Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Jam dinding antik di sudut vila sudah menunjuk angka dua dini hari, namun suasana di lantai bawah sama sekali tidak mencerminkan ketenangan malam.
Dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka di lantai dua, Anya duduk meringkuk di lantai kayu yang dingin. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, menyandarkan kepalanya ke dinding. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah bola bisbol lusuh—benda yang biasa ia remas saat sedang gugup atau berpikir keras.
Di bawah sana, di ruang tengah yang luas, lampu kristal dinyalakan terang benderang. Terdengar suara tawa melengking yang sangat ceria, disusul oleh ocehan tanpa henti yang bergema hingga ke lantai atas.
"Keira, kau tahu tidak? Kemarin aku pergi ke spa di kota! Aku mencoba pijat batu panas, rasanya luar biasa! Tapi kau tahu apa yang menyebalkan? Si Kaku itu terbangun dan langsung memarahiku karena aku memakai kaus kuning cerah! Padahal warna itu sangat cocok dengan undertone kulit kami, kan?!"
Suara Milo terdengar begitu hidup, penuh semangat, dan benar-benar bebas dari rasa takut yang menguasainya di dermaga beberapa jam lalu.
Lalu, terdengar suara tawa lembut yang merdu. Tawa seorang wanita yang anggun.
"Astaga, Milo. Kau memang tidak pernah berubah," balas Keira dengan nada penuh kasih sayang. "Kaelan memang selalu membenci warna terang sejak kita kecil. Ingat saat kau memaksanya memakai syal merah muda saat musim dingin? Dia tidak mau keluar kamar seharian."
"Iya! Dia memang kulkas dua pintu yang membosankan!" Milo tertawa terbahak-bahak. Terdengar suara gemerisik kain, seolah Milo sedang menggeser posisi duduknya. "Keira... aku sangat merindukanmu. Sungguh. Selama kau di Paris, si Kaku itu selalu menyuruhku tidur di dalam kegelapan. Dia hanya memanggilku kalau kepalanya sudah mau meledak karena terlalu banyak melihat darah."
Anya memejamkan matanya kuat-kuat. Setiap kata yang keluar dari mulut Milo seperti belati kasatmata yang menusuk tepat di ulu hatinya.
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengintip dari celah pagar tangga.
Di sofa ruang tengah, Milo duduk bersila, menghadap sepenuhnya ke arah Keira. Pria bertubuh raksasa itu menyandarkan kepalanya di bahu wanita cantik tersebut, persis seperti anak anjing raksasa yang mencari perlindungan pada majikannya. Keira dengan lembut mengusap rambut hitam Milo, membelai punggung pria itu dengan gerakan menenangkan.
"Maafkan aku karena pergi terlalu lama, Milo," bisik Keira, matanya memancarkan penyesalan yang tulus. "Mulai sekarang, aku akan lebih sering mengunjungimu. Kau tidak perlu takut lagi. Di sini aman."
Milo mendesah puas, menyamankan posisinya di bahu Keira. "Kalau ada kau, semuanya terasa damai, Keira. Tidak ada suara tembakan. Tidak ada bau mesiu. Kau selalu wangi seperti bunga lily..."
Di atas tangga, Anya menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca.
Preman pasar itu menatap tangannya sendiri. Tangan yang kapalan karena sering memegang tongkat bisbol. Tangan yang memiliki bekas luka sayatan kecil akibat perkelahian jalanan. Lalu ia menunduk menatap pakaiannya—celana training usang dan kaus kebesaran.
Kontrasnya terlalu menyakitkan.
Keira adalah bunga lily yang wangi, anggun, dan memberikan kedamaian. Sementara dirinya? Anya adalah kaktus berduri yang tumbuh di aspal jalanan. Ia adalah wujud dari kekerasan, perkelahian, dan kekacauan.
Anya perlahan menyadari kebenaran yang pahit. Kaelan mungkin mencintainya, mencintai ketangguhannya, dan mencintai keberaniannya. Sang bos mafia itu butuh Anya untuk berdiri di sampingnya menghadapi dunia yang kejam.
Tapi Milo? Alter ego yang tercipta dari trauma masa kecil itu sangat membenci dunia yang kejam. Milo membenci darah dan kekerasan. Dan keberadaan Anya—gadis tomboy yang selalu siap memukul orang—secara tidak langsung memicu ketakutan Milo akan hal-hal yang berbau pertarungan. Bagi Milo, Keira adalah pelabuhan yang aman, sedangkan Anya adalah medan perang.
