NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Ketika Sagara Menjawab

Dokter membuka tas medisnya di atas meja kecil.

“Tidak perlu pemeriksaan khusus hari ini,” katanya ramah. “Saya hanya ingin memastikan bagaimana tubuh Anda merespons obat yang diberikan kemarin.”

Shafiya mengangguk.

Ia duduk di kursi yang disiapkan. Dokter mengambil alat pengukur tekanan darah.

“Lengan kiri, Nona.”

Shafiya melirik Sagara sebentar, sedikit ragu, meski kemudian ia pun menyingsingkan sedikit lengan bajunya.

Manset alat itu melingkar di lengannya.

Sagara berdiri tidak jauh dari sana. Tangannya masuk ke saku celana, sikapnya tetap tenang. Wajahnya tetap datar. Menatap, tapi tidak benar-benar memerhatikan. Seperti seseorang yang diminta hadirnya, tapi tidak benar-benar ada.

Dokter mulai memompa alatnya.

Ruangan menjadi hening beberapa detik.

“Apakah nyeri di perut masih terasa?” tanya dokter.

“Tidak sesering kemarin,” jawab Shafiya jujur. “Kadang masih terasa sedikit.”

Dokter mengangguk sambil memperhatikan jarum alat ukur.

“Obatnya bekerja dengan baik. Reaksi tubuh Anda juga stabil.”

Ia kemudian melepaskan manset itu.

“Tekanan darah normal.”

Dokter menuliskan sesuatu di kertas resep.

“Obat yang kemarin tetap dilanjutkan. Jika mual kembali muncul, minum setelah makan.”

Shafiya mengangguk lagi.

Dokter menutup tas medisnya.

“Tidak ada masalah. Kondisi Nona stabil. Obatnya dilanjutkan saja.”

Ia berdiri, memberi anggukan hormat pada Sagara sebelum meninggalkan ruangan.

Di depan pintu, Ratri sudah menunggu. Siap mengantar dokter ke depan.

Ruangan itu kembali tenang.

Shafiya masih duduk di kursi yang sama. Ia menurunkan kembali lengan bajunya yang tadi disingsingkan.

“Saya sudah selesai,” katanya pelan.

Sagara mengangguk.

Ia tidak langsung pergi. Tatapannya sempat berhenti pada meja kecil di samping kursi Shafiya.

Di sana ada segelas air yang tadi dibawa Winda.

Sagara mengambil gelas itu. Menggesernya sedikit lebih dekat ke arah Shafiya.

“Minum obat setelah makan,” katanya datar.

Shafiya mengangguk.

“Terima kasih.”

Sagara tidak menjawab. Ia sudah berbalik melangkah keluar ruangan.

Namun baru tiga langkah, ia menangkap aroma itu lagi. Aroma manis yang menenangkan dari tubuh Shafiya.

Langkah Sagara terhenti. Menoleh.

Bersamaan itu Shafiya bangkit. Tatap mereka sesaat bertemu di ruang hampa.

"Ada--yang tertinggal?" Shafiya bertanya, karena Sagara hanya melihat tanpa kata.

 Sagara menggeleng. Langkahnya kembali diambil. Dan sebelum mencapai ambang pintu, suaranya terdengar.

“Jika nyerinya kembali,” katanya tanpa menoleh,

“beritahu Ratri.”

Lalu ia pergi. Tanpa menunggu jawaban.

Shafiya hanya menatap pintu yang sudah tertutup di depannya.

Satu hal yang ia sadari. Sagara memang selalu berdiri di luar garis batas yang ia buat--namun tetap dengan tanggung jawab yang tidak pernah ia lepaskan.

..

...

Siang sudah sedikit bergeser saat sebuah mobil mendekati gerbang utama Adinata Residence. Sesaat menjalani pemeriksaan petugas. Tidak lama.

Mobil itu kemudian melintasi gerbang, membelah taman hijau dengan pesona danau buatan, lalu berhenti di komplek Adinata Residence 1.

Kediaman Ravendra Adinata.

