Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lemah
"Zean, ketika kekuatanku sudah stabil, aku berjanji padamu, jika saat itu kau meminta agar meratakan kerajaan Ornebic aku akan langsung melakukannya."
"jangan yang mulia," Zean bangkit dan memegang hangat pipi Igris. "walaupun kerajaan Ornebic tidak adil kepadaku, tapi rakyat kami tak pantas di binasakan. Kerajaan Ornebic melemah karena sumber daya kami yang hancur, bukan karena perlakuan kerajaan yang kejam."
"Apa kau tidak ingin balas dendam?"
"Ya sangat ingin! aku ingin sekali membunuh para istri raja yang telah membuat ibuku mati." ungkap Zean geram.
"aku akan membunuhnya untuk mu,"
"jangan sekarang putri."
"Apa kau akan diam saja?"
"tidak, saat ini kerajaan Ornebic di ambang kehancuran karena kelaparan dan kekeringan. Prioritas ku saat ini adalah menyelamatkan rakyat. Bukan balas dendam. Jika suatu saat nanti aku punya permintaan apa kau akan mengabulkan nya?"
"Ya asalkan kau tidak meminta dua hal itu, aku bisa mewujudkan keinginanmu,"
"Apa kau sungguh tidak bisa memberikanku keturunan?"
"untuk itu .... " Igris berhenti berucap. "Zean ada suatu rahasia yang tidak bisa di ungkapkan. Sebelum kekuatan penuhku kembali, aku tidak boleh melakukannya," ungkap igris berusaha menutupi kebenaran.
"Apa kau bisa memberikanku seorang putra jika kekuatanmu sudah benar-benar pulih?"
"Ya... aku berjanji!" Tegas igris bersungguh-sungguh walau sedikit menyimpan kebohongan.
"maaf Zean aku tidak bisa mengatakannya," batin igris tak tega.
Seketika Igris mengubah raut wajah sedihnya itu menjadi sosok yang ceria.
"lalu, apa rencanamu sekarang?" Tanya lagi igris.
"aku hanya ingin rakyat Ornebic kembali damai, bisa makan dan hidup dengan nyaman,"
"Zean, kenapa kau baik sekali?"
"karena aku mencintai rakyat ku,"
Sontak kata-kata Zean membuat hati Igris bergetar, matanya berkaca-kaca. Seolah ada jarum es yang menancap di relung hatinya. Ucapan itu terdengar sejuk jauh di dalam kalbu. Kata itupun pernah di dengarnya dari mulut sang dewa cahaya, yaitu Oden ayahnya sendiri.
Igris mengingat masa lalu yang indah bersama orang tuanya. Dahulu Oden pernah di tanyai oleh Difty ketika hendak kembali ke alam dewa. Saat itu perasaan cemas Difty sangat kuat. Firasat nya tak pernah meleset, kepekaan seorang peri yang tak pernah di anggap serius oleh Oden. Saat mereka duduk bertiga di atas tunggakan burung merak peri, Difty pernah bertanya.
"Oden, jika suatu saat nanti kita harus terbuang ke alam manusia karena cinta terlarang ini, apa kau akan balas dendam kepada dewa?"
"tidak!"
"Kenapa? apa ayah tidak akan membenci para dewa yang telah semena-mena?" sela Igris.
"rasa benci itu hanya ungkapan dari sisi lain dari cinta. Mereka membuang dewa yang membangkang ke alam manusia karena dewa itu bersalah dan pantas di hukum. Tapi sebenarnya mereka masih menaruh harapan, jika tidak.. dewan dewa pasti sudah membunuhnya. Jika kita juga akan di buang, aku tidak akan pernah menyalahkan siapapun,"
"apa karena kita telah bersalah?"
"Ya... kita salah karena mencintai bangsa lain dan melarikan diri. Tapi bagaimanapun aku mencintai rakyatku, para dewa yang lemah. Mereka tak pantas di hukum hanya karena cinta kepada manusia."
Itulah kata-kata terakhir yang membekas di ingatan Igris. Sang dewa cahaya yang mewarisi kekuatan matahari itu tetap mencintai dewa dan manusia yang telah melanggar peraturan. Baginya perasaan kasih bisa mengubah masa depan. Kebaikan dewa Oden membuat siapapun mencintai nya, tapi karena kebaikan itu juga yang membuatnya kehilangan nyawa. Igris meneteskan air mata, mengingat kenangan singkat itu.
"apa aku salah dalam berbicara?" sesal Zean merasa dirinya lah yang bersalah.
"bukan ... " jawabnya lirih menahan tangis.
Zean menyeka air mata Igris dan menatapnya dengan pandangan penuh cinta. Igris semakin sedih, karena tatapan itu mirip dengan pandangan mata Oden saat pertama kembali ke alam dewa. Tiba-tiba saja dia menangis. Zean langsung memeluknya erat. Tak sanggup menahan kerinduan dan kesedihan nya, Igris mencurahkan airmata di dalam pelukan dada tegap berbulu halus milik pemuda itu.
