Toko kelontong Bu Juju," jawab Siman, tangannya bergerak cepat, memperbesar tampilan logo itu di layar. Ada rasa bangga saat orang lain memuji karyanya. Ia menatap akiknya yang kembali menghangat. Semacam dorongan, bukan? Tapi untuk apa? Untuk menunjukkan dirinya, seperti yang ia impikan dengan Murni dulu. Bukankah akalnya lebih diutamakan?

"Bu Juju? Wow. Nggak nyangka, ide seribet ini bisa dipakai untuk toko biasa seperti Bu Juju," Rido menyipitkan mata, mengamati detail guratan daun itu. "Gila, ini serius kamu sendiri yang buat? Kamu dapat idenya dari mana? Instruktur aja belum tentu dapat ide se-ori ini untuk warung kelontong."

Siman mengangguk. "Ya, serius lah. Memangnya aku bisa contekan dari mana?" Siman kembali bohong. Bahkan dirinya tidak pernah berhenti bohong dengan kemampuan akiknya ini. Namun, ia tidak mau menyombongkan diri bila dirinya telah memiliki akik yang bisa membawa semua keberuntungan ini.

Tiba-tiba, mata Rido melebar. Sebuah ekspresi kaget yang jarang Siman lihat di wajah tenang pria itu. "Man, jangan buru-buru dimatikan komputer. Kamu tunggu sebentar di sini." Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya. "Halo? Ini Bang Bimo, 'kan? Gini, Bang. Kenalanku barusan butuh desain poster event yang besok paginya udah jadi, bisa? Harganya tinggi lho ini. Anak-anak kursus yang lain belum ada yang secekatan si Siman. Dia bisa mengerjakan ini kurang dari lima jam."

Siman tercengang. Tangannya refleks menggenggam akik di saku celana. Sensasi panas menyengat, sangat intens. Itu… itu sebuah proyek. Untuknya?

Rido kembali menutup teleponnya, menatap Siman dengan mata berbinar. "Man! Keberuntunganmu datang, gila! Ini barusan kenalanku telepon, butuh desainer grafis dadakan. Kliennya seorang promotor event besar, namanya Bang Bimo. Acara musik amal di kota sebelah. Poster itu buat promosinya besok. Dan dia… butuh seseorang yang bisa kerjakan cepat dengan kualitas jempolan. Kamu tadi baru saja pamerkan idemu padanya, jadi… kamu harus coba!"

"Aku? Poster? Dalam... sehari?" Siman menelan ludah. Rasa panik mulai menyergap. Ini bukan lagi logo sederhana untuk warung kelontong. Ini proyek sungguhan, dengan promotor sungguhan! Jantungnya berdebar, bukan hanya karena ketakutan, melainkan juga kegembiraan yang membuncah. Kesempatan ini terlalu bagus untuk dilewatkan.

"Iya, cuma itu. Ini cuma desain poster, tenang aja. Harga buat desainer profesional bisa lima sampai sepuluh juta. Buat kamu, kurasa Bang Bimo bakal kasih dua sampai tiga juta, soalnya dia buru-buru," Rido meyakinkan, menepuk bahu Siman. "Mau nggak? Aku sudah berikan nomor kamu sama dia, Bang Bimo sudah meng-iya-kannya."

Siman membeku. Lima sampai sepuluh juta? Angka itu terdengar seperti mimpi. Dua sampai tiga juta saja sudah seperti surga baginya. Tapi ia baru akan beraksi jika ada keberuntungan yang mengikutinya. Apakah dirinya sendiri tidak berani? Atau ia memang perlu menggunakannya secara cuma-cuma? Itu akalnya yang Siman butuhkan.

Akiknya berdenyut lagi. Dinginnya kali ini terasa menenangkan, menepis rasa takut yang tiba-tiba muncul. Itu seperti suara Murni yang selalu bilang, "Kamu bisa!" Atau Bapaknya yang sudah berkata padanya untuk tidak menyerah. Siman akhirnya tahu persis bahwa dirinya akan mendapatkan ini semua, ia pasti bisa. Dia mampu! "Aku... aku mau, Rido!" jawab Siman, matanya berbinar. Tidak ada lagi keraguan. Ini saatnya dia membuktikan bahwa dia bukan lagi 'si sampah pinggir rel'.