Dalam rumah megah itu selalu dipenuhi dengan ketertiban yang hampir kaku.

Tidak ada suara keras. Tidak ada langkah tergesa. Bahkan para staf rumah bergerak seolah sudah diatur oleh jam yang sama.

Ravendra duduk di ruang kerjanya yang luas dan senyap. Tablet tipis berada di samping cangkir kopi hitamnya, di atas meja.

Ia membaca beberapa laporan dengan ekspresi yang nyaris tidak berubah.

Sampai satu ketukan itu muncul.

"Tuan. Mbak Sherly, meminta bertemu."

Itu suara asisten dari luar pintu.

"Suruh masuk!"

Tak sampai satu detik dari perintah itu, pintu ruang kerja terbuka. Seorang perempuan 30 tahun masuk membawa tab , melangkah tergesa.

Ravendra mendongak sebentar, menangkap kepanikan di wajah sekretaris kepercayaannya itu. Namun tak bereaksi apa-apa. Ia bahkan kembali menunduk lanjut membaca laporan.

“Pak, ada pembaruan dari sistem pendanaan pusat.” Sherly menyampaikan itu, tepat satu detik saat langkah kakinya berhenti.

Ravendra tidak langsung mengangkat kepala. “Apa lagi?”

Perempuan itu menoleh ke layar tablet sekali lagi, memastikan ia tidak salah membaca.

“Status pendanaan untuk proyek International Research and Development Hub berubah.”

Tangan Ravendra berhenti di atas tab.

“Berubah bagaimana?”

Sherly mendekat meletakkan tab di depan Ravendra. Membiarkan atasannya itu membaca sendiri informasinya.

Ravendra membaca tidak tergesa.

Matanya bergerak membaca baris demi baris. Teliti, tanpa ada yang terlewati.

Kemudian berhenti.

Hanya satu detik.

Laporan itu pendek. Terlalu pendek untuk sebuah masalah yang besar.

Pendanaan Adinata Group untuk proyek International Research & Development Hub--ditarik sementara.

Keputusan langsung dari kantor pusat.

Disahkan pagi ini oleh Sagara Adinata.

Di layar tablet, status proyek itu masih terlihat jelas:

Funding Status: Temporarily Suspended.

Authorization: Office of the CEO -- Adinata Holding. Sagara D. Adinata.

Ravendra menaruh tabletnya di meja.

Ekspresi wajahnya tetap sama. Datar. Terlalu tenang bagi seseorang yang baru saja kehilangan proyek bernilai ratusan miliar.

Tapi matanya berubah. Sedikit lebih gelap.

Proyek International Research & Development Hub adalah salah satu program unggulan Universitas Adinata International tahun ini.

Kerja sama dengan dua universitas luar negeri sudah diumumkan. Investor sudah masuk. Media sudah menulisnya sebagai langkah besar universitas itu menuju panggung global.

Dan sekarang--sumber dana utamanya ditarik.

Artinya sederhana.

Proyek itu akan berhenti.

Atau lebih buruk lagi…

jatuh di tengah jalan.

Ravendra bersandar sedikit di kursinya. Menyilangkan jemari di atas meja.

Ia tidak marah.

Atau tepatnya belum marah.

Karena ia tahu ini bukan masalah bisnis biasa.

Ini pesan.

Sagara tidak pernah membuat keputusan besar secara tiba-tiba tanpa alasan.

Dan menarik dana dari proyek universitas--itu bukan sekadar keputusan finansial.

Itu menyentuh langsung wilayah yang selama ini Ravendra pegang sendiri.

Di Universitas Adinata International. Ravendra menduduki posisi paling bergengsi sebagai: Chairman of the Board of Trustees. Di sana adalah wilayahnya membangun pengaruh selama bertahun-tahun, juga jaringan dan loyalitas.

Universitas Adinata punya dana abadi (endowment fund) dikelola lewat Adinata Holding. Sebagian besar investasi itu berada di divisi yang dikelola oleh Sagara.

