Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Pagi di Mayfair Mansion tidak pernah terasa sesunyi ini. Cahaya matahari yang menembus jendela kaca tinggi hanya menambah kesan dingin di ruang makan yang luas. Fank Manafe duduk di ujung meja, melipat koran paginya dengan suara gesekan kertas yang tajam, sebelum menatap putra bungsunya dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.
"Ezzvaro, Ayah sudah memutuskan. Bulan depan, kita akan meresmikan pertunanganmu dengan Garcia Alton. Surat resminya sudah tiba semalam," ucap Fank tenang, seolah sedang membicarakan cuaca.
Ezzvaro membeku. Potongan omelette di garpunya terjatuh kembali ke piring. Ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dengan sadar, matanya langsung mencari sosok Gabriel yang duduk di seberangnya.
Gabriel tidak menatapnya. Wanita itu hanya menunduk, memandangi sereal di depannya dengan binar mata yang kosong dan sayu. Dalam pikiran Ezzvaro, Gabriel sedang hancur lebur. Ia mengira hati kekasihnya sedang tercabik-cabik oleh berita itu. Namun kenyataannya, Gabriel hanya sedang berjuang melawan sisa-sisa alkohol semalam; kepalanya berdenyut dan dunianya masih sedikit berputar akibat pesta gila bersama Garcia.
Namun, bagi Ezzvaro, keheningan Gabriel adalah belati. "Ayah, bukankah ini terlalu cepat?" tanya Ezzvaro dengan suara tertahan.
"Bisnis tidak menunggu kesiapanmu, Ezzvaro," jawab Fank dingin.
Sarapan itu berakhir dengan ketegangan yang mencekik. Tidak ada keberangkatan bersama pagi ini. Fank memerintahkan mereka pergi dengan supir masing-masing untuk menjaga citra formalitas. Ezzvaro masuk ke mobilnya dengan perasaan frustrasi yang meledak-ledak, sementara Gabriel masuk ke mobil lain dengan kacamata hitam besar untuk menutupi matanya yang merah.
Manafe Group Headquarters – 10.00 AM
Lobi perusahaan yang megah itu mendadak menjadi panggung drama saat Garcia Alton muncul dengan gaun merah menyala yang sangat provokatif. Begitu melihat Ezzvaro melangkah masuk, Garcia menjalankan perannya dengan sempurna.
"Vavo sayang! Calon tunanganku!" Garcia memekik, cukup keras untuk membuat puluhan pasang mata menoleh.
Ia berlari kecil dan langsung memeluk leher Ezzvaro, lalu mendaratkan ciuman yang sangat nyata di pipi pria itu—tepat saat Gabriel melangkah keluar dari lift di seberang mereka.
Ezzvaro menegang. Seluruh tubuhnya kaku seperti batu. Ya Tuhan, aku baru mendapatkan Gaby-ku kembali semalam, dan sekarang aku akan kehilangannya lagi, batinnya meronta. Ia melihat Gabriel sempat berhenti sejenak, menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang tak terbaca di balik kacamata hitamnya, sebelum akhirnya berjalan cepat menuju ruangannya sendiri tanpa menoleh lagi.
Begitu Garcia menghilang ke dalam lift setelah memberikan kedipan rahasia yang tidak disadari Ezzvaro, pria itu langsung berlari menuju ruangan divisi kreatif. Ia tidak peduli pada tatapan para staf. Ia hanya butuh Gabriel.
Ezzvaro menerobos masuk ke ruangan Gabriel tanpa mengetuk. Tampak Gabriel sedang berdiri di depan jendela besar, membelakanginya. Saat ia berbalik dan melepas kacamatanya, matanya terlihat merah—efek mabuk yang disalahartikan Ezzvaro sebagai air mata kesedihan.
"Pergilah, Vavo. Temui calon tunanganmu yang cantik itu," ucap Gabriel dengan nada suara yang sangat dingin, seolah es dari kutub utara baru saja pindah ke lidahnya.
