Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Xavier duduk di sofa dengan kaki menyilang, matanya yang tajam tidak lepas dari sosok putih berbulu yang sedang asyik mengejar bayangannya sendiri di atas karpet. Sementara di depannya, sudah tersedia umpan yang Xavier siapkan.
"Aku tahu kau di sana, gadis aneh. Berhenti berakting jadi binatang dan kembalilah ke wujud manusiamu. Aku tidak punya waktu seharian," ucap Xavier dingin sembari menyesap kopi pahitnya.
Luna, dalam wujud kucing, hanya berhenti sejenak, memiringkan kepalanya, lalu kembali melompat menerjang bola.
"Meong?" Luna menatap Xavier dengan wajah paling polosnya.
"Jangan mencoba membodohi ku. Aku melihatmu tanpa busana tadi. Kau pikir aku sedang berhalusinasi? Aku tidak memakai obat haram, kacamata pun tidak!" seru Xavier, suaranya mulai naik satu oktaf karena kesal.
Satu jam berlalu. Xavier tetap pada posisinya, mencoba teknik intimidasi yang biasa ia gunakan pada musuh-musuh mafianya. Namun, teknik itu sepertinya tidak mempan pada Luna. Alih-alih berubah jadi manusia dan mengaku, Luna malah mulai mencakar-cakar kaki kursi mahal Xavier.
"Hei! Itu kulit asli dari Italia! Hentikan atau aku akan menjadikan kau bahan dompet!" bentak Xavier.
Luna justru semakin bersemangat. Ia melompat ke meja kerja Xavier, melewati berkas-berkas penting senilai miliaran rupiah, dan dengan sengaja menjatuhkan pena berlapis emas milik Xavier ke lantai.
"Kau benar-benar mahluk paling menyebalkan!" desis Xavier.
Ia mencoba menangkap Luna, tapi kucing itu jauh lebih lincah. Luna berlari memutar-mutar di bawah meja, membuat Xavier harus merangkak demi mencarinya.
Gerry yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu langsung mematung melihat pemandangan di depannya. Bos mafia paling ditakuti se-Asia itu sedang merangkak di bawah meja dengan wajah memerah.
"Tuan, apakah anda sedang mencari harta karun atau sedang latihan yoga gaya baru?" tanya Gerry dengan wajah tanpa ekspresi, meski dalam hati ia ingin tertawa.
Xavier segera bangkit dan merapikan jasnya. "Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa izin? Aku sedang, memeriksa stabilitas kaki meja!"
"Oh, tentu saja. Meja itu memang terlihat sangat labil belakangan ini," sahut Gerry sarkastis. "Ngomong-ngomong, kucing itu sepertinya menang 1-0 melawan anda, Tuan," ejeknya.
"Diam kau!" Xavier mendengus kesal sekaligus malu. "Keluar sekarang atau ku pastikan mulutmu tidak bisa bicara selama sebulan!"
"Saya hanya bercanda, Tuan," ucap Gerry mundur dengan perlahan sampai mencapai pintu.
Setelah Gerry pergi, Xavier kembali menatap Luna yang kini sudah meringkuk tenang di pojok ruangan.
"Sialan. Kenapa aku harus repot-repot begini? Dia memang hanya seekor kucing!" gumamnya.
Efek obat bius dan luka di lengannya yang belum sembuh total mulai terasa. Matanya terasa berat. Tanpa sadar, Xavier berjalan lunglai ke arah ranjang. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah, berniat hanya menutup mata sebentar.
"Ingat, aku tetap membencimu!" bisiknya sebelum akhirnya terlelap.
Melihat Xavier sudah tidur, Luna membuka satu matanya. Ia berjalan dengan langkah anggun, melompat ke atas ranjang dengan gerakan seringan kapas. Luna mendekati wajah Xavier, memperhatikan garis rahang yang tegas itu.
Manusia tampan kalau tidur ternyata tidak galak. batin Luna. Ia melingkarkan tubuhnya di sisi lengan Xavier yang tidak terluka, ikut terlelap di balik selimut yang hangat.
*
*
Di sebuah balkon yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota, Xander duduk bersandar. Asap cerutu mengepul dari sela jemarinya, sementara tangan lainnya memutar gelas kristal berisi wine merah pekat.
"Apa semuanya sudah siap, Rose?" tanya Xander tanpa menoleh.
Rose, asisten pribadinya yang selalu tampil dengan setelan formal, berdiri tegap di belakangnya. "Ya, Tuan. Jet pribadi akan siap lepas landas dalam satu jam lagi. Semua izin penerbangan sudah dikonfirmasi."
Xander menyesap wine-nya pelan, membiarkan cairan itu membasahi tenggorokannya.
"Bagus. Usahakan tiba di sana tepat waktu. Aku tidak suka menunggu, dan kau tahu itu."
"Tentu, Tuan. Selain itu, tim keuangan juga sudah memproses instruksi anda. Kita akan memindahkan salah satu lini bisnis utama kita ke Kota S minggu depan," tambah Rose.
Ia sudah bekerja bertahun-tahun untuk pria ini, namun jarang melihat Xander begitu terburu-buru melakukan ekspansi ke wilayah baru.
"Maaf jika saya terlalu lancang, Tuan, tapi apakah anda tidak berniat kembali lagi ke sini dalam waktu dekat?" tanyanya penasaran.
Xander menarik napas, lalu mengembuskan nya dengan perlahan. Sebuah seringai tipis terukir di sudut bibirnya.
"Kembali? Mungkin. Tapi untuk sekarang, prioritasnya berubah."
"Apakah ada masalah mendesak di kota S?" tanya Rose lagi.
"Ada yang harus aku temui dan juga aku selesaikan di sana," jawab Xander. Pikirannya melayang jauh melintasi batas kota, menuju sebuah hutan dan mansion yang kini dihuni oleh adiknya. "Kota itu akan menjadi sangat menarik sebentar lagi."
Rose hanya menunduk, tidak berani bertanya lebih jauh jika Xander sudah memasang wajah seperti itu.
Xander kembali menatap ke arah luar jendela, bayangan wajah adiknya yang kaku dan rahasia besar keluarga Jonas menari-nari di kepalanya.
Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, Sweety, batin Xander penuh arti.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