Proyek besar Universitas Adinata saat ini adalah Proyek International Research & Development Hub. Pusat penelitian terpadu universitas untuk riset bioteknologi, kesehatan reproduksi, farmasi, dan teknologi medis, bekerja sama dengan lembaga riset luar negeri.

Dan kini Sagara membekukan satu proyek investasi besar Universitas, dan atau menarik dukungan Adinata Grup dari program Internasional--dampaknya ke Ravendra, jelas:

Proyek internasionalnya terancam gagal.

Reputasinya di Board Of Trustees jatuh.

Jaringan luar negeri mulai meragukannya.

Maka keputusan Sagara itu seperti menarik satu penyangga dari bangunan yang sudah ia susun dengan rapi.

Sherly masih berdiri. Diam. Menanti perintah. Jantungnya berdegup di atas normal. Tatap mata Ravendra seakan mengandung kengerian yang tak bisa ditahan.

Ravendra mengangkat tangan. Isyarat kecil untuk Sherly keluar ruangan.

Waktu belum bergerak begitu jauh, ketika

Ponsel Ravendra bergetar di meja.

Panggilan masuk.

Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya bergerak tipis.

Rektor Universitas Adinata International.

Cepat sekali beritanya sampai.

Ravendra tidak langsung mengangkatnya. Ia membiarkan panggilan itu berdering dua kali lagi sebelum akhirnya menekan tombol terima.

“Selamat siang, Prof. Arman."

Suaranya tenang seperti biasa.

Dari seberang sana, suara sang rektor terdengar jauh lebih tegang.

“Pak Ravendra, saya baru mendapat kabar dari kantor pusat Adinata Group. Mereka mengatakan pendanaan untuk proyek R&D Hub dihentikan sementara. Apakah ini benar?”

Ravendra menatap halaman taman di luar jendela besar ruang kerjanya dengan tatapan rumit.

“Benar.”

Jawabannya pendek.

“Tapi--” suara di ujung sana tertahan. “Kerja sama internasional kita sudah berjalan. Jika ini berhenti sekarang, reputasi universitas bisa terdampak.”

Ravendra tahu itu.

Dan justru itu masalahnya.

Ia mengetukkan satu jari pelan di permukaan meja.

“Tenang saja, Prof. Arman,” katanya akhirnya.

“Ini hanya penyesuaian internal.”

Ravendra berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang sedikit lebih rendah.

“Saya akan berbicara langsung dengan Sagara.”

Panggilan telepon itu berakhir tidak lama kemudian. Ravendra meletakkan ponselnya kembali ke meja.

Beberapa detik ia tidak bergerak.

Lalu ia mengambil tablet yang tadi ia letakkan. Membuka kembali laporan tentang proyek itu.

Matanya berhenti pada satu kalimat terakhir di laporan tersebut.

Keputusan penarikan dana disahkan langsung oleh Sagara Adinata tanpa melalui rapat dewan.

Ravendra menghembuskan napas pelan.

Akhirnya sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum ramah.

Lebih mirip senyum seseorang yang baru saja memahami langkah lawannya di papan catur.

“Jadi… kamu mulai bergerak, keponakanku."

Ia mengucapkannya pelan, hampir seperti gumaman pada dirinya sendiri.

Masalahnya sekarang bukan hanya pada proyek yang ditarik.

Proyek bisa diganti. Dana bisa dicari.

Namun langkah Sagara itu berarti satu hal yang jauh lebih penting.

Sagara sudah mulai menyentuh wilayahnya.

Padahal selama ini, Sagara dikenal tidak pernah mengusik wilayah orang lain--selama wilayahnya sendiri tidak disentuh lebih dulu.

Ia bukan tipe yang memulai serangan.

Sagara hanya menjawab.

Dan ketika ia menjawab, itu berarti ada sesuatu sebelumnya memang telah lebih dulu diarahkan kepadanya.

Karena itulah, permainan yang selama ini berjalan di bawah permukaan…

akhirnya mulai naik ke atas meja.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!