"Aku bukan rumahnya," bisik Anya parau pada dirinya sendiri di tengah kegelapan lorong. Setetes air mata, yang sejak tadi ia tahan mati-matian, akhirnya lolos dan jatuh membasahi lutut celana training-nya.
Ia benci menjadi cengeng. Ia benci merasa kalah. Namun malam ini, ia benar-benar kalah telak bukan oleh peluru musuh, melainkan oleh masa lalu suaminya sendiri.
Anya mengusap kasar pipinya, menghapus air mata itu dengan punggung tangannya yang kasar. Cukup. Ia tidak akan menangis seperti tokoh figuran di sinetron murahan. Ia adalah Anya, preman pasar yang tidak pernah lari dari masalah.
Jika Kaelan tidak bisa kembali ke kota malam ini karena terhalang oleh trauma Milo...
Jika Kaelan butuh waktu untuk disembuhkan oleh bunga lily cantiknya di pulau yang aman ini...
Maka, biarlah Anya yang menjadi tamengnya.
Anya bangkit berdiri perlahan. Matanya yang tadinya memancarkan kesedihan dan kecemburuan, kini berubah menjadi segelap malam, dipenuhi oleh tekad yang sangat mematikan. Rahangnya mengeras.
Gadis tomboy itu memutar tubuhnya, tidak kembali ke kamarnya, melainkan melangkah mengendap-endap menuju lorong sayap kiri vila. Menuju kamar tamu yang ditempati oleh Rico.
Kaelan telah memberinya segalanya. Kaelan melindunginya dari pembunuh bayaran, membelikannya motor trail, dan memeluknya di saat ia ketakutan. Kini, giliran Anya yang membalas budi.
Anya berhenti di depan pintu kamar Rico. Ia tahu tangan kanan Kaelan itu pasti belum tidur, mengingat instruksi Kaelan untuk melipatgandakan penjagaan malam ini.
Tanpa ragu, Anya mengetuk pintu kayu itu tiga kali dengan ketukan pelan namun penuh penekanan.
Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka. Rico berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja dan celana bahan, dengan pistol Glock di tangan kanannya yang diturunkan ke bawah. Wajah pria itu terlihat terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya pada pukul dua pagi.
"Nyonya Anya?" bisik Rico, keningnya berkerut. "Ada yang bisa saya bantu? Apakah Anda butuh sesuatu?"
Anya menatap lurus ke dalam mata Rico. Tidak ada lagi gadis tengil atau Nyonya Obsidian yang canggung. Yang berdiri di sana adalah seorang pejuang jalanan yang siap turun ke medan perang.
"Berapa banyak anak buah yang sudah standby di speedboat?" tanya Anya, suaranya sangat rendah, dingin, dan menuntut jawaban yang cepat.
Rico mengerjap, bingung dengan perubahan aura gadis itu. "Ada lima orang, Nyonya. Kapalnya masih bersandar di dermaga utara. Tapi Tuan Kaelan memerintahkan untuk menunda—"
"Tuan Kaelanmu sedang sibuk bermanja-manja di bawah sana," potong Anya tajam, matanya berkilat bahaya. "Dia tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk memimpin apa pun malam ini. Tapi Paman Arthur tidak akan menunggu sampai Kaelan selesai berpelukan."
Anya melangkah maju, memangkas jarak. Auranya begitu mengintimidasi hingga Rico, seorang mafia terlatih, secara refleks mundur selangkah.
"Aku yang akan pergi ke kota malam ini," putus Anya mutlak. "Siapkan senjata, Rico. Kita akan menyelesaikan apa yang sudah Kaelan mulai. Aku akan memenggal kepala si tua bangka Arthur itu dengan tanganku sendiri."
Rico membelalakkan matanya ngeri. "T-tapi Nyonya! Tuan Kaelan akan membunuh saya jika saya membiarkan Anda—"
"Kalau kau tidak membantumu, aku akan mencuri speedboat itu dan pergi sendiri," ancam Anya tanpa ampun. "Pilih, Rico. Kau ikut denganku untuk memastikan kemenangan klan ini, atau kau diam di sini seperti pengecut sementara musuh merencanakan serangan balik?"
Malam itu, keputusan gila telah dibuat. Karena cinta, cemburu, dan rasa sakit hatinya, preman pasar itu memilih untuk terjun langsung ke dalam neraka dunia mafia, meninggalkan sang suami yang masih terlelap dalam bayangan masa lalunya.