"maaf ... tak seharusnya sisi lemahku di lihat orang lain,"
"sekalipun kau seorang dewi, tapi tetap saja kau seorang wanita, yang pasti bisa menangis," ucap Zean menenangkan.
"lalu bagaimana denganmu? sisi brutalmu selalu kau perlihatkan." goda Igris sembari memukul manja dada Zean.
"Sebenarnya aku hanya ingin merasakan di manja seorang wanita. Selama berpuluh tahun aku di penjara, kau adalah wanita pertama yang ku temui dan langsung mengikat kontrak darah denganku. Hatiku sepenuhnya milikmu saat itu juga," ungkap Zean.
"jadi kau langsung menerima kontak darah itu karena terpesona pandangan pertama?"
"bisa di bilang begitu,"
Keduanya kini saling berpelukan. Perasaan aneh yang selalu di rasakan igris sebelumnya saat bersama Zean, akhirnya berubah. Selama beberapa hari bersama pangeran muda itu, dia merasakan kemanjaan Zean itu di buat-buat semata. Itu sebenarnya hanya pengalihan rasa karena dia sangat merindukan ibunya. Igris memahami kenapa setiap bertemu, Zean mengganas, karena baru pertama kalinya dia bertemu wanita yang memperlakukan nya dengan hangat.
Saat melakukan kontak darah, Zean telah menanamkan rasa cintanya pada Igris melebihi siapapun. Dia adalah wanita kedua yang pernah membelainya. Tangan hangat Igris membuat hatinya yang keras mencair. Dia tak bisa mengendalikan nafsunya karena telah bertahun-tahun di kurung dan di siksa. Sehingga tak pernah belajar cara romantis untuk memperlakukan wanita. Isnting seekor harimau itu hanya tau berburu dan kawin dengan betina sebagai hadiah perburuan. Igris mencoba memahami hal itu dengan sikap lembutnya.
Tak terasa bulan perlahan menghilang. Tiba-tiba kunang-kunang memenuhi area sekitar menjadi pemandangan yang sangat indah. Igris turun dari batu besar itu dan menggapai binatang kecil bercahaya yang berterbangan disana. Wajahnya tersenyum bahagia. Dia menari tanpa beban sambil merentangkan kedua tangannya. Sekaan merasakan kebebasan dari belenggu yang telah lama mengekang. Igris benar-benar merasa bebas. Zean secara tak sadar menatap nya dengan penuh cinta.
Baru kali ini dia memandang wajah wanita yang begitu bahagia hanya karena bermain dengan kunang-kunang. Ya, karena sewaktu di alam spiritual igris hanya bisa menghabiskan masa kesilnya bersama hewan roh suci dan kristal jiwa yang menjelma.
Wajah putih Igris memancarkan cahaya hangat, tubuh ramping nya itu menari ke sana kemari bermain kunang-kunang di alam bebas. Zean terus menatapnya dengan kasih sayang.
"Zean ... ini indah sekali," seru Igris saat melihat binatang kecil bercahaya itu mengelilingi dirinya. Kunang-kunang itu lalu berterbangan di langit malam. Semakin banyak dan semakin tinggi pula mereka terbang. Senyum lebar dewi alam itu tampak sangat mempesona. Keceriaan nya semakin bertambah saat Zean mengeluarkan akar-akar sulurnya dan menjadi jembatan para kunang-kunang. Pemandangan yang belum pernah di lihatnya seumur hidup, igris terenyuh dengan sisi lembut Zean yang memanjakan dirinya.
Zean terpukau melihat wajah bahagia dewi yang selalu menunjukan wajah datar itu. Sontak pangeran muda itu turun dari batu besar di sana dan langsung mendekap Ingris. Tangan lebarnya penuh merangkul pinggang ramping dewi alam itu. Sang dewi pun terkesiap dalam dekapannya.
"Igrisia... aku sungguh menyukaimu ... jangan pernah tinggalkan aku."
"Zean, ... aku.." Igris tak percaya, baru kali ini Zean menyebut namanya secara langsung, setelah hampir satu bulan mereka bersama sebagai pasangan kontrak. Panggilan itu terdengar sederhana namun berkesan di hatinya.
"Putri, jadikan aku senjata mu yang paling tajam. Bawalah aku kemanapun kau pergi," lanjutnya.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin jadi senjata?" jawab bingung Igris.
"aku berjanji, akan memanfaatkan kontrak darah ini sebaik-baiknya. Aku akan melakukan apapun yang membuatmu bahagia."
"Zean,"
"Kau adalah cinta pertama ku ... selamanya aku hanya ingin bersamamu. Sekalipun hanya menjadi pasangan kontrak darah, itu lebih baik daripada menjadi tawanan di kerajaan sendiri. Kau telah memberikan kehidupan kedua untukku,"
"Cin ... " belum sempat Igris melanjutkan perkataannya, bibir Zean menyumpal mulutnya dengan ciuman hangat. Igris pun membiarkan ciuman itu berlanjut. Keduanya saling dekap, saling balas dan saling menggigit. Ciuman panjang itu tak berhenti sampai akhirnya Igris teringat sesuatu.
"Apa kau tau tentang kultivasi ganda?"