"Sayang, kumohon dengarkan penjelasanku," Ezzvaro mendekat dengan langkah panik. Ia memegang bahu Gabriel, namun wanita itu mencoba mengelak. "Aku... aku tidak siap mendorongnya tadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku mencintaimu, Gaby. Hanya kau. Kumohon maafkan aku."
"Cinta?" Gabriel tertawa sinis, sebuah tawa yang kering. "Cintamu baru saja tercetak jelas di pipimu dalam bentuk bekas lipstik merah, Ezzvaro. Jangan membuatku mual sepagi ini."
Ezzvaro tidak tahan lagi. Ia menarik Gabriel ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah-olah jika ia melepaskannya, Gabriel akan menghilang selamanya. "Maafkan aku... Maafkan aku, Gaby. Aku akan membatalkan semuanya. Aku akan melawan Ayah. Apapun, asal jangan menatapku seperti ini."
Mencium aroma mawar di rambut Gabriel dan merasakan kehangatan tubuhnya membuat gairah Ezzvaro kembali tersulut—sebuah mekanisme pertahanan untuk membujuk kekasihnya. Ia menatap meja kerja Gabriel yang luas, lalu kembali menatap mata wanita itu yang masih terlihat sayu dan rapuh (menurut versinya).
"Mau bercinta di meja kerjamu, Gaby? Sepertinya pemandangan ruanganmu cukup indah pagi ini untuk menghapus bayangan Garcia dari kepalaku," bisik Ezzvaro rendah, suaranya parau oleh keinginan untuk membuktikan kepemilikannya.
Gabriel, yang sebenarnya sedang pusing namun merasa ini adalah kesempatan untuk 'menyiksa' Ezzvaro, menatap pria itu dengan tatapan gila. "Boleh. Tunjukkan padaku seberapa besar kau membencinya dan seberapa besar kau menginginkanku."
Ezzvaro merasa ini adalah satu-satunya cara untuk meredam amarah Gabriel. Ia mengangkat Gabriel ke atas meja kerja, menyingkirkan berkas-berkas hingga berhamburan ke lantai. Pikirannya berkata bahwa setelah ini Gabriel akan tenang dan melupakan Garcia.
Namun, Ezzvaro salah. Racauan Gabriel sudah di tahap yang ia anggap sebagai kehancuran mental akibat cemburu buta.
Sambil mencengkeram dasi Ezzvaro dan menariknya hingga wajah mereka bersentuhan, Gabriel membisikkan kata-kata yang tajam bak sembilu. "Kehebatan ini hanya milikku, Vavo. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mencicipi kebahagiaan ini selain aku. Kau dengar? Hanya aku! Jika wanita itu menyentuhmu lagi, aku akan menghancurkan kalian berdua."
Ezzvaro tertegun, namun gairahnya justru semakin membuncah mendengar klaim posesif itu. Ia mulai menciumi leher Gabriel, memberikan tanda baru di tempat-tempat tersembunyi. Saat ketegangan itu memuncak dan penyatuan mereka kembali terjadi di atas meja kayu yang kokoh itu, pertahanan Gabriel runtuh oleh gelombang kenikmatan yang memabukkan.
Hanya satu permintaan yang sanggup terucap dari bibir Gabriel yang gemetar, "Jangan berhenti... Vavo, kumohon, jangan berhenti!"
Di ruangan yang terkunci itu, di tengah jam kantor yang sibuk, mereka kembali terlebur. Ezzvaro merasa telah berhasil menenangkan badai dalam diri Gabriel, tidak tahu bahwa di balik desahan dan cengkeraman tangan wanita itu, Gabriel sedang tertawa dalam hati. Ia telah berhasil membuat Ezzvaro merasa sangat bersalah sekaligus sangat terobsesi padanya, sementara rencana besarnya bersama Garcia tetap berjalan rapi di balik layar.
Bagi Ezzvaro, ini adalah permohonan maaf. Bagi Gabriel, ini adalah pengukuhan takhta di atas harga diri Ezzvaro Manafe.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