Tak sampai sepuluh menit setelahnya, ponsel Siman berdering. Sebuah nomor tak dikenal. Ini pasti Bang Bimo. Siman buru-buru menjawab telepon itu. Suara pria di seberang terdengar energik, dengan tuntutan yang jelas dan tegas. Mereka membicarakan konsep, brief, dan tenggat waktu. Akik di jarinya terasa stabil, menyalurkan fokus yang luar biasa. Pikiran Siman, yang tadinya kalut, kini seolah terangkai rapi, merangkum setiap kata dari klien dengan cermat. Ia menyadari sebuah kekuatan dari akik. Tidak akan ia buang jauh-jauh. Dia akan mencoba untuk kembali menggunakan akalnya untuk bekerja. Ia tersenyum tipis.

"Oke, Bang Bimo. Saya kerjakan malam ini juga. Besok pagi sudah bisa saya kirim preview-nya," kata Siman, suaranya mantap, penuh keyakinan yang mengagetkan dirinya sendiri. Ini adalah perubahan besar. Bukan hanya dari Siman yang tidak dapat berkata-kata lagi, ini juga untuknya untuk dapat memberikan proyeknya lebih baik.

Setelah mengakhiri telepon, Rido menatapnya dengan kekaguman yang jelas. "Gila, Man. Kamu sudah berani ngomong begitu? Padahal aku saja masih gemetar kalau dikasih proyek mendadak." Rido terdiam, mematikan lampunya dan pergi meninggalkan ruangan. Mungkin ia ingin Siman dapat berpikir jauh lebih baik. Ini adalah kesempatan emas baginya. Untuk sebuah proyek pertamanya, Siman merasa berterima kasih.

Ruangan kembali hening. Siman duduk di depan monitor, napasnya memburu. Proyek pertamanya. Tanggung jawab pertama. Ini bukan hanya tentang uang, ini tentang membuktikan dirinya. Akiknya terasa menghangat, memancarkan gelombang energi ke seluruh tubuhnya. Gambar-gambar desain, tipografi, kombinasi warna yang pas, semuanya tiba-tiba memenuhi benaknya, begitu jelas seolah-olah Bang Bimo sudah menyuruhnya untuk membuat yang terbaik.

Malam itu, Siman bekerja keras. Dari pukul setengah sepuluh malam hingga dini hari, dia hanya ditemani suara kipas CPU dan sorotan cahaya monitor. Ide mengalir begitu deras, jari-jarinya menari di atas keyboard, menciptakan gradien yang mulus, menempatkan gambar-gambar dengan presisi tinggi. Dia sesekali merenungkan arahan Bang Bimo yang meminta proyek ini terlihat lebih segar, lebih alami, lebih dari itu, proyek itu harus menampilkan sisi-sisi kesenian Indonesia.

Karya pertama ini terasa seperti sebuah pembuktian diri, Siman tidak bisa hanya asal-asalan lagi. Setelah ia berhasil, ia mengirimkannya kepada Bang Bimo dengan sebuah kalimat singkat. "Mohon dikoreksi, Bang." Siman tidak lagi bisa tidur, hatinya gelisah. Ini adalah proyek besar. Dia akan membuktikan diri!

Beberapa jam kemudian, tepat ketika langit di luar mulai berubah oranye, ponsel Siman berdering. Sebuah panggilan video. Bang Bimo. Siman segera mengangkatnya.

"Halo, Siman?" Suara Bang Bimo terdengar bersemangat di ujung telepon. Wajahnya terpampang di layar ponsel, menunjukkan ekspresi puas yang tidak bisa ia sembunyikan. Di belakang Bang Bimo, sebuah kantor event organizer besar yang Siman tahu hanya dimiliki oleh para kalangan kelas atas itu. Jantung Siman berdebar kencang.

"Halo, Bang." Siman menjawab pelan, hatinya berdegup tak karuan, bersiap mendengar segala koreksi atau bahkan penolakan. Dia sangat takut hal itu terjadi. Dia tidak bisa melanggar janji dengan Murni. Apalagi ia pernah mencemooh Dina secara frontal. Kalau gagal, itu artinya Siman hanyalah sampah yang Dina ejek.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!